
Usai makan malam dan sholat isya berjamaah, Fadlan kembali dan stay di kamar. Meninggalkan Braga yang masih tampak ngobrol santai dengan seniornya di Mushola. Ia mulai berjibaku dengan laptopnya, menyelesaikan proyek nametag kelasnya.
Fadlan mulai membuka foto yang dikirim teman-temannya via WA satu persatu, mengeditnya dan memasangkannya dalam nametag yang bersangkutan.
"Untung internetnya lancar, buat download sangat ramah banget. Bisa cepat beres kalau begini ini,"
Satu nametag bisa dikerjakannya dalam waktu dua hingga tiga menit. Jadi untuk menyelesaikan semuanya hingga proses cetak, Fadlan butuh waktu sekitar 1,5 jam.
Fadlan memutar lagu yang sudah tersimpan dalam laptopnya sebagai temannnya bekerja. Sesekali terdengar suara lirihnya, mengikuti lirik lagu yang sedang berputar.
Braga yang baru saja datang menghampiri Fadlan yang tengah menyelesaikan tugasnya. Ia duduk di samping Fadlan dan melihat pekerjaan temannya itu sudah mulai beres.
Di sisi meja, dalam sebuah kardus kecil sudah bertumpuk susu kotak dan coklat dari teman-teman sekelasnya. Tangan Braga menyambar satu kotak susu yang ada di kardus itu.
"Bagi satu, ya?"
Braga hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala, kapan teman-teman sekelasnya mengumpulkan ini semua. Tau-tau coklat berbagai merk dan ukuran serta susu kotak permintaan Fadlan sudah tertumpuk dalam satu kardus.
"Pinteran aja kamu cari stok makanan. Sepertinya semua udah setor nih?" Ujar Braga lagi.
"Iya, elo doang yang belum. Udah ga setor, ambil punya orang lagi," sahut Fadlan sedikit sewot.
"Hemmm..... peritungan banget,"
Fadlan tidak menimpali, ia masih fokus pada pekerjaan. Ketika Braga menghabiskan susunya dan mulai melirik coklat yang batangan. Braga mengambil coklat yang paling atas dan membukanya.
"Jangan yang itu. Itu dari Bella,"
Braga mengurungkan niatnya membuka coklat yang sudah ia pegang. Dengan tetap memandangi benda itu, ia bergumam lirih
"Apa karena dari Bella lantas ga boleh gua buka?"
"Ambil yang lain kalau mau. Jangan yang itu," kali ini Fadlan tidak hanya bicara. Secepat kilat coklat yang ada di tangan Braga ia rampas.
"Segitunya banget loh," seru Braga kaget.
Fadlan menyingkirkan coklat pemberian Bella ke dalam saku celananya. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya lagi tanpa memperdulikan Braga yang memandang heran padanya.
__ADS_1
"Kasar sekali," umpat Braga. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, terdengar suara air bergemricik dan suara anak itu sedang menggosok gigi.
"Gitu aja ngambek," gumam Fadlan karena ia tau Braga tidak berminat lagi dengan coklat yang lain setelah Fadlan merebut coklat yang sudah mau dilahapnya itu.
"Jadi cowok kok sensitif banget beat...," gumam Fadlan lagi sembari tersenyum tipis.
Setelah keluar dari kamar mandi pun, Braga tetap diam. Ia mengabaikan pandangan Fadlan yang tertuju padanya. Untuk menghindari teman sekamarnya itu, Braga bergegas naik ke tempat tidur dan membiarkan Fadlan tetap dalam kebingungannya.
"Jangan tidur dulu dong. Coba cek dulu. Ini sudah cocok belum dengan syarat yang ditentukan kakak OSIS?" tanya Fadlan sembari mengarahkan laptopnya ke arah tempat tidur Braga.
"Braga, Lo belum tidur kan? Mau gua print nih kalau udah oke?" tanya Fadlan lagi.
Ia tau jika Braga belum tidur. Sinar hp masih terlihat terang dari bawah. Sepertinya Braga sedang membuka gedgetnya itu dalam posisi tubuh yang tengkurap.
"Ya, elo tong. Ditanya diem aja. Masa gara-gara coklat aja sampe segitu ngambeknya," teriak Fadlan semakin kesal.
"Loe boleh ambil nih semuanya, abisin. Tapi jangan yang ini. Coklatnya yang dari Bella itu kesukaan Tante gua," Fadlan mencoba memberikan penjelasan. Ia berharap, alasan itu bisa mencairkan kekesalan Braga.
