
Ketika Moli dan lainnya datang, betapa herannya mereka melihatku yang nampak begitu berbeda.
Bahkan awalnya mereka mencariku padahal yang mengajak mereka masuk kedalam itu aku sendiri.
Ayesha sedikit tertawa karena Moli malah menanyai Santi tanpa ragu.
"tan. Si Ayesha nya kemana?"
"Loh. Itu Ayesha didepanmu"
"Hah? Apa tante, Ayesha!" ungkapnya dengan wajah yang terkejut, matanyapun sampai membelalak melihatku.
Hehe..
Tawaku akhirnya, Moli malah dengan riang memeluk Ayesha dengan sangat kuat.
"astaga.. Lo udah berubah banget, lo beneran ayesha kan?" ucapnya,
Dia dengan erat memelukku, "apa benar ini bukti rindu?" ungkapku membatin, kalau benar itu bukti rindunya seseorang jadi bagaimana tentang Kai.
Ayesha sedikit penasaran bagaimana reaksi Kai jika melihatnya apa akan seperti Moli dan lainnya?
Setelah itu aku mengajak mereka duduk dan membentuk lingkaran untuk makan bersama.
Tanpa sadar akupun lupa tentang seseorang, dia Bara.
Bara sejak tadi tidak berkata apapun, saat itu aku tidak peduli dan melanjutkan aktivitasku menjamu teman yang lain.
"Ayesha. Gua mau ngomong" ucap Moli dengan suara membisik.
Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.
"hm?"
"boleh gak kau gue pdkt ke Bara?" ucapnya,
Ayesha tak menyangka Moli akan berkata seperti itu, orang yang dulu ingin membuat dirinya dekat dengan Bara malah dia yang menyukai Bara.
"astaga.. Lo?
Apa yang terjadi diantara kalian sejak aku gak ada?"
Ucapku, baru kali ini aku kepo dengan hubungan orang lain.
"hm gak ada sih, cuman gua baper!" ucapnya, dia terlihat malu, pipinya pun sampai merah merona.
Tatapannya saja terus menatap Bara, seakan aku melihat diriku yang dulu.
Rasanya lucu melihat itu, "untung saja aku sudah melewatinya" gumamku bangga.
"tunggu dulu, apa Bara udah tau?"
Moli mengangguk dengan yakin dan berkata kalau dirinya bahkan sudah mengungkapkan perasaannya, Aku kagum mendengar itu.
Aku juga sempat iri karena aku tidak punya keberanian yang sama dengan Moli, "seandainya aku bisa, entah apa yang terjadi dengan kami?" ucap ku membatin lagi.
Beberapa kali sejak dulu aku membayangkan diriku sedang mengungkapkan perasaanku dengan berbagai macam cara tetapi semua itu hanya bayangan yang tidak akan pernah tercapai.
...----------------...
__ADS_1
Malam pun tiba.
Semua orang pulang dirumah masing-masing karena acara juga sudah berakhir. Tapi berbeda denganku dan Moli.
Kami mengajak pergi ke pantai untuk melihat sunset.
Walau sudah biasa bertemu dengan pantai aku juga ikut kesana untuk meluangkan waktu dengan mereka.
Kami pun duduk dibebatuan disana, ternyata banyak pasangan yang datang untuk melihat. Bahkan hampir semua teman SMA ku sedang bermesraan dengan pacarnya.
"Hei Bara!" panggilku pada Bara,
"Apa yang lo lakuin?"
Moli kaget saat Ayesha menyebut nama Bara, apalagi memanggilnya.
"Ya mau gimana lagi, kyanya lo emang harus pdkt an deh sama Bara" ucapku membisik ke Moli.
Dia terlihat sedikit canggung ketika Bara datang, "tenang li, lo pandai bersikap biasa" gumamnya dengan meyakinkan dirinya.
"Aya. Lo manggil gua?" ucap Bara, dia dengan tegap berdiri didepanku.
"Iya. Lu temanin Moli ya? Gue mau ke toiled"
"terus lo gimana? Sunsetnya gak kelewatan"
"gak usah khawatir, Hp Moli canggih. Gue titip video in"
"ohh. Yaudah lo hati-hati"
Ayesha pun berbalik. "Astaga panggilan itu"
...----------------...
Setelah berkeliling dan mencari makanan sebentar kini Ayesha terduduk di atas motor dan sedang memperhatikan lingkungan sekitar dia berada, sampai waktu sunset dimulai.
