
"Hai?" ucap Hana, menyapa sepupunya yang cantik.
"Hai juga" sapa orang itu,
Mereka berdua baru saja bertemu setelah sekian lama, mereka memang tidaklah akrab tapi dengan pertemuan ini kedua orang tuanya ingin kalau mereka mulai akrab.
Hana, seorang wanita yang berasal dari pelosok korea berkunjung ke Indonesia, jakarta. Dia tidak begitu mengenal tempat yang dia kunjungi karna seperti yang dikatakan pada paragraf sebelumnya, Hana pernah berkunjung saat dia berusia 6 tahun.
"Sudah lama ya? Apa kamu sudah kerja?" tanyanya pada wanita itu, dia Serly.
Malam itu setelah acara ulang tahunnya, tepat dirumahnya sedang melakukan pertemuan keluarga secara kecil-kecilan. Diatas meja hanya menyajikan berbagai makanan yang menurut keluarganya itu yang disukai lidah Hana.
"Kamu?" ucap Serly, dia tanpa malu langsung bertanya sebaliknya.
Memangnya apa yang perlu dimalukan, mereka sesama perempuan, sepupu, dan yang paling penting usia mereka juga setara.
Hana tertawa dan tak menjawab pertanyaan balik itu, dia malah menceritakan kehidupannya yang begitu berwarna bersama teman temannya, dia juga berkata jujur tentang betapa beruntung dirinya yang membosankan bertemu 3 anak imut.
Rasanya lucu, Serly ikut tertawa mendengar kisah-kisah mereka yang begitu bebas kedengarannya.
"jadi kalian tinggal bersama?"
"Yes. Satu asrama tepatnya" ujarnya dengan senyum yang mengembang.
...****************...
Disisi lain Ayesha begitu menegang sebab sedang berada didepan layar yang begitu lebar dan panjang, dipikirannya sedang tidak tenang.
"Aihh.
Sebenarnya apa yang kupikirkan??" ucapnya membatin, perasaannya terbagi 50:50.
50% dia sangat berharap itu terjadi, dilain sisi 50% juga dia berharap itu tidaK terjadi.
"berciuman? Haha itu tidaklah mungkin" ujarnya,
Entah mengapa sejak tadi perasaannya bimbang, dia berkata. Biasanya saat kedua sejoli berkencang mereka akan berciuman. Ciuman luar biasa layaknya sepasang kekasih.
Tapi, ayesha yang sampai tidak memperdulikan tontonan yang mereka tonton hanya pasrah saja. Dia sudah melewatkan menit-jam yang panjang yang hanya dia isi untuk menatap Kai.
Dia heran, apa Kai tidak tau kalau sedang terus ditatap? Ya. Pasti tak mungkin peduli.
"Bagaimana film nya? Seru bukan!?" ungkap Kai, kini mereka sudah keluar dari area bioskop.
Di tempat parkir.
"Ya. Seru" ucapnya dengan nada biasa.
"tak seperti reaksimu"ujar Kai lalu naik diatas motor.
"Hah? Lu bilang apa barusan?" maklum, Ayesha sedang melamun karena ternyata perkiraannya itu salah. Mungkin Kai hanya menganggap bepergian mereka ini hanya bepergian biasa layaknya seorang teman.
"gak ada, buruan naik" serunya dengan menghidupkan mesin.
"Terus kita kemana? Pulang?"
"Yaps. Memang kemana lagi? Lihat jam sudah pukul 22.00 pasti tante santi udah nyariin"
"okey" ucapnya singkat lalu naik di jok motor.
Rasanya, malam ini sangat membosankan. Seperti ada yang hilang. Mereka berdua merasakannya, keduanya sama-sama diam dalam perjalanan pulang.
Kai kesal mengetahui hal itu, apa semuanya tidak bisa kembali lagi?
__ADS_1
Kai ingin jujur tentang perasaanya, tapi dia gengsi. Dan anehnya setiap yang dia katakan pasti akan berujung menyalahkan Ayesha.
Tapi, tak dipungkiri Kai menghentikan laju motornya di sebuah jalan yang sepi. Tak ada motor, mobil, maupun orang lewat yang mengganggu mereka.
"Loh. Kok?" ungkapnya yang tersadar.
Kai langsung turun dan menghadapkan dirinya berhadapan dengan Ayesha, dan dengan tegas penuh harap dia berkata,
"Kemana Aya, yang kukenal selama ini?" ujarnya dengan memegang kedua bahu Ayesha.
"Kai?" ungkapnya, dia bingung melihat mata itu.
"lo nangis. Kai?" lanjutnya.
Tiba-tiba Kai langsung memeluknya dengan erat, dia merasakan air yang menetes dipundaknya dan membuatnya basah.
"hei. Lo kenapa?" ungkapnya,
Siapa yang tak heran jika menghadapi situasi ini tiba-tiba. Ini bukan kejutan.
Kai tak menjawab apapun.
"Oh tolong, Kai. Lo harus ngomong." ungkapnya, dia ragu untuk mengelus pundak itu.
