
Suatu waktu. Waktu itu tak lama setelah Ayesha pindah sekolah, Kai selalu gamon setelah mengetahui akan hal itu. Membuatnya selalu dtang ke rumah Ayesha, dengan berharap Ayesha akan datang pada saat dia berkunjung kerumahnya. Namun sudah satu minggu hal itu dia lakukan,
Aryan, melihatnya bingung. Kai selalu muncul, kalau tidak membantu dirinya, Santi yang dibantu.
"sebenarnya apa mau mu nak?" ungkap Aryan, kini dia sedang mensortir mobilnya yang ssedang mogok. Tentunya kai datang membantunya.
"sudah kesekian kali dataang kerumah, kenapa saat Ayesha pergi baru seperti ini"
Kai menunduk malu, seakan ada paku yang menusuk dadanya. Dia kena atas perkataan Aryan, Ya. Dia akui itu, dia sajaa malu mengapa baru seperti ini saat Ayesha pergi?
"emm. Gabut om haha" ungkapnya dengaan mngut-mangut.
Pemuda gabut emng biasanya seperti itu?
Aryan menggeleng dan berkata, "lebih baik kamu keluar jalan-jalan, healing cari hiburan kamu diluar dari pada disini, nyibukin diri sendiri" ujarnya.
Kai menolak untuk keluar Healing dan lain sebagainya. "Jadi maumu apa nak?" tanya Aryan.
"Sepertinya aku suka anak om." ungkapnya dengan sedikit malu.
Suaranya pun itu sangat kecil dan hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya.
"ouh baguslah." ujar Aryan singkat.
Kai heran dengan jawaban itu, seakan jawabannya tidak mampu memenuhi rasa ganjalnya.
"kenapa om berkata bagus? Bukannya malah marah.?" ungkapnya.
"memangnya, om harus bagaimana kalau tau? menjodohkan kalian?" ujar Aryan dengan santai.
"eh. Om jangan! Pasti Aya 'kan gak mau"
"Aya juga sangat marah padaku" lanjutnya, dia dengan menatap aspal dengan pasrah.
"tentu saja." jawab Aryan selaku papanya Ayesha.
Jawaban yang begitu ambigu.
Kai tidak mengerti akan situasi, Aryan juga tidak mau menjanjikan yang pasti. Karena Aryan takut, dia tau alasan Ayesha keluar negeri sejauh itu, Ayesha yang menghindar bahkan keluar rumah dengan tanpa ragu hanya disebabkan oleh Kai.
Takutnya Ayesha yang berada di korea, pulang-pulang sudah move on akan perasaannya.
"jadi aku harus bagaimana om?"
"ya. Entahla tanya Ayesha saat pulang" ujar Aryan. Dia berani lepas tangan mengenai masalah itu.
...----------------...
Kini posisinya Ayesha berada tepat dihadapan Kai.
Ayesha bertingkah kesal padanya, sedangkan hatinya sudah tidak tenang sedari tadi.
Dag-Dig-Dug..
"auh. Kenapa sih ni jantung?" gumamnya membatin, begitu kesal.
Untung saja dia mampu mempertahankan reaksinya yang kalm.
"Ini" ucap Kai.
Dengan mengurungkan sebuah paperbag dari tangannya kepada Ayesha.
"apa ini?" ungkap Ayesha bingung.
"Maaf. Lo buka aja didalem. Okey?"
"ha? Maksudnya?"
"udah masuk aja kedalam. Udah malam" serunya dengan mendorong Ayesha dengan pelan.
Ayesha lagi-lagi bingung dengan tingkah Kai yang tidak biasa. Terlebih lagi pada ucapannya, Kai benar-benar aneh akhir-akhir ini.
"Dahh! Selamat malam. Ya." ucap Kai lalu dengn cepat berlalu.
"aneh" ucapnya.
__ADS_1
Satu kata itu yang paling cocok menggambar Kai saat ini.
Ayesha menolak pusing langsung masuk juga kedalam rumahnya.
Didalam rumah terlihat Moli yang duduk diantara Ha rin dan Ji-ah.
"widihh.. Afaan tuh?" seru Moli dengan nada yang viral belakangan ini.
Ayesha terlihat gembira, pasalnya sejak melangkahkan kakinya dari pintu dia sudah terlihat senyam-senyum dengan cantik.
"stt!" serunya dengan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir.
Moli mengangguk, Ayesha tidak mau ditau kalau baru saja diberi hadiah oleh seseorang yang tengah berada didapur dengan sibuk.
Dia Santi, sedari tadi sudah sibuk menyiapkan menu makan malam.
Ayesha memanggil mereka untuk ikut membantu, sekalian mengalihkan topik. Lalu dia masuk kedalam kamarnya sendiri meninggalkan ketiga orang itu terjebak disetiap titah ibunya.
Tanpa menunggu lama diwaktu sendirinya, aya langsung membuka paperbag yang diberikan Kai.
"kalung?" ujarnya, kalung itu sangat indah.
Selain kalung, di dalam paperbag itu terdapat secarik kertas yang bertuliskan sesuatu.
Ayesha pun membacanya, dikertas itu tidak tertulis banyak hal begitu panjang. Hanya beberapa kata yang tertulis untuk membuktikan satu kata yang inti yaitu, 'maaf'.
...****************...
Maaf.
