
Badan udah berasa remek, pegel-pegel, dan tidak bersemangat.
Masih dengan muka bantalnya, semua siswa sudah berkumpul di lapangan kembali. Day 3 MPLS, hari terakhir untuk kenal-kenalan.
Pagi sekali, Braga sudah keluar dengan pakaian lengkapnya. Training hitam dipadu dengan kaos putih berkera. Kali ini dia keluar lebih awal bukan untuk lari pagi seperti dua hari yang sudah-sudah, yang ia lakukan bersama Bella, Sella, dan yang lainnya.
Ia berniat menemui Kak Adelia, sebelum kakak kelasnya itu sibuk dengan tugasnya selaku komando tertinggi pada kegiatan ini.
"Kak, maaf mengganggu. Izin minta waktunya sebentar,"
" Iya, ada apa Braga?" Sebagai ketua OSIS ia cukup familiar dengan adek kelasnya ini. Selain didampu sebagai ketua regu, ia juga sudah tahu dari para dewan guru jika cowok ganteng ini adalah anak dari orang nomer satu di kodya, tempat tinggalnya.
"Saya mau melaporkan kondisi kelas. Kemaren usai lari pagi, salah satu dari anggota kelas ada mengalami kejang pada betisnya. Saya dan teman-teman sudah ijin ke yang bersangkutan agar melaporkan hal ini agar dia bisa istirahat lagi. Namun anak itu menolak. Dia tidak ingin ketinggalan materi MPLS, jadi saya ke sini mau minta izin kepada kakak ketua, bisa tidak jika dia tidak ikut lari pagi namun tetap mengikuti kegiatan yang lain,"
"Oh, atas nama siapa?"
"Bella Partisi, kak,"
"Boleh aja, alasannya bisa diterima. Harusnya kemarin segera lapor. UKS kita juga bertugas selama MPLS, ya untuk mengantisipasi jika ada yang seperti ini,"
"Harusnya seperti itu, hanya saja anaknya yang memaksakan diri. Tapi sudah diberi tindakan oleh teman-teman sekelas. Meski sudah lebih baik, tapi ada baiknya jika tidak ikut lari pagi dulu,"
"Iya, Braga. Tidak masalah. Nanti saya buat catatan khusus pada laporan jika dia memang sedang cidera kaki. Its, ok. Terimakasih ya atas informasinya,"
"Iya kak, terimakasih. Dan tolong dirahasiakan jika saya yang menyampaikan hal ini. Anaknya ingin dia diperlakukan seperti orang sehat, tapi kami sebagai temannya takut jika dipaksakan akan semakin cidera. Saya pernah mengalami hal seperti itu, butuh beberapa hari untuk bisa pulih,"
"Ok, itu bisa diatur,"
"Terimakasih kak,"
"Ok. Sama-sama Braga,"
Tiba anak-anak melakukan pemanasan dengan berlari keliling lapangan, Bella di minta ke ruang UKS oleh ketua OSIS.
"Kenapa kakimu, kenapa jalan dengan berjinjit seperti itu," tanya Adelia begitu ia melihat Bella menuju barisan.
"Kemaren tiba-tiba kram abis lari,"
"Kenapa ga lapor?"
"Saya kira segera membaik," sahut Bella dengan menundukkan kepalanya.
"Pagi ini ga usah ikut lari. Istirahat dulu di UKS,"
"Baik, Kak. Terimakasih,"
"Apa sudah mendapatkan pertolongan pertama?" tanya Adelia lagi.
"Sudah di pijit kemaren trus pake foam rolling juga,"
"Oh, sudah baikan?"
"Iya, lumayan banget. Ga sesakit kemarin,"
"Ya, udah. Istirahat aja,"
__ADS_1
"Baik, terimakasih," Bella membalikkan badan, ia menuju ruang UKS yang ada di sebelah selatan lapangan.
