I Love You Oh Friend

I Love You Oh Friend
ILYOF #19


__ADS_3

Di Pintu utama konpleks Kupu-kupu.


Terlihat 3 orang wanita cantik jalan dipinggir jalan kompleks dengan ceria, mereka tertawa sambil bercanda.


"gimana kalau kita cek seluruh rumah ini" ucap wanita yang paling tinggi diantara mereka.


"haha. kamu bisa kah?" ucap lainnya, dia tertawa dengan senyumnya yang manis.


"Kalian ini berandai terus. Gimana kalau kita telepon Ayeshanya aja" ucap wanita cantik lainnya, memberi ide yang lebih berotak.


"Nah!" ucap keduanya, tapi seketika mereka saling bertatapan.


Ketawa mereka pecah.


"caranya gimana cuy, kan baru aja kita dicopet"


"haha. Sorry aku lupa" ungkapnya dengan menggaruk telinganya yang tak gatal.


Untungnya mereka rada-rada ingat dengan alamat yang diberikan Ayesha. Cuman Kompleks Kupu-kupu diingatannya.


"hdehh. Aku capek, duduk dulu ah"


"iya-iya"


Ketiganya mengambil posisi di kursi panjang, kursi itu mungkin sengaja diletakkan sang pemilik rumah didalam sana.


Ya. Tapi memang sih sepertinya mereka harus mengeluarkan kursi. Apalagi kursi yang mereka duduki, kursi sofa.


Ketiga wanita itu terlihat aneh dan Random, tapi cantik. Sehingga ibu-ibu yang tengah berkumpul didalam rumah jadi tertarik membawa mereka kedalam.


"Hei nak!" teriak Santi dari sana.


Mereka langsung berbalik, karena mereka tau arti satu kata ini. 'Hei' artinya seperti memanggil, atau menyapa orang lain. Itu yang dikatakan Ayesha pada mereka.


"nee?" ucap mereka bersamaan.


Hanya ada satu orang yang pandai berbahasa indonesia diantara mereka, Dia Hana, wanita dengan kakinya yang panjang.


Orangnya humoris, jadi memungkinkannya suka berbicara dengan orang lain begitu mudah dan pandai belajar bahasanya.


"Mereka kyanya orang korea. Apa mereka teman anakmu Jeng?" ucap salah satu ibu-ibu disana, satu kompleks sudah tau dimana Ayesha berkuliah.


"apakah orang korea memang seperti itu" jawab Santi, dia tidak tau membedakan ketiga orang yang berjalan mendekatinya.


Pasalnya Santi sudah memanggilnya, tak mungkin menyuruhnya pergi lagi.


"ada apa ya tante?" ucap Hana.


"Hana apa kamu tidak lihat wajahnya?" bisik wanita disamping kirinya,


"iya Hana, wajahnya terlihat familiar" ucap wanita disebelah kiri Hana.


"Benarkah?"


Hana melangkah mendekati Santi sedangkan dua lainnya berdiri cukup diluar.


"saya boleh masuk kah?"


"ah iya boleh-boleh" jawab ibu-ibu disana, terlihat dari wajahnya yang sangat senang karena rumahnya dimasuki orang luar negeri.


"yang diluar sana, juga masuk sini" ucapnya pada kedua wanita yang berdiri diluar.


Hana memanggil mereka ikut masuk karena hanya dirinya yang tau berbahasa Indonesia.


"behh cantik sekali mereka"


"ya kulitnya sangat putih"


Ibu-ibu disana sebagian berdiri mendekati Hana dan teman-temannya, mereka menyentuh kulit putih mereka yang bersih,

__ADS_1


Hana bingung karena diperlakukan seperti itu, apakah ini wajar?. Dipikiran mereka sedang berfikir yang sama, jika seperti ini siapa yang aneh.


Santi dan Riska menyadari itu. Dan langsung menyuruh ibu-ibu yang penasaran itu mundur.


"jangan seperti itu Jeng. Mereka tidak akan suka" ucapnya.


"kalian, datang kesini karena apa?" tanya Riska pelan pada mereka.


"teman kami tinggal disini, mungkin kalian disini ada yang mengenalnya?"


"ohh cari teman toh. Mungkin anakmu Santi" ucap salah satu ibu-ibu kumpulan disana.


"jangan dulu, kan banyak kemungkinan" ucap Santi. Dia tidak mau terburu-buru.


"memang siapa nama temannya?" tanya Santi akhirnya,


Seperti yang dikatakan ibu-ibu tadi, yang dicari mereka itu Ayesha anaknya,


"Ayesha" jawab Hana,


Santi langsung geleng-geleng, kalau benar teman anaknya kenapa Ayesha tidak tau kalau temannya datang.


"aih dasar anak itu" ucapnya dengan menepuk jidatnya,


Jadi demi keamanan mereka, Santi langsung membawanya pulang ditemani Riska


...****************...


"Assalamualaikum" ucap Ayesha langsung saat membuka pintu.


"walaikumsalam"


Sesaat membuka pintu, yang benar saja. Terlihat 3 wanita duduk dengan manis disofa empuk rumahnya.


