
Disebuah ruangan terlihat pria yang sedang berusaha membuat dirinya tertidur lelap namun hal itu sangat sulit baginya,
Karena pusing berfikir dan tidak bisa apa-apa dia akhirnya memilih ingin tidur, dia pusing bukan karena nilainya yang menurun karena itu tidak mungkin terjadi tapi karena sudah lama dia tidak berbicara dengan seseorang,
"aihh gua kenapa sih?" kesalnya pada dirinya sendiri, sambil menggepok kepalanya dengan bantal saat itu langsung terduduk,
Dan kembali mendengus kesal,
"gua kangen Ayaa" ucapnya akhirnya dengan nada sedih.
Dia beranjak dari duduknya dan ingin mengintip rumah tetanngganya disebelah.
"loh tumben sepi?" ungkapnya setelah melihat suasana disana tidak seperti biasanya,
"apa mereka pulang kampung? Tapi kok gak bilang-bilang?"
"aiss"
Dia jalan dengan cepat dan berada diarena tetangganya, "beneran gak ada orang?" ungkpanya yang mengintip dari jendela.
Setelah mengintip dari beberapa sisi akhirnya dia dikejutkan oleh seseorang, "auhh tante, sejak kapan?" ucapnya pada seseorang yang mengagetkannya dari belakang.
"kamu ngapain disini?" ucap Santi dia baru saja tiba dengan beberapa kresek ditangannya.
"em, aku pikir tante, om sama Aya pulang kampung makanya suasana rumah sepi"
"halahh.. Pulang kampung dari mana, mereka berdua marah padaku" ucapnya tidak perduli lalu masuk kedalam rumah.
"loh tante? kok bisa?"
"Yesha mau pindah sekolah" imbuhnya,
Kai terkejut, bagaimana bisa Ayesha mau pindah sekolah tanpa memberitahunya. Padahal memang ini disembunyikan tapi Santi dengan mudah mengatakannya.
"lah? Apa tante, aku gak salah dengar kan?" ucapnya benar-benar tidak menyangka.
"iyaa"
"jadi sekarang Ayesha dimana?"
"Tante gak tau dia kemana, mending kamu cari dia mumoung ini masih sore" ungkapnya, Kai langsung bergegas dengan motornya dan pergi kebeberapa tempat yang kemungkinan Ayesha datangi.
Salah satu tempat yang dia datangi tentunya kediaman Moli, yang belakangan ini selalu dikunjungi Ayesha.
Tok-tok-tokk. Assalamualaikum~
Assalamualaikum~
"siapa?" tanya Kelly, dia yang membuka pintu.
"Apa Moli ada didalam tante?" ucapnya yang bertanya, dia tidak tau kalau orang yang berhadapan dengannya ialah Ibu Moli.
"ohh dia lagi ke Mall bareng temannya"
"teman? Apa ciri-cirinya pendek? rambut sekitaran leher? Dia terlihat tomboy?" ucapnya dengan menyebutkan satu persatu ciri-ciri Ayesha.
"ya. temannya itu"
"baiklah, terimakasih tante" ucapnya lalu pergi dengan terburu-buru.
Tanpa ada ada salim dan salam.
"dasar anak jaman now" ucapnya lalu menutup pintu, dilihatnya 2 gadis yang sedang minum jus didepan tv.
"udah beres, dia percaya." ucapnya sembari mengacungkan jempol pada kedua gadis itu.
"God Job tante!" serunya dengan membalas acungan jempol Kelly.
Sedangkan Kai ditengah perjalanan sibuk menelpon Ayesha,
"aih gua lupa nanya Mall mana" ucapnya kesal pada dirinya sendiri, baru kali ini dia merasa bodoh.
"Ayesha lo emang dimana si?" tanyanya sembari melihat nama yang terpampang dilayar handpone miliknya,
"gua juga ngapa gak pernah minta nomor Moli, ini udah 2 kali jga" kesalnya begitu mengingat kejadian Ayesha bersama Moli lalu dia tidak pernah meminta nomor handpone Moli.
