
Meski kepala berasa berat, badan yang tidak begitu nyaman untuk memulai kegiatan, Braga tetap memaksakan diri. Pagi ini ia harus mengikuti kegiatan sekolah, senam bersama.
Memang bukan suatu pekerjaan yang berat, setiap pagi atau sore ia sudah terbiasa melatih kekuatan fisiknya dengan berlari. Namun kali ini beda, sesuatu yang biasa dianggap ringan tiba-tiba menjadi sesuatu yang berat untuk di kerjakan.
Ia keluar dari kamarnya meskipun masih sempoyongan. Ia memandang sekeliling, keadaan asrama sudah sepi, semua pintu kamar tertutup rapat.
"Sepertinya mereka sudah di lapangan," bisik Braga.
Ia melihat arlojinya dan benar, Ia nyaris terlambat. Terdengar perintah dari pengeras suara agar siswa segera merapikan barisan.
Braga mamacu langkah agar bisa lebih cepat sampai ke tujuan. Dengan langkah mengendap-endap, ia mengambil barisan yang paling belakang, baris dimana teman-teman satu kelasnya sudah menertibkan dirinya masing-masing.
"Alhamdulillah, ga telat," Braga bisa bernafas dengan lega.
Bella yang lebih dulu menyadari kehadiran temannya itu segera menengok ke samping. Ia mendapati Braga yang penuh keringat sudah berdiri, mengikuti barisan yang sudah rapi.
Bella tidak bersuara, ia sempat melemparkan senyum manisnya pada Braga sebelum mengikuti gerakan senam dari pemandu yang ada di panggung. Braga membalas senyum itu hanya dengan mengeryitkan kening beberapa kali.
"Maaf, Mister. Tadi sudah siap kumpul dilapangan mendadak ada panggilan ke ke balakang. Mules-mules," Braga lebih dulu memberikan penjelasan ketika melihat waka kesiswaan sudah berdiri di sampingnya.
Sepertinya pak guru ini menangkap Braga yang baru saja datang, dari mimiknya terlihat bahwa ia tidak suka ada siswa yang tidak disiplin dan tepat waktu.
Pria itu tidak memberikan tanggapan apapun, untuk beberapa saat ia berdiri di belakang sembari mengamati keadaan.
Tak lama kemudian, ia melangkah kembali. Berkeliling mengitari barisan dengan gayanya yang khas, kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya.
Bella kembali melirik ke arah Braga, ia ingin memastikan reaksi Braga setelah mendapat teguran secara tidak langsung langsung dari pak Wasis. Tampaknya, yang diamati tidak menyadari hal itu, Bella bisa bernafas dengan lega, karena kali ini ia tidak tertangkap basah lagi oleh Braga yang diam-diam mencuri pandang padanya.
Senam pemanasan dan SKJ sudah selesai, beberapa siswa mulai berkeringat. Terlihat bagian punggung mereka yang mulai basah oleh keringat.
Menginjak senam yang ketiga, gerakannya lebih dipercepat, senam remix dengan iringan musik shape of you. Baru terdengar intronya saja, anak-anak mulai histeris dan makin terbakar semangatnya.
Braga sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi, pandangannya mulai berkunang-kunang. Kesadaran semakin hilang,
"Jangan sampai tumbang, bisa jatuh harga diriku," keluh Braga dalam hati menyadari dirinya yang mulai lemas. Baru saja berpikir begitu, seketika itu juga iya doyong, berlahan tubuhnya jatuh terlentang di lapangan.
Bella yang berada di sampingnya, orang pertama yang melihat Braga jatuh tepat ke arahnya sebelum yang lain ikut paling ke arah sesuatu yang jatuh ke bumi segera mengambil tibsanan. Gercep.
Pengalamannya menjadi anggota PMR, langsung bisa mengambil langkah untuk melakukan pertolongan pertama. Ia menyangga area kaki Braga dengan kedua pahanya sehingga letak kaki lebih tinggi daripada kepala. Dengan begitu, aliran darah dapat lebih banyak mengalir menuju otak.
__ADS_1
Mr. Wasis (wakil kepala sekolah) yang masih berdiri di sekitar barisan juga cepat menyadari hal itu, ia segera mencegah siswa yang mulai berkerumun untuk kembali ke barisannya dan tetap mengikuti gerakan senam.
Pria itu jongkok di samping Bella, ia melonggarkan sepatu Braga agar pertukaran udara yang buruk diminimalisir. Dengan begitu pertukaran oksigen jadi lebih lancar.
Tak lama kemudian, ia minta bantuan dua siswa laki-laki membantunya, membopong tubuh Braga menuju ruang UKS
"Katanya atlet nasional, baru senam dua lagu udah pingsan. Lemah sekali....," celetuk salah satu siswa dengan mimik mencibir, meski mengikuti gerakan senam instruktur yang ada di depan ia tetap mengamati Braga hingga tubuh yang terkulai itu hilang di balik ruang UKS.
Bella tidak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya dengan ekpresi tidak tahu apapun ke arah temannya itu.
"Ih, ada temennya pingsan kok komennya begitu," bisik Bella. Ia kurang senang ada teman sekelasnya yang punya ekpresi begitu pada Braga.
