
Setelah menjalani perjalanan yang cukup lama membuatnya sangat kelelahan, pada saat tiba pun dijam yang sangat larut malam.
02.30
Ayesha langsung pulang kerumahnya dimalam itu dengan menggunakan taksi di bandara.
"seperti biasa" gumamnya,
Dia baru saja berharap kalau ada yang menjemputnya tapi dia lupa kalau keberangkatannya sama saat dia pergi ke korea, yakni secara sembunyi-sembunyi.
Tak menunggu waktu yang lama kini Ayesha sudah berdiri tepat didepan pintu rumahnya,
Takut membuat keributan akhirnya dia mencari kunci cadangan yang sengaja diletakkan dibawah pot, tak ada yang berubah semuanya masih terletak dengan sempurna sama seperti sebelum dia pergi.
kalau orang lain pasti akan menganggapnya biasa saja karena hanya 3 tahun, apanya yang lama.
Ayesha menatap sebentar ruangan ke tiap ruangan itu lalu sesaat kemudian dia tersadar saat seseorang membuka pintu dari kamar,
dengan cepat dia menggeser kakinya didekat sana,
Dengan hitungan 1 - 3 Ayesha berniat mengagetkannya.
1..
2..
3..
DUARR!
"A- Aduh kutukupret? Siapa disana?" teriak Santi begitu kencang bahkan sampai membangunkan suaminya,
Ayesha tertawa kecil lalu kembali bersembunyi dibalik tembok.
Dia begitu menikmati kejahilannya ini,
"Kejadian langka hihi" ucapnya membatin sambil masih senyum sumringah, rasa capeknya bahkan menghilang seketika.
"ada apa sayng? kenapa teriak dimalam-malam begini?" ucap Aryan yang masih dalam setengah kesadarannya.
"i-ini loh tadi ada yang kagetin" ucapnya,
Santi kini benar-benar sadar 100% karena mainan yang digunakan Ayesha tadi,
Tanpa mengetahui itu kejahilan anaknya, dia masih berdiri dengan ancang-ancangan dan mengintip dengan waspada diluar kamarnya, sedang Aryan hanya menatap istrinya yang bertingkah begitu aneh.
"coba sini kamu yang keluar" ucapnya sembari menarik lalu mendorong Aryan keluar kamar,
"Apasih disini gak ada apa-apa juga" ucapnya, dia lumayan kesal karena tidurnya terganggu.
__ADS_1
"liat baik-baik ih"
Aryan walaupun kesal tapi tetap menurut dan melihat keadaan, tapi tak menyangka yang dilihatnya malah seorang wanita cantik yang tidak asing dimatanya.
Ayesha memberi kode agar papanya itu tetap diam tapi tak kunjung didengarkan.
Aryan langsung memanggil Santi keluar,
"buka mata kamu, lihat itu anak kita" ucapnya,
Santi membuka matanya dengan ragu, yang benar saja dihadapannya kini berdiri anaknya.
"sudah lama ya ma?" ucapnya,
Matanya seketi berkaca-kaca, saat itu dia ingin sekali memeluk mamanya yang notabene galak itu.
"please. sekali aja ma, aku rindu banget" sambungnya,
Santi terdiam, didalam hatinya dia juga tidak menyangka anaknya sudah tunbuh sudah sebesar itu, dimatanya Ayesha sangat berbeda dibanding 3 tahun yang lalu. Bahkan dirinya sempat pangling dengan kecantikan anaknya sendiri.
"sini" imbuh Santi, dengan satu kata itu membuat Ayesha bangkit dan memeluknya dengan erat, pelukan mereka yang begitu erat membuktikan kentalnya hubungan darah.
Bahkan kemarahan yang ada akan padam dengan sangat mudah.
Adegan pelukan itu lumayan lama terjadi, kini Ayesha tidur didalam kamarnya.
Ranjang yang cukup lama dia tinggalkan adalah yang ternyaman.
Malam irupun berlalu ketika dia terhanyut dalam tidurnya untuk menstabilkan tubuhnya menghadapi pagi hari.
...****************...
Pagi ini rasanya Ayesha sangat degdegan pasalnya sudah dari tadi terdengar suara keributan dari luar kamarnya, ia heran apa yang dilakukan keluarganya ini.
