I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
OSIS vs MPK


__ADS_3

Siangnya, usai ishoma adalah jadwal pengenalan OSIS. Adelia Kharisma sebagai ketua menjelaskan struktur organisasi yang diketuainya berikut program kerjanya. Baik yang sudah dicapai, sedang berjalan, maupun yang masih dalam perencanaan.


Peforma Adelia saat itu begitu mengundang decak kagum dari adek kelasnya. Sosok pemimpin yang berkarisma, menguasai audience, elegant dalam bersikap dan yang paling penting dari itu semua, ia mampu membangkitkan semangat siswa baru untuk bisa menjadi pengurus pada generasi berikutnya.


Meskipun ia menyebutkan beberapa prestasi yang telah diraihnya baik tingkat nasional maupun internasional, namun tidak membuatnya terkesan sombong.


Adelia Kharisma, siswa kelas XI IPA 2 ini memang punya prestasi yang segudang. Selain sebagai bintang kelas yang sudah beberapa kali menjuarai olimpiade matematika tingkat SMP dan berlanjut di SMA, ia juga sangat piawai berkomunikasi di depan umum.


Kemampuannya berkomunikasi yang ia miliki didapatkan dari pengalamannya yang senang berorganisasi dan ditambah dengan les public speaking.


"Keren banget, ya Kak Adel. Bahasa Inggris dan suaranya itu keren banget. Jujur, gue suka. Isnspirasif banget," puji Bella yang dikuti decak kagum.


"Iya, tipikal cewek yang mampu menginspirasi," sahut Witri.


"Gimana caranya bisa se-berkarisma itu dan bisa sesantai itu ngomong di depan umum," ujar Bella masih dengan pandangan yang tertuju pada sang ketua.


"Sering tampil di depan umum. Banyak membaca," sahut Dara


"Kebayang ga liat dia saat debat di Harvard UN Model dan mampu menyabet mendali emas. Hu..hu....," seru Bella lagi begitu terharu.


"Kamu bisa belajar, Bell. Kamu juga punya kemampuan untuk itu, hanya saja keberaniannya harus sering diuji," Dara mencona memberi motivasi.


"Iya, kamu pasti bisa. Tunjukkan jika kamu mampu," Braga yang mendengar pembicaraan mereka ikut menimpali.


"Terimakasih. Memang butuh keberanian untuk memulainya,"


"Semangat, kamu pasti bisa," tegas Braga lagi.


Bella begitu bahagia, kali ini ucapan Braga itu seolah menjadi energi yang baru untuk mengubah sikapnya yang pendiam dan kurang pede jika bicara di depan umum.


"Aku akan mencobanya," seru Bella bersemangat.


"Semangat, Bella. Kita belajar bersama dan saling menguatkan satu sama lain," sambung Dara.


"Yes. Kita pasti bisa," sahut Witri.


Bella yang sejak dulu tidak mempunyai minat untuk bergabung di OSIS tiba-tiba mempunyai semangat yang baru ketika melihat penampilan Adelia saat itu. Hari ini, Bella sudah yakin ingin mendaftar dirinya untuk ikut seleksi di pemilihan OSIS tahun ini.


Kegiatan selanjutnya, pengenalan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) yang di sampaikan oleh Abror, selaku ketua. MPK adalah suatu organisasi di sekolah yang bertugas mengawasi kinerja OSIS dalam menjalankan tugas-tugasnya selama masa jabatannya berlangsung.

__ADS_1


"Setiap siswa di beri kesempatan untuk menjadi OSIS atau MPK, semua boleh mendaftarkan diri. Tentu saya semuanya harus melalui seleksinya, tidak serta merta yang daftar langsung bisa menjadi anggota," tegas Kak Abror.


"Apa lagi nih MPK, perasaan gua baru denger. Terus mana yang lebih tinggal diantara keduanya,?"


Tanya Bella ke Witri namun yang ditanya hanya bisa mengangkat kedua bahunya tanya tidak mengerti.


"MPK itu  jabatannya lebih tinggi dari OSIS. Karena yang menentukan kandidat ketua OSIS adalah MPK," sahut Braga. Ia berusaha menjelaskan meskipun pertanyaan itu tidak ditujukan padanya.


"Jadi bagusnya daftar yang mana. OSIS atau MPK? Jadi bingung!," tanya Bella, kali ini ia tujukan pada Braga.


