I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Mama Lagi


__ADS_3

Braga baru saja merebahkan diri di kasurnya yang empuk setelah merasakan sempitnya tempat tidurnya di asrama dan bisingnya nyamuk yang berkeliaran. Kini ia sadar bahwa kamarnya adalah peraduan yang paling nyaman untuk beristirahat.


Ketika matanya baru akan terpejam, ia mendengar suara mobil masuk ke ruang garasi. Tak lama suara mamanya yang cukup keras bertanya tentang keberadaannya pada Pak Dul.


"Braga sudah sampe, pak?"


"Sudah, Bu. Dia ada di kamarnya,"


Langkah kaki mama pun terdengar menghampiri kamarnya. Mama terbiasa mengenakan sepatu dengan hak tinggi dan runcing jika bepergian entah untuk urusan arisan dan sosialita atau mendampingi papa pada acara kedinasan.


"Jangan tidur jam segini, udah mendekati waktu magrib," seru mama begitu ia membuka pintu dan mendapati putranya berbaring di tempat tidur dengan pandangan yang sayu.


Tak ada sahutan dari Braga, ia memilih untuk sedikit tersenyum menyambut kehadiran mamanya tersebut.


"Kamu sakit?" tanya mama penasaran dan segera menghampiri putranya. Tidak biasanya Braga bermalas-malasan pada jam segini, belum lagi pandangannya yang begitu lesu membuat wanita yang masih mengenakan blazer putih berpadu rok prisket abu-abu selutut itu menghampirinya.


"Ya Tuhan. Kenapa badanmu panas begini," ujar mama panik. Ia meraba kening dan leher Braga secara bergantian.


"Ini apalagi? Kenapa kulitmu penuh bintik - bintik merah begini?" Serunya lagi makin panik setelah mendapati muka, telinga, dan bagian lengan putranya penuh dengan gigitan nyamuk.


"Braga cuma pusing, Ma. Semalem di kamar banyak nyamuk. Jadi aku ga bisa tidur," sahut Braga mencoba menenangkan mamanya.


"Ga bisa begini. Ini sekolah kok ga beres begini. Bagaimana bisa mereka membiarkan kamar anak-anak menjadi sarang nyamuk," oceh panik. Ia masih sibuk mengecek bagian perut dan kaki Braga yang tertutup dengan kaos dan celana trainingnya.


"Bagaimana jika anak-anak kena DBD dan mewabah ke mana-mana?" ujarnya lagi.


"Ga usah diributkan, Ma. Yang banyak nyamuk itu cuma kamar Braga. Salah Braga juga lupa bawa racun nyamuk dan lotion. Yang lain bisa tidur nyenyak kok,"


"Kenapa kamu ga telpon mama. Jan bisa dianter. Terus temen kamu juga ga menyiapkan racun nyamuk?"


"Ah, ceroboh sekali. Lagian kau juga bisa minta pinjam dengan temanmu yang lainnya. Jangan di begini?"


"Sudah, Ma. Braga yang belum biasa tinggal di asrama. Jangan di gede-gedein ih. Malu,"


"Malu katamu. Kalo mama ga ambil tindakan, bisa-bisa sekolah tidak tau hal ini dan mereka berpikir sudah bekerja sesuai standar. Mama harus menyampaikan kepada pimpinan agar mereka lebih waspada. Harusnya mereka antisipasi, karena kamar sudah lama kosong, harus di lakukan fooging dulu sebelum anak-anak masuk," jelas Mama panjang lebar.


"Terserah Mama. Braga sudah bilang cuma pusing doang. Kalo sudah tidur juga akan baikan,"


"Eh, jangan bilang 'cuma' . Bagaimana jika salah satu yang menggigitmu itu nyamuk deman berdarah?"


Braga tak mau mendengarkan ocehan Mama semakin kemana-mana. Akhirnya ia memilih untuk diam, jika sudah tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya biasanya ia diam dengan sendirinya.


"Ayo kita ke dokter, buruan," ajak mama dengan sedikit memaksa. Ia menarik lengan putranya agar segera mengikuti langkahnya.


"Beneran kok, Ma. Braga ga apa-apa,"


Ternyata wanita itu tidak kehilangan akalnya. Karena anak laki-lakinya menolak untuk diajak ke dokter, kini ia terlihat sedang menghubungi seseorang dari hp yang sudah melakukan panggilan itu.


"Dateng ke rumah, ya. Braga panas tinggi. Kulitnya penuh bintik-bintik merah. Ditunggu secepatnya. Terimakasih,"


Braga hanya bisa menghela nafas, akhirnya mama memanggil dr. Ridwan ke rumah untuk memeriksa. Dokter muda yang dipercaya papanya sebagai dokter pribadi keluarga ini tinggalnya tidak jauh dari kompleks perumahan walikota yang mereka diami.


