
Pukul 8.00 WIB, kegiatan berikutnya di mulai. Dalam materi pengenalan lingkungan sekolah, siswa tidak saja diminta untuk berkunjung dan mendeskripsikan bangunan dan ruangannya, lingkungan di sekitar sekolahpun seperti lapangan, kebun percobaan hingga sarana dan prasarana lainnya wajib mereka kunjungi secara mandiri. Selain itu mereka juga harus melakukan wawancara dengan guru dan karyawan yang bertugas pada hari itu.
Meskipun setiap anak hanya diwajibkan mengunjungi minimal 10 ruangan dan wawancara dengan 5 guru/karyawan, tugas itu cukup membuat suasana sekolah tampak riuh. Terlihat siswa mondar mandir dari satu ruangan ke ruangan yang lain dengan alat tulis yang ada di tangannya.
Beberapa guru/karyawan juga sudah mulai dikerumuni anak-anak untuk diwawancarai layaknya selebriti. Meskipun mengganggu kerja, mau tidak mau mereka juga harus koperatif dengan kegiatan sekolah. Ada yang begitu welcome, ada yang acuh tak acuh, ada juga yang minta siswa menunggu sebentar karena ada tugas yang tidak bisa ditinggal. Intinya sih pandai-pandainya siswa membujuk mereka agar mau meluangkan waktu untuk di wawancarai.
Semua siswa harus melakukannya dengan cekatan karena berpacu dengan waktu. Kegiatan ini akan berakhir pukul 09.30. Bagi siswa yang berhasil menyelesaikan survei dan wawancara terbanyak akan diberi reward sedangkan yang tidak memenuhi target akan dikenakan sanksi.
Karena posisi Braga ada di ruang PMR dan merasa dirinya sudah cukup kuat, ia segera melaksanakan kewajibannya seperti teman-teman yang lainnya.
"Saya sudah segar kembali kok, saya akan melakukan pelan-pelan," kata Braga memberi alasan saat pak Wasis mengingat Braga untuk istirahat dulu.
"Ya, sudah. Jika memang sudah merasa baikan. Tapi jangan dipaksa, ya?" pria itu coba mengingatkan kembali
Braga mulai mengamati semua sudut ruang PMR, setiap detailnya ia rekam dalam memori dan membuat catatan singkat dari laporan itu dalam bentuk teks deskripsi.
"Cukup satu paragraf, 3-5 kalimat," begitu informasi yang ia dengar saat pengarahan oleh wakil humas. Braga bisa mendengar dengan jelas meskipun ia berada di ruang UKS, berusaha keras menghabiskan sarapannya.
"Sudah dapet berapa?" tanya Braga pada Fadlan ketika mereka berpapasan di koridor sekolah. Braga hendak ke laboratorium IPA yang ada di samping ruang PMR dan Fadlan sebaliknya.
"Baru mau tiga," jawabnya sambil mengamati kondisi temannya itu.
"Kamu sudah baikan?"
"Sudah. Abis makan dan minum teh hangat langsung keringetan dan segar,"
"Lah, berarti kamu pingsan karena laper?" selidik Fadlan
"Ga lah. Aku biasa sarapan jam 9. Sembarang aja lo," protes Braga.
"Oke, lanjut," Fadlan segera masuk ruangan. Meninggalkan Braga yang segera pergi ke ruang samping.
Cukup lama ia mengamati laboratorium IPA yang luas. Untuk sementara, Braga hanya mempertimbangkan luas dan spesifikasi bangunan secara umum. Jadi ia tidak membutuhkan waktu yang lama di ruangan ini.
Saat melangkah keluar, ia berpapasan dengan Sella. Temen SMP-nya itu menghentikan langkahnya ketika mendapati Braga di depan pintu.
"Udah sehat? Kamu bikin gua jantungan aja. Dikira sakit apa, gitu? Pake pingsan-pingsan segala," sapa Sella yang langsung nyerocos bak petasan.
"Dikira orang pingsan itu direncanakan, apa? Atau kau kira aku boongan gitu untuk mencari sensasi?" sanggah Braga.
"Tau, kau sendiri yang bilang begitu. Aku malah ga kepikiran," sahutnya segera berlalu dari hadapan Braga.
"Ga mampir ke sini?" tanya Braga sembari berteriak.
__ADS_1
"Gak, itu ruang khusus anak IPA. Anti buat gua," sahut Sella sekenanya.
Braga hanya mampu geleng-geleng kepala, tidak ada yang berubah dari Sella. Selain ceplas- ceplos dan lata, ia paling bisa bikin orang mendadak jadi emosi.
Cukup lelah bagi Braga untuk memenuhi target yang ditentukan dalam kondisi tubuhnya yang belum begitu pulih. Agar tidak terjadi hal yang serupa, Braga memilih untuk tidak terlalu terburu-buru. Ia hanya menjangkau tempat dan melakukan wawancara dengan guru atau karyawan yang ia temui saja. Sangat mustahil baginya jika ia harus memilah-milah ruang yang begitu banyak dan lingkungan sekolah yang luasnya sekitar 1'5 hektar ini.
Untuk itu, ketika di ruang laboratorium ia mendapati satu karyawan yang sedang bersih-bersih ruang, Braga segera meminta kesediaan pria yang mengenakan seragam coklat itu untuk diwawancarai. Tidak ada kesulitan untuk membujuk orang itu mengingat kemampuan bahasa lisan Braga sudah tidak diragukan.
"Terimakasih Pak Udin atas kesediaannya. Selamat bekerja kembali. Mohon maaf sudah menggangu waktu kerjanya," pamit Braga sekaligus mengucapkan terimakasih kepada petugas laboratorium itu.
