I Love You Oh Friend

I Love You Oh Friend
ILYOF #28


__ADS_3

Kapan kalian merasa panik akan trauma kalian?


Hari itu adalah hari yang menggembirakan bagi keluarga kami.


Keluarga cemara bagaikan segala nikmat yang melengkapi dunia.


Saat itu Bara berusia 5 tahun. Masih sangat kecil bagi seorang anak untuk sendirian dan berlaku mandiri tapi sialnya takdir berkata lain.


Pelukan terhangat dan ternyaman yang ia rasakan berakhir begitu saja saat mobil keluarga mereka bertabrakan dengan mobil truk yang begitu besar dijalan raya.


kejadian yang begitu mendadak. Semuanya tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri.




Sirine mobil ambulans berbunyi begitu kuat ditelinganya yang sedang mempertahankan kesadarannya, didalam hati. Bara terus bertanya banyak hal tentang apa yang dialaminya.



Kini Bara berdiri menatap pintu besar UGD. Begitu sadar, dia kaget dan langsung mencari kedua orang tuanya begitu tau dia langsung berlari didepan pintu tersebut.



Lama dia berdiri karena ketakutan, dibenaknya terpikirkan nasib buruk yang biasa dikatakan temannya pada anak panti sepermainannya.



Ada rasa kesal setelah mengetahui derita barunya. Wajahnya membeku tak berekspresi, mengapa hal ini terjadi?



Takdir yang terduga diusianya yang baru beranjak 5 tahun membawanya disebuah panti dimana teman mainnya itu berada.



Bara awalnya tak terima sama seperti anak pada umumnya namun, kian usianya bertambah membuatnya kembali menjadi anak yang periang. Karena, percuma saja untuk berlarut-larut dalam kesedihan.



...----------------...



Kembali pada situasi sekarang. Bara turut bersedih dengan yang dialami Moli saat ini.



Moli nampak kuat menghadapinya dengan senyum bahagia, walau dimatanya terlihat sedang bersedih dan nampak sayup.



"Jangan ngelamun mulu." ujar Bara terhadapnya



Moli seketika tersadar dari lamunannya. Keduanya duduk disofa dan tengah menunggu Ayesha yang sudah lama keluar menelpon.



"ya?" ungkapnya dengan wajah kebingunan.



Bara bingung ingin mengihibur temannya itu bagaimana, rasanya tidak adil karena selama ini dirinya selalu dihibur oleh Moli tapi, sekarang bahkan satu kata hiburan pun sulit keluar dari mulutnya.



Mereka sempat bertatapan untuk beberapa saat. Bara bingung dengan dirinya sendiri, setelah dilihat wajah Moli. Saat itu dia baru menyadari paras yang dimiliki Moli.



Bahkan sempat terkesima namun, jika Ayesha masuk dengan aba-aba.



Ceklek.



"Sorry lama guys." Ayesha masuk begitu saja dengan matanya yang masih menatap handpone.



Dia tidak menyadari atmosphere yang tercipta diantara kedua temannya.



Bara dan Moli dengan cepat membalikkan tubuhnya dan mencoba bersikap sesantai mungkin. Namun, Ayesha kini duduk berhadapan dengan mereka, perasanya begitu peka atau memang itu sudah jelas terlihat.



"ada apa dengan kalian?" tanyaku melihat mereka yang bertingkah salah tingkah.



Aneh.



mereka diam tak mengubris apa yang baru dikatakan Ayesha dan sibuk dengan pikiran masing-masing.



"*gue tadi pasti sangat berantakan, 'kan*." gumam Moli begitu malu sampai ingin teriak sekencang-kencangnya. Sementara itu Bara dengan batinannya.

__ADS_1



"*mata gue pasti salah. Gak mungkin Moli terlihat cantik*!" jelasnya merasa lain.



Dikepalanya masih terbayang wajah bingung Moli yang terlihat cantik.



Brak!.



"Aya?" reflek mereka bersamaan.



"Gue udah habis." ucapnya dengan datar dan dengan santai malah meregangkan tubuhnya tanpa merasa bersalah telah mengagetkan mereka.



"gue capek nih, Li. Gimana kalau lo ngasih kunci apartemen lo? 'kan gue bisa tuh istirahat. Terus kalian disini aja tungguin sampai gue datang balik. Kita sift-sift gitu, gimana?" ujarnya panjang lebar pada mereka.



