I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Berantakan


__ADS_3

Linda baru saja pulang dari tempat kuliahnya, entah kenapa ia ingin pulang lebih cepat. Linda memilih untuk jalan jalan sejenak di salah satu mall ke arah jalan pulang ke rumah. Saat ini Anisa telah bekerja di salah satu mini market, pekerjaan itu ia tempuh demi memenuhi kehidupannya.


Namun ketika hendak pulang, tak sengaja Linda mendengar teriakan yang ia kenal, di antara kerumunan orang orang tersebut. Linda memasang telinga untuk kembali mendengarkannya.


"Kembalikan anak saya!" Linda menganga mendengar suara dari Atala, Linda segera membelah kerumunan dan menemukan Atala telah di keroyok.


"Tolong hentikan, jangan memukuli kakak saya," teriak Linda namun tak di hiraukan oleh orang orang. "Tolong hentikan saya mohon."


Linda putus asa melihat keadaan Atala yang sudah babak belur di keroyok warga, segera mendekat namun Linda terkena salah satu pukulan dari pemuda tersebut.


"Aaa..." Linda berteriak seketika menghentikan aksi pemuda tersebut. Para pemuda terkejut melihat wanita cantik terkena pukulan mereka entah yang mana. "Tolong berhenti," Linda telah terisak melihat keadaan Atala.


Linda segera mendekat ke arah Atala. Atala yang melihat Linda mendekat segera memeluk Linda meminta perlindungan. Orang orang bingung sendiri melihat mereka berdua, terlebih wajah mereka yang lebih terlihat seperti orang asing. "Tolong berhenti ada apa Ini sebenarnya?"


"Dia mencoba menculik seorang anak," ujar salah satu di antaranya. "Itu anaknya."


Linda mengalihkan pandangannya dan melihat seorang anak kecil yang tengah di peluk seorang wanita mudah. "Putra," Linda memandang ke arah Atala ketika mendengar ucapan Atala.


"Mohon maafkan saya, kakak saya baru saja kehilangan anaknya. Putranya tampaknya seusia anak itu, karena itu kakak saya mengira itu adalah anaknya," ujar Linda masih berurai air mata.


"Huuu..."


"Makanya kalau kakak mu tidak waras jangan biarkan keluar," ujar salah satu di antara mereka.


Atala jangan di tanya lagi, laki laki itu sangat ketakutan, pasca menjadi bulan bulanan masyarakat sekitar. Putra terus memeluk Linda, seolah meminta perlindungan dari wajah orang orang.


"Lihat lah kau sudah di pukuli."


"Dia memang pantas."


"Jangan kasihan."


"Dia itu memang pantas."


"Pengecut."


"Penculik."


"Bodoh."


"Lihat saja kau akan di pukuli lagi nanti."


Linda menuntun Atala untuk keluar dari kerumunan dan segera menuju mobil Atala, Linda meletakkan Atala ke kursi penumpang. Atala tampak tertekan, Linda segera mengantar Atala ke salah satu rumah sakit.

__ADS_1


"Ayo kak turun kita masuk dulu," ujar Linda.


"Ayo masuk, cuman sebentar kok."


"Jangan nanti kau akan berakhir."


"Masuk."


"Ish, di bilang jangan ya jangan."


"Sudahlah lupakan."


Atala kembali memandang ke arah jendela mobil dan mendapati seperti seseorang tengah membawa benda tumpul untuk memukulnya.


"Tidak aku tidak mau!" Atala ketakutan membuat Linda menarik nafasnya dalam dalam.


"Ya sudah Linda beli obat dulu ya," ujar Linda segera menjalankan kembali mobil Atala ke apotek terdekat, memang di rumah sakit ada apotek namun harus sesuai resep dokter, dan lagi Atala tampaknya tidak siap bertemu banyak orang. Atala tampaknya masih sangat trauma pasca kejadian tadi.


Atala menutup telinganya, hendak mengusir orang orang yang berbicara di telinganya. Atala selaku seperti ini jika sendirian, ia akan dengan jelas mendengarkan suara suara itu.


"Dasar tidak berguna."


"Kau itu di buang di mana mana."


"Lihat saja kau di campakkan istri mu, di tinggal anak mu, sekarang kau di buang dari tempat kerja mu."


"Jangan begitu kau orang tabah."


"Ini cobaan dalam hidup."


"Kau memang pantas di buang."


"Jangan tidak boleh begitu."


"Kau tidak berguna."


"Bodoh."


"Tidak berguna."


