
Kalian tau dimana letak kejujuran seorang anak?
Maria tumbuh dengan cantik nan manis dikeluarganya, banyak yang mengetahui ke harmonisan keluarga mereka.
Kai yang bergaul dengannya tidak tau dia terjerumus di arah yang salah.
"Kai. Dia baru saja menarik rambutku." ucapnya dengan menunjuk seorang anak laki-laki yang terlihat jahil bermain tak jauh dari mereka.
Rambut Maria memang terlihat berantakan saat itu. Wajahnya juga terlihat sangat sedih, membuat Kai yang saat itu baru pertama timbul rasa tanggung jawab. Tau 'kan saat seorang anak baru timbul rasa baru? Dan apalagi kedua orang tua Maria menitipkan pesan untuk selalu bersama dan menjaganya.
Kai dengan cepat langsung melompati anak itu dan tinjunya pun ikut melayang.
"Kai?" ungkap Ayesha tak menyangka sebab dirinya berada diperkumpulan anak laki-laki itu.
Beberapa hantaman melayang begitu saja sampai guru datang dan melerai mereka.
Anak itu bonyok ditinju Kai.
Maria tersenyum pada anak itu.
"dasar bodoh."
Dia tidak berkata apa-apa dan berakhir di ejek oleh anak-anak lain sebab dianggap sudah bersikap kasar pada Maria.
Maria ini dianggap sebagai idola bagi mereka yang tidak tau apa-apa. Bagaimana tidak sikapnya yang manis, cantik, dan pandai dalam setiap mata pelajaran membuat semuanya kagum padanya.
Sampai beberapa waktu.
"Lo gak main sama Maria lagi?" Ayesha dan Kai kembali pulang bersama.
"dia mutusin gue. Katanya udah bosan." ujar Kai dengan pelan.
Kai tau hal lainnya dari anak-anak terusingkan itu, ternyata ada beberapa anak yang tidak suka pada sikap Maria.
"Sikap palsu!." kata mereka rata-rata.
Ternyata dalam beberapa hal yang diserunya itu karena Maria bosan lalu membuat masalah dalam satu pihak tanpa ada salah pada orang yang tertuju.
Kai pun minta maaf kepada mereka yang sudah ia pukul atas seruhan Maria.
Ayesha mengangguk, dia senang saat tau sahabatnya putus dan merasa bersyukur.
...****************...
"lo udah tau?"
"apa itu?" ungkap Bara, dirinya masih stay diruangan yang sama dengan Moli.
Walau masing-masing diantara mereka masih saja sibuk dengan gadget.
"katanya Ayesha udah resmi pacaran sama Kai. Ayesha sangat senang." ucapnya pada Bara.
Jujur saja Bara belum tau apapun masalah itu. Herannya perasaannya baik-baik saja saat mengetahuinya.
Bara mematikan handponenya dan berfikir. Dulu memang pernah ia bayangkan hal itu akan terjadi tapi tidak disangka,
Apakah mencinta seseorang secara sepihak se membosankan ini?
Sampai-sampai perasaan yang tersimpan itu akan memudar bersamaan dengan nyamannya menunggu.
Bara tersenyum. "kurasa, perasaan ini sudah terjawab." gumannya.
"tak apa. Itu 'kan bagus. Yang berarti cinta masa kecilnya menjadi utuh." jelasnya santai.
__ADS_1
"lo gak sedih?" tanya Moli heran melihat ekspresi Bara tenang saja seperti biasa.
"entahlah sepertinya tidak." ucapnya singkat lalu kembali menatap handponenya begitu cepat.
"namun anehnya, kenapa gue gak bisa natap Moli." gumamnya lagi sedikit kesal.
Tok.
Tok.
Tok.
"Assalamualaikum para anak muda." ungkap Ayesha pada mereka berdua.
Dia sudah bersih dan rapih saat itu, tidak seperti kemarin.
"waalaikum salam" jawab mereka bersamaan.
"udah gih. Gantian sift lagi."
"Dari tadi. Ditungguin." ucap Moli langsung berdiri begitu juga dengan Bara.
Mereka langsung keluar meninggalkan Ayesha sendiri, karena sudah tidak tahan ingin mandi.
Disisi lain, terlihat Kai sibuk berjalan dengan cepat menyusuri koridor.
"Kai-!" teriak seseorang dari belakang.
Dia Maria, sedari tadi sudah mengikuti Kai sejak meeting selesai.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Kai." teriaknya lagi namun tetap saja tidak didengarkan.
Perjalanan mereka berujung ditempat parkir.
"Kai-!!" teriaknya pada mobil hitam begitu kencang.
"sial!.
Sekarang apa? Maksudnya, gue naik ojek gitu? Cih." Maria berdecih lalu meludah disana.
Perasaannya begitu kesal karena Kai marah hanya karena dirinya yang asal bicara di depat klien.