Braga tidak dibiarkan berbaring, Mama segera menyuruhnya untuk membersihkan diri di kamar mandi dan minum susu hangat yang sudah disiapkan. Selain itu, Buk Mar juga sudah menyiapkan jus jambu biji untuknya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Braga mengikuti kemauan Mama. Meneguk susu hangat dan jus jambu dalam waktu yang hampir berdekatan membuat perutnya kenyang plus mual.


Braga berusaha sekuat mungkin untuk menahan agar apa yang sudah masuk ke dalam mulutnya tidak keluar karena ia tidak mau mengundang kepanikan mama yang sudah sedikit tenang.


Hingga dr. Ridwan datang dan memeriksanya dengan intensif, terbukti tidak ada indikasi yang menunjukkan gejala DBD, apalagi suhu badannya juga masih aman.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, setelah istirahat insyaallah bugar lagi," ujar dokter itu.


"Tadi badannya panas sekali. Bintik merahnya rata di muka dan telinga. Saya jadi panik," Mama berusaha mengungkapkan kekhawatirannya.


"Insya Allah tidak apa-apa, Bu. Jika sampai besok panasnya belum turun kita periksa lagi,"


"Jangan lupa obat penurun panas dan vitaminnya diminum," ujarnya sembari membereskan perlengkapannya ke dalam tas.


Tak lama ia ijin pamit dan diantar oleh mama hingga ke depan pintu gerbang. Mama menunggu dr. Ridwan dan melambaikan tangannya hingga mobilnya benar-benar hilang dari pandangannya.


*****


Tanpa sepengetahuan Braga, mama lekas menghubungi pihak sekolah. Ia memberitahukan prihal asrama yang menjadi sarang nyamuk. Tentu saja dengan bumbu anaknya menjadi keganasan serangga betina ini hingga demam dan terindikasi demam berdarah.


"Baik, Bu. Terimakasih atas informasinya. Kami selaku pihak sekolah sangat menyesalkan kejadian ini. Akan kami tindak lanjuti segera. Esok pagi seluruh asrama akan di fooging," ujar Pak Wasis melalui sambungan telepon.


"Saya memberitahukan hal ini bukan karena anak saya yang menjadi korbannya, jika itu terjadi pada anak yang lain saya juga akan melakukan hal yang sama. Bagaimanapun juga, lingkungan sekolah terutama asrama harus higenis agar anak bisa belajar dan beristirahat dengan aman," Mama memberikan alasan lagi.


"Iya, Bu. Terimakasih atas perhatiannya. Mudah-mudahan kejadian ini tidak akan terulang lagi,"


"Jika kekurangan tenaga, nanti saya bisa minta bantuan pihak kelurahan untuk sanitasi Pak. Jika sekolah mengizinkan akan saya urus secepatnya, jadi ketika anak-anak datang sekolah sudah bersih,"


"Terimakasih, Bu. Saya rasa masih bisa ditangani oleh tenaga kebersihan kami,"


"Iya, Bu. Terimakasih. Kami sangat berterima kasih sekali dengan perhatian ibu pada sekolah. Mohon maaf atas keteledoran kami. Semoga ananda Braga lekas sehat dan bisa mengikuti kegiatan MPLS Senin nanti,"


"Aamiin. Terimakasih atas perhatiannya, Pak. Oh, ya. Kalau boleh tau kenapa mendadak ada perubahan jadwal ya?" tanya Mama penasaran.


"Bapak gubernur akan menjadi pembina upacara pada hari pertama sekolah, Bu. Kebetulan putri beliau juga memilih sekolah di tempat kita,"


"Apa?" Ujar Mama tak kalah kagetnya.


"Kok pak Wasis tidak bilang jika ada anak pak gubernur di SMA Tunas Negara. Berhubung SMA itu ada di wilayah kerja suami saya, sangat memalukan jika bapak sampai mendengar ada anak yang kena DPD saat menginap pertama kali di sekolah,"


"Insya Allah tidak, Bu. Putri beliau baru masuk hari Senin karena masih ada pentas di Jerman.


"Wow, luar biasa sekali. Suatu kehormatan bagi saya jika Braga bisa satu kelas dengan putri pak Gubernur," ujar mama dengan nada penuh harap.


"Pembagian kelas sudah dilaksanakan sejak awal. Kebetulan sekali putra ibu dan putri pak Gubernur ada di kelas yang sama. Kelas X IPA 1, Bu,"


"Terimakasih sekali pak Wasis. Saya sangat senang dengan hasil kerja bapak. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat," buru-buru Mama menutup telponnya karena suara adzan magrib sudah berkumandang dan terdengar panggilan Braga dari arah kamarnya.


"Kesempatan emas nih, jika Braga bisa dekat dengan anak Pak Gubernur, apalagi punya hubungan dekatnya, Hem.... karier suamiku akan aman di kemudian hari. Bahkan, Papa bisa segera naik jabatan. Duh Gusti, baik banget engkau pada hambamu ini," bisik Bu Flora Nugraha dalam hati.


