I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Daun Menjari


__ADS_3

"Angin, bertuiplah. Gugurkan daun-daun ini sebanyak mungkin," Bella yang sudah bergelosoran di bawah pohon merasa putus asa. Begitu rindang pohon yang ada di atasnya, namun ia hanya menemukan satu daun yang ada di bawahnya.


Kakinya sudah begitu lemas, otot betisnya tegang setelah berlari tiga kali putaran berlanjut harus berdiri karena dihukum membuat betisnya kaku seketika.


Dari kejauhan, Braga melihat Bella yang menjatuhkan dirinya di bawah pohon dan gelesoran. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia yang sudah berada di bawah pohon mangga dan memungut 3 daun yang dijatuhkan pohon itu segera menghampiri Bella.


Baru beberapa langkah menuju ke arah Bella, ia mengurungkan niatnya. Fadlan ternyata sudah lebih dulu menghampiri Bella, dengan sigap ia meluruskan kaki Bella di bantu dua orang yang lainnya.


"Sepertinya Fadlan punya hati padanya, segitu gesitnya ia memberi pertolongan. Pinter aja dia cari muka!" gerutu Braga.


Braga melanjutkan langkahnya, sesekali berlari kecil arah pagar pembatas yang ada di belakang gedung sekolah. Sepertinya tempat ini jarang dijangkau oleh orang, banyak daun yang masih segar bergeletakan di tanah. Mungkin tempat ini belum disapu oleh petugas kebersihan?


Tidak membutuhkan waktu yang lama ia sudah mendapatkan lebih dari 10 lembar daun. Braga tidak menghitung jumlahnya, setiap ada daun yang jatuh ia pungut semua.


"Aku bagi ke yang lain, jika ada yang membutuhkan," begitu pikirnya.


"Hey, banyak banget lo dapetnya. Aku baru dapet 4 nih. Udah hampir separo pekarangan ini aku kelilingi," suara Shira mengehentikan langkah Braga yang ingin kembali ke lapangan.


"Kamu salah strategi. Cari pohon yang ada di pagar pembatas, bukan yang ada di halaman,"


"Iya, juga ya. Ga kepikiran," sahut Shira. Ia hanya mengitari pohon yang ada disekitar lapangan sejak tadi dan teman-temannya juga berkeliling di sekitar situ. Wajar jika ia hanya memperoleh 4 daun.


"Nih, kalau mau. Ambil aja. Sepertinya punyaku berlebih,"


"Serius. Aku boleh minta,"


"Ambil aja seperlunya,"


"Iya, ini mah lebih dari cukup. Aku ambil 6 ya. Boleh kan?"


"Ambil aja, sisanya juga mau aku kasih yang lain,"


Shira memilih satu daun rambutan, 2 daun jambu, dan 3 daun srikaya untuk melengkapi daun yang sudah ia dapatkan.


"Thanks banget ya. Kamu sudah bantuin. Udah pegel banget nih kaki muter-muter cuma dapet segini,"


"Iya, sama-sama,"


Karena tugasnya sudah selesai, Braga dan Shira menuju ke arah lapangan. Belum ada siswa IPA 1 yang, titik kumpul mereka masih sepi.


"Sepertinya belum ada yang selesai. Kita yang duluan, nih!"


"Sepertinya begitu," sahut Braga singkat.


Saat melihat Fadlan yang lari ngos-ngosan, Braga menghampiri teman satu kamarnya itu.


"Fad," panggil Braga dengan suara yang sedikit keras.


"Aku ke Fadlan dulu ya, kamu duluan aja," pamit Braga meninggalkan Shira.


"Ok, thanks banget ya,"

__ADS_1


Braga tidak menimpali, ia hanya mengacungkan jempolnya pada Shira sembari berlari ke arah Fadlan.


"Udah nemu berapa?" tanya Braga begitu sudah berada di depan si gembul.


"Tujuh. Kurang banyak nih,"


"Kan dimintanya 10. Kurang 3 Blekek,"


"Buat Bella juga. Dia kakinya sakit. Aku suruh ngumpet di balik mushola noh biar ga ketauan senior,"


Braga mengikuti arah yang ditunjukkan Fadlan. Ia melihat Bella sedang membungkuk-bungkuk seolah mencari sesuatu. Di sekitar mushola memang ada beberapa pohon besar, jadi bisa menutupi kecurigaan orang yang sengaja mengintai kegiatan mereka.


"Nih, ambil sisanya. Aku cuma butuh 10 doang," Braga menyerahkan sisa daun yang berhasil ia pungut di sepanjang pagar sekolahnya.


"Wah, ini mah lebih dari cukup. Thank, ya. Baik banget, loh,"


"Semalem loe bilang apa, udah lupa?" Braga mencoba mengingatkan Fadlan yang menggerutu padanya.


"He..He... sorry. Gua kira elo ga denger,"


"Kuping gua masih sehat,"


"Bukan itu. Gua kira elo udah tidur. Berarti elo jahat banget ya. Coba kalo semalem mau cek lagi kerjaan gua, kan ga bakal di hukum seperti ini" gerutu Fadlan.


"Bodo, itu masalah elo. Urusan elo kalo yang lain marah,"


"Ga bisa marah juga lah, ga ada yang ngingetin kalo nama dan tanggal lahir harus ditulis padahal waktu Kak Rafa kasih penjelasan semua kuping terbuka lebar," protes Fadlan tidak mau disalahkan.


