I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Tugas Pertama


__ADS_3

Usai Ishoma, semua siswa baru berkumpul lagi di lapangan, namun dalam suasana yang santai. Yang paling bikin senang adalah sikap kakak pendamping yang tanggap banget dengan kegelisahan siswa kareba terik mentari.


Mereka bisa membaca kegelisah adek kelasnya. teriknya sinar bakal menyengat kulit mulus nan terawat itu. Untuk itu, pengurus OSIS mengizinkan siswa yang terpapar sinar matahari bergeser mencari tempat yang lebih sejuk.


Kali ini mereka dikumpulkan karena sang ketua OSIS akan memberikan pengarahan cara membuat nametag yang akan dipergunakan besok. Tentu saja harus sesuai dengan ciri khas kelas masing-masing.


Setelah selesai, siswa dibawa oleh pendampingnya masing-masing ke bawah pohon yang rindang. Mereka semua duduk melingkar mengelilingi sang senior, duduk bersila beralaskan rumput yang hijau dan tebal.


Lebih lanjut, Rafa dan Feby menjelaskan kembali nametag yang harus disiapkan besok agar hasilnya sesuai dengan aturan yang sudah menjadi ketentuan panitia.


Meskipun formatnya sudah disiapkan, anak -anak tinggal ngeprint kemudian mengisi nama dan tanggal lahir namun tetap saya menimbulkan banyak pertanyaan, baik ukuran, dijilid atau tidak, gantungan pakai apa, dll. Pokoknya persis anak SD yang baru pertama kali mendapat tugas. Akhirnya disepakati juga, ukuran kertas, warna dan foto harus sesuai dengan tema kelompok.


Gampang! Namun tetap saja pertanyaan ini dan itu yang sebenarnya sudah di jelaskan sebelumnya tidak juga berhenti dari mulut-mulut ceriwis itu.


"Fix, untuk nametag kelas kita menggunakan latar belakang ungu dan foto selfie. Tidak ada tanya jawab lagi," teriak Feby yang akhirnya terbawa emosi. Ia cukup kesal karena harus menjawab pertanyaan yang jawabannya hampir sama. Entah karena mereka memang belum faham atau karena memang ingin ngerjain seniornya. Yang jelas Feby terpancing emosinya karena pertanyaan dari adek kelasnya.


"Sialan. Sepertinya gua dikerjain nih. Masa ia mereka ga faham-faham juga dengan tugas yang sepele ini," gerutu Feby dalam hati.


Setelah memberikan penegasan, akhirnya ia mohon izin sebentar untuk memberikan laporan pada ketua. Tentu saja si Rafa juga mengikuti langkahnya dari belakang. Kini mereka berdua memberikan kesempatan pada junior untuk istirahat sebentar.


"Udah, biar aku yang bikin. Tinggal beres," seru Fadlan sepeninggal pendamping mereka.


"Nah, ide yang bagus itu. Nanti kita tinggal kirim foto di grup ya?" sahut Witri menimpali.


"Oke, karena tidak semuanya siap printer di kamar, jadi untuk nametag kita minta bantuan Fadlan. Biar dia yang koordinir untuk satu kelas," Braga memberi penegasan karena ia membaca banyak temannya yang tidak siap dengan laptop dan printer. Belum lagi masih banyak yang tidak bisa mengedit foto via photoshop.


"Eh, ga gratis loh ya," buru-buru Fadlan klarifikasi.


"Maksudnya, elo minta bayaran?" tanya Bella yang duduk disampingnya dengan nada kurang yakin.


"Kan gua harus begadang, Neng. Belum lagi menahan kantuk dan laper. Masing-masing colkat sebatang atau susu kotak lah?" pinta Fadlan dengan muka yang begitu menggemaskan.


"Payah ih, dasar gembul," sahut yang lainnya dengan nada bercanda.

__ADS_1


"Eh, body shaming itu. Bisa kena pasal loh," Fadlan coba mengingatkan.


"Pasal 351 UUD 1945 dengan ancaman hukuman 5 tahun dan denda 1 M," lanjut Fadlan sekenanya.


"Lah, sok tau lagi dia. UUD 1945 kok dipakai untuk bullying," sahut yang lainnya menahan lucu.