"Braga," sapa rombongan siswa cewek melintas di depan lab dengan ramah. Diantara mereka ada yang berbisik-bisik kemudia tertawa kecil dan berlalu dari pandangannya Braga.
"Iya," sahut Braga dengan ramah dan membalikkan tangan ke arah mereka.
"Apa yang mereka bicarakan, jangan-jangan mereka menertawakanku karena aku pingsan di lapangan," pikir Braga mulai terganggu.
"Jika itu benar, duh.... memalukan sekali. Bisa-bisa aku jadi bahan candaan kedepannya,"
Braga melanjutkan misinya, ia segera mondar mandir dari satu ruang ke ruang yang lain. Ia juga sudah mewawancarai satpam, Mr. Yun dan pak Wasis saat di ruang UKS tadi. Keringat sudah mulai bercucuran, pandangannya juga sudah mulai buram.
"Tugas wawancara sudah selesai. Target 5 orang sudah terpenuhi. Aku harus melakukan survey lokasi lagi. Masih kurang tujuh. Ya, Tuhan. Kenapa rasanya kok mual pusing sekali," keluh Braga karena ia merasakan tubuhnya yang makin tidak bisa diajak kompromi.
Meskipun sedikit lunglai, ia mencoba untuk berjalan menuju ke kebun percobaan. Tepat ini wajib ia kunjungi karena statusnya sebagai anak IPA, harus mengenal lingkungannya lebih dini.
" Cukup deskripsi secara umum saja," Ujarnya dalam hati sembari menulis beberapa kata dalam lembar surveynya.
"Braga," suara dari arah belakang mengagetkannya.
Sebelum menoleh ke belakang, sumber suara itu sudah berada di sisinya.
"Eh, kamu," sapa Braga dan melemparkan senyum manisnya pada Bella.
"Udah selesai?" tanya Bella menyelidik. Pandangannya ia arahkan ke papan jalan yang ada di tangan kiri Braga.
"Baru 3 sama ini. Kalau wawancara sudah selesai," jawabnya tidak bersemangat.
"Kamu masih sakit ya? Keringat mu banyak sekali,"
"Cuma berasa pusing sedikit. Tapi aku harus menyelesaikan tugas ini. Tak apa walau tidak menyelesaikannya sesuai target, yang penting aku sudah berusaha,"
"Nanti kena sanksi loh," Bella coba mengingatkan.
"Mau gimana lagi?" Braga pasrah karena ia yakin tidak akan selesai karena waktunya tinggal 10 menit lagi.
__ADS_1
"Aku bantu. Sini biar aku yang salin beberapa data yang sudah aku buat dalam lembar surveymu" Bella menarik papan yang di pegang Braga sebelum empunya memberi izin dan tangannya mulai menari-nari di atas kertas itu.
"Nanti ketahuan, tulisannya beda,"
"Sttt. Serahkan padaku," bisik Bella sembari mengingatkan Braga agar jangan bersuara terlalu keras, takut kucurangannya di ketahui orang.
Kini Braga pura-pura berkeliling, mengamati keadaan sekitar dengan lembar kerja kepunyaan Bella yang ada ditangannya. Begitu juga dengan Bella, seolah-olah mengerjakan tugasnya sendiri, ia begitu serius mengerjakan tugas itu.
Beberapa data yang sudah ia kunjungi masih diingat jelas di kepalanya sehingga ia tidak mengalami kesusahan menyelesaikannya. Tidak lebih dari lima menit, mereka sudah bertukar papan kembali. Braga cukup tercengang dengan hasil kerja Bella.
"Luar biasa!" ujarnya nyaris tidak percaya.
"Mirip sekali tulisannya. Kamu seperti berbakat jadi duplikator, nih," seru Braga lagi, ia masih memandangi hasil kerja temannya itu.
Bisa dikatakan tulisan itu mempunyai kemiripan 98%, hanya bentuk a kecil yang berbeda, namu jika tidak dilihat secara intens orang tidak akan menemukan kejanggalan.
"Hebat... hebat...," Puji Braga berulang kali sembari mengacungkan jempol ke arah Bella.
"Terimakasih, ya! Entah bagaimana aku bisa membalas jasa malaikat penyelamatku," ujarnya lagi.
Sekejap Bella menjadi salah tinggah mendapatkan pujian bertubi-tubi dari Braga. Bisa jadi saat ini pipinya sudah bersemu merah karena malu bercampur haru.
"Ah, aku cuma membantu beberapa saja kok. Ga usah berlebihan. Yuk kita kumpul. Sepertinya waktunya sudah habis. Susah ada panggilan," Ujar Bella untuk mencairkan suasana.
Braga beranjak dari kebun percobaan diiringi Braga di belakangnya. Selain mereka berdua, masih ada beberapa siswa yang seperti juga terburu-buru mengerjakan tugasnya hingga ia masih belum beranjak dari kebun itu.
"Terimakasih, ya!" Ucap Braga sekali lagi. Kali ini mereka sudah berjalan beriringan menuju titik kumpul. Braga merasa lega, ia sudah menemukan dewa penolong. Bahkan terlalu dini.
Ia melirik lebar kerjanya lagi dan mengingat-ingat apa yang sudah di tulis oleh Bella. Ada 10 survey yang ditambahkannya dan tempat yang dimaksud belum pernah ia lihat bentuk fisiknya.
**Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍
Jangan lupa sematkan
✓ Bintang 5
✓ Favoritkan
✓ Vote
✓ ikut akunnya
✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏**
__ADS_1