Ayesha sempat mengingat kenangan-kenangan yang sudah terjadi ditempat ini, tempat dimana awalnya terjadi kekacauan.
Hufft*
Ayesha menghelakan napasnya kasar, berat didadanya mengingat itu.
"sampai kapan perasaan ini ada??" ucapnya dengan penuh harap menatap dimatahari itu yang kian tenggelam.
Puk-puk*
"Siapa sih?" ucapnya kesal karena tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, walaupun dengan begitu pelan tapi sangat mengganggu.
"hai?" ucap orang itu.
Dia menyapaku dengan tangan yang terangkat.
Aku membatu melihatnya, "bagaimana mungkin apa aku berkhayal?" ucapnya, seakan jantungnya itu berhenti berdetak selama sedetik.
Ayesha membalik tubuhnya kembali kedepan sebentar dan menutup matanya, dia mencubit kecil tangannya sendiri dan jelas dia merasakan sakit.
"sial. Ini nyata! Dia Kai.
Tolong aku pengen teriakk" gumamnya didalam hati, pokoknya dengan perasaan degdegan dia berdehem.
__ADS_1
"Ha- hai?" ucapnya,
Tak disangka dia malah sangat canggung,
"udah lama ya?" ucap orang itu.
"haha iya" balas Ayesha dengan sedikit tertawa untuk menghilangkan kecanggungan.
"Sorry gue telat dateng, tante Santi udah bilangkan?"
"iya, gak papa kok. Haha" ucapnya,
Ayesha menggaruk lehernya yang tak gatal, kini dia bertingkah sesantai mungkin padahal di kepalanya sedang bingung harus bagaimana.
Ayesha iseng melihat tatapan Kai, dia cukup penasaran dengan reaksinya, apakah akan sama dengan teman teman yang lain? Tapi sungguh mengecewakan.
"Tatapan apa itu?" ungkapnya,
Mata Kai bukannya mengarah pada dirinya tapi malah menatap pada jajanan yang Ayesha pegang.
"mau? Beli sana!" seruku dan langsung menyeruput minuman yang kupegang sampaj habis.
"dih. Kehausan banget kayanya" ucapnya dengan nada judes. Lalu pergi ke area pasar,
"Apa?" imbuh Ayesha, "dia marah?"
Ayesha ikut berjalan dibelakangnya, "ngapain?" ucap Kai. Dia menarik lengan Ayesha untuk berjalan menjadi sejajar.
"eh?" imbuhnya tertegun,
Ayesha tidak biasa dengan perlakuan Kai padanya, ingin sekali dia bertanya padanya.
Pasalnya tingkahnya itu sangat perhatian, bahkan sepertinya dia sudah melupakan masalah diantara mereka.
Ayesha memaklumi tentang masalah itu, yang penting mereka akrab kembali. Tapi Ayesha tidak terbiasa dengan Kai yang sekarang.
Setelah berkeliling dan membeli sedikit jajanan, ditengah-tengah perjalanannya itu ketempat parkir. Ayesha melepas tangan Kai dengan paksa.
"Apa maksudmu Kai bertingkah seperti ini?" ungkapku dengan tegas, tolong aku butuh penjelasan.
Tak seperti kebanyakan orang Ayesha tidak mau jika dibuai saat ditengah-tengah. Apa itu, sengaja membuat orang baper? tidak, aku akan menolak lebih dulu.
Sebenarnya penjelasan Ayesha butuhkan tak perlu panjang, katakan saja. Kalau kau merindukanku.
Tapi ternyata tidak, jawabannya itu tidak sesuai ekspektasi.
"Apa salahnya? Kita sudah lama tidak seperti ini, maaf kalau menyinggungmu. Tapi aku hanya ingin hubungan kita abadi,
Lagi pula apa salahnya, kan dulu saat kecil kita sering berpegangan tangan?"
"tak apalah biarkan saja, setidaknya dia ingin berbaikan?"
"Oh. Cepat jalan gue mau pulang." ungkapku akhirnya dan berjalan cepat terlebih dahulu.
"Lo ngapain sih Kai. Apa susahnya bilang rindu? Dasar gblk" ucap Kai membatin,
Ayesha kecewa pada Kai, Kai malah kecewa pada dirinya sendiri. Pip. Atmospher kacau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1