
Keluarga Setiawan kembali pulang kerumahnya hanya dengan beberapa langkah.
"Dahh. Kai" ucap Ayesha yang menghantar Kai hingga pagar.
Kai mengangguk dengan senyumnya.
Setelah itu. Ayesha masuk kembali ke dalam kamarnya, dan langsung menghempas tubuhnya ditempat tidur.
"dasar mama egois!." ujarnya lalu langsung menutup matanya.
Disisi lain, terlihat sepasang suami istri yang tengah mengobrolkan persoalan anaknya.
Aryan. Setuju-setuju saja dengan keputusan anaknya, baginya juga perlu mempersiapkan dirinya kalau saja Ayesha memutuskan menikah dengan Kai yang berarti ini akan menjadi perpisahan kedua dan terakhir mereka.
"Mengapa kamu tidak setujui saja Ayesha dan Kai berpacaran, biarlah urusan percintaan mereka yang mengurusnya" ujar Aryan.
"apa maksudmu? Apa kamu mau lepas tangan begitu saja? Ini anak kita loh."
"Aku tau, dan tidak akan lupa. Tapi, bukannya dulu kamu seperti itu? Mengambil keputusan tanpa menanyakan kepada orang yang lebih tua dahulu"
"Ya, karena itu beda. Aku tau pilihanmu benar!" serunya membela diri.
Hufft*
Aryan menghelakan nafasnya kasar, dia benar-benar tidak tau apa yang dipikirkan istrinya itu.
Rasanya gusar memikirkannya, dari dulu Santi tidak pernah setuju akan pilihan Ayesha.
"ini juga pasti yang terbaik menurutnya"
"terbaik? Bahkan saat mengambil jurusan pun menurutku dia salah,
Apa-apaan dengan animasi itu, dia pikir masih balita?"
"jangan seperti itu sayang. Kita tidak tau kedepannya apa yang terjadi" Aryan masih mencoba membujuk istrinya.
"pokoknya tidak mau" tapi, Santi masih teguh dengan kebatuannya.
"baiklah, coba jelaskan kenapa kamu tidak setuju?" ujarnya dengan mengangkat salah satu alisnya keatas.
"Kai tidak setia." ucapnya.
Seketika Aryan terdiam dan tidak berkata apa-apa, awalnya dia ingin bertanya apa alasan istrinya berkata demikian but dia langsung berkata.
"Okey. Tapi biarkan Yesha berpacaran dengan Kai dulu, hubungan mereka akan menjadi lebih baik setelahnya" ujarnya Santi jelas ingin berkata tidak.
"biarkan saja, Ayesha sangat menyukainya" ucapnya.
Santi pun akhirnya tidak mengatakan apapun, dan langsung menyerahkan keoutusan pada suaminya.
Hingga keesokan harinya..
Mereka para manusia kembali beraktivitas seperti biasanya, Ayesha juga begitu gembira mendengar kabar menyenangkan saat dia bangun sehingga di pagi itu,
Ayesha langsung berlari kerumah tetangganya.
Tok-tok-tok.
"Ayesha? Ada ap pagi-pagi gini?"
"Pagi tante Riska, aku ingin bertemu Kai" ujarnya lalu langsung menerobos kedalam.
Riska hanya memaklumi dengan gelengannya, dia tau pasti ada kabar yang menggembirakan bagi mereka.
Ayesha dengan terburu-buru lari menaiki tangga itu hanya untuk menemui Kai.
Ceklek!
"Kai. Aku punya kabar gembira..
__ADS_1
Omo!" teriaknya sembari menutup matanya.
"Aya?"
"Mianhe- Aku tunggu dibawah" ujarnya dengan canggung lalu langsung menutup pintu itu.
"matakuu!!" ungkapnya dengan menutup wajahnya malu.
Pagi itu dia mendapat rejeki beruntung yakni roti mentah yang tersusun rapi namun tak bisa dimakannya.
Betapa malunya Ayesha saat mendapati Kai yang berdiri tegap didepan ranjangnya, dan hanya mengenakan handuk.
Kai saat itu masih basah kuyup habis mandi karena nampak terlihat air yang mengalir dari rambutnya membuat tubuhnya masih basah.
Tap-tap-tap.
Kai setelah bersiap untuk ke kantor langsung turun mencari Ayesha.
"tenang, Aya. Kamu sudah biasa melihat seperti itu." ucapnya membatin. Dia mengakui kalau memang benar dia sering melihatnya, namun dalam garis besar terlihat dari anime saja bukan kenyataan apalagi ini milik Kai.
Saat itu Ayesha menggup hanya dengan melihat mata Kai yang jernih.
Mau kabur dari sana juga tidak bisa karena ini berita penting yang harus disampaikannya langsung.
"sepertinya tante harus pergi." ucap Riska yang bangkit dari duduknya.
"e-e. tante?" Ayesha ingin mencegah Riska tapi,
Kai mengalihkan titik fokus Ayesha kembali padanya.
"ada apa, Sayang? Hm?." ucapnya, ketika terduduk pas disamping Ayesha.
"eih, sayang?" Ayesha tak sanggup mendengarnya, ini pertama kali baginya. Rasanya warna meras diwajahnya semakin mengental.