"Astaga Kalian?" ucapnya, mereka yang duduk manis itu langsung berdiri dan melaksanakan adegan menyapa.


Setelah berpelukan sebentar mereka kembali duduk bersama.


Tumben banget, Kok kalian berantakan banget?"


Mereka memperlihatkan wajahnya yang kasihan, wajar juga Ayesha bertanya demikian, karena baju mereka tidak biasanya kotor begitu. Apa mungkin mereka habis tidur dijalan?


"apa dugaanku bener? Kalian abis tiduran dijalan?"


Mereka mengangguk dengan pelan.


"Astaga.. Kalian benar-benar Aneh ya. Jangan disini, kalian harus mandi" ujarnya lalu mengajak mereka kekamarnya, lalu membagikan masing-masing satu pasang baju rumahan.


Didalam kamar Ayesha sangatlah ribut, Santi yang mendengar keributan itu menggeleng tak menyangka. Pasalnya bahasa itu terdengar sangat asing ditelinganya.


"ahahaha" Ayesha tertawa,


Mereka berbicara dengan sangat bersemangat, menceritakan apa-apa saja yang mereka lakukan sebelum sampai disini.


Hal itu membuktikan, walaupun mereka sanagatlah lelah tapi jika bisa tertawa maka semuanya akan tertutupi.


"ya terus Ji-ah gimana rasanya aspal Indo" tanyanya pada Ji-ah kang Random.


Bisa-bisanya langsung tidur dijalan bandara begitu sampai. Dia tidak malu melakukannya apalagi di kampung orang.


"gak jauh beda di korea" ucapnya mengaku, hal wajib yang dilakukannya saat berkeliling hanya itu.


Ayesha tertawa sambil geleng-geleng.


"Fiks 'kan kalau Ji-ah emang udah termasuk pasien odgj. Tapi, untuk Ha rin. Beh, gara-gara dia kita dicopet" ucap Hana tiba-tiba dari toiled, dia sudah selesai bersih-bersih.


"lah kok bisa?"


"gini...

__ADS_1


Ha rin itu karakternya manis, dia berbeda dengan Ayesha yang tidak suka pada anak-anak.


Saat itu Hana dan juga Ji-ah menitipkan tas dan juga koper pada Ha rin, tapi Ha rin.


"Wah.. imutnya" ucapnya, matanya suka berkeliling melihat pengunjung bandara. Ditengah berkeliling, dia mendapati anak kecil yang lucu nan imut yang berusia sekitaran 8 tahun sedang menangis.


Hana dan Ji-ah pergi berpencar mencari taksi.


Tanpa Ha rin sadari tangannya melepaskan genggaman dari segala barang yang dibawanya,


Sakin polosnya dia dibodohi tangis anak kecil itu, mendengarkan apa yang dikatakannya sampai lupa tentang barang-barang yang dibawanya tadi. Dia tidak tau kalau anak kecil itu hanya umpan, saat berbalik lagi. Anak kecil itu pergi sambil berlari meninggalkannya sendiri yang kebingungan.


...----------------...


"ups! Sorry guys" ucapnya.


"biarlah sudah terjadi, 'kan uang juga gampang tinggal dicari lagi" ucapn Ji-ah yang diangguki oleh Ayesha.


"lain kali jangan gitu"


"iyaa"


...----------------...


Malam itupun kian berganti.


Kini sudah lewat jam 5, Ayesha bangun untuk melaksanakan sholat subuh karena itu kewajibannya. Sejak kemarin malam dia sudah bersih dan langsung mandi wajib waktu maghrib.


tringg*


tringg*


Ayesha bangkit dari duduknya lalu menggapai handpone yang berada diatas meja.


setelah dibukanya ternyata Kai sedang melakukan chatingan.


"Oi"


"Aya?"


Chat yang masuk dari Kai.


Ayesha: "apaan?"


Kai: "kirain belum bangun"


Ayesha: "Langsung aja kai. Ada apa?"


Kai: "gue tau pasti lo ga bisa pergi keluar dlu, jadi gue cuman mau ngajakin lo. Kalau mau, Ya ayok. Tapi nggak juga gak papa."


Ayesha: "dibilangin langsung aja. Ngantuk ini"


Kai: "besok Serly ultah, dia ngajakin datang kerumahnya. Lo juga diundang, makanya mau datang bareng gak?"


Ayesha: "lo gak usah datang aja, soalnya gua gak bisa saat ini."


Kai: "gua mau datang"


Ayesha: "Yaudah. Pergi aja, 'kan dia cewe lu"


Kai: "Lah. Enggak."


Ayesha langsung me read chat terakhir itu, dia malas jika sudah membahas tentang wanita lain dengan Kai, apalagi wanita itu Serly.


Disisi lain.


"kok di read doang?" ucapnya, dia kesal karena belum sempat menjelaskan, dia takut Ayesha jadi salah paham.


"ini gara-gara lo yang dulu. Goblk!" serunya pada dirinya sendiri didepan cermin.

__ADS_1


Kai mensinisi bayangannya didepan cermin, dan mengolok-oloknya karena bodoh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2