I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Persiapan


__ADS_3

( Di rumah Braga )


Sejak pagi, mama sudah begitu sibuk mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa Braga ke asrama. Mulai dari pakaian harian, kostum olahraga, sepatu, sampai ke bagian yang paling kecil seperti parfum, kaos kaki, CD, dan perlengkapan mandi.


Berdasarkan surat edaran dari sekolah mengenai barang apa saja yang harus di bawa oleh anak-anak, mama menyiapkannya satu persatu, tanpa terkecuali.


"Bantuin Mama, dong. Kamu ini dari tadi cuma males-malesan aja. Yang mau sekolah siapa?" tegur mama dengan nada halus.


Braga yang masih tergolek di atas tempat tidurnya seraya tidak menggubris teguran mamanya itu. Sejak pagi ia terlihat tidak bersemangat. Mukanya suntuk seperti ada sesuatu yang memberatkan pikirannya.


"Kamu itu harusnya bersyukur. Tidak semua orang bisa masuk sekolah itu. Mau apa lagi coba, kamu hanya diminta belajar dan taat aturan. Selebihnya biar mama yang urus," oceh wanita itu lagi.


"Braga! Kamu denger nama ga sih?" kali ini suara mama mulai meninggi karena apa yang diucapkannya tidak ditanggapi oleh putra bungsunya itu.


"Iya, Ma. Braga harus ngapain?" tanya anaknya itu tanpa merasa bersalah.


"Mau ngapain? Please dong, Dek. Dengerin mama. Ingat kata-kata yang mama ucapkan tadi,"


"Iya, Braga denger,"


"Ayo bangun. Yang semangat. Mama ga suka liat anak laki-laki yang loyo seperti itu," perintah mama dengan nada yang sedikit keras.


Dengan berat, Braga beranjak dari tempat tidurnya. Kini ia duduk di sisi tempat tidur. Ia melihat satu koper besar sudah penuh dengan pakaiannya. Satu tas lagi juga berisi barang-barang miliknya. Ia hanya menghela nafas.


"Apalagi yang mau disiapkan, segitu banyaknya barang kok diangkut semua. Seperti orang yang mau berangkat perang bertahun-tahun tidak akan kembali," keluh Braga dalam hati.


"Tuh kan, malah duduk. Ayo bantuin, Mama!"


"Apalagi, Ma. Tasnya sudah penuh. Semua barang sudah di situ," sahut Braga yang masih mengamati tas yang ada di dekat kakinya.


"Apa kau tidak mau bawa laptop? Siapkan charger, flashdisk, audionya. Nanti ada saja yang tertinggal,"


"Sudah, sudah ada di dalam tasnya. Semuanya," ujar Braga tak kalah tegasnya.


Mama menghampiri Braga dan memencet hidung anak itu saking dongkolnya.


"Kamu itu, ya. Kalo diingetin suka sebel. Tapi ga bisa mengurus keperluannya sendiri,"


Braga hanya diam, ia tidak mengelak sedikitpun ketika Mama memencet hidungnya hingga memerah. Dalam hati ia memang tidak suka diperlakukan seperti ini. Mama selalu menganggap dirinya seperti anak kecil. Semua diatur atas kemauannya.


"Ingat, Ya! Ganti baju setiap abis mandi. Jangan lupa pakaian kotor jangan di taro di atas kasur. Anter pakaian kotor ke laundry. Jangan nyuci sendiri,"


"Iya, Ma,"


"Jangan biarkan barang-barang pribadimu dipakai oleh teman sekamar mu. Jika sudah dipakai mereka buang saja,"


"Termasuk parfum dan minyak rambut gitu?" tanya Braga menyakinkan.


"Kaos dalam dan CD maksud mama. Anak laki kan suka sebarang pakai kalau di asrama," sahut mama sedikit kesal.


"Iya, Ma," Kali ini Braga menahan senyum karena ia melihat mamanya yang sudah mulai kesal dibuatnya.

__ADS_1


"Cepat kau angkut ke mobil. Jangan sampai ada yang tertinggal. Pastikan sepatu dan sendal jepit mu juga sudah dimasukkan,"


Braga bangkit dari tempat duduknya, ia meraih koper besar yang sudah ditutup rapat oleh Mamanya. Menarik benda itu menuju ke garasi mobil. Tangan kanannya menenteng tas yang berisi perlengkapan mandi serta ***** benggek lainnya.


Mama mengikuti langkah putranya itu sembari menenteng tas laptop dan bantal.


"Ngapain bawa bantal sih. Di sana kan ada, Ma?"


"Udah jangan protes. Bawa aja, sebagai pembeda dengan bantal milik asrama. Mama ga mau rambutmu jadi ketombean gara-gara bergantian bantal dengan temanmu," jelas Mama.


"Terserah Mama, deh," sahut Braga pasrah. Ia tahu tak ada gunanya membantah apa yang sudah menjadi keinginan mamanya. Sama saja dengan menegakkan benang yang basah.


Semua barang yang sudah disiapkan, kini sudah tersusun rapi di mobil. Termasuk sepatu, sendal, hingga perlengkapan tenis milikinya.


"Udah, kalau begini sudah tenang. Abis dhuzur kita tinggal berangkat," ujar mama lega sembari menutup rapat mobilnya dan meninggal garasi.


"Ah, dasar anak itu. Kebiasaan banget. Kalau diajak ngomong suka ilang batang hidungnya," gerutunya karena ia tidak lagi melihat Braga di ruang garasi yang ada di samping rumahnya yang luas dan megah itu.


