I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Upacara


__ADS_3

Dalam situasi biasa, SMA Tunas Negara sudah di kenal sebagai sekolah yang tertib dan disiplin. Semua siswa melaksanakan semua peraturan yang sudah ditetapkan dengan penuh kesadaran.


Seperti itu keadaannya, karena yang diterima di sekolah ini adalah mereka yang mempunyai prestasi terbaik, punya kesadaran dan minat belajar yang tinggi dan mempunyai karakter yang baik.


Seperti pagi ini, saat bell sudah berbunyi, tidak ada siswa yang tergopoh-gopoh masuk pintu gerbang menembus pos penjagaan. Semua sudah berbaris rapi di lapangan. Lima menit sebelum pelaksanaan upacara bendera, sesuai aturan semua siswa sudah berbaris rapi sesuai kelasnya masing-masing.


Di beberapa sisi pintu gerbang, berdiri beberapa orang berseragam dinas berwarna hijau. Mereka ditugaskan menyambut kedatangan Pak Gubernur yang akan menjadi pembina upacara pagi ini.


Layaknya suatu tempat yang akan di kunjungi pejabat, situasi sekolah terlihat lebih rapi dari biasanya. Tidak terlihat jika sekolah baru dimulai setelah libur kenaikan kelas.


Semua tanaman terlihat hijau dan terawat. Segar, beberapa tampak pohon yang sedang berbunga di letakkan pada sudut yang terlihat oleh pandangan umum. Koridor dan seluruh ruang kelas bersih, rapi, terbebas dari debu.


Di sisi kiri lapangan, tersedia meja, berikut gunting dan alat tulis yang disiapkan di atas nampan kecil.


Pasukan pengibar bendera dan paduan suara juga mengenakan seragam yang biasa mereka kenakan jika ada tamu undangan.


Ya, hari ini adalah hari pertama sekolah. Upacara pertama yang dilakukan setelah siswa libur kenaikan kelas selama dua minggu sekaligus pembukaan MPLS secara resmi oleh orang nomer satu di daerah ini.


Keberadaan Shira di barisan IPA 1 cukup mengundang perhatian yang lainnya. Meskipun mereka sudah tahu sebelumnya jika jumlah personel mereka kurang satu, namun tetap saja wajah-wajah kepo itu memandang penuh rasa ingin tahu ke arah Shira yang sudah berbaris rapi di sebelah kanan. Bersebelahan langsung dengan Bella yang ada di baris tengah IPA 1.


Shira tak henti-hentinya mengembangkan senyum pada mereka yang melirik ke arahnya. Sesekali ia juga menundukkan kepala sebagai salam perkenalan.


"Berasa menjadi miss invisible, nih gue," bisik Shira dalam hati. Ia sadar, pandangan penuh menyelidik itu tujuannya cuma satu. Menilai keberadaan dirinya yang menjadi beda karena sebab dan lain hal.


Shira yang tidak menampakkan batang hidungnya saat malam perkenalan, tidak mengikuti kegiatan Jumat Sabtu seperti yang lainnya jelas saja mengundang perhatian.


Karena itulah, liburannya di-“extend” alias diperpanjang. Alhasil, dia ketinggalan banyak keseruan di hari pertama masuk, deh dan tentu harus pasrah mendapat sambutan yang aneh teman-teman lain. Shira ibarat mahluk asing yang ada di tengah-tengah orang yang sudah saling mengenal satu sama lainnya.


Ia tidak berani berspekulasi, apa yang dipikirkan oleh teman-temannya itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali bersikap sesantun mungkin.


"Ini anak yang baru datang dari Jerman. Cantik sekali," Fadlan yang berbaris di depannya, sejak tadi memperhatikan Shira dari ujung matanya. Pandangannya terus melirik ke kiri memberikan penilaian atas penampilan teman sekelasnya itu.


Rambutnya yang panjang, dibiarkan terurai dengan jepit pada bagian kanan depan. Kulitnya putih bersih, tubuhnya tinggi semampai. Mukanya yang oval sangat tidak membosankan untuk di pandang. Cantik dan manis. Senyumnya juga kerap mengembang dari bibirnya yang merah dan tipis.

__ADS_1


"Sepertinya ia akan menjadi bintangnya kelas IPA tahun ini," lanjut Fadlan lagi.


