
Seperti biasa saat ini Billi dan Yanti tengah terbaring lemas di atas tempat tidur, Yanti menelusup kan wajahnya di dada Billi. Billi hanya tersenyum matanya seperti menerawang, pikirannya terus menerawang menembus dinding, membayangkan wajah Linda.
Ya, Billi tengah membayangkan wajah Linda ketika saling bertarung di atas tempat tidur dengan Yanti, Billi terus membayangkan seolah Yanti yang tengah di dalam pelukannya adalah Linda.
Saat tengah asyik dalam lamunan nya, tiba tiba pintu terbuka, menampakkan wajah seorang laki laki paruh baya, memandang tajam ke arah keduanya. Yanti dan Billi yabg tengah asyik berpelukan seketika bangun.
Yanti berusaha menarik selimutnya hingga ke dada, sementara Billi segera bangun dan mengenakan bokser nya.
"Bagus, kau akan membuat keluarga kita malu dengan berhubungan dengan ja*lang ini," hardik laki laki tersebut.
"Pa sorry pa, aku tidak akan pernah menghubunginya lagi," ujar Billi dengan entengnya membuat Yanti kesal bukan main.
"Maksud mu apa? Kau anggap apa hubungan kita?" Suara Yanti melengking di ruangan tersebut, menarik selimut beringsut mencapai pakaianannya.
"Kita sama sama membutuhkan ok? Dan aku membayar mu, dengan memenuhi seluruh kebutuhan mu," ujar Billi memutar bola matanya malas.
"Selesaikan utusan mu dengan ja*lang mu ini, papa tak mau jika kelakuan mu ini sampai pada keluarga calon istri mu, bisa bisa kita tak jadi," ujar papa Billi segera keluar dari kamar ananknya.
Laki laki itu memijit kepalanya, pusing dengan kelakuan anaknya yang semakin menjadi jadi. Ingin rasanya mengeluarkan dari kartu keluarga, namun Billi merupakan anak satu satunya laki laki.
"Maksud mu apa Billi? Kau menganggap ku wanita murahan?" Yanti tak terima dengan perkataan Billi.
"Lalu? Aku harus apa? Menganggap mu wanita terhormat? Sementara malam pertama mu saja bukan di berikan kepada suami mu. Kau berselingkuh, dan bahkan berhubungan badan di luar pernikahan, hanya demi gaya hidup?" Billi terkekeh remeh ke arah Yanti.
"Bre*ngsek kau, aku hanya melakukannya dengan mu," kesal Yanti melempar bantal ke arah Billi.
"Oh ya? Kau pikir aku tak tahu kelakuan mu? Keluar masuk dengan pria hidung belang di club dan hotel. Ayolah Yanti, jangan kau kira aku bodoh. Kau pikir kenapa aku selalu menggunakan pengaman? Aku takut kau terkena HIV, dan bahkan anak orang lain dan melimpah kan kepada ku," ujar Billi melempar uang dua juta ke arah Yanti. "Keluar lah dan jangan kembali."
__ADS_1
"Kau... kau akan menyesal," Yanti keluar dari kamar tersebut setelah memungut uang yang di lempar Billi, dan mengenakan pakaiannya.
Yanti merasa terhina dengan seluruh kata kata Billi, ingin rasanya Yanti mencakar mulut dari bibir Billi. Yanti menatap tajam ke arah laki laki yang memandangnya sinis itu. Yanti baru tahu bahwa laki laki yang kemarin sempat ia goda merupakan orang tua dari Billi.
"Cih sekali murahan akan selamanya murah," desis ayah Billi.
"Dasar laki laki munafik," ujar Yanti sebelum keluar dari apartemen Billi.
Setelah lima belas menit Billi keluar dari kamarnya, dan mendekat kepada ayahnya yang tengah duduk memandang tajam ke arahnya.
"Sudah papa kata kan, berhenti!" Billi hanya menghela nafas panjangnya ketika mendengar penuturan papanya.
"Ok, it's for the last," ujar Billi menyandarkan kepalanya.