"mn.. Berdua?" ungkap Moli yang dijawab Ayesha dengan semangat.



"iya berdua." ucapnya dengan yakin. Dan



Tanpa disadarinya wajah mereka malu nan merona.



"ini 'kan kuncinya?" Ayesha bergegas pergi dari ruangan tersebut.



"alamat?" ucapnya lagi yang dijawab Moli dengan cepat.



"*semoga berhasil*." bisik Ayesha sebelum pergi.



"Mnn. Kita habisin ini dulu." jelas Moli begitu Ayesha pergi. Sedang Bara mengangguk.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...




10.07.



Terlihat seorang pria yang berjalan dengan gagah menyusuri tiap ruangan kantor, dengan gagah nya itu mampu membuat setiap wanita kagum padanya.



"Anaknya pak direktur ganteng banget cuy!." seru para staf karyawan disana.



"Jangan gitu. Lo pengen di amuk Bu maria?"



"iya bener! mereka sangat serasi." lanjut lainnya.



Tap.



Tap.



Ekhem.



"kalian ngapain disini?" ucap seorang wanita.



Dia maria. Saat ini bekerja sebagai sekretaris Direktur. Ayah Kai.



"eih? Bu Maria. E-enggak kok bu!"



"yasudah kembali bekerja." ucap Maria lantang. Mereka langsung bergegas kembali pada pekerjaan masing-masing.

__ADS_1



Maria pun melangkahkan kakinya kedalam ruang kerjanya. Yap, disana terlihat Kai duduk tengah menunggu dirinya.



"Hai. Kai. Ada yang mau ditanyakan?" ujarnya langsung ketika membuka pintu.



Kai langsung berdiri dan tak memakan waktu lama menyampaikan tujuannya.



"ayahku ijin ngantor hari ini. Dan katanya ada meeting, dia menyuruhku untuk mewakilinya."



"aku sudah tau."



"baiklah. Kalau begitu." Kai langsung ingin keluar dari ruangan itu secepat mungkin.



"cepat sekali. Bagaimana kalau kita minum kopi dulu." suguhnya yang terdengar memaksa oleh Kai.



Sebenarnya Kai ingin menghindarinya setelaah kejadian itu. Walaupun semakin bertambahnya usia maria semakin cantik baginya tidaklah mungkin untuk kembali. 4 tahun yang lalu, seandainya Maria tidak tau Ayesha berada dimana mungkin mereka tidak akan berbicara.



Lalu ternyata saat ayahnya menyuruhnya untuk magang di perusahaan, saat itulah dia tau juga Maria bekerja sebagai sekretaris ayahnya.



Drrrt..



Drtt.



Kai merasa bersyukur karena Ayesha menelponnya saat itu, sehingga dia bisa kabur meninggalkan ruangan itu lebih tepatnya Maria.



"thanks. Sayang!." serunya sangat senang dibalik telepon.



"Kai? Apa maksudmu memangnya aku melakukan apa?" Ayesha heran dengan perkataan Kai barusan.



"Hehe. Gak. Cuman karena kamu, aku bisa kabur dari nenek lampir." ucapnya sembrono dan blak-blakan. Menganggap Maria sebagai nenek lampir, karena didekatnya memang agak menakutkan.



"nenek lampir?" kata Ayesha semakin bingung.



"udah sayang. Mending pembahasannya diganti gih."



"kamu kapan pulang?." lanjutnya.



Ayesha mulai terbiasa dengan panggilan itu dan tidak merasa lain lagi.



"gak tau. Mungkin lama? Soalnya, tante Kelly belum kunjung bangun" jawabnya membuat Kai mangut-mangut.



"gimana kalau aku kesana nemenin kamu, hm?"



"gak usah Kai. Disini ada Moli ko." jelasnya tanpa menyebutkan Bara yang juga ikut dengannya, dia takut kalau Kai akan marah apalagi dengan dendam mereka di mana lampau.



"yaudah kalau gitu bilang ya, kalau mau aku kesana."



"iya. Yaudah kalau gitu aku tutup." ucap Ayesha tau pasti Kai sedang bekerja dan takutnya dirinya mengganggu.



"okey."



Tut.


__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2