Flash back beberapa saat yang lalu.
Kai dan Maria masuk bersamaan dalam ruang rapat. Disana sudah terlihat dua orang yang berprofesi sebagai direktur dan sekretaris dari perusahaan lain.
"Kai Setiawan dari Setiawan group." ungkapnya dengan ramah pada pria yang terlihat lebih tua darinya.
"Ardaman Saputra." balas pria itu juga bersamaan dengan uluran tangan Kai untuk bersaliman padanya.
"Dann?.." sambungnya sembari menatap Maria. Tatapan yang sulit diartikan seakan tersembunyi rahasia dibalik dirinya yang tegap.
"yes? Saya Maria. Kekasih pak Kai. Dan saya menjabat sebagai sekretarisnya." balas Maria dengan senyum yang menungging kesamping.
Mereka berdua sibuk bertatapan seperti kenalan lama yang sedang melakukan drama layar lebar. Bahkan saking sibuknya dia tidak tau tatapan kesal yang terjun padanya, begitu sinis dan mampu membunuh siapa saja.
"ohh kekasih toh." jelas Ardaman, pria itu mangut-mangut layaknya orang dengan pengertian penuh.
"baik kalau begitu.. Silahkan duduk." ungkap sekretarisnya dengan ramah.
Ya. Kai berusaha mengesampingkan amarahnya itu sementara sedang meluap-luap bagaikan lahar yang panas.
Sampai akhirnya selesai, dia langsung pamit pergi dari tempat itu tanpa basa-basi.
__ADS_1
Flasbck off_
Maria berdiri ditempat parkir dengan ponselnya yang tengah mencari titik untuk memesan gojek.
Hatinya sangat kesal saat itu, dipikirnya hari ini adalah hari paling sial yang pernah ada hanya karena mobil miliknya pun bukan dia yang mengendarai menyebabkan dirinya harus memanggil gojek untuk menjemputnya.
"dasar anak bos Sialan!." umpatnya saat itu, sementara seseorang mencoba berjalan pelan mendekatinya.
"sial? Apa kekasihmu yang sialan." ungkap orang itu dengan nada yang mengejek, dia Ardaman.
"jangan marah gitu, sebentar wajah cantikmu luntur?" sambungnya dengan mencolek dagu Maria.
"dasar pria brengsek. Lepaskan tangan, kalau tidak!.. "
"kalau tidak apa, ha? Apa kau lupa kenangan kita di Paris?"
"Oaris? Haha. Itu sudah lama, hentikan itu cuman kenangan!" jelas Maria tidak ingin mengungkit permasalahannya saat berada di Paris begitu usianya beranjak 13 tahun. Saat itu Maria baru duduk di bangku SMP.
"Kenangan? Baiklah kalau itu menurutmu. But, sekarang pasti kau butuh bantuanku."
"Owh tentu! Aku butuh bntuan tapi dengan mobilmu bukan dirimu, kau tau?!."
"Ya, baiklah tak apa asal kau senang."
Maria tersenyum menang saat sebuah kunci melayang padanya dan lanhsung pergi berlalu begitu saja.
"balas chatku!." teriak ardaman padanya.
Maria malah menertawainya dari kejauhan dan menagcungkan jari tengahnya atas seruhan yang baru keluar itu.
...****************...
Sedangkan disisi lain..
Tap.
Tap.
Tap.
Langkah seseorang begitu cepat terdengar dari balik pintu.
"Andika Setiawan!!" Kai berteriak dengan tegasnya setelah menerobos pintu dengan keras.
"Pecat Maria sekarang!." sambungnya masih stay dengan nada tersebut.
Kai akui kalau wewenangnya tidak dapat sampai melakukan itu. Makanya, dia langsung pulang dan menghadapi ayahnya yang katanya sedang sakit.
"Kai? Udah pulang, kenapa cepat sekali?" ujar Andika bingung. Pasalnya waktu itu baru tertuju pada waktu selesai makan siang, dan itu baru saja.
"Gak perlu basa-basi, yang kumaksud tadi. Tolong jawab secepatnya." ungkap Kai dengan barbar, perasaannya masih tidak terima dikatai pacar seseorng apalagi dia sendiri memiliki pasangan.
"memang apa masalahmu?"
"Dia-
"Stop! Papa gak mau dengar kalau itu berurusan dengan masalah pribadi." henti Andika dengan cepat juga dengan nada mematon mirip Kai.
"Sudahlah, kupikir papa akan ngerti." ucap Kai dengan nada kecewa, karena dipikirnya dia akan didengarkan tapi ini berbeda dari yang dia inginkan.
Kai pun keluar dari ruangan itu, dengan decihannya yang mengesalkan.
"Andika, goblok." gumamnya mengatai papanya yang menurutnya itu tindakan bodoh, sejak lama. Karena telah merekrut Maria dibawah naungannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...