I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Gaduh


__ADS_3

"Karena tidak satu dua hari kita menempati kamar ini bersama-sama, harus dibuat aturan khusus agar satu sama lain tidak terganggu dan dirugikan," usul Verra ketika mereka sudah kembali berkumpul. Usai mengikuti acara perkenalan yang di laksanakan di ruang auditorium.


"Aku sih yes," sahut Bella.


"Kamu?" tanya Verra. Pandangan tertuju pada Sella.


"Terserah, aku ngikut aja" jawab Sella sembari mengangkat kedua bahunya. Cewek yang biasanya paling rame ini, tidak banyak bersuara. Matanya sudah terlihat merah dan berair. Sepertinya ia sudah ngantuk berat.


Namun demi menghormati Verra dan memang perlu adanya aturan dalam kamar yang mereka tempati bersama, ia iklas tubuhnya yang sudah lunglai itu bertahan sebentar, mengikuti usul Verra untuk menyusun aturan bersama.


"Ok, ayo duduk dulu di sini ! Kita bicarakan bersama," ajak Verra yang sudah lebih dulu duduk di karpet yang tergelar di tengah ruang dan memegang selembar kertas kosong dan pulpen di tangan kanannya.


Dengan senyum tertahan, Sella mengikuti ajakan Verra.


"Serius banget nih hidup orang? Udah kayak apaan aja," batinnya.


Begitu juga dengan Bella yang sudah mengenakan piyama dan bersiap tidur. Ia duduk manis megikuti kedua temannya.


"Ok, mulai saja ibu ketua," celetuk Sella yang masih menahan tawa.


"Jangan bercanda dulu. Kali ini kita bikin aturan dengan serius" sergah Verra yang merasa jika Sella sedang menertawakannya.


"Udah, ayo kita mulai saja," sahut Bella sembari mencolek bahu Verra. Ia membaca Verra mulai kesal karena melihat mimik Sella yang menahan tawa sejak tadi dan itu tertuju ke sikapnya.


"Karena tujuan utama kita di sini untuk belajar dan menuntut ilmu, jadi satu sama lain harus menjaga ketertiban agar setiap penghuni kamar bisa belajar dan istirahat dengan tenang. Untuk itu, aturan pertama adalah tidak ada yang menjawab panggilan telpon ketika malam hari ( saat belajar/menjelang tidur). Ada yang kebaratan?" tanya Verra.


Bella dan Sella menggelengkan kepala bersamaan. Karena diangkap kedua temannya itu sudah setuju dengan aturan pertama, Verra menuliskannya di kertas kosong itu.


" Kedua, piket membersihkan kamar. Karena ruangan cukup bersih, kita nyapu dan ngepel perdua hari sekali. Senin Verra, Rabu Sella, Jumat, Bella. Giman?"


"Oke," sahut Bella


"Sip," sahut Sella sembari mengacungkan jempol kanannya.


"Terus? Jika kalian ada usul silahkan diungkapkan saja!" akhirnya Verra memberi kesempatan pada yang lain untuk mengungkapkan pikirannya.


"Sementara itu aja dulu, kita buat sambil jalan," ujar Bella


"Aku kalau tidur tidak bisa pakai lampu yang terang, apa bisa dipertimbangkan?" tanya Sella.

__ADS_1


"Bisa," sahut Verra


"Aku takut gelap," ujar Bella sedikit malu.


"Ok, jadi jika sudah mau tidur semua, kita matikan lampu. Sebagai gantinya ada lampu tidur, tempel di diding yang paling dekat dengan Bella. Terus jika ada yang masih ingin belajar gunakan saja lampu meja. Bagaimana?" tanya Verra lagi.


"Ok," angguk Bella. Begitu juga dengan Sella


"Peraturan ini berlaku sejak ditandatangani oleh seluruh anggota kamar, BSV, oke !" Verra mencatat hasil kesepakatan dan menyisahkan ruang kosong sebagai penambahan aturan sesuai kebutuhan. Setelah itu ia menulis nama masing-masing berjajar di bagian bawah berikut kolom untuk tanda tangan.


"Nih, bubuhkan tanda tangan di sini. Mohon satu sama lain saling mengingatkan jika ada yang mulai tidak disiplin," ujarnya lagi.


Verra menandatangani kesepakatan itu diikuti yang lainnya. Kemudian ia bangkit dan menempelkam kertas itu di sisi tembok, dekat jajaran rak buku.


