
Beberapa saat kemudian dia sampai di Rs. Dia berlari begitu cepat sampai membuat nafaasnya tak beraturan.
Huft-huff..
"Papa. Papa. Dimana papa?" ucapnya dengan tergesa gesa.
"ehm. Disini nak" ucapnya,
"Papa?" ungkapnya.
Dia begitu terkejut melihat penampilan papanya layaknya seseorang yang sakit, ada beberapa perban yang menempel ditubuhnya.
"papa baik-baik aja kan?" tanyanya pada Aryan, lalu dibalas dengan anggukan.
Ayesha begitu bersyukur kalau Aryan baik-baik saja, setidaknya ini bukanlah kecelakaan yang parah karena hanya menimbulkan luka kecil dan beberapa goresan.
"iya baik-naik aja. Yeshanya gimana, udah seharian lo diluar"
"jangan tanyain itu Pa.
Yang Ayesha bingungkan kenapa hanya kita berdua disini? Mama gak ada? Aku harus telepon mama" dia membuka handponenya lalu langsung ditarik oleh Aryan.
"papa sengaja soalnya lagi marah sama mama kamu"
"tapi pa.-
"kamu ini ya. Katakan alasan dari keinginanmu itu" serunya,
"emn, papa kok bahas itu"
"kan papa udah bilang bakal menuhin keinginan kamu"
"jadi aku harus ngomong nih?" tanyanya dulu lalu Aryan mengangguk.
"anu pa. soalnya aku suka sama Kai, aku cinta dia tapi aku mau menghindarinya dengan pindah sekolah" ucapnya akhirnya jujur pada Aryan.
"makanya kalian gak bicara?"
"iya."
"apa Kai tau?"
"nggak. Dia sangat bodoh, gak berperasaan, gak peka sama sekali" ucapnya tiba-tiba dengan nada tinggi dengan raut wajahnya yang kesal.
Mumpung selama mereka hanya berdua Ayesha akhirnya mengeluarkan seluruh penat hatinya yang selama ini dia tahan.
__ADS_1
...****************...
Malam itupun kian berganti di pagi hari, burung-burung bernyanyi dengan ciutannya yang beragam dengan sesekali mematuk diatas atap rumah seorang gadis disana.
Dia yang tertidur pulas menikmati masa liburnya, bahkan tidak sholat subuh karena sedang menjalani datang bulan yang biasa dikunjungi para gadis dan wanita.
Tak terasa setelah keberangkatannya dari Jakarta sudah begitu lama, sekarang dia sudah S1 dijurusan Animasi.
Yang berarti sudah 3 tahun dia berada diKorea yang awalnya hanya disetujui Aryan.
10.30.
Matahari mulai masuk menerawan dibalik kaca jendela dan menerangi kamarnya, itu sangat terang membuatnya terbangun dari tidurnya yang lelap.
"ughh" lenguhnya yang sudah merasa terganggu.
"Selamat pagi dunia" ucapnya lalu terduduk diranjang, dengan malas akhirnya dia bangun dan langsung melakukan rutinitasnya sehari-hari.
Seperti biasa setelah sikat gigi dia duduk ditepi jendela rumahnya.
Dia tinggal ditengah laut, ada beberapa warga desa disana. Walau tidak akrab dia terkadang menyapanya, kerena sikap wajib itu harus ramah pada seseorang.
"berada disini membuatku menjadi pribadi yang berbeda, tapi..- ucapnya terputus lalu kembali melamun.
Jujur dia mengaku kalau sudah menjadi lebih baik, maksudnya lebih sopan pada orang lain.
Kini rambutnya tidak lagi pendek, layaknya seorang perempuan dia tumbuh disana, dia juga sudah pandai berdandan dan mengenakan ootd yang pantas.
Ayesha. Jpg.
Itu potret terakhir yang dia ambil beberapa minggu yang lalu.
Semua itu diajarkan teman kuliahnya.
Jika ditanyai mengapa mengambil jurusan Animasi saat itu, Ayesha akan menjawab. Jikalau dirinya yang akan mengatur dirinya, karena dia berniat menjadi kreator bebas diluar sana.
Dan sekarang seperti yang dirinya harapkan, dia membuat animasi yang lumayan menarik banyak orang lewat apk online, makanya dia bisa hidup sendiri bahkan jika papanya tidak meneransfer uang.
Setelah melamun beberapa saat Ayesha akhirnya kembali bangkit pada rutinitasnya selanjutnya yaitu makan dan berolah raga.
Bukan berolah raga betulan, hanya jalan sehat saja disekitaran pantai sambil memungut mungut sampah yang berserakan.
"Hei nak. Kamu sangat betah ya disini?" ungkap seorang wanita yang usianya sekitaran 60 tahun.
__ADS_1
"Iya tante, abis disini nyaman" jawabnya.
Pembicaraan yang mereka lakukan menggunakan bahasa korea.
"orang tua kamu gak nyariin?"
"emm. Mungkin?" jawabnya dengan ragu karena nyatanya dia tidak pernah menghubungi orang tuanya, bahkan Santi saja masih ogah berbicara padanya. Jadi bagaimana bisa?
Lagi pula Ayesha tidak pernah mencoba menghubunginya, yang dipikirannya hanya 2.
Yang pertama, Kai.
Yang kedua, Kedamaian.
"cobalah kamu telepon orang tuamu nak, mereka pasti rindu padamu." ungkap wanita itu lalu pergi meninggalkan Ayesha.
"iya juga ya, aku gak pernah telponan dengan mereka bahkan ke papa aja lewat chat doang" ungkapnya mengingat ingat kelakuannya yang kurang ajar, dia berlari kedalam rumahnya dan mengambil handpone.
Bukannya menelpon langsung dia malah melihat jadwalnya, "hmm. Good Job." serunya sangat senang sudah membuat beberapa episode untuk update 3 minggu kedepan.
"baiklah mungkin saatnya aku pulang" ucapnya dengan berani, dia siap menerima apapun hukuman dari pelariannya.
...****************...
3 tahun yang lalu...
Kai yang saat itu selalu memperhatikan interaksi Bara dan Ayesha membuatnya sangat kesal dan cemburu, dia bingung kenapa perasaannya aneh begitu.
Sehingga saat itu Kai memutuskan untuk menemui Bara saat pulang.
Minggu ini masih masa ujian dan hari itu merupakan hari ke-3 mereka menjalani masa ujian.
"Woi lo ngapain main nyerang gua ha?" teriak Bara dengan lantang.
Pasalnya kini pergerakannya tiba-tiba dikunci oleh Kai tanpa aba-aba.
"lo ngapain deketin Ayesha? Gak ingat lu udah ngejelekin dia?"
"memangnya kenapa? Setidaknya gua suka dia dan berniat menjaganya sedangkan lo?"
Bug*
"suka? Lo gak pantes sama Aya!"
setelah itu akhirnya terjadi perkelahian lagi namun hanya mereka berdua yang tau keadaan masing-masing, dan posisinya itu bukan lagi di area sekolah melainkan di lorong sepi sehingga para guru pun tidak tau.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...