
Tuk. Tuk. Tuk.
Kai sibuk menekan keyboard ponselnya untuk mengirim pesan singkat pada Ayesha.
Kai: "Sayang. Lagi apa?"
Kai telah mengirimkan pesan singkat tersebut sejak setengah jam yang lalu namun, sejak tadi juga belum dibalas.
"Mungkin dia sibuk?" gumamnya mencoba berfikir positif.
Akhirnya, karena takut jika Ayesha marah. Kai mengirim pesan lagi.
"aku lembur malam ini" lanjutnya pada pesan teks tersebut.
...****************...
Disisi lain, terlihat Ayesha dan Bara yang baru saja tiba disebuah gedung Rumah sakit yang lumayan jauh jaraknya dari bandara.
Ayesha langsung mencari kamar yang ditempati tante Kelly saat ini.
Moli berada disebuah ruangan dan tengah menjagai ibunya, saat ini dia tertidur dengan posisinya yang masih duduk didekar ranjang.
"Moli?" ucapnya dengan nada kecil.
Matanya menatap prihatin dengan keadaan tante Kelly saat ini. Banyak kabel infus yang membantunya bernafas bahkan ada perban yang melilit dikepalanya.
Ayesha saat itu berjalan dengan pelan mendekati Moli karena takut membuatnya terganggu dari tidurnya, Moli pasti tidak bisa tidur dengan nyaman hingga saat ini.
Ayesha pun memutuskan untuk duduk menggantikan Moli disana, ia membangunkannya dengan pelan sampai Moli tersadar.
"Ayesha? lo ngapain disini?" ujar Moli yang baru saja tersadar.
Dia nampak begitu terkejut melihatku yang kini berada didepannya. Aku hanya mengangguk dan hanya mengarahkannya untuk tidur disofa.
Moli tetap diam sampai dia melihat Bara yang juga ada disana.
Air matanya tak terasa mengalir setetes hingga tetes.
Dia sangat terharu dengan kepedulian mereka hingga datang jauh-jauh ke Medan.
Moli langsung memeluk Ayesha saat itu.
"thanq you, Ya! Gue gak nyangka lo sampai datang ngejenguk ibu gua." Moli membenamkan wajahnya dipundak Ayesha.
"Maaf. Aku gak bisa bantu lebih dari ini." ucapku sembari menepuk bahu Moli dengan pelan, dan bermaksud menghiburnya.
Kedua wanita itu berpelukan dengan isak tangis yang terdengar jelas bagi Bara.
Bara hanya diam dan ikut mendengar kesedihan mereka sampai selesai.
Tak lama mereka bersedih seperti itu, yang kemudian dilakukannya doa dan berharap agar Kelly cepat sadar.
Moli mengeluarkan ingus hasil tangisnya diatas tisu.
"Kalian pasti butuh istirahat, biar kubawa ke- apartemenku." Moli bangkit dari duduknya ingin keluar dari sana tapi dicegat oleh Ayesha dan Bara.
"Eih jangan!" seru Ayesha kemudian ditambahi Bara.
"Kami tidak capek ko'. Hanya saja pasti Aya kelaparan." ucapnya,
Ayesha terkejut karena Bara tiba-tiba saja menjual namanya. Dia memang lapar tapi rasanya tidak enak kalau atas namanya.
__ADS_1
"Kenapa pakai namaku?" ucap Ayesha langsung.
"Jangan mengelak. Jujur aja pasti kamu lapar 'kan?" ucapnya membuat Ayesha malu.
"Ya tapi. Ngomongnya bisa gak pakai nama sendiri."
Moli melihat interaksi mereka. Tentu saja ada rasa cemburu dibanding wajar melihat keakraban mereka.
"jangan jadi berantem kali. Biar gue aja yang cari makan diluar." Moli menjadi penengah diantara mereka.
"Eih, jadi aku?" Ayesha tidak mau ditinggal sendiri tentunya.
"Ya. Sini ikut aja, Bara aja yang jagain ibu ku.
Lo mau 'kan?" tanyanya pada Bara.
Bara mengangguk dengan ekspresinya yang seakan mengejek Ayesha.
"dihh" ungkap Ayesha lalu pergi meninggalkannya.
Ayesha dan Moli pun pergi meninggalkan Bara sendirian disana.
Bara diam mematuk melihat kondisi Ibu Moli saat ini, dikepalanya terbayang ingatan buruk saat usianya 5 tahun.