Pas lari hari ketiga, ya Allah ternyata php banget. Dikira rute yang dilalui masih seperti dua hari yang lalu. Ternyata kini mereka harus keluar sekolah dan lari pagi menebus jalan mengelilingi komplek sekolah yang luasnya hampir 2 hektar. Meskipun hanya satu putaran, cukup membuat peluh bercucuran.
"Hoam, Bella menang banyak nih. Saat dia istirahat ternyata beban kita ditambah. Hik...hik.....," gerutu Witri yang masih tetap berlari meski nafasnya sudah tersengal-segal.
"Kakinya belum sembuh?" tanya Shira.
"Sepertinya begitu. Tadi gua liat dia saat menuju barisan, jalannya masih jinjit gitu. Makanya di stop Kak Adelia dan disuruh istirahat,"
"Kasian, moga ga cidera," human Shira lagi.
"Iya. Aamiin,"
"Sekarang beban kita makin berat, moga ga ada yang pingsan," ujar Shira
"Ha..ha....aku rasa tidak. Sudah dua hari kaki kita terlatih. Nih betis sudah kayak bintang sepak bola," sahut Dara.
"Ha.. ha....iya juga ya. Sepertinya ada yang berubah. Betis kita makin kencang," sahut Witri menimpali.
Mereka meneruskan larinya dengan frekuensi yang tidak beraturan. Kadang berpacu dengan cepat, kadang terseok-seok menahan nafas yang sudah diujung leher.
Hampir empat puluh menit, mereka yang berlari mengitari area sekolah sudah muncul satu persatu. Perlakuan khusus pun berlaku kali ini.
Usai pemanasan yang seyogyanya mereka lanjut ke kegiatan berikut, kini mereka kumpul di tengah lapangan, duduk beralas bumi sembari meregangkan kaki.
Satu kotak susu dan bubur kacang hijau yang dikemas dalam gelas satu kali pakai dibagi rata. Mereka menikmati menu pra sarapan pagi.
"Nyamiiii....," sorak dan tepuk tangan mereka begitu mendapat rangsum. Persis seperti pengungsi yang sudah seminggu tidak diberi jatah makan.
"Ra, Shira," panggil Fadlan pelan.
"Tuh kalo ga diminum buat aku aja," Pandangan mata Fadlan tertuju pada susu kotak Shira yang dibiarkan tergeletak.
"Ambil kalo mau?"
"Ga suka susu ya?" tanya Fadlan lagi.
"Ga suka yang putih. Eneg,"
"Bagus, gua catet nih, besok-besok kalo ada jatah lagi inget gua ya. Siap menampung," ujar Fadlan tanpa malu.
"Dasar, Lo...,"
"Cut, jangan dilanjut," potong Fadlan buru-buru sebelum Shira melanjutkan ucapannya.
Dapet satu dari Shira, kini Fadlan mengedarkan pandangannya kali. Kali ini tujuannya pada Roy.
"Roy," ujar Fadlan sambil memainkan alis matanya dan melirik ke kotak susu yang ada di depan Roy.
"Ogah, gua juga mau," buru-buru susu itu ia masukkan dalam saku celananya.
Fadlan tidak putus asa, ia yakin dari sekian temannya ini pasti ga semuanya doyan susu. Untuk itu perlu survei awal untuk mengisi lambung makanannya di kemudian hari.
Dugaannya benar, dari kelasnya sendiri, Fadlan bisa mengantongi 7 kotak susu. Ia mengingat dengan baik nama- nama temannya itu agar mempermudah usahanya di kemudian hati.
__ADS_1
"Dasar gembul. Makan aja yang dipikirkan," seru Braga dalam hati melihat Fadlan yang begitu sibuknya menanyakan setiap susu milik temannya yang tergeletak.
******
Pukul 07. 30 semua sudah berkumpul kembali di ruang auditorium. Jadwalnya adalah paparan dari kepala perpustakaan.
Abis lari, lanjut makan tentu saja membuat mata jadi ngantuk. Apalagi melihat slide yang ratusan jumlahnya di bacakan satu persatu.
