I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Perubahan Jadwal


__ADS_3

Seharusnya, kegiatan berlanjut hingga minggu sore. Berarti seluruh siswa baru memang harus menginap di asrama karena kegiatan pra orientasi mereka fuul.


Namun karena ada perubahan, meskipun tidak ada jadwal yang dipangkas waktu pelaksanaannya yang di padatkan. Sore ini anak-anak bisa kembali ke rumah untuk istirahat dan balik ke sekolah senin pagi.


"Terpaksa kita padatkan jadwal anak-anak agar kita bisa mempersiapkan ucapan untuk hari senin. Jangan lupa, hubungi guru dan siswa (terutama OSIS) sebagai petugas upacara agar Minggu pagi bisa latihan," begitu bunyi pesan WA yang dikirim oleh kepala sekolah kepada pak Wasis.


Setelah menerima informasi tersebut, selaku ketua MPLS Pak Wasis segera menyusun jadwal baru. Semua kegiatan akan dituntaskan hari ini.


Hal itu ia sampaikan kepada siswa pada saat mereka berkumpul usai melakukan survei lingkungan sekolah.


Kontan saja berita itu disambut baik oleh siswa dengan tepuk tangan dan teriakan gembira.


"Yes!" terdengar suara dari samping belakang.


"Hore..." seru siswa yang ada di barisan tengah


"Ajib,"


Seruan-seruan itu mereka lontarkan begitu saja tanpa bermaksud tidak senang mengikuti kegiatan MPLS.


"Jiwa SMP masih mendarah daging di dada kalian," seru pak Wasis melalui pengeras suara yang bisa di dengar oleh semua siswa. Antara lucu dan kesal ia hanya bisa tersenyum melihat wajah-wajah polos yang akan menginjak masa remaja itu bersorak kegirangan.


Termasuk Braga, apa yang di dengarnya itu merupakan oase bagi dirinya.


"Aku bisa istirahat di rumah. Alhamdulillah," ucapnya penuh syukur.


*****


Menjelang ashar, siswa sudah bubar. Kegiatan ditutup dengan sholat azhar bersama bagi yang muslim.


Setelah sholat, beberapa siswa ada yang memilih pulang karena rumahnya jauh, takut keburu gelap. Ada juga yang tetap bersantai di asrama untuk melepaskan lelah.


Bella, Verra, dan Sella yang masih mengenakan pakaian olah raga sudah menyandang tas ranselnya. Mereka bertiga kompak meninggalkan kamarnya sore itu.


Ketiganya tidak ada yang dijemput oleh orang tua mereka. Merek sengaja tidak memberitahukan perubahan jadwal ini agar orang tuanya tidak repot-repot untuk menjemput.


Karena tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari sekolah jadi mereka memilih untuk duduk-duduk dulu di depan koperasi, menikmati minuman kaleng dingin yang baru saja mereka beli.


"Naik apa?" tanya Verra pada Bella dan Sella.


"Ojol," sahut Bella


""Aku naik busway aja," Sella menimpali.


"Bareng aja kalo gitu. Nanti aku turun di Pasar Mangga bisa lanjut ojol ke rumahku. Cuma lima menit," Verra menyahuti dengan riang karena berhasil mendapatkan teman naik angkutan.


"Santai dulu ah, masih keringetan," seloroh Bella.


"Iya, slow...ga harus mandiin anak dan bikin kopi buat suami ini. Ngapain buru-buru pulang. Duduk di sini, siapa tau ada pangeran yang mau kasih tebengan. Ga jadi keluar duit kita....," Ujar Sella dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Ngarep...eh ngarep banget," ujarnya lagi.


"Apaan sih, omonganmu ga jauh-jauh dari istri ..suami...udah kebelet nikah apa" sahut Verra ketus.


"Kebelet....eh kebelet kawin. No...noh suamiku baru turun dari istananya," sahut Sella, pandangannya ke arah anak tangga asrama laki-laki. Terlihat Fadlan dan Braga sedang menuruni anak tangga dan menuju ke pintu gerbang.


"Woi....," teriak Sella dengan sekuat tenaga.


" Suamiku.....sini. Sini sebentar," panggil Sella dengan suara yang nyaring.


"Sella apa-apaan sih. Tuh diliat orang. Dikira kamu ini cewek apaan lagi," Verra makin sewot.


"Sttt...diem! Ini urusan rumah tangga. Yang jomblo ga usah ikut campur. Ok...ga usah ikut campur!" Sella memberikan peringatan tegas dengan memasang telunjuknya di depan bibir. Kode agar Bella dan Verra tidak ikut campur urusannya.


Terlihat Braga dan Fadlan menuju ke arah mereka.


"Apaan?" tanya Braga begitu serius pada Sella. Ia juga mengarah pandangannya ke Bella dan Verra bergantian.


"Duduk dulu sini. Ngapain buru-buru pulang. Ga ada yang bikinin kopi. Permaisurimu masih ingin di sini," Sella bicara dengan pedenya sembari memasang mimik yang lucu.


Tawa Fadlan yang melihat itu jadi melesak seketika. Begitu juga Verra dan Bella, meski cukup kesal karena mulut cepreng temannya itu, tak urung mereka tidak bisa menahan senyumnya.


"Iya, aku sudah di jemput pak Dul. Dia lagi OTW ke sini," jelas Braga.