Hatinya begitu bahagia mendapati anaknya ternyata satu kelas dengan orang nomer satu di wilayah ini dan otak birokrasi segera aktif. Rencana demi rencana sudah tersusun rapi di otak piciknya.


"Ya, Nak. Ada apa?" begitu tanya Mama ketika ia sudah kembali lagi di kamar putranya itu.

__ADS_1


"Braga cuma mau ngingetin, jangan diperpanjang masalah ini ke pihak sekolah. Braga malu,"


"Iya, deh. Mama setuju. Mama akan jadikan catatan agar kedepannya bisa menjadi program komite sekolah,"


"Mama masih mau aktif di komite sekolah. Ngapain sih? Bikin repot aja," protes Braga karena ia punya pengalaman bagaimana mamanya yang begitu eksis menjadi ketua komite saat ia masih di SMP. Braga merasa tidak nyaman kerap melihat mamanya wara-wiri di sekolah.


"Itu harus, sayang. Yang dibutuhkan sekolah itu adalah orang-orang yang punya kepedulian dan dedikasi yang tinggi terhadap sekolah sebagai perwakilan komite sekolah. Mama merasa mampu dan punya cukup waktu untuk mendukung kegiatan sekolah. Apalagi anak kesayangan mama ada di sana. Sudah pasti mama akan berusaha maksimal mungkin untuk membuat program yang menunjang KBM dan peningkatan prestasi," jelas Mama panjang lebar.


"Yang lain juga banyak, Ma. Mama istirahat dulu. Sudah cukup mama mengontrol kegiatan Braga di SD hingga SMP dengan menjadi komite sekolah. Sekarang Braga sudah dewasa, Braga ingin mandiri,"


"Kamu salah. Mama jadi pengurus komite bukan semata-mata hanya memantau kegiatamu di sekolah, tapi pemikiran dan pertimbangan mama dalam kemajuan pendidikan masih diperlukan banyak orang. Apa salahnya mama berbuat baik untuk sesama?"


"Mama denger, ada anak gubernur di kelasmu. Apa iya?"


"Kabarnya si begitu. Tapi aku belum tau pasti. Di kelasku ada yang belum masuk satu oramg karena masih ada pementasan kebudayaan Indonesia di Jerman," sahut Braga tidak bergairah.


"Kamu beruntung, nak. Kamu punya potensi yang bagus di dunia olahraga. Jika kamu bisa berteman baik dengan putri pak gubernur jalan menuju sukses itu sudah ada di depan mata,"


"Maksud Mama?"


"Mungkin kamu belum faham dengan apa yang mama ucapkan. Pokoknya begini saja, jaga hubungan baik dengan dia. Bila perlu kau jadikan dia teman dekatmu. Kau punya wajah yang sangat tampan, fisik yang sempurna dan prestasi yang cemerlang. Mama kamu bisa memanfaatkan itu untuk mendekatinya,"


"Mama apaan,sih? Bukannya Mama sendiri yang melarang anak-anaknya pacaran saat masih sekolah?"


"Ini pengecualian. Jadikan ia teman dekatmu. Mama yakin akan ada keajaiban terhadap masa depamu jika kau bisa mendapatkannya," ujar mama begitu antusias.


Braga tidak menyahuti ucapan mamanya, ia turun dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi. Meninggalkan mamanya yang masih duduk di sisi tempat tidurnya.


"Diajak ngomong serius kok malah pergi. Gimana nih, anak!" oceh Mama dengan suara yang cukup keras.


"Ingat ya, Braga. Pertimbangkan pembicaraan kita tadi. Kesempatan itu tidak akan datang dua kali jika engkau tidak mau mengambil peluang yang sudah ada di depan mata,"


"Iya," sahut Braga sembari menutup pintu kamar mandi.


"Ingat baik-baik," tegas ibu sekali lagi. Kali ini ia segera beranjak dari tempat tidur anaknya dan meninggalkan kamar itu.


"Masih saja egois. Terlalu nafsu dengan kedudukan dan jabatan," gerutu Braga kesal.


Ia faham, memang sudah menjadi tugas seorang ibu untuk memberikan kontrol terhadap proses belajar anak-anaknya, namun yang Braga ketahui mamanya sering berbuat di luar kendali. Orientasinya terlalu tinggi. Ia ingin anaknya selalu menonjol dari anak yang lainnya karena ia berpikir anak pejabat sekelas wali kota harus bisa menjadi contoh buat anak-anak yang lainnya.


"Mama tidak pernah berpikir, jika aku sendiri tidak merasa yakin dengan apa yang telah aku dapat. Semua bisa berjalan dengan baik karena campur tangannya yang begitu keras terhadap pihak sekolah,"


Braga menenggelamkan kepalanya dalam guyuran shower agar pikirannya bisa menjadi jernih. Ia sudah cukup lelah berada dalam situasi seperti ini. Namun ia juga tidak cukup keberanian untuk tidak mengikuti apa yang Mamanya ingini.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote

__ADS_1


✓ ikut akunnya


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏


__ADS_2