
Sekelompok orang disana tertawa melihat Kai yang sudah dari tadi berkeliling dilantai yang sama, yaitu lantai dasar dia tidak tau jelas kalau masih ada lantai diatas.
"tempat sekecil ini, apa mungkin?" ungkapnya akhirnya, dia merasa seperti ditipu dengan datang kesana.
Kai kembali disekumpulan yg didatanginya tadi untuk menyamperi Andra,
"lo bilang dia ada disini, lalu dimana?" ucapnya, dia kini berdiri tepat didepan Andra yang sudah login bersama teman-temannya.
"dia? Dia siapa?" jawabnya berpura-pura lupa.
Kai menghelakan napasnya, dia tau apa maksud perkataan Andra barusan. "sial!" gumamnya yang mulai kesal.
"jadi maksud lo gak mau kasih tau?"
"yaa entahlah" Andra mengidikkan bahunya, semua teman-temannya tertawa.
gak ada yang berniat memberitahu diantara mereka dan mengabaikannya, untunglah Heny tak seperti itu, "sayang jangan gitu" ucapnya memberitahu Andra tapi hanya disenyumi saja,
"kalau gak mau kasih tau biar..- ucapnya terpotong karena ada orang lain yang unjuk tangan ingin membantu.
"ha? Maria?" Heny terkejut melihat pengakuannya.
"iya, aku aja yang bantuin kalau gak ada yang mau" ucapnya, dia seseorang yang bernama Maria dari sekolah lain.
"emang lo tau?" tanyanya heran tapi jawabannya selanjutnya benar-benar membuatnya terkejut.
terlebih Kai, dia terkejut mengira siapa yang baru saja mengaku mengenalnya.
"iya aku tau soalnya Kai teman Sd ku" jawabnya.
Kai menoleh dari asal suara, dia yang sedari tadi hanya sibuk menelpon Ayesha akhirnya teralihkan.
"Sd?" imbuh Kai melihatnya, matanya memicing begitu melihatnya. Tidak asing baginya melihat wajah tersebut, "Lo yakin Maria? Perasaan maria gak gini"
"emang yang gini kenapa? Haha" Maria tertawa kecil,
"tambah cantik" ucapnya membatin,
"baiklah, yang kamu cari Aya 'kan? Sepertinya tadi aku melihatnya naik dilantai 2" ucapnya sembari beranjak dari duduknya, dia memberi petunjuk arah padanya.
"tangga? Sejak kapan tangga ada disini?"
"apa kamu tidak melihatnya tadi?"
"tidak"
Tak lama kemudian Kai naik dilantai 2 bersama Maria namun sialnya datangnya bersama Maria menjadi penghalang baginya untuk berbaikan dengan Ayesha.
Disisi lain Ayesha melamun memikirkan hubungannya dengan Kai, dia berfikir bagaimana kalau mereka tidak berteman lagi? jika itu terjadi bagaimana kedepannya, dia juga capek dengan keadaanya, tidak terbiasa baginya dengan keadaan yang terjadi.
__ADS_1
"baiklah, kalau dia keras kepala biar gua aja entar yang ajakin dia ngomong" ucapnya membatin,
Dia mengurungkan niatnya yang gengsian dan keras kepala, akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Kai.
Drrt-Drrt..*
"wow! Siapa tuh ganteng banget anjr, kya gak asing"
Moli mengangkat suara memperhatikan seseorang yang baru saja naik, "loh! we liat deh, itu Kai-!"
Seketika Ayesha menengok, "Kai-?" padahal dia baru saja menghubunginya namun tidak diangkat apa karena itu dia disini ingin menjemputnya?
Ayesha sempat gembira karena tau keberadaan Kai, tapi lagi-lagi dia dibuat kecewa.
siapa dia? Mengapa mereka terlihat begitu akrab? Apa dia pacar barunya? Dia sangat cantik, apa mereka datang nge-date? Apa Kai tidak memikirkanku?
Banyak pertanyaan yang timbul dipikirannya, jujur Ayesha sangatlah cemburu, kecewa bercampur sedih, rasanya ingin dia berteriak dan menangis sekencang-kencangnya.
"mengapa Kai?" gumamnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayesha! Hei! Lo mau kemana?" ucap Moli dengan sedikit teriak,
Pasalnya Ayesha langsung saja pergi dari tempatnya.
Kai masih berdiri mengedarkan matanya mencari keberadaan Ayesha, "lo tau dimana biasanya dia duduk?" tanyanya pada Maria.
Ayesha berjalan cepat dihadapan mereka sebelum mereka tersadar. "Ayesha!" teriak Moli akhirnya dihadapan mereka.
"Moli?"
Kai kemudian berbalik kearah wanita yang baru saja lewat itu, dia juga teriak mencoba menghentikannya sambil berlari tapi Ayesha kunjung tidak menoleh.
"dasar Kai brengsk!"
Ayesha berlari begitu kencang, "jangan kira lo bisa ngejar gua" dia menaiki motor milik Moli dan dengan kencangnya dia mengendarai motor itu.
Kai juga mengejarnya menggunakan motor miliknya, Ayesha yang menyadari itu mendengus kesal dengan perilaku Kai,
"Cih"
Bakat bermotor Ayesha tak imbang dengan Kai, untungnya Ayesha hebat dalam bermotor dan pandai menggocek orang sehingga dengan mudah dia lolos dari Kai.
Disamping itu
"Sial, si goblok* itu luting kunci motor gue!"
...********...
BRAKK*
__ADS_1
Ayesha berlari masuk kedalam kamarnya dan langsung menguncinya, hal itu menyebabkan bunyi yang sangat kencang akibat benturan pintu, Santi yang berada di dapur sampai dibuatnya kaget.
"Astaga.. Yesha, kenapa kamu?" ucapnya sembari mendekati pintu kamar Ayesha.
Terdengar dari luar pintu suara Ayesha yang menangis, bahkan berefek pada pita suaranya.
"kamu menangis kah?"
Santi khawatir ketika mendengar isakan itu, dia mencoba mengetuk-ngetuk pintu tersebit dengan pelan agar Ayesha membukanya tapi tetap saja tidak dibuka.
"nggak ma! Jangan ganggu aku!" teriaknya didalam sana.
Tak lama setelah itu Kai muncul tanpa permisi disana,
"tante Ayesha ada nggak?"
Santi menggeleng menjawabnya, Kai mengernyitakan dahinya, "gak ada? Itu gak mungkin"
"tapi tan. motor diluar?"
"oh itu.. Entahlah. Tante tadi liat Ayesha langsung pergi lagi gak tau kemana"
"tapi tan.. Aku boleh gak cek kamarnya?..-"
Kai ragu dengan jawaban yang diberikan Santi padanya,
ingin sekali dia mengecek kamar Ayesha apa benar dia ada didalam sana tapi dia terjebak oleh Santi didapur. Padahal kamar Ayesha tinggal beberapa langkah lagi.
"kamu ini ya gak percaya banget sama tante, dosa kamu ya"
"eh gak gitu tan maksudnya-
"udahlah ayo tante antar kamu keluar"
Santi menarik lengan Kai dengan paksa.
"tapi tan?"
"udah sini jalan"
Akhirnya dengan terpaksa Kai menurut, dia hanya memperhatikan pintu itu dengan tanda tanya.
"apa beneran pertemanan kita berakhir?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil melihat Santi yang seperti menghadang pintu.
"ahh.. Baiklah semoga lo baik-baik aja" ucapnya, ada perasaan sedih yang timbul.
Tapi disamping itu dia tetap berharap pertemanannya tidak putus begitu mudah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1