
Hal yang paling menjadi perhatian siswa ketika pertama masuk kelas yang baru adalah rebutan bangku. Meskipun mereka sudah SMA, sekolah unggulan pula, tetap saja kelakuannya untuk yang satu ini tak jauh beda dengan siswa pada umumnya.
Begitu bubar dari lapangan, mereka langsung berhamburan menuju kelas. Saling mendahului, saling mendorong, saling menahan satu sama lain di pintu, bahkan ada yang tarik-tarikan baju ketika bangku yang diinginkan ditempati oleh temannya lebih dulu.
"Slow...!" teriak Feby, salah satu pendamping yang sudah lebih dulu ada di dalam. Ia yang tengah menyiapkan absen mendadak kaget karena diserbu pasukan yang saling mendahului memilih tempat duduknya.
"Santai, Belanda masih jauh," teriaknya gelagapan.
"Tenang, tenang.....jumlah meja dan kursi di kelas ini semuanya ada 25, kok. Semua kebagian," teriaknya lagi sambil geleng-geleng kepala. Kali ini ia sudah bisa menguasai situasi. Ia berdiri sambil bersedakep, menatap penuh heran atas kelakuan adik kelasnya kali ini.
"Lagu lama, jadi inget setahun yang lalu," ujarnya dalam hati. Ia tersenyum simpul karena hal serupa juga pernah ia lakukan dengan teman-temannya waktu itu.
Tidak hanya di kelas sepuluh, sekarang saja ia masih melakukan hal yang serupa. Dateng lebih pagi dari yang lain agar bisa memilih tempat duduk yang diinginkan.
Bella yang masih berdiri di sisi pintu belum berani bergerak. Ia masih mengamati teman-temannya yang sibuk pindah dari satu kursi ke kursi yang lain. Bukan karena ia tidak mau ikut rebutan tempat duduk seperti yang lainnya, tapi ia cukup tau diri. Untuk urusan yang seperti ini ia tidak pernah beruntung. Jadi ia hanya pasrah duduk di bangku yang tidak dipilih oleh siapapun.
Setelah beberapa saat baru terlihat, satu-satunya bangku yang belum terisi adalah bangku paling depan, bangku yang berhadapan langsung dengan meja guru. Mau tidak mau, Bella melangkah menuju ke kursi itu.
"Sudah ku duga, pasti duduk di posisi seperti ini lagi," ujar Bella dalam hati sembari melangkah menuju ke tempat itu.
Belum sempat menghempaskan pantatnya, bangku yang akan ia duduki sudah di geser oleh seseorang dari sisi kiri.
"Aku aja yang di sini, maaf ya" tanpa meminta izin lebih dulu Fadlan sudah duduk di bangku yang akan ditempati Bella.
"Lah tumben, ada anak laki mau duduk di depan. Di hadapan meja guru lagi," pikir Bella penuh tanda tanya.
Bella menatap Fadlan untuk meyakinkan pilihannya itu karena ia sempat melihat pria itu sudah duduk dengan nyaman di depan Braga.
"Kok?" ujar Bella tertahan. Saat ia ingin melanjutkan keherannya, Fadlan sudah memberi alasan kenapa ia pindah ke tempatnya.
__ADS_1
"Gua berubah pikiran. Males Deket sama dia," ujar Fadlan tanpa melihat ekpresi Bella. Ia Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
Fadlan terpaksa berbohong, sebenarnya bukan keinginan pindah ke bangku yang paling depan. Ia sudah memilih tempat yang paling nyaman sebagai tempat duduknya. Pojok kanan di samping jendela. Namun atas perintah Braga, ia diminta pindah secara paksa. Posisinya itu ternyata sudah di tag oleh Braga, sebagai tempat duduk Bella.
"Pindah, ini buat Bella. Please, ya. Kamu aja yang di depan," pinta Braga setengah memaksa.
Fadlan sebenarnya kurang suka atas kelakuan Braga yang main perintah padanya. Namun ia males meributkan hal sepele seperti ini. Untuk itu, tanpa mau mendebat Braga, ia segera bangkit lagi dan pindah ke kursi yang paling depan.
Braga tersenyum tipis. Bella sudah bertukar tempat duduk dengan Fadlan. Dengan begitu ia leluasa berkomunikasi dengan wanita ini.