Kejadiannya sudah begitu lama yang hanya orang-orang panti yang tau.
Situasi Kelly membuatnya dejavu dengan kecelakaan yang terjadi dulu sehingga membuatnya kehilangan kedua orang tuanya.
Dia menyentuh kepalanya yang terdapat tanda atas kejadian itu. Jahitan yang sudah menghitam karena lamanya, dan ada rasa denyut dirasanya.
Drtt.
Drrt.
"loh?" ungkapnya yang langsung teralihkan.
Bara langsung mendekati arah bunyi tersebut dan melihatnya.
"Kai?" gumamnya melihat kontak penelepon.
Awalnya dia bingung apakah handpone tersebut Ayesha yang punya atau apakah Moli?
Rasanya enggan baginya untuk menekan ikon hijau itu, tapi rasa penasarannya berkutat untuk tau sebenarnya apa keperluan sang penelepon.
Hingga akhirnya suara pintu terbuka terdengar. Ayesha kembali bersama Moli bersamaan dengan beberapa kantung yang digenggamnya.
"Stopp!" henti Ayesha langsung merebut handponennya dan beralih mengangkat telepon Kai.
"Halo?" jawabnya sembari menatap Bara dengan tajam.
Ayesha keluar dari ruangan itu karena lain rasanya jika berbicara layaknya seorang pacar didepan teman-temannya.
"Kenapa Bara?" Moli melihat tatapan Bara yang kecewa.
"eh? Oh iya. Gapapa ko'." jawabnya dengan senyum yang ramah.
"gue tau rasa yang lo rasain. Bara" ucapnya membatin.
Dilain sisi.
Terlihat Kai duduk dengan santai habis kerja lembur semalaman.
__ADS_1
03.44.
"kenapa Aya belum membaca chatku?" ucapnya heran karena chatnya yang hanya centang dua tanpa ada warna biru.
"tidur?"
"tapi, rasanya tidak mungkin. Ini sudah sejak tadi." gumamnya dengan kepala yang menggeleng.
Malam itu tanpa berfikir jikalau Ayesha sedang tidur Kai langsung meneleponnya berkali-kali. Dipikirnya, jika Ayesha tidur. Tak mengapa jika bangun 'kan.
Sudah lebih 5 kali dia beraksi iseng tapi belum kunjung dijawab. lalu sekali kemudian akhirnya dijawab.
"Halo juga sayang." balas Kai dengan tawanya yang gembira.
"Kai? kenapa kamu tertawa. Seharusnya 'kan kamu marah?"
"Marah? Ngapain aku marah, Hm?"
"ya.. karena..
"kamu aja yang tumben gak langsung bales chat aku, untungnya dari tadi aku sibuk di kantor. Jadi gapapa."
"Hehe. Sorry Kai. Aku lupa ngabarin. Sekarang aku lagi di Medan nemenin Moli."
"Moli? Dia di Medan?"
"iya."
Mereka sempat diam sebentar karena kehabisan topik, hal biasa jika terjadi.
"kamu belum tidur?"
"iya. Ini lagi nelpon 'kan?"
"kamu tidur aja." seru Ayesha padanya. Sebenarnya Ayesha ingin mendengar ucapan selamat malam dari mulut Kai saat itu tapi dia bingung harus mengatakannya bagaimana.
Bahkan dalam panggilan sayang pun Ayesha canggung dan malu mengatakannya, dia tidak terbiasa berkata demikian walau terhadap Kai sekalipun.
"yaudah. Aku tidur, ya. Hati-hati di sana." jelas Kai lalu langsung menutup telepon.
Tut.
"Aih Kai?! maksudku 'kan, ngomong gitu ucapan selamat malamnya kek! Ini malah enggak." ungkapnya dengan kesal sembari menghentak-hentakkan kakinya.
Untung saja lorong yang ditempatinya merajuk sudah sepi, mungkin sejak tadi?
Disamping itu Kai tertawa kecil membayangkan reaksi Ayesha yang kesal.
"haha. Udah ketebak pasti." gumamnya dengan bangga telah menjahili kekasihnya itu.
Tentu saja, Kai bukan tidak tau apa yang begitu diinginkan Ayesha sejak tadi.
Tringg!.
Kai: "Selamat malam sayang! Semoga kamu mimpi indah."
"Whatt!?"
"Dasar Kai bodoh!" umpatnya disana dengan kesal. Tapi, tidak se kesal tadi.
Senyum Ayesha mengembang dengan sempurna hanya karena tindakan kecil itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...