Rumah dinas yang mereka tempati semenjak papa Braga menjabat sebagai wali kota sejak dua tahun yang lalu.


*****


( FaizaButiq )


Siang itu, suasa butik milik Bunda Faiza terlihat cukup sibuk. Terlihat ada tiga wanita paruh baya sedang memilih-milih koleksi kebaya.


"Saya mau hijau toska, apa ada model yang sama untuk tiga orang," tanya Bu Rosda pada Bunda.


"Sebentar ya, Bu. Silahkan duduk dulu. Saya cari dulu nih barangnya,"


Sementara menunggu barang yang sedang di cari, ketiga ibu-ibu itu dipersilahkan duduk di sofa. Bella yang sedang ada di situ menyajikan air mineral pada pelanggan Bundanya.


"Silahkan, Bu. Diminum dulu. Kalau mau yang dingin bisa saya tukar,"


"Yang ini saja. Terimakasih. Eh, Kamu kok kamu belum berangkat ke asrama?" tanya Bu Rosda pada Bella.


Bu Rosda yang bekerja sebagai PNS di kelurahan memang sudah tau kalau Bella di terima di SMA Tunas Negara. Beberapa waktu yang lalu, saat ia berkunjung ke butik sempat ngobrol banyak dengan bundanya terkait dirinya yang ingin melanjutkan ke sekolah mana?


"Belum, Bu. Nanti siang setelah Dhuzur,"


"Memang berangkat ke asrama mana? Mau ke pesantren?" tanya ibu yang satunya.


"Bella di terima di SMA Tunas Negara," jawab Bu Rosda sembari meneguk minumannya.


"Wah hebat sekali. Nasibmu bagus banget, Nak. Bisa sekolah di sekolah yang bagus. Gratis lagi,"


"Alhamdulillah, rezekinya Bella Bu," Bunda menyahuti obrolan para pelanggannya itu sembari membawa kebaya yang diminta.


"Bella itu anak yang cerdas. Sejak SD selalu berprestasi,memang sudah sepantasnya dia diterima di sekolah unggulan itu," jelas Bu Rosda pada kedua temannya.


"Ini kebayanya. Coba dilihat dulu. Kalau cocok boleh di coba, kalau pas baru di bayar,"

__ADS_1


Ketiga ibu itu segera mengambil kebaya yang diulurkan ke arahnya. Dari warna dan modelnya sudah cocok seperti yang mereka inginkan. Kini mereka bergantian ke kamar pas untuk mencoba kebaya itu.


Dari ketiga kebaya yang dicoba, dua diantaranya masih kurang pas dengan tubuh calon pemiliknya. Terpaksa tidak bisa dibawa pulang sekarang karena harus di vermak pada bagian yang kurang pas.


Salah satu fasilitas yang diberikan oleh Bunda Faiza pada pelanggannya adalah memberikan vermak gratis pada bagian yang kurang cocok pada pelanggannya.


Tak lama, mereka bertiga segera pamit setelah ada kesepakatan kapan kebaya yang akan di vermak itu bisa diambil.


Bu Rosda memang kerap berbelanja di butik Bunda, ia juga kerap merekomendasikan teman-teman untuk berbelanja ke tempat ini.


Karena ia sering belanja dan banyak teman-teman kantornya yang menjadi pelanggan bunda, bunda juga kerap memberikan diskon pada Bu Rosda.


"Barang yang mau dibawa sudah siap semua, Kak?" tanya Bunda sembari membereskan kebaya yang akan di vermak berikut catatannya ke dalam plastik.


"Sudah, Bun. Semua sudah masuk tas. Tinggal diangkut,"


"Di asrama jaga diri, Ya. Jaga sikap dengan teman satu kamarmu. Pandai-pandailah menjaga diri,"


"Iya, Bun. Bella akan ingat baik-baik pesan Bunda,"


"Nanti berangkat dianter Abi. Bunda jagain butik. Kalo bunda ikut kasian Abas, dia pulang ga ada orang," Bunda mohon maaf pada Bella karena tidak bisa ikut mengantarkan ke asrama.


"Iya, Bun. Kayak mau pergi ke mana aja, ih. Jumat depan juga pulang," sahut Bella. Ia merasa lucu karena sikap Bundanya yang merasa bersalah karena tidak bisa mengantarnya.


Tidak biasa Bunda bersikap seperti itu. Sebagai anak sulung, Bella tumbuh menjadi anak yang mandiri. Mungkin karena kedua orang tuanya sibuk mengurus tokonya masing-masing dan tidak punya banyak waktu untuk anak-anaknya menjadikan Bella jadi terbiasa mengurus segala sesuatunya sendiri.


Kali ini bunda merasa tidak enak hati. Hari pertama anaknya masuk asrama seharusnya kedua orangtuanya bisa mengantar putri kesayangannya itu.


Namun apa di kata, mbak Ria yang biasa membantunya di butik sedang cuti karena anaknya sakit. Jadi tidak ada yang menjaga butik sekaligus menunggu Abas, adik satu-satunya Bella yang duduk di kelas 7 pulang sekolah.


Β 


\\*


Β 


Happy reading all😍


Jangan lupa sematkan


βœ“ Bintang 5


βœ“ Favoritkan


βœ“ Vote


βœ“ Komentar & Likenya yaπŸ™πŸ™πŸ™


Vote, like, & komentar yang kalian berikan membuat saya makin semangat untuk update 😊


Terimakasih!

__ADS_1


__ADS_2