
"Astaga. Serly kau mau membawaku kemana?" seruku karena sedari tadi genggaman Serly tak kunjung terlepas.
Dan herannya ternyata kekuatan fisik Serly lebih kuat dibanding dirinya, arasanya jika dirinya cengeng mungkin sekarang dia akan menangis karena posisinya kini seperti seseorang yang tengah diculik.
Serly masih ekspresinya yang menyenangkan nan bersemangat. "apa kau lupa kita tidak begitu dekat untuk berpegangan tangan." ujarku lagi-lagi terabaikan.
"tenang saja, nyawamu gak akan hilang hanya karena kugenggam." balasnya akhirnya setelah beberapa menit.
Sesaat kemudian Taxi yang ditumpangi itu berhenti, "ini pak" ucap Serly pada pak sopir itu.
Ayesha masih saja bingung dengan sikap Serly, "apa dia gila?" ucap Ayesha membatin.
Dia menerka kalau mungkin sebenarnya Serly korban setres.
"Tunggu apa lagi. Ayo masuk!" ungkap Serly dengan penuh semangat.
Serly menarikku kedalam sebuah restoran yang baru kulihat, sepertinya restoran ini baru di buka.
"Selamat datang, para nona manis? Pesan apa?" ungkap pegawai cantik disana.
"em.. Semua menu yang paling mahal." ucap Serly dengan ringan nan bebas.
"apa? Tunggu. Apa kau gila?" Ayesha berteriak, para pengunjung lain sampai memperhatikannya.
"mungkin yang gila sekarang kau. Coba lihat disekelilingmu orang-orang pada melihat." ucap Serly membuat Ayesha menatapnya tajam.
"baiklah. Jangan kira aku tidak mampu" balas Ayesha serasa tertantang.
Kebencian Ayesha tidak menurun apalagi Serly yang berlaku seperti ini padanya.
Sedangkan Serly dari tadi terlihat begitu santai padanya, dan berlaku akrab secara sepihak.
Serly hanya mengangguk mendengar perkataan Ayesha. "wajar 'kan aku lapar, dan kau punya utang padaku."
"dih"
Beberapa saat kemudian.
Yang benar saja Serly begitu kuat memakan semuanya?
"apa dirumahmu tidak ada makanan?"
"ada"
"terus?"
Serly menurunkan sendok dan garpu yang digenggamnya, dan menghentikan makannya sebentar.
"kau harus tau, saat SMA aku pernah ingin akrab padamu tapi entah kenapa kau selalu menjauhiku dan membenciku sejak dulu. Apa karena kau menyukai Kai? Oh ya! Aku saat itu memang tertarik padanya, tapi asal kau tau. Hubungan kami hanya sebatas teman." ucap Serly panjang lebar.
"tau kok, lagi pula itu sudah berlalu. Kenapa kau membahasnya?" tanya Ayesha, dia sudah tidak perduli dengan masa lalu, yang penting masa kini.
Serly menggaruk lehernya yang tak gatal.
"Cuman mau bilang, Maaf dari dulu aku selalu bikin salah paham"
"baiklah. Itu juga sudah lewat dan sebagai info. Aku dan Kai resmi berpacaran!" ujarnya dengan bangga, Ayesha berniat pamer.
"bagus itu, jadi aku gak sungkan nih buat nambah" serunya dengan mengambil kembali buku menu.
__ADS_1
"What?? Jangan gitulah. Gajiku belum masuk." ucap Ayesha sembari menarik menu itu dengan cepat, kecepan kilat membuat Serly tertawa geli.
"haha. What??.. Aku cuman bercanda haha, aku bakalan bayar ini setengah. Tenang aja haha" ucap Serly dengan mengikuti ekspresi Ayesha yang baru.
Sangat lucu sehingga mampu membuatnya ngakak sendiri,
"sial. Dasar bodoh." umpatnya.
"kau yang bodoh! Haha." balas Serly yang masih stay tertawa.
...****************...
Din-Dong.
Setelah pertemuan Ayesha dan Serly selesai, Ayesha kini berada didepan halaman rumah Moli.
"Assalamualaikum." ucapnya beberapa kali sebelum dia menyadari ketidak hadirannya seseorang disana.
Ayesha pun memutuskan untuk menelepon Moli tapi..
Tutt..
Ternyata teleponnya tidak aktif. Hal itu membuat Ayesha khawatir dan bertanya-tanya bahwa Moli pergi kemana sampai tidak mengabarinya.
Tuut.
Teleponnya kedua kali tapi tetap saja tidak dapat tersambung.
Hufft.
"kemana dia?" gumamnya dengan menghela nafas kasar.
"eh, neng gelis? Ngapain disini teh?" ucap seorang ibu-ibu berusia 5 tahun lebih tua dari Santi.