"Duh gusti, apa ga bisa dirampingin dikit. Kasih gambar - gambar yang bisa bikin mata jadi seger gitu," keluh salah satu siswa yang sudah tidak bisa menahan diri untuk terpejam.
"Maafkan kami pak, gayamu itu begitu membosankan," keluh yang lain.
Kasihan juga sih melihat si bapak yang hanya bisa komunikasi satu arah. Entah dia sadar atau memang pura-pura tidak tau jika sebenarnya anak-anak mulai gelisah. Mereka memilih mencari kegiatan sendiri.
Ada yang membuat quote, nulis puisi, gambar tokoh kartun, bahkan melukis si bapak yang sedang bicara dengan ekspresi lucunya.
Pas sesi tanya jawab, tak ada satupun dari siswa yang duduk manis seolah-olah menyimak tayangan slide yang lebih mirip naskah novel itu bertanya.
Berkali-kali si bapak mengulang pertanyaan
"Ayo siapa yang mau tanya, saya kasih kesempatan tiga penanya pada sesi pertama?"
Cukup lama suasana ruang itu hening. Satu sama lain saling mengedarkan pandangan mencari tau siapa yang siap tunjuk tangan.
Karena sudah tiga kali si bapak memberikan kesempatan dan tidak ada yang mengindahkan, dengan santainya ia menyodorkan mic pada salah satu anak yang terlihat bengong entah memikirkan siapa.
"Terimakasih kepada saudara, Ridwan. Silahkan apa yang ingin anda tanyakan?" todongnya dengan halus sembari mengeja nama yang tertulis dalam nametag anak tersebut
"Perasaan anak itu ga mengacungkan tangan deh,kenapa langsung disodorin mic gitu? Duh...lawak juga nih si bapak," ujar Braga yang merasa lucu. Ia ingin tertawa namun diurungkannya suasana ruang yang cukup serius. Serius lawaknya, maksudnya. He...he......
Lama ditunggu, Ridwan tak kunjung melontarkan satu pertanyaan pun. Tiba- tiba si bapak mengarahkan mic ke mulutnya lagi, dengan santai ia bertanya pada Ridwan
"Apa penjelasan saya bisa difahami?"
"Baiklah. Jika sudah faham kita balik ke yang lain. Apa ada yang mau ditanyakan lagi?" Ujarnya santai.
Asli, rasanya semua yang ada di situ ingin tertawa melihat ulah si bapak yang begitu halu, atau bisa jadi prustasi karena tidak ada yang mau menyimak dan menanggapi slide yang sudah ditampilkan berikut bonusnya, dibacakan hingga selesai.
Setelah berjalan beberapa langkah dari satu baris ke baris yang lainya, ia seolah bergumam sendiri.
"lagi?"
"Sayang sekali, waktu kita sangat terbatas. Jika masih ada yang belum faham kalian bisa berkunjung ke perpustakaan. Kami memberikan layanan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 WIB,"
"Hadeh....perasaan dari tadi kagak ada yang nanya hahaha" gumam Fadlan yang dengan sadar mengikuti kelakuan si bapak meskipun tangannya yang piawai menghasilkan satu lukisan yang cantik.
"Ha...ha......," Seketika suara Fadlan pecah. Ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
Terang saja kelakuannnya itu mengundang yang lainnya melakukan hal yang sama.
"Receh banget kelakuan tuh anak, ga lihat begitu melasnya si bapak diperlakukan begitu," gerutu Shira.
Seolah tidak terjadi sesuatu, si bapak naik lagi ke podiuum. Ia menutup pembicaraan dan tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih atas apresiasi anak-anak terhadap penampilan itu.
"Maafkan kami, Pak. Ga ada niat buat ngetawain bapak. Sungguh," Bella hanya bisa memandang kasihan pada laki-laki berkaca mata itu, yang masih semangat memberikan materi meskipun tidak ada yang menanggapi.
__ADS_1
Happy reading all, terimakasih atas kunjungannya
Jangan lupa VOTE dan KOMENTARNYA, ya...😊😊😊