
Akhirnya Kai ketika pulang dari kantor langsung mengunjungi kediaman Tribudiman.
"Assalamualaikum" ucapnya lalu masuk kedalam ruangan tegang itu.
"Walaikum salam" jawab mereka.
Yang ada didalam ruangan yang sama hanya Santi dan Aryan termasuk Ayesha.
Hari itu sudah petang, memang waktunya bagi para pekerja untuk pulang. Sedangkan Hana dan yang lain ikut keluar mencari angin bersama Serly.
Ayesha tak masalah menitipkannya mereka pada Serly, walau mereka tidak akrab untungnya Hana bersepupu dengannya.
Kai duduk dengan tenang disana, Tak seperti biasanya perasaan Kai kalut. Dia takut jika kedua orang tua Ayesha marah padanya karena mereka berdua awalnya notabene seorang sahabat.
ekhem*
Deheman Santi mengacaukan rasa hening yang tercipta, Kai yang canggung itupun langsung menatap Santi.
"hehe tante, ada apa?" ucapnya dengan cengengesan.
"ma. Jangan seperti ini, Kai jadi takut" ujarnya mencoba menenangkan mamanya.
Seperti yang diketahuinya karakter Santi itu keras jadi kemungkin mereka tidak direstui pacaran.
Sedangkan Aryan tak mampu berkata, karena sejak dulu dia memang tidak mau ikut campur pada masalah percintaan anaknya.
"Riska dan Andika tau?" ucapnya akhirnya membuat Ayesha saling bertatapan.
Ya, seperti Santi mereka juga tidak tahu menahu soal ini.
Melihat kedua anak muda itu terdiam, Santi akhirnya mengambil kesimpulan.
"Wah! Kalian memang hebat, saya salut akan keberanian kalian" ucapnya dengan nada yang menakutkan.
"bagaimana bisa Kalian seberani ini, saya tanya siapa yang lebih dulu mengajukan pacaran? Apa kalian tidak memikirkan pendapat orang yang lebih tua?" lanjutnya dengan mengomel.
Diajang pintu, terlihat Riska yang berdiri menguping omelan Santi sahabatnya.
"Kenapa cuman berdiri?" tanya Andika yang membuat keberadaan mereka diketahui.
"Riska?" ucap Santi yang melihatnya langsung memanggilnya.
Dia langsung menanyakan pendapat sahabatnya itu, tapi jawabannya itu membuatnya kecewa.
"Ya. Menurutku tak mengapa kalau mereka pacaran, kan wajar-wajar saja kalau anak perempuan dan laki-laki berhubungan seperti itu" jelas Riska membuat Kai dan Ayesha bernafas lega.
Rasanya hambatan mereka untuk bersama menjadi mudah, hanya saja hasilnya seperti sama saja karena Santi selaku ibunya tetap mempertahankan pendapatnya.
Santi begitu keras kepala menyebabkan dia menolak hubungan anaknya dengan keras.
__ADS_1
"hentikan itu, pokoknya saya gak setuju." ucapnya kesal dan bermakna mutlak.
"ayolah ma. Apa salahnya kalau kami bersama?"
"gak!" teriak mamanya dari dalam, di memilih menuju kehalaman belakang rumahnya.
Riska menggeng melihat sifat Santi yang tidak pernah berubah.
Santi masih saja keras kepala dan hanya memedulikan pendapatnya.
Disamping itu, Santi duduk dengan memijit pelipisnya dengan pelan.
Riska mendatanginya, tak lama setelah dia duduk.
"boleh gabung?" ujar Riska di ajang pintu.
"ya, asalkan itu bukan untuk membujukku"
"okeyy" ucap Riska lalu mengambil posisi didekatnya.
Malam itu, cuaca malam sangatlah dingin seperti hati Santi yang membatu.
Angin malam bertiupan kesana kemari dan mampu membuat orang menggigil.
"Semangat Riska. Ini untuk anakmu" ucapnya membatin, lalu memakai selimut yang sudah diberikan Ayesha.
"em.. Kamu masih ingat tidak?