Fadlan tidak sadar, ketika pandangannya yang begitu intens terhadap Shira itu mengundang senyum Bella yang ada di antara mereka. Bagaimana tidak? Fadlan seolah tidak menyadari kehadiran Bella yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik mata jalangnya, menyapu pandangan pada diri Shira tiada hentinya.


"Dasar laki-laki. Matanya ga bisa lihat yang terang benderang meskipun sinar matahari sudah cukup silau matanya," bisik Bella dalam hati.


Lain halnya dengan Braga, sejak tadi ia tidak ambil pusing dengan kelakuan teman sekamarnya itu. Meskipun ia berdiri di belakang Fadlan dan bisa melihat jelas kelakuan anak itu, ia hanya diam. Pandangannya tertuju ke bumi, sesekali ia menatap ke depan jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


Penilaian anak-anak kepo terhadap Shira buyar seketika manakala barisan sudah disiapkan dan upacara segera di mulai.


Semuanya mengikuti instruksi pemimpin upacara, hingga upacara berlangsung tidak ada suara yang terdengar dari setiap barisan. Semua mata tertuju ke depan dalam sikap yang sempurna.


Tidak banyak yang disampaikan oleh pembina upacara pada pagi itu. Selain teks yang telah di susun oleh protokoler tentang MPLS, ditambahkan juga pesan-pesan pribadi agar siswa senantiasa memahami fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pelajar.


Setelah gunting pita dan menerbangkan balon ke udara, Pak Gubernur segera mohon diri dan meninggalkan sekolah. Ia juga menyempatkan diri untuk foto bersama dengan guru dan karyawan juga petugas upacara.


Sementara siswa yang lain cukup melambaikan tangan karena upacara belum dibubarkan.


Upacara sudah selesai, semua berjalan lancar, inti dari acara ini adalah ucapan terima kasih dan selamat datang. Barisan murid baru belum dibolehkan bubar, acara selanjutnya diambil alih oleh pengurus OSIS untuk memberikan informasi kegiatan berikutnya.


Peluh membasahi pipi Braga dan anak-anak yang lainnya. Meski jam baru menunjukkan pukul 7.20 WIB namun matahari sudah begitu terik. Pandangan mata Braga mulai berkunang-kunang, dia menghela napas panjang,


"Sampai kapan murid baru akan ini dipanggang seperti ini?" bisiknya setengah mengeluh.


“Selamat pagi. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu” Suara lantang itu membuat perhatian seluruh siswa tertuju pada sumber suara.


Seorang cewek dengan tubuh tegap dan begitu kharismatik mengambil alih pimpinan. Suaranya yang tegas mampu menjadikan suasana sempat ricuh menjadi hening seketika.


“Perkenalkan, saya Adelia Kharisma. Selaku ketua OSIS, saya akan mengambil alih pimpinan” ucapnya lantang dan tegas.


Semua murid baru, terutama kaum adam langsung memekik tertahan, mereka mengagumi sosok Adelia yang sangat berwibawa.


Selama ia memberikan penjelasan, semua siswa terdiam, entah karena informasi yang disampaikan itu sangat penting bagi mereka atau karena mengagumi fisik gadis itu yang nyaris sempurna.

__ADS_1


Inti dari penjelasan yang diberikan, masing-masing kelas akan di dampingi oleh pengurus OSIS selama tiga hari ke depan.


"Keren banget nih cewek," bisik Fadlan pada Braga yang ada di depannya.


Braga mengamati objek yang dimaksud, hanya sekilas saja. Kemudian ia kembali menjatuhkan pandangannya ke bumi, seperti posisinya saat Fadlan membuka pembicaraan tadi.


"Biasa aja," sahutnya datar.


"Keren tau. Cantik dan tegas. Bisa gua tebak, ini cewek pasti galak sama lawan jenisnya. He...he...," ujar Fadlan lagi.


"Gua demen yang begini ini," serunya lagi.


Tak ada sahutan, Braga tidak mau menimpali ocehan Fadlan yang terus mengumbar kekagumannya pada sang ketua OSIS.


Merasa dicuekin, Fadlan menjadi begitu kesal. Ketika barisan di bubarkan dan masing-masing siswa diminta untuk ke kelasnya masing-masing, Fadlan sempat melemparkan tendangan kecil ke arah Braga.


"Sialan, loh. Gua ngomong dikacangi," gerutunya kesal.


Braga tidak ambil peduli, ia terus melangkah mengikuti teman yang lain menuju ke ruang kelas. Kelas X IPA 1 yang berada di sisi barat lapangan upacara.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ ikut akunnya


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2