"Udah, udah....ga usah diteruskan. Kalau cuma itu syaratnya kita siaplah. Ga masalah buat asupan yang kerja, biar hasilnya ok. Jadi Fix, ya..satu batang coklat atau satu susu kotak ya? Jangan ada biaya lain," Braga kembali menegaskan.


"Iya, deh. tar gua kasih susu kental manis,"


"Ogah, gua maunya susu kotak atau coklat. Tidak terima yang lain," tegas Fadlan lagi.


"Iya, iya...bawel banget ih. Pokoknya siap. Gua yang tanggung jawab," Braga menengahi.


"Maksudnya bukan gua traktir loh, ya. Gua cuma mastiin yang lain ok. begitu!" buru-buru Braga klarifikasi sebelum temannya minta ditraktir.


"Oke, karena urusan nametag sudah clear. Sekarang tolong lengkapi daftar ini. Tulis nama dan no hp kalian. Mulai hari ini dan seterusnya, kita butuh grup untuk koordinasi,"


Braga segera mengulurkan kertas yang dipasang pada papan berjalan pada Shira kemudian beredar ke seluruh anggota kelas yang lainnya.


"Boleh, ga ada salahnya tuh. Biar kita saling kenal," sahut Braga menimpali.


Merasa ditodong seperti itu, tidak enak juga jika menolak. Dengan senyum yang masih mengembang, akhirnya Shira angkat bicara.


"Ok, memang sudah seharusnya saya memperkenalkan diri tanpa harus diminta. Namun sebelum saya minta maaf, saya baru datang hari ini bukan karena faktor kesengajaan tapi memang ada urusan yang harus saya selesaikan di Jerman,"


Sembari mengisi daftar nama dan nomer telpon yang beredar, Shira memperkenalkan dirinya dengan bahasa yang cukup santai. Ia masih duduk di tempatnya semula, semua yang ada di situ mendengar dengan seksama setiap kata yang diucapkan oleh gadis cantik itu.


"Apa betul ayahmu yang menjadi pembina upacara pagi tadi?" tebak Witri. Bisik-bisik yang beredar bahwa anak gubernur aktif sekarang ini ada diantara mereka memang sudah sampai terdengar di telinga Witri.


"Iya, dia papaku," Shira dengan tegas.


"Wah, besok-besok boleh dong ajak kita-kita main ke pendopo. Pengen selfie-selfi di sana?"

__ADS_1


"Boleh. Silahkan kapan kalian mau. Dengan senang hati," sahutnya dengan senang


"Apa kamu tinggal jln. Pegangsaan?" [ rumah dinas gubernur]


"Tidak. Kami sekeluarga tinggal di rumah pribadi. Rumah dinas hanya untuk menerima tamu,"


Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan kepada Shira. Gadis itu dengan ramah menjawab setiap pertanyaan dari temannya tanpa terkecuali. Termasuk tentang asmaranya.


"Kamu sudah punya pacar, belum?" tanya Fadlan tak mau kalah.


"Belum dan untuk saat ini tidak ada pikiran ke sana. Apa kamu berniat pedekate, nih?" balas Shira dengan maksud bercanda.


"Walaupun engkau tergila-gila padaku, aku akan menolaknya. Aku cukup tau diri," balas Fadlan sekenanya dengan mimik yang menahan tawa.


"Baguslah, Tong jika lu sadar diri. Dengan begitukau sudah mengurangi jumlah anggota barisan sakit hati," sahut Braga.


"Nah, elo tu yang masuk diurutan pertama," sahut Fadlan disertai tawa terbahak-bahak.


Shira hanya bisa ikut tertawa melihat ulah teman-teman barunya itu. Candaan itu menyelamatkan dirinya dari prosesi perkenalan. Tidak ada lagi yang bertanya sesuatu padanya, seterusnya berlanjut pada candaan Fadlan dan Braga.


Bella yang mendengar candaan itu menjadi terganggu pikirannya. Apa mungkin Braga tertarik pada Shira? Ada satu garis kekecewaan yang terbentuk secara tidak sadar dalam hatinya. Bella tidak menyadari jika ia sudah mulai melukai hatinya sendiri.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ ikut akunnya

__ADS_1


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏


__ADS_2