"Mengapa sampai ngadain acara sih?" gumamnya, sejak tadi dia sudah menahan pipis hanya karena malu untuk keluar.
Dan paling dia takutkan, ialah munculnya pria yang selama ini dia hindari. Bahkan beberapa saat yang lalu dia sudah memantapkan hatinya untuk move on tapi hasilnya nihil.
Masih ada 2 perasaan yang mengganjal di hati dan pikirannya, "haruskah aku bertemu dengannya? Atau tidak?" kedua sisi pertanyaan ini masih saja bertengkar.
Sampai akhirnya ia beranjak dari atas ranjang, "udahla aku gak tahan lagi" ujarnya dengan memegang gagang pintu.
Akhirnya pintu itu dibukanya,
Keadaan rumah benar-benar ramai, dalam posisi menahan pipis Ayesha mengangguk anggukan kepalanya pada orang yang menyapanya.
"eh itu dia Ayesha" ucap mama tiba-tiba entah dari mana dia.
"anu.. Ma, jangan dulu aku mau ketoiled" ujarku dengan suara membisik padanya, pasalnya mama tiba-tiba menarikku untuk dikenalkan pada teman-temannya.
__ADS_1
"ouh yaudah cepat" serunya padaku, akhirnya akupun pergi dengan cepat dari sana.
Setelah buang air kecil dan sekalian mandi karena kebetulan tadi aku sudah membawa pakaian yang akan kukenakan.
Kini Ayesha keluar dari toiled dengan pakaian sepanjang lutut ala anak rumahannya. Dia keluar dengan rambut yang masih basah dan dililitkan kedalam handuk.
Ayesha tersenyum canggung pada mereka, rasanya canggung dengan handuk yang menempel dikepalanya itu.
Untungnya para ibu-ibu itu memaklumi kelakuan para anak gadis, dan mengatakan kalau anaknya juga biasa seperti itu. Walau terdengar tidak sopan sih.
Aku sedikit melirik keluar sebelum masuk ke kamar untuk mengeringkan rambutku, mataku mencari penampakan seorang pria yang selama ini kurindukan, aku juga penasaran bagaimana dia sekarang. Apa dia akan berubah sama sepertiku?
Tapi setelah membuat mataku berkeliling tetap tidak kudapat, bahkan Ibu dan Ayahnya tidak hadir dalam acara yang dibuat ibuku, biasanya mereka akan senantiasa hadir.
Sebenarnya dimana dia?
Tanyaku didalam hati, aku sedikit risau dan kecewa karena dia tidak datang. Apa dia benar-benar memutus hubungan denganku?
Akupun masuk kedalam kamar untuk melanjutkan apa yang sebelumnya ingin kulakukan.
...****************...
13.30
Acara inti yang dilakukan sedang berlangsung dirumah kami, yaitu acara makana-makan untuk merayakan kepulanganku dan naiknya aku sebagai sarjana.
"kapan sih Moli datang?" ungkapku membatin,
Aku sangat malas dengan situasiku saat ini. Masa aku bergabung dengan tongkrongan ibu-ibu, duduk ditengah-tengah mereka sangat melelahkan.
Yang paling parah pada percakapan-percakapan mereka yang membuat emosi. Aku tak sanggup menahannya.
"jadi sekarang pekerjaan kamu apa nak?" tanya tante Suli, salah satu orang yang tinggal dikompleks kami.
"pengangguran?" ungkapku tanpa ragu.
Apa yang perlu diragukan? Kan kenyataannya memang seperti itu, lagi pula Santi tidak akan marah kalau aku pengangguran sekali pun. Dia saja waktu muda hidup sebagai wanita pengangguran yang bebas, apa bedanya denganku.
Gemersik mereka sangat berisik, Ayesha melirik Santi, Santi juga sama. Tatapan mereka seperti mengejek dan tidak perduli.
Karena yang paling penting berduit haha.
"Oh iya ma. Tante Riska kemana, kok dari tadi gak muncul?" tanyaku padanya,
"dia lagi pulang kampung, ibunya sakit."
"ibu? Berarti Kai masih punya nenek?"
Santi mengangguk, saat itu akupun mengerti kenapa Kai tidak datang juga.
__ADS_1
Tak lama kemudian Moli dan teman-teman SMA ku pun tiba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...