"Sialan tuh anak, kalo diajak debat aja selalu kabur. Padahal dia sendiri yang suka mancing ribut," oceh Fadlan yang masih kesal.


Kemarahannya pada Braga hilang seketika begitu ia ingat kembali tumpukan daun yang ada di tangannya. Fadlan membaginya jadi dua bagian, ternyata jumlahnya lebih dari yang dibutuhkan.


"Bella," panggil Fadlan.


Tangannya memberi isyarat pada gadis itu agar segera kembali ke lapangan.


Bella melihat tumpukan daun divtanfan Fadlan, semyumnya mengembang seketika itu juga.


"Jangan lari dulu. Jinjit aja biar sakitnya ga begitu berasa," Fadlan mengingatkan Bella yang berlari ke arahnya, lupa jika kakinya sakit.


"Iya, aku lupa," Bella terlihat menahan nyeri. Ia mengikuti apa yang di katakan Fadlan. Ternyata berjalan dengan posisi kaki menjinjit sakitnya jauh berkurang.


"Nih pegang. Sudah cukup sepuluh," Fadlan menyerahkan tumpukan daun kering yang sudah dihitung jumlahnya pada Bella.


"Cepet banget dapetnya. Pohonnya kamu goyang-goyang y?,"


"Enggaklah. Ini murni jatuhan semua. Jenisnya juga beda," elak Fadlan. Sembari bicara mereka berjalan beriringan menuju lapangan.


"Tenyata sudah banyak juga yang bisa mengumpulkan lebih cepat," ujar Bella. Ia melihat Braga, Shira, dan beberapa yang lain sudah lebih dulu berada di titik kumpul.


"Ayo buruan, waktunya 5 menit lagi,"

__ADS_1


"Duluan aja, aku ga bisa kalo harus lari,"


"Lah, siapa juga yang nyuruh jamu lari. Aku bilang langkahnya sedikit dipercepat. Gitu, non,"


"Eh, iya. Maaf," sahut Bella dengan muka yang sedikit malu.


Bella dan Fadlan tidak sadar jika sejak tadi, mata Braga tidak melepaskan pandangannya dari arah mereka berdua. Braga yang melihat bagaimana Fadlan begitu perhatian dan sabar pada Bella.


"Sepertinya aku tidak salah lagi. Fadlan memang menyukai Bella. Kelihatannya Bella juga memberi harapan. Hemmm.....," Braga hanya mampu menarik nafas panjang melihat drama itu.


"Beruntung banget tuh gembul," pikir Braga lagi.


"Bell, kakimu kenapa?" tanya Shira


ofetika Bella dan Fadlan sudah bergabung ke barisan.


"Betisku nyeri. Mungkin karena sudah lama ga lari. Jadi kaget. Belum lagi kita harus berdiri lama di sini,"


"Ya, Allah. Sakit banget itu. Kenapa ga ijin aja. Istirahat di UKS," sahut Roy.


"Ga, usah. Udah baikan. Tadi dibantu Fadlan sama Dara ngelurusin dan di pijit-pijit dikit,"


"Tapi kamu ga apa-apa, kan?" tanya Shira khawatir.


"Iya. Insya Allah ga pa-pa, kok,"


"Daunya udah cukup?" Witri memeriksa jumlah daun yang ada di tangan temannya itu.


"Cukup. Semuanya dikasih Fadlan ," jelas Bella.


"Iya, dia yang paling bertanggung jawab atas hukuman ini. Wajar jika dia bantuin kamu," seru Roy dengan tawa.


"Sialan. Kenapa kita jadi sebodoh ini ya. Terlalu menganggap remeh urusan nametag, akhirnya dihukum. Memalukan sekali," ujar Shira seolah berkata pada dirinya sendirii.


"Iya, lucu dan memalukan," sahut Dara.


Mendengar teman-temannya mengkhawatirkan Bella, Braga hanya diam. Ia tidak mau ikut bertanya tentang kondisi Bella, tapi sinyal kupingnya sejak tadi selalu stanbay. Menangkap semua informasi dari pembicaraan terjadi di sebelahnya berdiri.


"Sialan Lo Fadlan, kenapa loe ga bilang kalau daun itu dari gua. Sok jadi pahlawan lie," gerutu Braga.


Hingga semua kumpul kembali di lapangan dan pengurus OSIS memeriksa hasil kerja mereka, semua anak IPA 1 tidak ada yang berani bersuara. Meraka faham sedang menjalankan hukuman, jadi tidak ada yang bersuara jika tidak diminta oleh seniornya.


Hukuman sudah mereka jalankan dengan baik. Semua bisa menyelesaikan tugasnya hingga tidak ada alasan bagi seniornya untuk membiarkan mereka dengan rasa bersalahnya.


Usai diberikan pengarahan dan wejangan betapa pentingnya disiplin dan jujur dalam menyelesaikan tugas, akhirnya mereka diperbolehkan mengikuti kegiatan selanjutnyan.


Mereka semua berjalan menuju ruang auditorium, masih dalam barisan yang rapi. Materi hari ini semuanya tentang sekolah, jadi mereka dikumpulkan di tempat yang sama untuk mengikuti materi yang disampaikan oleh kepala sekolah dan beberapa tamu undangan.


Happy reading all


jangan lupa VOTE dan KOMENTARNYA

__ADS_1


😊😊😊😊


__ADS_2