Merasa tidak ada harapan untuk mendapatkan koreksi dari Braga, Fadlan akhirnya memilih untuk segera ngeprint nametag itu agar bisa ia gunting dan di pasang ke gantungan yang sudah disediakan oleh teman-temannya sore tadi.
Nametag yang sudah diketik nama, tanggal lahir, dan dipasang di foto orang yang bersangkutan itu satu persatu selesai di cetak dengan kertas bufalo. Satu lembar kertas untuk empat nametag, jadi ia hanya butuh waktu untuk ngeprint delapan lembar saja. Tidak sampai setengah jam, nametag itu sudah terpasang di gantungan masing-ma sing.
"Paduan warna yang cantik, nametag dengan latar belakang ungu dengan tali gantungan berwana merah," gumam Fadlan dalam hati. Ia merasa puas dengan hasil kerjanya. Foto teman-temannya itu terlihat cantik dan ganteng-ganteng karena keahliannya dalam mengedit di foto.
"Ngejreng," serunya lagi. Kali ini senyumnya mengembang dengan sempurna.
Sebelum beranjak tidur, ia memasukkan nametag itu ke dalam tasnya. Tidak lupa, ia menghitung ulang jumlahnya bahkan mengecek nama-nama temannya menggunakan absen kelas. Ia khawatir jika ada yang tertinggal.
"Cukup.... Alhamdulillah," ujar Fadlan sembari menutup kembali tasnya.
Karena hari sudah larut dan dengkuran Braga juga semakin kuat mendorongnya untuk segera naik ke peraduan, Fadlan bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan berwudhu. Tentu saja ia tidak melupakan kebiasaan membaca ayat suci Alquran sebelum naik ke tempat tidur.
******
Braga begitu kesal atas sikap Fadlan yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. Ia paling tidak suka jika ada orang yang merampas secara kasar apapun yang ada dalam genggamannya. Termasuk coklat pemberian Bella pada Fadlan.
__ADS_1
"Apa istimewanya coklat itu? Di bawah juga banyak. Gua juga bisa beli semua stok yang ada di koperasi. Apa karena pemberian Bella membuatnya jadi begitu spesial bagi Fadlan?"
"Jika gara-gara itu, atrinya Fadlan mempunyai perasaan spesial pada Bella?"
"Celaka...,"
"Ah...jika benar seperti itu, putuslah harapanku. Fadlan pasti akan melarang Bella dekat-dekat dengannya,"
"Tidak, jangan sampai mereka jadian. Aku akan mencegahnya....jangan sampai kedekatanmu dengan Bella jadi rusak karena pria kasar itu," pekik Braga dalam hati.
Berbagai pertanyaan dan pikiran tentang Fadlan dan Bella berkecamuk dalam otak Braga. Hatinya begitu kesal. Ia ingin marah, namun tidak punya alasan untuk melakukannya.
Ia memilih untuk tidur daripada meminta kejelasan pada Fadlan. Salah-salah si Blekek itu malah jadi curiga balik. Dia bisa menganggapku sebagai rival. Ah. ... Rasanya kurang tepat juga jika ia membahas masalah itu saat ini.
Braga membuka ponselnya, ia melihat grub WA kelasnya masih ramai. Beberapa siswa membahas nametag, ada juga yang sekedar ngobrol ga karuan.
Braga melihat no kontak Bella, dilihatnya cewek yang sedang dipikirkannya itu sudah tidak aktif sejak beberapa waktu yang lalu.
"Mungkin dia sudah tidur," pikir Braga membuat kesimpulan sendiri.
Tak lupa, ia juga melihat DP WA-nya. Bella memasang dirinya sedang selfie. Mengenakan t-shirt merah, rambut terurai rapi, dan senyum mengembang sempurna.
"Cantik sekali. Wajar jika Fadlan menaruh hati padanya," gumam Braga sembari menarik nafas yang panjang.
Cukup lama ia mengamati wajah imut Bella sebelum akhirnya ia mematikan ponselnya dan memilih untuk tidur.
Braga masih mendengar jelas panggilan Fadlan yang meminta pendapat tentang hasil kerjanya. Namun karena moodnya sedang tidak baik, ia memilih mengabaikan temannya itu dan pura-pura tidur.
"Bodo amat. Pikir aja sendiri,"
Seru Braga dalam hati.
Dalam posisi tubuh yang terangkum, ia tutup kepalanya dengan bantal. Berusaha menyembunyikan pandangan dan pendengarannya dari Fadlan.
Happy reading all. Jangan lupa VOTE dan komentarnya๐๐๐๐
terimakasih!!!!!
__ADS_1