"Duh...kapan ibu mertua membiarkan suamiku naik angkot atau busway. Jangan seperti ini terus, kan sudah SMA," celetuknya lagi dengan wajah semakin lucu.


"Next time ya, karena kurang fit jadi aku minta jemput untuk hari ini," Braga berusa menjelaskan.


"Eh....ambil di dalem. Mau satu, 2 atau selusin ga masalah. Kirim tagihannya ke tuan Braga," Sella menimpali.


"Itu mah curang namanya. Sama aja kita beli sendiri," gerutu Fadlan.


Bella dan Verra tidak bergeming dari tempat duduknya. Mereka hanya menyimak ocehan Sella dengan Braga dan Fadlan, sesekali ikut tersenyum jika ada sesuatu yang mengundang tawa.


"Bel, elo dijemput?" tanya Fadlan serius.


"Ga, naik ojol. Tapi belum pesan. Mau nyantai dulu,"


"Oh, aku nunggu di sini aja. Di luar panas," Tampa menunggu persetujuan, Fadlan mengambil tempat duduk diantara Bella dan Verra.


"Bareng dia?" tanya Fadlan pada Verra, telunjuknya mengarah pada Bella.


"Ga, beda arah. Aku bareng Sella mau naik busway,"


Fadlan mengangguk faham.


"Emang rumahmu dimana?" tanya Fadlan lagi. Kali ini pada di tujukan pada Bella.


"Jln. Komarudin 2. Sekitar 30 menit dari sini kalau naik ojol,"

__ADS_1


"Bareng Braga aja noh. Dia melintas jalan itu kok," ujar Fadlan tanpa bertanya lebih dulu pada Braga.


Braga yang belum siap dengan ucapan Fadlan menjadi bingung menimpali.


"Aku belum tau Pak Dul langsung pulang atau jemput papa sekalian. Kalo langsung pulang sih kamu bisa ikut aku sekalian," Braga menimpali dengan sedikit terbata-bata.


Ia tidak mungkin sembarang menawarkan tebengan pada orang, urusannya bakal panjang jika mamanya tau.


"Ah, jangan mimpi. Nih istrinya aja belum pernah ngerasain jok empuk mobilnya. Apalagi yang baru kenal kemaren sore. Ibu mertuaku galak," ucapan Sella berhenti seketika itu juga. Sebelum ia melanjutkan ocehannya, Braga lebih dulu menutup mulut Sella dengan tangan kanannya.


Semua yang melihat tertawa, Sella yang cukup kaget serta merta mengigit tangan Braga saat itu juga.


"Jorok ih, bisa rabies nih tangan gua," buru-buru Braga berlari ke arah kran yang ada di sisi kanan koperasi dan mencuci tangannya hingga bersih.


"Sialan lo Sell," ocehnya lagi.


"Sorry. Situ yang kasih tulang, masa aku anggurin," Ucap Sella sekenanya.


Cukup lama mereka berlima bercanda ria sembari menghabiskan minumannya. Sella pada akhirnya membeli dua kaleng minuman lagi, untuk Braga dan Fadlan.


Tak lama, ponsel Braga berdering. Sepertinya jemputan sudah datang.


"Aku duluan, ya. Pak Dul sudah datang," pamitnya setelah itu.


"Bareng aja. Kita semua mau keluar kok. Minumannya sudah habis," sahut Fadlan


Mereka berlima berjalan beriringan menuju gerbang. Sembari jalan, Fadlan dan Bella memesan ojol melalui aplikasi hp masing-masing.


Dalam hati Bella masih menunggu tawaran Braga, ia bordoa semoga cowok itu mau memberikan tumpangan padanya. Entah kenapa, perasaan begitu senang jika berada di dekat Braga, bahkan mendengar namanya pun hatinya sudah berbunga-bunga.


Meskipun ia sudah mengetik lokasi jemput-antar, namun Bella belum mengklik pesanan. Ia melihat Braga yang sudah menghampiri Honda CRV merah yang parkir di depan gerbang sekolahnya.


"Ah, sepertinya dia lupa akan pesan Fadlan. Ketika sudah duduk di sisi sopir, ia justru melambaikan tangannya ke arah mereka berempat.


"See you," ujarnya sembari melambaikan tangan.


Empat orang yang sudah berdiri di gapura ini juga berbuat hal yang sama. Melepas kepergian Braga dengan lambaian tangan.


Ada satu ojol yang datang menghampiri mereka, rupanya atas pesanan Braga. Tanpa menunggu lebih lama ia juga segera pamit.


"Sampai ketemu, ya. Aku duluan," ujarnya dengan senyum yang ramah dan lambaian tangan.


Verra dan Bella membalas dengan hal yang sama. Sedangkan Sella terlihat sedang menerima telpon dan melihat ke arah arahnya namun tidak disapanya sama sekali.


"Fadlan, elo cemburu ya gua sudah jadi istri si won spe segitu keselnya elo ama gua," celetuk Sella tak tau malu.


"Eh, beneran kan. Tuh dia makin kesel. Dia cemburu, bang....mukanya merah tuh," cerocos Sella.


"Buruan bang," ujar Fadlan sembari menepuk pundak kanan driver ojolnya.

__ADS_1


Mendapat perintah disertai tepukan yang cukup keras di bahunya, membuat mang ojol yang masih bingung akan situasi calon penumpangnya itu segera tancap gas.


Fadlan mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan Sella. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali geleng-geleng kepala dan meninggalkan tempat itu dengan menahan kesal.


__ADS_2