"Berhenti, jangan sampai menyesal, pasalnya kau akan di tinggalkan pasangan mu yang benar benar kau sayangi," ujar papa Billi.
"Seperti papa yang kehilangan mama?" Billi tersenyum simrik ke arah papanya.
......................
Anisa tengah duduk di samping kakaknya, hingga sebuah bunyi ketukan terdengar. Anisa segera berdiri dan meninggalkan Atala yang asyik dengan dunianya sendiri. Anisa segera membuka pintu, dan ternyata itu adalah tukang las yang di janjikan eh pak Bambang. Tidak sendiri orang itu datang bersama dengan pak Bambang dan istri pak Bambang yang mengantarkan mereka.
"Nak Nisa sendirian?" Wanita itu datang membawa beberapa buah buahan, dan beberapa makanan lainnya.
Niatnya sebenarnya ingin menjenguk Atala, namun ia juga paham bahwa Atala tidak siap bertemu dengan orang asing, jadi ibu itu lebih memilih untuk membawa beberapa buah dan makanan, serta menanyakan keadaan Atala kepada Anisa.
"Iya Bu, Linda sedang pergi bekerja," ujar Anisa, membuka pintu lebar lebar agar mereka bisa segera masuk. "Aduh ibu maaf merepotkan," ujar Anisa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak apa apa, ibu cuman bisa memberi ini untuk kalian," ujar ibu itu. "Oh ya Atala bagaimana?"
"Alhamdulillah Bu, walaupun masih belum merespon, tapi sudah tidak seperti dulu lagi," ujar Anisa. "Maaf Bu permisi, saya mau mengambilkan air dulu ya Bu."
Setelah air teh nya telah jadi Anisa segera membawanya kehadapan ibu tersebut. "Mari Bu di minum dulu," ujar Anisa menyodorkan minuman tersebut.
"Iya, tidak usah repot repot, ibu sama bapak juga mau keluar. Nanti tukang las pintunya akan di tinggal ya," ujar ibu tersebut.
"Ah iya Bu," ujar Anisa.
"Ya sudah ibu pergi dulu, Biasa mau yasinan di rumah ibu Inna, ibu pergi dulu ya," ujarnya beranjak dari tempat.
"Iya bapak mau pergi juga ke tempat lurah, soalnya mau buat perubahan data nak Atala dulu ya," pak Bambang pun ikut beranjak dari tempat.
"Iya pak buk terimakasih banyak," ujar Anisa. "Bang saya tinggal dulu ya, soalnya mau siap siap berangkat kerja."
"Iya mbak tidak apa apa," jawab dua orang laki laki yang memang di tugaskan untuk membuat pintu tralis di rumah mereka.
Bukan apa apa, mereka sengaja membuat pintu tersebut, agar Atala tidak pergi keluar tanpa sepengetahuan mereka, dan pada akhirnya membuat kekacauan di luar rumah. Tetapi mereka juga ingin Atala tetap dapat berinteraksi dengan orang orang sekitar, meski tak saling sapa.
Anisa segera memakan makan siangnya, dan mengganti pakaian nya. Anisa segera bersiap untuk berangkat bekerja, karena sebentar lagi akan menunjukkan pukul satu siang, maka sebentar lagi akan pergantian sip bekerja.
'Lin cepat pulang ya, soalnya si rumah ada kak Atala, belum lagi ada tukang tralis. Takutnya kakak mengamuk lagi,' Anisa segera memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah mengirimi Linda pesan tersebut.
Bunyi notifikasi dari ponselnya membuat Anisa kembali melirik ponselnya. 'Iya ini sudah siap siap pulang, tapi aku beli bahan bahan yang kamu pesan online aja ya, takutnya kak Atala nyariin.'
'Iya, kamu hati hati.'
__ADS_1
'Kak Atala sudah makan?'
'Belum, dia nungguin kamu kayaknya. Aku tutup dulu, soalnya takut telat,' Anisa segera mengakhiri percakapan singkat mereka.