"Katanya lo pengen kita kya dulu, tapi apa ini? Hubungan tidak akan jalan kalau tidak dengan komunikasi Kai." lanjutnya lagi, dia cukup kecewa dengan berbagai alasan.
Lagi?
Kai. Dia lagi-lagi bertingkah tiba-tiba. Namun ini berbeda, dengan sangat terkejut Ayesha menahannya.
hupp!*
Dia terbungkam oleh bibir Kai.
"kenapa? Bukannya ini yang lo mau?" ucapnya dengan marah.
Setelah ciuman itu berakhir Kai langsung membelakanginya, 'dimana makhluk jantan yang tadi?'
Kai dengan keberanian melakukan itu dan menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak Aya.
"tahan Ya, ini mungkin mimpi" ucapnya dengan mencoba sekali cubitan yang perih.
"What!"
Seperti orang bodoh dia menyadari kenyataan, "Kai. Jangan bilang lo masih nangis?" tanyanya dengan mencoba membalikkan Kai menghadapnya.
Dilihatnya, Kai meletakkan tanganbya didada.
"apa yang..
Ucapnya terpotong, Kai menarik tangan Ayesha didepan dada miliknya.
"ge degdegan" ungkapnya.
"yah. Gue juga" ungkapnya ikut-ikutan.
"lalu. Apa artinya ini?" tanya Ayesha langsung setelah mengalami kejadian tak terduga beberapa saat yang lalu.
"kurasa lo udah tau. Maaf..
"stop! Bukan waktunya membahas maaf. Lo harus jelasin ciuman tadi" ucapnya dengan menutup bibir Kai menggunakan telunjuknya.
Kedua pipi mereka memerah, telinga dan jemari pun sama merahnya, namun hal itu bukan dikarenakan cuaca yang dingin akan tetapi kalian tau bukan,
__ADS_1
Perasaan menggebu-gebu anak muda.
Kai menjelaskan perasaan kosongnya selama ini, kerinduan yang tertahankan kini membentuk suka.
"Lo yakin suka gue? Bukan karena gue yang sekarang 'kan?" ucapnya, dia tidak mau kalau perasaan Kai hanya memandang fisiknya yang berubah.
"Bukan. Makanya,
Gue harap lo mau jadi pacar gue" ucapnya tanpa ragu, Ayesha yang mendengar ajakan itu langsung tambah deg degan.
"Mau. Tapi dengan syarat!"
"ya? Apa itu, gue bersedia lakuin yang lo mau"
"Pertama. Lo janji gak bakalan godain cewe lain, kedua. Lo janji bakalan nomor satuin komunikasi, okey?"
"siap!" ucapnya dengan senang, dia mampu dan akan berusaha memenuhi keduanya dan tidak akan mengecewakan Aya.
"eit, jangan senang dulu.. masih ada satu lagi"
"hm. Baiklah apa itu?"
"Jangan ngomong Lo-gue ke gue." ungkapnya dengan senyum yang indah, Kai merasa tidak adil.
"terus situ nya?" ungkapnya heran mendengar cara ngomong Ayesha.
"eit! Ini gara-gara lo ya. Seandainya dari awal gak cari gara-gara ke gua, pasti gua ngmongnya sopan"
"haha Sorry klau gitu sayang" ungkapnya,
Ayesha tiba-tiba terdiam sesaat, dia terkesan kaget mendengar panggilan itu.
Rasanya malu mendengarnya, ini pertama kali buatnya, bahkan pacaran pun itu untuk pertama kalinya. Akhirnya keinginan Ayesha sejak dahulu kala terpenuhi untuk menjadikan Kai sebagai pacar pertama dan terakhirnya.
...****************...
Disamping itu terlihat Ha rin dan Ji-ah yang lumayan nyaman tinggal di panti.
Mereka sedang menemani anak-anak tidur dengan selimat yang hangat, keduanya tak mengapa kalau memang Ayesha tak menjemputnya, lagian juga sudah larut malam.
"kapan kalian sampai?" tanya Bara. Dia bertugas menemani mereka selagi Ayesha belum datang.
"dua hari yang lalu?" jawab Ha rin.
Mereka duduk diteras dengan secangkir teh panas didepannya setelah lelah membantu walau hanya dengan bantuan kecil sekali pun.
"kira-kira Ayesha ngapain gak jemput ya?" ucap Ji-ah dengan bahasa korea, jelas Bara tidak mengerti maksudnya.
Kedua orang korea itu berbincang dengan bahasanya sendiri membuat Bara berfikir,
"apa sebaiknya gue belajar bahasa Korea?"
Pip- Pip*
"Loh itu dia yang dibicarakan!" seru Ha rin dengan gembira.
Ji-ah langsung berdiri melihatnya, "hei. Anak-anak didalem tidur" ucapnya begitu mendekati mobil.
"haha. Sorry dia gak sengaja" ucapnya dengan canggung.
Kai yang ada disana melihat seseorang yang berada dibalik kaca, "Kai?" gumamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1