I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Pagi-pagi


__ADS_3

"Braga bangun! Sudah waktunya subuh. Sebentar lagi kita harus kumpul di lapangan," panggil Fadlan dengan suara lirih. Ia berusaha membangunkan Braga dan mengingatkan jadwal yang akan mereka lakukan hari ini.


"Jam segini kau belum bangun juga, aku kira kau sudah siap-siap," bisik Fadlan dalam hati karena ketika hendak berangkat ke masjid, ia telah membangunkan temannya itu.


Braga tidak bergeming sedikitpun, apalagi sahutan darinya. Fadlan tidak putus asa, ia tetap memanggil Braga berulang kali.


"Braga bangun. Nanti telat loh," Kali ini suara Fadlan sudah sedikit meninggi.


Fadlan membereskan kain sarungnya, melipatnya dengan rapi dan meletakkan benda itu di atas tempat tidurnya.


Fadlan naik ke sisi tempat tidurnya agar ia bisa melihat keadaan Braga. Ia mengguncang-guncang bahu kanan Braga, mulutnya tidak henti-hentinya memanggil Braga.


"Braga, bangun dong. Udah jam 5 ini,"


Braga membuka matanya dengan pelan. Memalingkan pandangan ke samping kanan dan ia mendapati wajah Fadlan yang mulai suntuk.


"Cukup susah juga membangunkanmu," gerutu Fadlan. Karena Braga sudah membuka maganya namun belum bergeming sedikitpun, Fadlan menurunkan kakinya yang pertumpu di sisi ranjangnya.


"Aku mandi duluan, buruan kalau mau ambil wudhu,"


"Ah, payah," gerutu Fadlan lagi karena Braga masih belum sadar meskipun matanya telah berbuka lebar.


Fadlan bergegas ke kamar mandi, jika ia harus menunggu Braga turun dari tempat tidurnya bakal celaka semuanya. Bisa-bisa mereka terlambat berjamaah.


"Bodo amat, awas aja kalau telat nyalahin gua. Dikira gua ga mau bangunin. Berat bro....lebih gampang nembak gebetan daripada membujuk elo turun dari peraduan. Tobat!" keluh Fadlan setengah teriak. Pergi meninggalkan Braga menuju kamar mandi


Ocehannya menghilangkan berganti dengan percikan air dari kamar mandi. Kini terdengar lirih suara sumbangnya melantunkannya tembang Jawa milik penyanyi terkenal sepanjang masa,"


"Dasar loh, suara fals masih dipaksakan menyanyi. Ambyar, rek," keluh Braga.


Ia merasakan tubuhnya panas dingin, kepala pusing dan mata rasanya begitu perih.


"Aku baru bisa tertidur pukul 3.40 WIB. Wajar jika greges begini," Braga mencoba mengingat kenapa tubuhnya bisa meriang seperti itu.


Ia paksakan diri untuk bangun. Dengan pelan ia duduk kemudian kakinya menapaki tangga kayu di sisi tempat tidurnya.


"Dunia berasa berputar," keluhnya lagi namun sedapat mungkin ia harus bertahan.


"Mau apa kau?" teriak Fadlan begitu kaget. Dalam kondisi tubuh yang tidak mengenakan apa-apa, Braga menerobos masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Siapa yang salah? Kenapa pintunya tidak di kunci," sahut Braga tanpa rasa bersalah.


"Kan elo tau kalo gua lagi mandi. Tuh liat, kaitnya copot," protes Fadlan sembari menunjuk ke arah kunci yang tidak ada slotnya,"


"Bodo," sahut Braga singkat. Tanpa memperdulikan ocehan Fadlan ia menyalakan kran dan mengambil air wudhu.


"Egois sekali. Tadi sudah ditawari tapi tidak beranjak. Giliran orang lagi mandi, nerobos masuk aja," Fadlan masih mengoceh karena tidak rela diperlakukan seperti itu oleh Braga.


"Brisik ih. Kayak perempuan aja," kali ini Braga sudah menyelesaikan wudhunya. Ia sempat melirik ke arah bagian paling sensitif milik Fadlan.