"bibi? Kenapa baru datang sekarang? Bibi tau gak, Moli ada dimana?"
"neng Moli? Neng Moli teh lagi keluar." ujarnya. Lalu membuka pintu rumah Moli.
"keluar? Kapan itu bi? Jauhkah? Kok kunci rumah ada di Bibi?" Ayesha berucap dengan cepat mengikuti bibi Laiha.
"neng gelis duduk aja dulu, bibi siapin minum." ucap Laiha lalu berjalan kearah dapur namun, Ayesha dengan cepat mencegahnya.
"gak dulu bi. Jawab dulu pertanyaan ku, bibi pasti tau 'kan?" Ayesha menatapnya dengan tajam membuat Bi Laiha merinding.
Mau tidak mau dia akhirnya terbujuk untuk mengatakan yang sebenarnya.
Matanya berkaca-kaca hanya untuk mengatakan yang sebenarnya hingga membuat Ayesha gugup, memangnya apa yang dihadapi Moli saat ini?
Saat mendengar alasan yang keluar dari mulut Bi Laiha, dia pun ikut terdiam dan langsung pamit pergi membiarkan Bi Laiha berluasa untuk menyelesaikan tugasnya.
Ayesha berencana untuk mendatangi Moli yang berada di Medan tapi sebelum itu dia menelepon seseorang untuk menemaninya kesana.
Seseorang itu Bara, seseorang yang cocok karena salah tu orang yang menemani Moli selama dirinya tidak ada adalah Bara, selain itu Moli menyukainya.
"Halo. Bara bisa ketemu?"
"Ayesha? Ada apa, suaramu..
"tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Datanglah ke bandara sekarang dan jangan lupa bawa barang-barangmu!" seruku dengan gegabah. Tentu saja Bara bingung dengan titahku barusan.
__ADS_1
"apa maksudmu?"
"kita akan ke-medan, sebentar akan kujelaskan."
"tu-tunggu..
Tut-
"apa maksud Ayesha? Dia ingin pergi ke Medan denganku? Berdua..-"
Bara sempat berkhayal sejenak, sebelum menggelengkan kepalanya dengan kencang.
"jangan ngayal dulu bodoh, entar lu kecewa." ungkapnya melihat bayangan dirinya didepan cermin.
Buru-buru dia mengemas beberapa barang yang diperlukannya kedalam tas ranselnya.
Sedangkan Ayesha kini berada di rumahnya dan langsung mencari kedua orang tuanya.
Hari itu menjelang malam, Ayesha tidak mengemas barang apapun dan hanya mengambil jaket tebalnya untuk ia pakai.
"Mama. Papa.." Ayesha berlari kedalam pelukan kedua orang tuanya dengan air mata yang mengalir dipipi.
Kedua orang tuanya sempat bingung dengan penampakan anaknya sekarang, matanya menghitam karena menangis. Make up nya kini sudah memudar.
Ayesha meminta ijin untuk ke Medan dari kedua orang tuanya itu, awalnya mereka tidak setuju namun, Ayesha dengan cepat menjelaskan situasi yang dialami Moli saat ini.
"Ibunya kecelakaan dan saat ini sedang koma. Ma, mohon izinkan aku kesana."
"iya, Santi biarlah anak kita kesana" Balas Aryan sementara Ayesha masih terus membujuk ibunya.
Hufft*
Tak ada alasan baginya untuk menahan anaknya, yang dilakukannya juga bukanlah hal yang salah. Moli adalah temannya dan sudah membantu dan mendukung Ayesha selama ini.
"baiklah. Tapi kamu harus hati-hati." ujar Santi akhirnya.
"iya, Ma! Itu pasti.
Kalau gitu Ayesha pergi. Mama-Papa jaga diri juga baik-baik!"
"Assalamualaikum." Ayesha pun pergi meninggalkan rumah setelah bersaliman kepada mereka.
Ayesha pergi tidak dengan membawa bobot yang begitu banyak sehingga Bara yang menunggunya disana bingung dengan Ayesha yang datang hanya dengan membawa diri.
Sampai-sampai dikiranya Ayesha sedang kabur dari rumah.
"Ayesha? kamu lagi ada masalah apa?" ucapnya yang pertama saat Ayesha berdiri tepat dihadapannya.
"Moli.. - " Ayesha akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada Bara. Dia pantas tau karena Bara yang akan menemaninya.
Bara mengusap air mata yang lagi-lagi mengalir dipipi Ayesha.
Kini mereka sedang menaiki pesawat terakhir yang terbang dimalam itu.
"Semoga tante Kelly baik-baik aja.. Amin."
"Amin." ucap Bara ikutan, melihat Ayesha yang tengah berdoa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1