I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Sinar Bulan


__ADS_3

Meskipun siswa yang lain sudah diperbolehkan meninggalkan tempat, terlihat Braga masih duduk di tempatnya semula. Di samping Mr. Yun. Raut wajahnya masih terlihat sedih, namun beberapa kali ia memaksa tersenyum dan melambaikan tangan pada teman-temannya yang ijin pamit untuk segera ke kamar.


Fadlan juga ikut berdiri, menghampiri Braga agar segera kembali ke kamar. Namun Ia melihat sahabatnya itu masih ingin berbicara empat mata dengan wali kelasnya itu.


"Apa aku mengganggu? Kalau begitu aku duluan ya?" Ujar Fadlan saat melihat situasi tidak memungkinkan untuk mengajak Braga.


"Tidak, duduklah di sini. Kita lihat bulan yang menampakkan kesempurnaannya," sahut Mr. Yun sembari mempersilahkan Fadlan duduk di sisinya.


"Sini, duduk di sini. Biar tubuhku sedikit hangat karena diapit dua prajurit," ujarnya mempersilahkan Fadlan diikuti candaannya.


"Kalian teman satu kamar?" tanyanya lagi.


"Iya, Mister,"


"Cocok. Kalian akan menjadi sahabat yang saling melengkapi," sahutnya singkat. Matanya masih tertuju pada bulan yang mulai muncul di balik awan.


"Belajar itu sebuah proses perubahan di dalam diri manusia dan hasilnya bisa berupa peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir atau kemampuan yang lain. Jangan pernah berpikir jika orang yang pandai itu adalah orang yang jago matematika, fisika, dan ilmu eksakta lainnya. Saya bisa dikatakan menguasai ilmu kimia tapi kalau disuruh turun ke lapangan, main tenis ya babak belur di serang lawan," Mr. Yun mulai memberikan pemahaman pada Braga dan Fadlan.


"Braga punya skill sebagai bintang lapangan, bisa jadi Fadlan menjadi bintang kelas. Namun guru maupun orang tua tidak bisa memaksakan Braga harus menjadi seperti Fadlan atau sebaliknya. Apalagi memaksa kalian menguasai keduanya. Itu sudah bisa dikatakan sebagai bentuk pelanggaran. Manusia itu unik. Mereka bisa berkembang dan bersinar sesuai potensi yang ada pada dirinya. Jangan bersedih. Anggap saja ini bagian dari suatu kompetisi yang harus kau menangkan. Tinggal atur strategi dan perbanyak latihan," lanjut Mr. Yun memberi nasehat.


"Terimakasih, mister. Sudah mau mendengarkan keluh kesah kami," ujar Braga.


"Saya tidak menyebutnya sebagai keluh kesah. Orang mengungkapkan apa yang dirasa itu adalah suatu hal yang wajar. Saya acungkan dua jempol. Kamu berani bicara jujur di depan teman-temanmu. Kamu lihat sendiri kan, sebagian dari kalian memilih hal yang normatif untuk di sampaikan. Jika itu sesuai perasaannya saat ini, itu bagus. Namun jika itu sebagai suatu bentuk pencitraan, itu sangat disayangkan. Mudah-mudahan dugaan yang pertama menang benar," Ujar Mr. Yun panjang lebar diiringi tarikan nafas yang begitu panjang.


"Hal seperti ini selalu saya lakukan setiap awal tahun. Baik itu kelas 10,11, atau 12, khusus kelas yang saya bimbing. Saya menghendaki setiap anak saling mengenal satu sama lainnya, dengan begitu mereka sudah mempunyai dasar pemahaman. Kenapa Braga seperti ini? Mengapa Fadlan begitu? Jika sudah ada pemahaman dalam diri anak, ia akan saling membantu dan saling melengkapi. Itu yang saya harapkan,"


"Luar biasa. Mister memang orang yang cerdas," puji Fadlan


"Tidak juga. Itu sudah bagian dari cara pendekatan antar anggota keluarga,"


"Keluarga?" tanya Fadlan sedikit menegaskan. Entah karena ia memang tidak faham dengan maksud ungkapan itu atau sengaja bertanya agar bisa punya bahan omongan dengan wali kelasnya itu.


"Lah, iya. Keluarga dalam arti yang yang lain. Kita tinggal dalam lingkungan yang sama dan selama di sekolah saya adalah orang tua anda,"


"Hem.... sepertinya kamu tidak menyimak saat saya bicara tadi," keluh Mr. Yun.

__ADS_1


"He..he...maaf Mister. Saya baru ingat. Iya, tadi sudah dijelaskan sebagai penutup pada acara perkenalan,"


Mr. Yun menebuk bahu Fadlan dengan pelan. Ia faham anak itu tidak benar-benar bertanya tentang makna keluarga.


"Apa Mister tinggal di asrama?" tanya Fadlan lagi.