"dibilangin jangan ngebujuk"
"eih denger dulu, ini bukan bujukan ko'." serunya, menghentikan Santi yang ingin bangkit dari duduknya.
"Dulu kamu juga gini, aku ingat betul dulu saat kalian masih pacaran"
"apa maksudmu?"
Flashback*
Santi saat berusia 16 tahun, dia berpacaran dengan pria satu kelasnya.
Pria itu Aryan, anak yang dikenal pendiam but ganteng. Aryan saat masih sekolah sangat sulit didekati oleh anak perempuan tapi berbeda dengan Santi saat itu, dia perempuan tomboy sama seperti Ayesha.
Santi lebih suka bergaul dengan anak perempuan bahkan jika dibandingkan dengan anaknya, maka Santilah pemenangnya karena dia adalah biang kenakalan.
Keduanya sungguh berbeda, Santi menyukai Aryan lebih dulu dan langsung mengungkapkannya secara terang-terangan. Semua murid sekolahan pada tau Santi, karena dia salah sstu murid populer disekolahnya. Bukan karena cantiknya tapi karena sifatnya yang friendly dan menyenangkan.
"Hadirin sekalian, berdirinya saya disini bertujuan untuk mengungkapkan perasaan saya kepada Pria tampan yang berada disana. Aryan, Saya suka kamu. Mau kah kamu menerima perasaanku?"
Semuanya tertawa saat Santi yang berpidato sebagai murid yang memenangkan kejuaraan basket wanita di atas podium.
__ADS_1
"wah, apaan itu Santi ngungkapin perasaanya?"
"Wanita pemberani!"
Terima! Terima! Terima! Terima! Terima!.
Aryan terkejut mendengar ucapan mereka, tak menyangka baginya mendengar hal tersebut dari seseorang yang beberapa waktu lalu mengganggunya.
Tanpa berfikir panjang Aryan kabur dari sana, wajahnya memerah karena malu atas seruan orang-orang.
Santi tentu saja mengejarnya, niatnya kali ini bukan untuk memaksa Aryan untuk menerima perasaannya tapi untuk meminta maaf kepadanya.
"Sorry! Maaf, aku tidak berfikir panjang sebelum mengatakannya" ujarnya dengan mengulurkan tangannya pada Aryan yang berjongkok dibawah pohon.
Dia tau apa yang dilakukan Aryan saat itu, jelas dia sedang bersembunyi.
Santi mengakui perbuatannya yang terlalu gegabah dan terburu-buru.
"Kau. Apa itu alasanmu sering kali menggangguku?" tanya Aryan membuat Santi mengalihkan pandangannya.
"hehe, maaf aku orangnya memang gitu. Tapi jangan diambil hati. Bagaimana kalau..
Kamu coba buka hati untukku, mungkin aku akan berubah?"
"kau mengikutiku untuk apa? Minta maaf atau membujuk. Aneh"
"Dua-duanya, jadi. Mau yahh?" ucap Santi mulai membujuknya sembari menggenggam kedua tangan Aryan.
Tatapannya begitu berharap saat itu, Aryan tak mampu menolaknya, apa itu memang kekuatan wanita?
"Ya, baiklah. Kita coba dulu" ujarnya.
Santi langsung melompat kegirangan mendengarnya, sampai akhirnya hubungan mereka berjalan lancar hingga dipelaminan.
Flashback off*
Santi dan Riska masih terduduk disana setelah bernostalgia sedikit, Riska ingat betul kisah percintaan sahabatnya.
Karena dia juga menjadi tokoh penting dari kisah tersebut.
"Tapi ini berbeda, Riska." ucap Santi.
Santi meski diberi nostalgia sedikit tidak terpengaruh, keputusannya sudah sampai titik saat itu.
"Apanya yang berbeda? Kalian saat itu juga pacaran, terus..
"pokoknya tidak! Ayesha tidak cocok bersama Kai." ujarnya lalu masuk kembali kedalam rumahnya meninggalkan Riska.
Riska terdiam, "Salah, harusnya aku tidak membujuknya" gumamnya saat itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...