Benar-benar dia sangat kesal pada dirinya yang bodoh.
Drtt.. Drtt..
Telepon Ayesha berdering sejak tadi tapi dia tidak kunjung mengangkatnya, dia tidak mau karena yang menelponnya ialah Kai.
"lu gak mau angkat?" imbuh Moli
"gak" jawabnya dengan singkat, Saaat ini dia memang ingin menghindari Kai.
Terlihat dari wajahnya kalau dia sebenarnya tidak tega berbuat seperti itu pada Kai tapi mau bagaimana lagi dia sudah capek.
__ADS_1
Lagi-lagi hpnya bergetar karena ada seseorang yang meneleponnya,
Moli sedikit mengintip handpone Ayesha dan berkata dengan semangat, "Ya! Lo yakin gak mau angkat? Ini bukan Kai loh"
"terus siapa kalau bukan?" tanyanya heran, dia pikir tidak ada lagi yang mungkin meneleponnya.
Oh iya kecuali Aryan, papanya.
"sini kasih gua" serunya lalu mengambil handpone yang digenggam Moli
"loh ini bukan papa" imbuhnya,
"lah emng siapa yang bilang itu papa lo? Angkat gih siapa tau penting" ujarnya,
Ayesha pun menjawab telepon itu dan berkata, "Halo?"
"Ya. Halo" jawab seseorang didalam telepon.
"ngapain telepon?"
Dia Bara. Moli sangat mendukung kebersamaan mereka berdua sampai-sampai ia mendekatkan telinganya juga didekat ponsel Ayesha,
"lo dimana? Tadi gua datang kerumah lo tapi gak ada"
"kenapa emang? perasaan gua gak ngutang apapun sama lo, kok hari libur gini cariin gua" ucapnya membuat Moli kesal,
"lo ngapain ngomong kya gitu!?" ucapnya dengan suara berbisik,
"yaelah biarin sih"
"utang? Kebetulan lo emang punya utang sama gua"
"lah sejak kapan? Gua kaga pernah tuh pinjam uang lo"
"bukan soal uang, tapi soal antar mengantar" ucapnya membuat Ayesha mengingat sesuatu.
"jangan-jangan!?"
"gua yakin lo ingat pasti, makanya jemput gua dong di bengkel"
"lah bukannya lo punya motor?"
"ya emang, makanya gua dibengkel"
"jauh gak?" ucapnya, dia akan menjemput Bara karena dia mempunyai prinsip jika ada yang membantunya tentunya dia akan membalas budi atas kebaikan seseorang yang membantunya.
Ayesha akhirnya membuka lokasi yang dikirimkan Bara sekalian mematikan sambungan telepon mereka.
"ehm. Cie-cie.." imbuh Moli yang kini sudah tau apa yang akan dilakukan Ayesha, bestinya. Sekarang dia duduk dengan tenang dan menyender di dinding sofa, dia senang jika keduanya baik-baik saja dan hubungannya semakin lancar.
"ih apaan sih lo, gua cuman balas budi kok"
"yaudah deh terserah lo" ucap Moli santai,
Ayesha terlihat memakai jaket yang dipakainya tadi dan keluar rumah Moli setelah meminta izin dari Kelly,
"yaudah kamu hati-hati ya" imbuh Kelly dengan melambaikan tangannya pada Ayesha,
"iya tante. Assalamualaikum"
"Walaikum salam wr.wb"
Ayesha akhirnya berangkat di lokasi yang ditujukan Bara setelah mengambil motornya yang terletak diGarasi.
...****************...
Setelah melakukan perjalanan sekitar 5 menit akhirnya Ayesha sampai disebuah bengkel dimana Bara berada.
"Hai?" imbuhnya menyapa Ayesha yang baru tiba,
Dengan senyumnya yang mengembang melihat Ayesha, dia sangat bahagia dengan kedatangannya.