"Apa atlit tidak boleh pingsan," ocehnya lagi. Ia begitu kesal sendiri. Hingga senam berakhir dan mendengarkan sedikit pengarahan dari Wasis, Bella masih saja menggerutu dalam hati.
Entah kenapa ia tidak bisa terima Braga diremehkan seperti itu. Apalagi oleh teman sekelasnya sendiri.
Akhirnya semua siswa membubarkan diri dan beriringan menuju ruang makan. Sudah waktunya mereka sarapan dan melanjutkan kegiatan berikutnya.
"Braga sakit apa?" tanya Bella serius ketika Fadlan sudah membawa sarapan dan duduk bersamanya di satu meja yang masih legang.
"Ga tau, dari pagi badannya panas. Sudah siuman kok. Dia masih minum teh manis yang dibuatkan petugas PMR. Sudah diambilkan sarapan juga," jelas Fadlan.
"Kamu kelihatan khawatir sekali?" selidik Fadlan. Sejak tadi ia memang mengamati Bella yang begitu panik melihat Braga jatuh. Kegusaran itu bisa ditangkap dengan jelas oleh Fadlan karena ia berbaris di sisi kiri, depan Bella.
"Keliatannya? Ga juga tuh!" elak Bella. Kali ini ia menundukkan kepalanya. Ia khawatir Fadlan bisa melihat wajahnya yang begitu malu.
Fadlan tidak berkomentar meskipun ia sempat menangkap kedua pipi Bella yang merona sebelum ia menunduk, pura-pura menyendok nasinya. Ia khawatir gadis itu malu jika Fadlan mengutarakan hal itu.
"Hay..Hay......boleh dong anak Sos gabung di sini? Secara ga di kotak-kotak kan kalo ini khusus meja anak IPA?" Sella muncul dengan piring di tangan kanannya dan segelas air putih di tangan kirinya.
"Apaan sih, Sell. Kebiasaan banget nih orang, ngomong dulu baru mikir," gerutu Fadlan spontan saja begitu mendengar ocehan Bella.
"Ih, dimana-mana biasanya begitu bro. Anak IPA selalu membatasi diri dengan anak IPS. Secara mereka menganggap dirinya lebih cerdas dibanding otak anak-anak IPS," ocehnya lagi. Kali ini ia sudah duduk manis di samping Bella dan menyuapkan nasi goreng putih yang masih hangat itu ke arah Fadlan.
"Eh, salah kan. Habis babang tampan pagi-pagi udah bikin eneng geregetan aja,"
"Dih, situ yang mancing omongan kurang sedep. Jadi hambar nih nasi goreng gua gara-gara liat muka elo sepagi ini," seloroh Fadlan lagi. Matanya setengah melotot karena ia merasa Sella begitu konyol dengan mengarahkan suapan pertama dari sarapannya ke arah dirinya.
"Lebih hambar lagi kalau kamu menahan rindu karena tidak ketemu aku," sahut Sella masih saya menggombal meski dia tau Fadlan tidak nyaman atas sikapnya itu.
__ADS_1
Bella hanya bisa tersenyum melihat opera Sella dan Fadlan di meja makan pagi ini.
"BTW kenapa Si Won-ku pingsan. Aku mau nyamperin udah gemetaran denger teriakan Wasis yang melarang keras anak-anak untuk mendekat?"
"Kenapa ga langsung ke tujuannya aja dari tadi, pake basa-basi segala, sih,"
"Dih, babang kok parno begitu sih. Apa aku tidak boleh bertanya prihal kondisi suamiku yang tergeletak tak berdaya di lapangan pada kalian," nada bicara yang dibuat begitu resmi dengan mimik yang serius membuat Fadlan semakin jengkel.
"Dulu waktu hamil emak lu ngidam apa, sih? Kok bisa anaknya seperti ini?"
"Oh, ya. Seperti apa tampanku? Cantik seperti Raysa, gitu?" sahut Sella sekenanya saja.
Fadlan diam. Ia sudah males ngeladenin Sella yang makin senewen. Bikin darahnya mendidih jika diteruskan. Akhirnya ia memilih menghabiskan makanannya dan meneguk teh di gelasnya hingga kosong.
"Alhamdulillah, jangan lupa berdoa ya sayang," Sella mengulurkan tisyu yang diambilnya dari meja makan dan mengulurkan pada Fadlan.
Fadlan melotot ke arah Sella, ia semakin tidak suka dengan guyonan cewek ini yang dianggapnya terlalu lebay dan kampungan
"Ada nasi di bibir atasmu, juga sisa minum yang jelepretan. Dilap dong, bang. Kan malu dilihat orang," ujarnya lagi dengan tetap mengulurkan tangannya ke arah Fadlan.
Fadlan memilih mengambil tisyu yang ada di atas meja ketimbang yang diberikan Sella. Setelah mengelap bibinya, ia segera pamit dari meja itu dan meninggalkan Bella dan Sella yang masih menikmati makanannya.
"Kamu keterlaluan deh, Sell. Liat aja, Fadlan jadi kesal tuh," ujar Bella mengingatkan teman sekamarnya itu.
"Hi..hi......," Sella hanya tertawa menahan geli. Tidak menanggapi apa yang diucapkan Bella.
Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍
Jangan lupa sematkan
✓ Bintang 5
✓ Favoritkan
✓ Vote
✓ ikut akunnya
✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏
__ADS_1