"Kalau kamu belum pernah ikut di OSIS, baiknya daftar OSIS dulu. MPK kerjanya mengawasi dan memberikan penilaian terhadap kinerja OSIS, jika MPK belum punya pemahaman dan pengalaman di OSIS bagaimana mau bekerja,"


"Ih, kamu kok pinter banget sih, Beib. Aku jadi kagum," puji Witri seketika.


"Apaan sih, loh. Bebeb...Bebeb..gua ga suka dipanggil begitu,"


"Hemmm......khusus Sella yang boleh?" tanya Witri menyelidik.


"Dia mah udah kacau dari lahir. Semua orang juga di panggil begitu," Braga berusaha membela diri karena teman-temannya belum banyak yang tau tentang Sella, teman SMP-nya yang punya karakter unik itu.


"Ah, speak doang. Aku lihat kau juga punya sesuatu yang khusus sama selebritis IPS itu,"


"Terserah kalian, kita lagi bahas OSIS dan MPK kenapa kok beralih ke Sella?"


"Kamu ikut yang mana?" tanya Bella pada Braga.


"Belum tau. Entar ajalah. Kan ga harus daftar sekarang. Kalian tulis aja dulu. Jangan sampai kosong tuh dari kelas kita.


Witri dan Bella masih bingung dengan pilihannya. Akhirnya formulir kandidat OSIS dan MPK itu ia edarkan ke yang lain dulu dengan maksud mencari teman.


"Kalau ga ada yang ngisi, ga jadi ikut? tanya Braga.


Witri dan Bella hanya tersenyum. Mereka juga kurang pede jika tidak ada yang mendaftar di kelasnya.


"Payah, urusan begini mah ga usah nunggu orang. Jika mau ikut ya daftar," oceh Braga.


"Kalo sebdiri malu, apa lagi kalo ga kepilih. Malunya double," sahut Bella.


"Ga harus begitu. Namanya juga cari pengalaman, kenapa harus malu,"

__ADS_1


"Fadlan, nih mau dafftar ga?" tanya Roy.


"Ogah. Gua ga minat ikut begituan," sahutnya santai.


"Iya. Aku juga enggak," Roy menimpali.


Dari sekian orang yang sudah disodori kertas, hanya empat orang yang menuliskan namanya di lembar itu. Dara dan Ibnu mendaftar sebagai kandidat OSIS sedangkan Bagus sebagai MPK.


"Tuh, sudah ada temennya. Buruan kalau mau daftar," Braga mengingatkan kembali dua temannya yang masih ragu-ragu itu.


"Kalo berubah pikiran kan bisa di cancel, yang penting tulis nama dulu,"


"Ih, kok maksa kami. Nih, kau tulis dulu namamu di sini. Kasih contoh ke kita," tantang Witri.


"Gua tau nih, sebenernya elo berdua pengen ngikuti gua kan?,"


"Dihz kepedean banget, sih,"


"Tapi bener kan, Bell," todong Braga. Pandangannya mengarah ke Bella.


Bella yang dasarnya sudah pemalu, ditembak seperti itu membuat ia tersenyum malu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak berani menjawab. Diam kemudian tertunduk.


"Ah, pada ribet lu pada. Timbang beginian aja pake saling tunggu, saling tanya. Sini!" Fadlan mengambil paksa kertas yang dipegang oleh Witri. Tanpa berpikir lagi, ia segera menuliskan namanya dalam daftar kandidat OSIS.


"Katanya ga minat?" Braga menyinggung sikap Fadlan yang dianggapnya plin-plan itu.


"Sebenarnya iya, tapi gua mau nemenin Bella," ujarnya begitu yakin.


"Jadi kalau Bella ga jadi ikutan itu namanya keterlaluan," tambahnya lagi.


Bella dan Witri segera menulis nama mereka, tepat di bawah nama Fadlan. Jadi kandidat OSIS dari kelas mereka bertambah, menjadi 5 orang.


"Ah, dasar Suparman kesiangan nih bocah. Lagi-lagi sok jadi pahlawan buat Bella," gerutu Braga.


Hingga kertas itu di kembalikan ke Kakak OSIS, Braga belum menulis namanya. Lagi-lagi Fadlan membuatnya kesal. Dia merasa diremehkan atas tindakan Fadlan dan itu membuat minatnya jadi hilang.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan

__ADS_1


✓ Vote


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏


__ADS_2