Tak lama kemudian, ia membalikkan tubuhnya menuju ke ranjang susun.


Ia segera merebahkan dirinya di kasur tingkat dua. Berdasarkan kesepakatan sebelumnya, memang begitu.


"Apa kita perlu rolling tempat tidur, misalnya sebulan sekali, gitu? Usul Bella yang sudah mulai bersiap-siap tidur. Ia menyisir rambutnya kemudian membersihkan muka dengan toner.


"Terserah saja," sahut Sella.


"Ok," sahut Bella lagi.


"Siap!" sahut Sella bersemangat. Ia mulai menapaki tangga kayu dan ingin segera tidur di ranjang paling atas.


Namun langkahnya terhenti saat ada panggilan telpon dari ponsel yang ada di rak bukunya. Tanpa perlu ditegur lagi, ia sudah maklum dengan tatapan Verra. Sella mengambil HP-nya dan ingin melihat siapa yang menelponnya selarut ini.


"Hah, Si Won ku. Ada apa dia menghubungi malam-malam begini?" seru Sella. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar diizinkan untuk mengangkat telpon oleh kedua temannya.


"Mungkin ia ingin mengucapkan selamat malam padaku," serunya lagi.


Karena tidak ada reaksi dari Verra dan Bella, Sella akhirnya tidak berkomentar lagi. Apalagi ia juga sudah setuju untuk menghormati aturan yang sudah mereka sepakati bersama.


"Maaf ya, Beib. Aku cuekin dulu kau malam ini. Eh..tu Jan aku kok ngomong kenceng lagi," seru Sella dengan lata. Ia tidak mengangkat panggilan telpon dan juga tidak mematikan hp itu. Sella hanya mengubah suara menjadi senyap hingda tidak mengganggu yang lainnya.


Tidak ada yang menanggapi pancingan Sella, Verra terlihat sudah memejamkan matanya dan Bella pura-pura tidak mendengar kata-kata itu.


"Wasalam," ia naik ke tempat tidurnya dengan hp masih di tangannya.

__ADS_1


"Udah, chating aja sampe subuh," ujar Verra. Ternyata ia belum benar-benar tertidur.


Sella melihat lagi hp -nya. Setelah beberapa kali melakukan panggilan telepon via WA dan tidak di balas, kini Braga mengirim pesan padanya.


[ Apa kamu punya lotion nyamuk? ]


" Jika aku balas, pasti ia akan menelpon atau bisa jadi keluar kamar dan berteriak-teriak. Aku hafal banget karakternya yang suka konyol itu," pikir Sella.


Akhirnya ia memilih mematikan ponselnya dan berbaring di kasurnya yang empuk. Matanya tidak lekas terpejam, pikirannya masih tertuju pada Braga yang tidak bakal bisa tidur karena serangan nyamuk.


"Ah, kasian sekali dirimu," bathinnya. Kali ini ia menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut yang ia bawa dari rumah.


" Lampu aku matiin, ya," seru Bella.


Tak ada yang bersuara, akhirnya Bella mematikan lampu kamarnya dan ingin menyusul kedua temannya. Namun karena hordeng jendela belum tertutup , sinar lampu dari luar menembus kamarnya. Bella melangkah ke arah jendela, ingin merapatkam tirai itu. Namun ia menangkap sosok Braga yang tengah mondar-mandir di teras sebrang.


"Kenapa sudah selarut ini dia masih di luar? Apa mungkin dia memang ada kepentingan dengan Sella?" tanya Bella pada dirinya sendiri.


Bella tak ingin keberadaan diketahui Braga, akhirnya dia memilih mengintip di balik tirai beberapa saat lamanya.


Saat pandangan Braga terpaku pada jendela, tempat dimana ia berdiri sekarang, Bella sangat gusar. Bisa-bisa ia malu ketemu Braga karena kedapatan sedang mengintipnya.


"Tapi kan gelap, mudah-mudahan ia tidak melihat. Mungkin ada cicak kawin di jendela bagian luar. Braga jadi takjub melihat adegan itu," seru Bella. Kali ini ia mencoba berpikir positif agar pikirannya tidak gusar.


Bella tidak sadar jika keberadaannya bisa ditangkap dengan jelas karena pantulan sinar lampu yang tepat di atas pintu kamarnya. Apalagi tirainya belum tertutup seluruhnya.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ ikut akunnya


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2