
Seorang wanita tengah duduk dengan anggun di sebuah restoran mahal, ia terus melihat ponselnya. Ia hari ini mengajak kekasih yang memutuskannya secara sepihak sejak kemarin. Ia berharap kekasihnya itu menemuinya meski sebentar saja.
"Hm... apa dia akan datang?" wanita itu menghela nafas. Sudah satu jam lebih ia menunggu lelaki tersebut. "Apa dia benar benar tidak akan datang? Apa istrinya mengetahui hubungan kami? Atau istrinya melarangnya? Ck, awas saja jika aku menjadi istri keduanya, kau orang pertama yang aku singkirkan."
Wanita itu terus menunggu sejak tadi, ia hendak melangkahkan kakinya, namun sebuah suara menghentikannya. "Yanti..." Yanti membalikkan tubuhnya, melihat teman lamanya tersenyum ke arahnya. Yanti seketika terkesima, laki laki yang pernah ia tolak dulu kini bermetamorfosa menjadi lelaki yang amat sangat berkarisma, sungguh Yanti tiba tiba menyesali menolak cinta laki laki itu sejak dulu.
"Hai Bil," Ganti menyapa lelaki tersebut. "Wah kau sangat berubah Wil," puji Yanti tak henti hentinya tersenyum.
"Kau ini, ayo kau sudah ingin pergi?" Billi tampak mengerutkan keningnya.
"Iya aku menunggu kekasih ku, kemarin dia memutuskan ku. Namun aku ingin meminta penjelasan," ujar Yanti menundukkan kepalanya mencoba menarik simpati dari Billi.
"Kau sudah bercerai? Atau kau masih berpacaran," tanya Billi antusias.
"Aku ini janda, dan memiliki kekasih. Namun kedua orangtuanya tak menyetujui kami, karena aku ini seorang janda," bohong Yanti memandang iba ke arah Billi. Seolah dirinya yang benar benar tersakiti.
"Sudah lah, ayo ikut aku. Aku juga di paksa terpaksa menikahi seseorang, demi mendapatkan sesuatu. Ayo kita sama sama menghibur diri kita," ujar Billi segera merangkul pundak Yanti.
"Hm ayo," ujar Yanti segera berjalan beriringan dengan Billi.
"Jangan bersedih, masih banyak laki laki yang menyukai mu, pastinya aku," Billi tergelak ketika mengatakan hal tersebut.
"Ada ada saja kau," ujar Yanti. "Kau naik mobil?"
"Iya itu, mana mobi mu?" Billi menunjuk mobil yang amat mewah, kemudian memandang ke arah Yanti.
__ADS_1
"Itu," ujar Yanti menunjuk mobil yang tak kalah mewah, meski mobil Billi lebih mewah dibandingkan mobilnya.
"Wah lumayan," ujar Billi. "Mau ikut mobil ku saja? Atau kau antar saja mobil mu, kemudian pergi dengan mobilku?"
"Ah baik lah kita ke apartemen ku saja," ujar Yanti tersenyum.
^^^Lumayan El hilang, kini Billi yang bisa aku goda, di lihat dari mobilnya ia sangat kelihatan keren tampaknya. Yanti.^^^
Di sepanjang perjalanan Yanti tersenyum, sejak awal dirinya memang tertarik pada El Barack, sengaja melakukan pertemuan tak di sengaja, dan mencari tahu apa yang di sukai oleh bos mantan suaminya, setelah mengetahuinya Yanti mulai melakukan rencananya, seolah menyukai hal yang sama, hingga membuat El Barack penasaran kepada dirinya.
Awalnya semua rencananya berjalan dengan lancar, El Barack jatuh cinta kepadanya, dan mereka mulai menjalin kasih secara diam diam, namun entah kenapa hingga saat ini El Barack seolah menutup seluruh akses jalur komunikasi mereka. Hingga dirinya saat ini kekurangan uang untuk memenuhi gaya hidupnya.
Namun saat ini Billi muncul bak sebuah cahaya di tengah remangnya kehidupannya, Yanti pikir jika ia bisa mendapatkan Billi maka kemungkinan ia bisa mendapatkan gaya hedonisme nya kembali. Ya itulah yang di pikirkan oleh Yanti saat ini.