Fadlan ingin memukul temannya itu menggunakan gayung yang dipegangnya sejak tadi. Namun niat itu diurungkannya karena Braga segera melangkah keluar dan berdoa di depan pintu kamar mandi.


"Ganjen. Awas aja, ya. Tunggu balasan dariku," ucap Fadlan menahan kesal. Ia meraih pintu dan ingin menutupnya kembali. Namun ia semakin jengkel, pada saat yang bersamaan Braga baru saja selesai membaca doa dan mengusap kedua mukanya dengan tangan, sebelum pintu sempat t


ditutup Braga masih sempat melirik kembali ke arah Fadlan. Pada bagian yang tadi.


Senyum yang begitu menjengkelkan mengembang kembali dari bibirnya, diikuti ejekan dengan manarik keningnya berulang-ulang.

__ADS_1


"Dasar cabul," teriak Fadlan sambil membanting pintu.


Begitu selesai mandi dan tubuhnya masih dililit handuk, Fadlan meneruskan protesnya pada Braga. Ia harus menyelesaikan perkara ini hingga Braga tidak bertindak yang sama lagi padanya.


"Besok-besok aku ga mau kau main terobos aja saat aku lagi di kamar mandi," tegas Fadlan begitu Braga selesai berdoa, masih duduk di atas sejadahnya.


"Santai, bro. Hal yang begitu mah biasa dilakukan sesama atlet. Kita malah ganti kostum berjamaah," sahut Braga dengan enteng. Ia masih menganggap itu perkara biasa dan tidak perlu minta maaf.


"Enak saja. Jangan samain aku dengan teman-temanmu yang lain,"


Braga malah tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi Fadlan yang begitu lucu menurutnya.


"Jadi kau mau apa. Minta pertanggungjawaban gitu. Ah...kayak cewek aja loh. Baru dilihat aja histerisnya ga ketulungan,"


"Tapi untung aku yang lihat, sesama lelaki. Coba kalo yang menerobos masuk perempuan bisa pingsan di tempat, dia. Pagi buta sudah lihat ular segede tangan orok,"


"Sialan Lo, yah," Fadlan menyerang Braga dengan kedua tangannya, namun niat itu diurungkannya karena ia merasakan tubuh Braga begitu panas.


"Kamu demam," tanya Fadlan serius.


"Entahlah. Cuma badanku rasanya ga enak banget. Mungkin karena baru tertidur jam 3.40," jelas Braga.


"Apa? Kau semalaman ga bisa tidur gara-gara nyamuk?" tanya Fadlan heran


"Iya," sahut Braga singkat. Ia melipat sejadahnya dan beranjak dari duduknya.


"Ngomongin gua mirip cewek, sendirinya ga jauh beda," gerutu Fadlan.


Fadlan terus mengoceh hingga Braga beranjak ke kamar mandi. Setelah mendengar suara keran dan siraman yang begitu heboh bak orang menguras bak mandi, barulah ocehan terhenti. Ia merasa Braga tidak akan mendengar apapun yang akan diluapkan.


"Berasa tak benar satu kamar dengan nih orang," gerutu Fadlan begitu kesal.


*****


Fadlan lebih dulu keluar dari kamarnya. Dengan pakaian olah raga lengkap ia segera bergabung dengan teman yang lainnya di lapangan.


Sebagian siswa sudah banyak yang berkumpul, mereka berkolompok satu sama lain dan terlihat sedang berbincang-bincang. Sesekali terdengar suara tawa yang begitu pecah dari mereka.


Perlengkapan sound sistem dan panggung kecil sudah tertata rapi di bagian depan, di bawah tiang bendera. Beberapa senior mereka yang merupakan pengurus OSIS juga sudah hadir. Hari ini jadwal senam dan pengenalan lingkungan, kegiatan ini akan didampingi oleh pengurus OSIS SMA Tunas Negara.


"Baru semalam mereka saling kenal, tapi kelihatannya sudah begitu akrab," bathin Fadlan.


