I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Jadwal Malam


__ADS_3

Sesuai jadwal yang sudah diumumkan pada acara pembukaan tadi siang, jadwal yang harus diikuti oleh seluruh siswa baru pada malam ini adalah sholat magrib berjamaah bagi yang muslim, makan malam kemudian dilanjutkan dengan acara perkenalan antar siswa, guru, dan pemangku jabatan di lingkungan sekolah.


Acara perkenalan akan dilaksanakan di ruang auditorium yang ada di lantai dua. Oleh sebab itu seluruh siswa muslim memilih untuk tidak kembali lagi ke kamarnya usai sholat magrib. Perlengkapan sholat mereka tinggal di masjid kemudian mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya


"Di kunci ga, ya?" tanya Braga pada Fadlan ketika mereka akan meninggalkan kamarnya. Keduanya mengenakan atasan koko putih lengkap dengan pecinya.


"Ga, tau deh. Tapi sepertinya aman kok," sahut Fadlan sembari melangkah keluar.


Mereka melihat tetangga sebelah yang masih tertutup pintunya. Entah sudah turun atau masih ada di dalam ruangan.


Ketika Braga merapatkan hordeng dan hendak keluar, dari arah sebrang terdengar panggilan. Suara itu begitu akrab di telinganya.


"Si Won, ternyata kamarmu di situ,"


"Waduh, ember pecah ternyata di kamar depan," gerutu Braga sembari melambaikan tangan ke arah Sella yang ada di depan kamarnya. Persis di seberang kamar Braga dan Fadlan.


"Iye, elo di situ ya," sahut Braga dengan sedikit mengencangkan suaranya. Ia pura-pura surprise bisa melihat teman SMP-nya yang super bocor itu di sini.


"Si Won, jodoh ternyata ga kemana ya?. Kita bisa sekolah bareng lagi," teriak Sella tak kalah serunya. Kali ini disertai tawa yang begitu geli. Beberapa siswa yang keluar dari kamarnya sempat tersenyum simpul mendengar ocehannya.


"Iya, elo ngekor aja. Request ya biar kamarnya seberangan gini," sahut Braga lagi.


Fadlan yang melihat keduanya saling berteriak juga tersenyum geli.


"Kok ada cewek begitu cemprengnya," pikir dia dalam hati.


Bella yang telah mengenakan mukena keluar dari kamar dikuti Verra. Kini ketiga sudah siap untuk melaksanakan ibadah sholat magrib berjamaah di mushola.


Sejak tadi Bella dan Verra sudah mendengar ocehan Sella yang ditujukan pada penghuni kamar yang ada di seberang mereka. Untuk itu, ketika muncul dari ruangan Bella segera melongokkan kepalanya ke arah kamar depan.


Sejenak pandangann Bella dan Braga saling bertemu. Keduanya cukup kaget. Sementara Fadlan melemparkan senyum dan menyapa ketiga cewek yang ada di seberang dengan melambaikan tangan sebelum kemudian melangkah meninggalkan koridor asrama.


"Kenal sama cewek yang cemprengnya ga ketulungan itu?" tanya Fadlan pada Braga ketika mereka sudah berjalan beriringan menuju ke anak tangga.


"Iya, dia temen SMP. Anaknya lucu. Sebenernya baik dan pinter cuma bawelnya aja yang ga ketulungan," sahut Braga menjelaskan.


"Ha..ha.....ada ya? Cewek cakep kayak dia tapi lisannya ga terkontrol. Tapi lucu juga. Lumayan buat hiburan," Fadlan menanggapi.


Keduanya kemudian tertawa. Hingga sampai ke Masjid yang berada di depan asrama menuju ke arah barat, mereka segera bergabung dengan teman-teman yang lainnya.

__ADS_1


Bella yang masih penasaran dengan Braga mendekati cowok itu dan meneruskan celotehannya.


"Kok kamu ga bilang kalau ambil jurusan IPA, tau gitu gua juga ikutan,"


"Apaan sih, ngapain juga elo harus ngikutin gua. Ih.. amit-amit,"


"Halah...ntar nyesel loh. Kan kita ga bisa belajar bareng lagi kalo sudah beda jurusan begini," sahut Sella dengan bangganya.


"Ganti sekolah, ganti suasana, Sel. Masa gua mesti sama elo lagi. Bisa gumoh harus bertahan tiga tahun lagi," canda Braga dengan senyum menahan geli.