Mobil berhenti ketika mereka telah sampai di parkiran mobil, para penghuni apartemen. Yanti segera memarkirkan mobilnya dan menuju mobil Billi. Terlihat Billi keluar dan membukakan pintu untuk Yanti, Yanti tersenyum menawan. Billi yang senang, akhirnya menarik pinggang Yanti.
"Mungkin kau saja yang mudah tergoda tuan," balas Yanti sembari membuka satu kancing kemeja Billi.
"Mungkin saja, mari kita lihat," Billi mendekatkan wajahnya ke arah Yanti. Yanti segera menghindar sembari terkekeh.
"Tidak di sini tuan tidak sabaran, terkadang di sini ada anak kecil yang bermain," ujar Yanti membuat Billi terkekeh.
"Kalau begitu masuk lah," Billi segera melepaskan tangannya dari pinggang Yanti.
Billi masuk ke dalam mobil, di belakang kemudi. Kemudian menancap gas mobilnya menuju ke sebuah hotel.
__ADS_1
"Kita ke sini?" Yanti mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"
"Untuk bernostalgia tentang masa lalu," ujar Billi segera keluar dari dalam mobil.
"Bernostalgia?" Yanti membeo.
"Hm, kau lupa? Sebelum kau menikah kita mengakhiri kencan kita dengan bersama di dalam hotel," ujar Billi membuat Yanti menggeleng, wajahnya bersemu. Ia ingat bukan suaminya lah yang pertama. Namun Billi lah yang pertama.
Seorang wanita memang sama seperti laki-laki, mereka juga tidak di ketahui apakah masih pe*ra*wan atau tidak, tidak ada yang bisa menentukan dengan akurat. Bahkan menurut dokter ahli, selaput darah tidak mampu menyatakan bahwa wanita itu pernah melakukannya atau tidak. Karena hanya sebuah ke umuman, dan tidak banyak yang memiliki selaput darah yang masih utuh namun tetap masih pe*ra*wan. Menurut riset ada beberapa penyebab, pertama karena memang tidak memiliki sejak lahir, kedua biasanya anak itu memiliki kegiatan ekstra sehingga terkadang terkoyak ketika aktifitas contoh, saat jatuh dari atas pohon, jatuh bersepeda, dan masih banyak lagi. Ketiga selaput darah itu lentur, maka terkadang akan terkoyak ketika hendak melahirkan. Karena itu lah Yanti tidak ketahuan bahwa dirinya masih suci atau tidak.
"Ini sudah lama sekali," ujar Yanti tersenyum malu malu. Jujur ia juga menginginkannya sejak lama, namun El Barack yang selalu menolaknya membuat dirinya merindukan belaian tersebut.
"Aku merindukan mu, ayo masuk," ujar Billi membuat Yanti menggeleng.
"Tidak bisa kah di tempat lain? Aku takut ada yang melihatnya," Yanti sedikit malu malu mengatakannya.
"Baiklah kau mau di mana?" Billi menatap wajah Yanti dengan naf*su.
"Di apartemen mu atau apartemen ku," ujar Yanti.
Lama Billi berfikir, akhirnya ia mengangguk. "Baiklah di apartemen mu, Tapi harus bertambah ya, karena membuatku lama menunggu." Yanti hanya mengangguk malu malu karena hal tersebut. "Aduh kau masih sangat menggemaskan."
"Sudah jalan sana," ujar Yanti mencubit pelan pinggang Billi.
"Iya sayang sudah tidak sabar ya?" ujar Billi menggoda Yanti. Yanti hanya membuang wajahnya membuat Billi terkekeh geli meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Sementara itu El Barack saat ini masih dalam keadaan menjaga istrinya, istrinya sudah di perbolehkan untuk pulang setelah satu malam menginap di rumah sakit. El Barack kali ini benar benar protektif, bagaimana tidak El Barack memang telah menginginkan seorang buah hati sejak lama.
Seluruh pekerjaannya juga telah di bawa oleh asisten pribadi El Barack ke rumah. El juga sudah melupakan Yanti, setelah ia mengirimi pesan perpisahan, dan memilih mengganti nomornya demi kebaikan bersama.