Fadlan menuju kelompok yang paling banyak ia kenal wajahnya. Tentunya kelas IPA 1 yang berkerumun di bawah tiang bendera. Duduk seenaknya tanpa alas sama sekali.


"Kok sendirian, Braga mana?" tanya Roy, salah satu teman sekelasnya.


"Lagi luluran," sahut Fadlan sekenanya


"Ha...ha.... sembarangan aja kalo ngomong. Emang dia cewek," sahut Roy sambil tertawa.


Bella yang juga duduk di situ memasang telinganya dengan baik ketika nama Braga di singgung oleh Roy. Ia tidak mau terlibat dalam obrolan mereka, namun memorinya merekam setiap informasi tentang Braga yang diucapkan teman-teman.


"Mirip. Gara-gara nyamuk dia ga bisa tidur semalaman. Kan aku juga yang repot. Sama seperti membagunkan mayat hidup,"


"Kayak pengalaman aja," celetuk Dara.


"Tadi.... ratusan kali aku manggil-manggil ga ada sahutan. Begitu di ***** baru bangkit seketika itu juga,"

__ADS_1


"Ha..ha... lawak aja lo. Masa mbagunin Braga pake drama ******* segala. Besok-besok panggil aku aja," celetuk Witri.


"Mau?" tanya Fadlan pada Witri dengan serius.


"Siapa yang nolak. Cowok seganteng dia langkah, apalagi tajir dan anak pejabat," sahut Witri lagi.


"Dasar, Lo. Ganjen," sergah Fadlan.


"Hari gini, cewek diem bakal jadi perawan tua bung. Lepas dari zaman Siti Nurbaya, wanita harus menjemput pria idamannya. Faham!" sanggah Witri dengan mimik galaknya.


"Hem....kalo aku ga akan mau sama cewek yang nyosor duluan. Jijay ***... anjay," seru Fadlan dengan ekpresi jijiknya.


"Eh, beda dong. Nyosor sama menjemput itu jelas beda makna, gimana sih. Waktu belajar bahasa Indonesia situ kemana?" balas Witri.


"Udah, kenapa kalian jadi adu urat begini. Pagi-pagi bukannya olahraga malah bersih tegang," sela Roy menengahi.


"Slow aja, Roy. Kita mah becanda kok daripada duduk termenung," sahut Witri seraya melirik Bella yang sejak tadi hanya duduk memegang kedua lututnya.


"Mungkin dia lupa bikinin suaminya sarapan, jadi kepikiran belum sampe di lapangan," sahut Fadlan.


"Anjay, ada-ada aja lu Fad. Ngakak so hard nih gua," tawa Roy yang dikuti Fadlan dan Witri.


Merasa dirinya sedang dijadikan bahan ledekan, Bella memalingkan wajahnya ke arah mereka bertiga.


"Kok aku, sih. Ga ikutan juga di bawa-bawa aja," ujar Bella dengan muka pura-pura jutek.


"Kalo ga dibawa tar ketinggalan, Witri da kawin dua kali u masih cari-cari jodohnya dimana?"


"Sialan, kenapa gua lagi," teriak Witri sembari melayangkan tangannya ke arah Fadlan.


Baku hantam antara keduanya urung berlangsung, terdengar perintah dari pengeras suara agar anak-anak berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing. Seketika itu juga mereka bubar dari kerumunannya, membentuk barisan sesuai intruksi guru yang ada di depan.


Fadlan menyapu pandangan di sekeliling lapangan, ia belum juga melihat Braga ada di sana. Perasaan mulai tidak enak karena ia tau teman sekamarnya itu sedang kurang sehat.


"Cari siapa?" tanya Bela yang mengikuti arah pandang Fadlan.


"Braga"


"Bukannya bareng, malah keluar sendiri-sendiri," ujar Bella.


"Abis dia lama, aku takut telat kalo nungguin cowok itu bersolek,"


Mereka tak lagi berani bersuara karena sudah ada aba-aba untuk mengatur jarak dan merapikan barisan. Semam pagi sebagai kegiatan pembuka pada jari ini akan segera di mulai.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ ikut akunnya


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2