"Malaikat pelindungku," ucap Braga begitu lirih saat Bella sudah duduk manis di depannya. Lirih sekali. Nyaris tak di dengar oleh siapapun. Namun suara itu sempat terdengar oleh Bella meskipun tidak begitu jelas.
"Terimakasih, ya!" senyum Braga ke arah Fadlan yang masih memandang tak suka padanya.
Merasa diistimewakan seperti itu, hati Bella menjadi tidak karu-karuan. Ia tidak punya keberanian untuk menengok ke belakang. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali tersipu dan menundukkan kepalanya. Ia malu jika kedua pipinya yang mungkin saya merona terlihat oleh orang di sekitarnya.
Ia merasa mendapat suatu berkah yang tidak terduga bisa duduk di dekat Braga. Meski ia belum yakin dengan perasaannya, yang pasti ia begitu senang bisa berada pada posisi seperti sekarang ini. Duduk di depan Braga dan itu atas kemauan pria yang tak henti-hentinya melepaskan senyum ke arahnya sejak mereka bertemu pertama kalinya.
"Kita perlu memilih satu orang sebagai ketua regu. Ketua regu ini akan bertugas memimpin kelas IPA 1 selama masa orientasi. Saya harap yang punya bakat untuk memimpin tunjuk tangan?" Seru kak Rafa, salah seorang dari dua pertugas OSIS yang mendampingi kelas.
Tidak ada yang menjawab, bahkan beberapa siswa saling melihat kearah temannya masing-masing.
"Ayo dong, angkat tangan! Ga apa kok, Sportif saja. Tidak harus dipilih. Kita disini butuh orang yang berani. Saya yakin kalian semua punya kemampuan untuk itu,"
Tetap saja diam. Tak ada yang mau menunjukkan potensinya sebagai pemimpin. Entah karena malu atau karena mereka tidak punya keberanian untuk menunjuk diri sendiri.
"Ayo, siapa yang bersedia. Tunjukkan jika kalian bisa!" tantangnya lagi.
Ah, entah apa yang membuat mereka diam secara berjamaah. Tidak ada yang mau mengacungkan tangan, baik Braga, Fadlan, Shira, Bella, maupun yang lainnya.
__ADS_1
"Braga! Saya rasa kamu bisa, deh" tembak Feby seketika itu juga. Ia terpaksa menodong Braga karena sudah putus asa. Beberapa kali ia memberikan tantangan, tidak ada yang mau menjawab.
"Iya Braga aja," seru teman-teman sekelasnya.
"Braga, ok," sahut yang lainnya.
"Oke. Tanpa pemilihan lagi. Kita tetapkan Braga sebagai ketua regu," seru Rafa disertai tepuk tangan dan diikuti oleh anggota kelas.
"Karena kita sudah punya ketua regu, untuk selanjutnya kita akan melaksanakan jadwal MPLS seperti yang sudah diumumkan di lapangan,"
Rafa dan Feby segera melakukan koordinasi kepada Braga untuk tindak lanjutnya. Setelah memberikan beberapa catatan penting, kedua pendamping itu meninggalkan kelas, sudah saatnya anak-anak mendapatkan materi MPLS dari guru dan pakar di bidangnya yang didatangkan oleh pihak sekolah.
Setelah itu, layaknya sebuah kelas, Braga bertugas memimpin doa, memberikan laporan, menyusun kelompok diskusi setiap memulai materi atau diakhir pertemuan.
Selain itu ia juga memimpin teman-teman membuat yel-yel kelas yang akan ditampilkan pada saat penutupan MPLS di sela-sela kegiatan. Tugas ketua memang cukup berat, namun bukan perkara yang sulit bagi Braga. Urusan begini sudah menjadi makanan sehari-hari Braga sejak ia masih di SMP. Satu tahun menjadi sekretaris OSIS dan menjadi ketua OSIS di tahun berikutnya sudah menjadikan Braga cukup piawai dalam menangani organisasi. Hasil kerjanya mampu menjadikan kelasnya lebih unggul dari peforma kelas yang lain.
"Kita tidak salah pilih, Braga memang orang yang pas jadi ketua regu," puji Rafa dan Feby yang selalu berdecak kagum atas hasil kerja adik kelasnya itu.
Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍
Jangan lupa sematkan
✓ Bintang 5
✓ Favoritkan
✓ Vote
✓ ikut akunnya
__ADS_1
✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