"Gausah lama. Sini naik lo, gua antar pulang" ucapnya tanpa basa basi, dia tidak turun dari motornya.
Bara menurut dan naik disana, awalnya dia agar ragu digandeng seorang perempuan tapi jika dipikir lagi tak mengapa, memangnya itu tidak bisa.
"gua naik ya" ucapnya lalu naik diatas motor.
Ayesha pun langsung melajukan motornya,
"tunjukin arah rumah lo" ucapnya lalu Bara mengangguk dan mengikuti perintahnya.
Mereka tidak lama melakukan perjalanan dan kemudian sampai ketempat yang ditujukan Bara.
"lo bohong ya sama gue?" ungkap Ayesha, dia terlihat kesal Bara membohonginya. Mentang-mentang Ayesha tidak tahu alamatnya.
Bara tertawa kecil,
__ADS_1
"udahla jangan kesal dulu, sini ikut" ucapnya dengan pelan lalu menarik jaket Ayesha.
Disana adalah sebuah taman sehingga terlihat banyak anak-anak disana,
"gua bisa jalan sendiri" ucapnya sembari melepas jemari Bara yang menempel dijaketnya.
"habisnya gua mau gandengin lo tapi takut lo marah" gumamnya
"lah apa?" ungkapnya, dia juga samar-samar mendengarnya.
Bara tidak menjawab lagi.
Setelah berjalan beberapa langkah mereka akhirnya berada ditengah-tengah taman, banyak anak-anak kecil berusia 3 sampai 5 tahun. Banyak ragam usia disana,
"Kak Bara!" teriak seseorang dari arah lalu muncul satu persatu lainnya mendekat pada Bara.
Ayesha malas dengan situasi itu, dia tidak nyaman dengan anak-anak.
"mereka sangat cerewet" gumamnya,
Dia juga ikut dalam keributan yang mereka buat, masa dibilang pacar.
Ayesha berdecak mendengarnya,
Bara yang menyadari kalau Ayesha merasa risih langsung menyuruh anak-anak itu pergi.
"kalian udah makan belom?"
"Belum!"
"Belum kak!"
"yaudah kalian ke embok entar Kakak yang bayarin" serunya pada mereka kesebuah warung soto yang tak jauh dari sana.
"Yey! Makan soto" seru mereka dengan gembira lalu langsung gas kesana.
Bara langsung menggaruk lehernya ketika berbalik kearah Ayesha.
"Heheh Sorry." ucapnya dengan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"gua pikir lo suka anak-anak makanya bawa kesini"
"makanya lo jangan sok tau tentang gua" ucapnya, dia berbalik kembali ketempat parkir.
"Aya.
Kalau gua mau tau tentang lo boleh gak?" teriaknya pada Ayesha.
Ayesha malah balik teriak dengan cepat, "Kaga."
Bara berlari kearahnya, "oh ayolah. Jangan pura-pura gak tau perasaan gua" ucapnya, kini mereka berjalan sejajar.
"Bara. Lo jangan maksain gua"
"okey. Baiklah gua gak bakal maksain lo. Tapi, setidaknya jangan masang tempok gini."
"udah Bara. Gua langsung antarin lo pulang aja" jelasnya sebelum naik diatas motor.
"Tapi dengerin gua dulu." ucapnya dia sedikit memelas.
Ayesha tak peduli, dia tidak mau memberi harapan pada orang lain sedang dirinya saja masih terkurung cinta masa kecil.
Drtt-drtt..
"Halo? ya saya Ayesha,
Dengan siapa?"
"()"
"apa? Bagaimana bisa?
Saya kesana sekarang"
Tut*
"Sorry, Bara gua gak bisa antarin lu pulang. Gua harus ke Rs" ucapnya dengan sigap naik keatas motor.
"siapa yang sakit?
Gua ikut lo aja"
"Gak. Anak-anak itu nungguin lo" ucapnya.
"yaudah lo hati-hati" ucapnya lalu Ayesha pun mengangguk dan meninggalkan lokasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1