"Diam lah."


"Tidak berguna."

__ADS_1


"Jangan dengarkan."


Tok tok tok.


Suara ketukan mengejutkan Atala, Atala memandang ke arah Linda. Linda segera membuka pintu kemudi dan segera menghidupkan mesin mobilnya.


^^^Kak Atala memang harus ke psikiater sepertinya. Linda.^^^


Mereka sampai di apartemen Atala yang tak jarang ia sambangi, memang begitu karena semenjak perceraiannya, baik Anisa maupun dirinya sangat sulit menemui Atala. Atala tak pernah mengangkat telfon bahkan mengunjungi mereka.


Pintu terbuka, Linda terkejut melihat keadaan apartemen Atala yang begitu berantakan. Ini bukan Atala yang Linda kenal, Atala yang Linda kenal sangat suka kebersihan, sangat tidak suka tempat yang berdebu. Seharusnya mereka sadar bahwa Atala berubah, Atala sakit dan butuh mereka sebagai tempat berlindung Atala.


Linda segera membawa Atala ke sofa yang telah di isi berbagai makanan yang telah basi. Linda pusing sendiri melihatnya, Linda segera menghubungi tempat jasa pembersihan rumah, jika Linda saja maka itu tidak cukup.


Lisna mengangkat piring ke dapur namun keadaan rumah gelap gulita. Linda segera membeli token PLN online. Setelah lampu menyala, semakin terkejut pula Linda tempat tersebut tampak tak pernah di tinggali, pakaian kotor Atala di mana mana, kolor yang Atala telah kenakan tampak berserakan.


Entah kapan di bersihkan nya Linda tidak tahu, namun Linda lebih di kejutkan ketika beberapa makanan telah berulat, Linda memijit pangkal hidungnya, dan mulai mengambil pakaian Atala satu persatu meletakkannya di tempat pakaian kotor. Linda mengecek air namun ternyata Atala juga belum membayarnya, Linda kembali mengisi PDAM. Dan membayar denda denda yang belum di bayar oleh Atala. Tampak nya mulai tiga bulan yang lalu.


Linda mendekati kulkas yang tampak kosong, hanya di isi beberapa cemilan saja. Linda kembali mendekat ke Atala, dan mulai membersikan luka di wajah Atala, Linda kemudian mengoleskan beberapa obat di wajah Atala. Linda meniup luka Atala berkali kali, membuat Atala merasa perihnya berkurang sedikit.


"Kakak kenapa?" Linda telah usai memberikan obat luka di wajah Atala.


"Di pecat, di buang," ujar Atala membuat Linda kembali menghela nafas panjang.


Bunyi bell membuat Linda segera membuka pintu. Tampak beberapa orang penyedia jasa kebersihan datang membuat Linda tersenyum.


"Bang tolong di kamar dulu ya, soalnya kami mau istirahat," ujar Linda membuat petugas tersebut tersenyum. Mereka membersihkan kamar tersebut hingga bersih. Memang butuh waktu sekita lima belas menit, karena memang keadaan di kamar Atala Linda pastikan sangat berantakan.


Setelah para petugas keluar Linda segera membawa Atala masuk dan membaringkan Atala ke tempat tidur. Atala hanya menurut saja. Linda duduk di sisi tempat tidur dan mengusap lembut kepala Atala. Membuat Atala merasa nyaman. Tak lama kemudian Atala tertidur.


Linda kemudian menghubungi Anisa yang mungkin telah selesai dengan pekerjaannya. "Halo Nis, kayaknya kita untuk sementara tinggal di tempat kak Atala, tau bawa kak Atala ke rumah deh."


"Lah kenapa?"


"Tampaknya kak Atala sakit, dan harus di bawa ke psikiater, kalau tidak takutnya akan semakin parah, coba ke sini nanti aku ceritain semuanya."


.


.


.


.

__ADS_1


Hai teman teman bagi yang ingin bertanya silahkan tanya sebanyak banyaknya di kolom komentar, jika othor mampu menjawabnya othor akan menjawabnya. Terimakasih.


Like and comment guys, serius buat cerita ini susah minta ampun ampunan, karena jujur saja buat novel ini harus mikir selama lima bulan baru benar benar di bulatkan tekatnya. Belum lagi mencari informasi dan menggali setiap narasumber yang sudah sembuh dengan penyakit ini. Dari pihak keluarga yang menjaganya, dan lain lagi. Jadi tolong berkomentar apa saja, karena sesungguhnya ini berat mikirnya guys.


__ADS_2