"Udah, ah. Bukannya buru-buru masuk. Udah komat tau," lanjut Braga lagi.


Sebelum masuk ke masjid, Braga sempat menengok ke arah Verra dan Bella yang sejak tadi hanya senyum-senyum di kulum melihat celotehannya dengan Sella


"Titip teman saya, ya. Dia kalo salah minum obat suka kumat. Pedenya ga ketulungan," ujar Braga sekenanya sembari mererobos masuk ke dalam masjid sebelum Sella memukulnya dengan lipatan mukenah yang ada ditangannya.


Lagi-lagi Bella dan Vera hanya bisa tersenyum dan mengangkat kedua bahunya sebelum akhirnya segera masuk ke masjid.


*****


Usai sholat, anak-anak berhamburan menuju ke ruang makan. Sebagaian dari mereka bahkan ada yang sudah terlihat tidak begitu sabar, setengah berlari ingin segera sampai sebelum antrian belum terlalu panjang.


Dari kejauhan Braga bisa melihat isi hidangan yang tersaji di meja yang besar dan panjang itu. Ada nasi putih dalam bakul yang cukup besar, sayur sop, perkedel kentang, dan orek tempe. Buahnya semangka yang sudah dipotong dengan ukuran yang kecil.


Dalam pemberitahuan yang di tempel di dinding, tertulis " Hanya boleh mengambil satu potong lauk pauk dan buah"


"Hem....kalau lagi dalam keadaan laper, seperti porsinya kurang nendang. Harus ada persediaan makanan, nih," pikir Braga sembari mengamati teman-temannya yang sudah mengambil nasi lebih dulu.


Mendekati gilirannya, Braga menengok ke belakang, ia mencari keberadaan Fadlan. Sejak keluar masjid ia kehilangan jejak teman sekamarnya itu.


Ia juga menyisir seluruh ruang, namun batang Fadlan juga tak ditemukan. Setelah Braga mengisi piring dengan nasi berikut teman-temannya, ia mencari tempat duduk yang kosong. Ia memilih mendekati meja yang sudah dulu ditempati Bella dan Vera yang ada di dekat meja prasmanan.


"Aku duduk di sini. Boleh, kan," ijin Braga pada keduanya.


"Silahkan, saja. Ini milik umum kok," sahut Verra. Bella hanya memalingkan mukanya karena mulutnya masih terisi makanan.


"Ember pecah kemana? Kok ga sama kalian," tanya Braga yang mulai menyendok nasi yang ada di piringnya.


"Ember pecah?" tanya Verra mengulang kalimat yang diucapkan Braga.

__ADS_1


"Sella maksudku," sahutnya sembari tersenyum geli.


"Oh, tau tuh. Ga keliatan sejak keluar dari masjid,"


Hening sejenak, hanya suara sendok yang beradu dengan piring terdengar di meja itu. Sementara di ruang yang cukup untuk menampung 500 orang itu cukup ramai layaknya restoran yang dihujani pengunjung di jam makan malam.


"Tuh, suaranya kedengaran. Orangnya entah di mana?" Bella memasang pendengarannya karena lamat-lamat mendengar suara yang cukup ia kenal.


Braga tersenyum "Sella memang begitu. Ia cepet kenal sama siapapun,"


" Dan lebih mirip belatung nangka. Sebentar di sono, sekejap sudah berpindah tempat," ujar Braga lagi.


"Tapi bener ya kalian punya hubungan?" selidik Verra.


"Ha..ha.... iya. Hubungan pertemanan. Sejak kelas tujuh aku selalu sekelas sama dia. Anaknya pinter dan baik. Kami sudah menjadi temen deket sejak tiga tahun yang lalu,"


"Pantes," sahut Verra lagi sambil menganggukkan kepalanya.


"Beruntung bisa satu kamar sama dia, kalian ga akan kehabisan Batre. Ocehan ga kebal kata lawbat," canda Braga lagi.


"Dih, parah loh.Sekate-kate aja sama teman sendiri," Verra menimpali


"Tar juga kalian sependapat sama aku. Coba aja!"


Hingga mereka selesai menyantap makanan yang ada di piring masing-masing, Bella tidak banyak bersuara. Sesekali ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar obrolan Braga dan Verra.


Happy reading all 😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏


Vote, like, & komentar yang kalian berikan membuat saya makin semangat untuk update 😊

__ADS_1


__ADS_2