Gue ngaku selama ini, gue salah. Dari lama gue ingin bilang maaf ke lu, tapi. Lama lo gak kunjung pulang akhirnya keberanian ini nyaris hilang. Tolong terima maaf ini, terima juga kalung pemberianku, tolong dipakai. Karena lo pasti bakalan terlihat cantik kalau makai kalung ini.
Maaf, karena gue gak mampu bilangin ini secara lisan, tapi ini nyata. Gue tulus minta maaf, gue mau kita akrab lagi seperti dulu.. Jadi, kalau ada sesuatu sikapku yang mengganggu tolong lo bilang ke gue, jangan ragu.
Kai..
...****************...
Jika dia dari dulu tanpa ragu minta maaf, Ayesha mana mungkin pergi ke korea.
Ayesha menggeleng dengan tawanya yang kecil, di pikirannya terbentang pertanyaan, kalau benarkah dirinya sedang menyukai seorang pria?
Masalahnya tingkahnya lebih menonjol kesifat seorang wanita dibanding seorang pria.
"Kai. Lo itu udah dewasa?" ungkapnya,
Ayesha kini mencoba mengenakan kalung itu di lehernya, "cantik?" ungkapnya ketika melihat dirinya didepan cermin.
Kalau dirinya yang dulu, bisakah dirinya terlihat cocok dengan mengenakan kalung ini? Ayesha, tidak salah mengambil keputusan untuk mengubah penampilan.
...----------------...
Setelah itu, Ayesha langsung mengirimkan satu chat pada Kai.
Tring!
Kai langsung membuka handponenya begitu suara notifikasi berbunyi, karena sejak tadi Kai tengah menunggu balasan dari hadiah dan surat yang dia berikan.
Dia berdebar sejak tadi, dia takut kalau apa yang diberikannya itu ditolak begitu saja.
Ayesha: "Terimakasih atas kalungnya. Gue maafin lo."
Yes!!
Ungkap Kai dengan semangat.
Tring*
Ayesha mengirimkan lagi chat dalam bentu foto.
"Cantik?" lanjut Ayesha didalam chat tersebut dengan fotonya yang sedang mengenakan kalung tersebut.
Begitu indah nan sangatlah cocok dengan type kulit Ayesha miliki.
__ADS_1
Kai gembira dan sangat senag karena pilihannya tidak salah sama sekali.
Kai: "Ya. Lo sangat cantik👌🏻."
👌🏻?
Ayesha merasa terbang dengan pujian itu, bahkan dia sampai menirukan emotikon yang diberikan Kai. Haha, biasa. Ayesha ingin emotikon lain.
Chat mereka pun diakhiri oleh Kai dengan ajakan keluar.
Ayesha tanpa berpikir panjang langsung membalasnya dengan ya, dia lupa kalau saat ini..
"ikutt!" ungkap Ha rin dan Ji-ah bersamaan.
"Astaga, gue lupa mereka" ucapnya membatin.
Niatnya malam itu dia akan keluar tapi masih ada tamu yang hinggap dirumahnya, dan dia lupa akan hal itu.
Seandainya hanya Hana, pasti masih bisa tapi ini berbeda. Keduanya si paling suka berada diluar.
"apa gue telepon Hana aja?"
"lah enggak deh, Moli?"
"gak juga. 'kan dia baru aja pulang"
"terus siapa.. Masa ini ditunda?"
Ayesha pusing memikirkan itu namun masih terus mencari ide, dia tidak mau kalau rencananya batal apalagi dia sudah begitu siap dan cantik ala model.
"Aha!" ungakapnya,
Ide itu muncul tiba-tiba begitu saja.
Ayesha langsung menelepon Bara dimalam itu.
"Halo?" ucap baca dibalik telepon.
Pas saja saat itu Bara sedang berada dipanti, dimana banyak anak-anak berada.
"anak-anak disana belum tidur 'kan?" ungkapnya. Karena jam saat itu masih menunjukkan pukul 19.05.
"iya. Ada apa Aya?"
"gue mau kesana, nitip orang."
"gapapa 'kan?"
"I-Iya. Gapapa" ucap Bara sedikit terbata-bata karena mendengar Ayesha ingin menitip orang dipanti.
"orang? Apa Aya udah punya anak?" gumamnya setelah sambungan telepon terputus.
"Yaudah sekarang Ayok berangkat!" seru Ayesha pada kedua wanita itu.
Mareka sangat gembira layaknya anak-anak, entah kapan jiwa kedewasaannya akan muncul.
...----------------...
Kai, dia masuk kedalam rumah Ayesha setelah Ayesha dan lainnya pergi menggunakan mobil Aryan.
Dia masuk kesana meminta ijin keluar bareng Ayesha, tak lama setelah itu Ayesha kembali.
"Kami pergi dulu tante. Om." ucap Kai setelah bersaliman dengan Santi dan Aryan.
Diluar, Ayesha menunggu.
"ini" ungkap Kai dengan memberikan sebuah Hodie padanya.
"Hah? Apa ini? Ngapai lo kasih ke gua Hodie?" ungkap Ayesha bingung.
Kai langsung menyuruhnya untuk memakai hodie itu, bukan karena apa tapi hanya untuk mencegah Ayesha kedinginan.
Ayesha sedikit cemberut, memangnya apa spesialnya denga hodie ini? bahkan setelah berdandan secantik apapun hodie lebih terdepan digaris takdirnya.
Akhirnya aku menurut memakai hodie itu, tanpa mencari ribut untuk ribet lagi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...