"kaya'nya aku jantungan" dia benar-benar ingin teriak!.
Kai mengangkat sallah satu alisnya dan berkata, "apa kamu sakit?" ungkapnya sembari menyentuh jidatku dengan pelan.
"Aku kesini hanya mau bilang. Kalau kita berdua udah dibolehin pacaran." ungkapnya lalu pergi berlalu dengan cepat.
Kai sempat menatapnya bingung tapi dia 'kan Ayesha bukan orang lain jadi tak masalah.
Brak!
Ayesha langsung masuk kedalam kamarnya dengan cepat.
"sial. Malu banget!." umpatnya sembari melangkahkan dirinya untuk mandi.
Malunya bukan hanya dimulai dari yang dilihat dan dia rasakan tapi pagi itu tanpa berpikir lama, Ayesha belum mandi terlebih dahulu dan hanya mengenakan piamanya kemarin malam langsung menemui Kai.
Hubungan mereka kini bukanlah sekedar sahabat saja. Tapi, juga menyangkut hubungan baru yang mereka bangun.
...****************...
"selamat siang nona-nona sekalian." seru Ayesha yang datang menjumpai para teman-temannya yang sedang merayakan pesta minum teh tanpanya.
"Wah itu dia. Akhirnya kamu datang." ucap Hana yang pertama kali melihatnya.
Kedua wanita yang duduk santai itu langsung berbalik kearahnya dan langsung memeluknya.
"apa ini? Pelukan perpisahan?" tanya Ayesha menerkah dari ekspresi mereka.
Hana juga bangkit dari duduknya dan langsung memeluknya.
"cepat sekali. Aku belum menjamu kalian dengan baik." Ayesha merasa bersalah pada mereka.
"tidak kok. Ini adalah jamuan terbaik yang pernah kutemui." ucap Ha rin dengan penuh semangat.
"iya. Lagian masa libur kami sudah habis" lanjut Ji-ah sembari mengangguk. Mereka bertiga bekerja ditempat yang sama.
__ADS_1
Ayesha hanya tersenyum.
"lalu keberangkatannya kapan?"
"sore ini." jawab Hana dengan singkat.
Seketika Ayesha lagi-lagi merasa bersalah pada mereka,
"sudahlah, kita habiskan tehnya dulu sambil bercerita"
"baiklah"
Duduk berlima seperti itu membuat Ayesha merasa sangat canggung. Pasalnya Serly ada disana, bahkan rumah yang dia kunjungi itu milik Serly.
"Setidaknya aku harus berterima kasih padanya."
"oh iya. Katanya kalian teman SMA?" ungkap Ha rin yang memecahkan suasana canggung.
"siapa yang memberi tahumu?"
"Hana?" ucap Ha rin dengan melihat Hana.
Baginya, berkata demikian itu hal biasa jadi tak apa jika dikatakan secara bebas begitu tapi tidak bagi Ayesha.
Ayesha tertawa kecut sembari menatap Serly.
"Yaps. Saat SMA kami satu sekolah, hanya hubungan kami tidaklah akrab. Ya 'kan?" Ayesha mengangkat salah satu alisnya menghadap Serly agar menjawab apa yang dikatakannya.
"Yes." jawab Serly singkat dan membuat suasana menjadi canggung kembali.
Ketiga wanita itu pun diam sebab mereka mengerti dengan Atmospher yang terjadi.
Bahwa pasti ada kesalah pahaman diantara Ayesha dan Serly.
Hari pun kini menjelang sore, kini cuman Ayesha yang mengantarkan teman-temannya ke bandara karena Serly ada urusan mendadak. Entah itu sengaja atau memang benar adanya.
"hati-hati guys! Hubungi aku kalau udah sampai?" teriak Ayesha sesaat sebelum mereka naik kepesawat.
"Yaa!" balas mereka bersamaan dengan teriak.
Ayesha pun melambaikan tangannya dengan penuh haru, dia begitu bersyukur memiliki teman seperti mereka yang mampu membuat dirinya berubah menjadi lebih baik.
Ekhem!
"Serly?"
"Yap. Aku Serly!" ujarnya dengan bangga menyebut namanya.
Ayesha tertawa geli mendengar nada bicara Serly.
"apa yang lucu? Bukannya ada yang perlu kau katakan?" balas Serly dengan senyumnya yang menungguing.
"apa?"
"jangan pura-lura lupa begitu, aku sudah membantumu beberapa kali jadi, sebaiknya kau minta maaf 'kan?." ujarnya dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"haha.. Baiklah, aku akui kali ini aku sungguh berterima kasih padamu" ucapnya dengan polos.
"begitu doang? Mana berasa. Maksudku semestinya kau mentraktirku makan bukan? Lagi pula uangmu juga banyak!"
"apa maksudmu? Siapa yang bilang? Aku ini..
ucap Ayesha terpotong. Serly dengan akrab langsung menariknya keluar area bandara.
"sudahlah jangan mengelak, Ha rin dan Ji-ah tak mungkin berbohong." ucapnya.
Seketika Ayesha membelalakkan matanya tak menyangka, "astaga. Mereka kang Ceriwis." ungkapnya membatin lumayan kesal.
Rahasia yang awalnya disembunyikan kini bertambah orang-orang yang mengetahuinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...