"Tidak selalu. Sekali waktu jika merasa jenuh saya akan pulang,"


"Oh, saya melihat mister keluar dari asrama guru. Saya kira mister dan keluarga tinggal di sini?"


"Tidak. Saya belum berkeluarga alias masih single. Sama seperti kalian," canda Mr. Yun.


"Hanya saja saya sudah termakan usia, kalian masih remaja,"


"Ha..ha...," Ketiganya tertawa lepas.


"Mister, mister kan tampan. Bahkan anak-anak cewek sempet bisik-bisik kalau mister ini mirip sekali sama bintang korea, oppa So Ji Sub. Pasti mister bingung nih milih-milih yang mau dijadiin istri karena saking banyaknya yang ngantri," seloroh Braga.


Fadlan yang mendengar pernyataan temannya itu hanya meringis. Ia memang punya pertanyaan serupa namun mana berani ia tanyakan langsung ke orangnya. Apalagi ia baru melemparkan pertanyaan yang konyol barusan ini.


"Braga, kau sedang tidak merayuku kan? Atau kamu ini penyuka sesama jenis," canda Mr. Yun. Ia sengaja melontarkan pertanyaan balik karena dirinya paling tidak suka jika ada yang bertanya prihal statusnya itu.


"Ah, mister. Normal lah. Meski saya belum pernah pacaran, leher saya suka lekas meninggi jika ada perempuan cantik menatap saya," sahut Braga seketika dengan ekpresi bercanda.


"Ah, kamu ini. Sepertinya sudah waras. Otaknya lekas jernih kalau sudah bicara yang aneh-aneh," sahut Mr. Yun.


Mr. Yun menepuk bahu kanan Braga. Senyum termanisnya ia berikan pada anak itu, anak didiknya yang baru saja keluar dari kesedihannya.


"Sudah malam! Tidak baik jika kita berlama-lama di sini. Kepala sekolah berpesan agar semua siswa harus sudah kembali ke kamarnya tepat pukul sembilan,"


"Ayo, kita istirahat. Besok pagi sudah ada kegiatan yang menanti," lanjut Mr. Yun lagi. Kali ini ia bangkit dari tempat duduknya, dikuti oleh Braga dan Fadlan


"Dilan, semoga bisa segera tidur nyenyak," seru Mr. Yun sembari melangkah beriringan.


"Fadlan, mister. Biasa dipanggil Fad," protes Fadlan karena wali kelasnya itu salah menyebut namanya.

__ADS_1


"Ah, saya lebih suka panggil kamu Dilan. Nama itu lebih akrab ditelingaku. Rajanya bucin remaja era 20an," seru Mr. Yun menahan senyum.


"Terserah, Mister saja. Kalau ingin manggil dengan sebuta itu silahkan saja. Dimana-mana guru meski salah ga boleh di koreksi," kali ini Fadlan yang berusaha menahan tawa. Braga dan Mr. Yun justru tertawa terbahak-bahak mendengar sekalinya Fadlan bicara bikin orang pengen ngelempar batu bata.


"Sudah nyimpen nomer hp mamanya Braga, kan?" tanya Mr. Yun pada Fadlan. Kali ini dengan nada serius.


"Belum. Untuk apa, ya?" sahut Fadlan serius dan sekaligus balik bertanya.


"Kalo Braga mewek lagi, kamu bisa menghubungi mamanya segera. Mister barangkali sudah di alam mimpi," canda Mr. Yun disertai tawanya yang begitu lepas.


"Sialan. Fadlan yang skakmat mister kenapa saya yang di bully," proses Braga.


Tak ada jawaban dari Mr. Yun. Kali ini ia sudah berbelok ke arah asrama dan melambaikan tangannya ke arah kedua siswanya itu.


Braga dan Fadlan berhenti sebentar, mereka membalas lambaian tangan Mr. Yun dan terus memandangi ke arah pria itu hingga tubuhnya yang tinggi semampai hilang di balik tempok asrama.


"Aku mau sholat dulu di masjid. Kamu duluan aja kalo sudah mau tidur duluan," kata Fadlan saat mereka akan melanjutkan langkahnya.


"Bareng aja. Aku juga belum sholat isya," sahut Braga yang segera menyusul langkah temannya itu.


Mereka berdua menuju ke masjid, dari kejauhan masih terlihat suasana masjid yang cukup ramai. Sebagia anak ada yang tengah menunaikan sholat, sebagian lagi sudah beranjak meninggalkan tempat ibadah yang megah itu.


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


Happy reading all😍


Jangan lupa sematkan


βœ“ Bintang 5


βœ“ Favoritkan


βœ“ Vote


βœ“ Komentar & Likenya yaπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Vote, like, & komentar yang kalian berikan membuat saya makin semangat untuk update 😊


__ADS_2