
Di pagi hari Anisa telah di sibukkan dengan mempersiapkan sarapan untuk mereka, sementara Linda di sibukkan dengan persiapannya menuju ke tempat kerja. Ia akan mengendarai motor pagi ini, sementara Anisa akan menunggui Atala, hingga menjelang jam dua.
Anisa akan menaiki ojek online saja nanti, pasalnya jarak rumah dan minimarket tempat Anisa bekerja tidak terlalu jauh di banding dengan tempat kerja Linda.
Anisa akan di jemput Linda ketika malam hari, dan lagi Anisa takut las pintu, untuk pintu besi rumahnya datang.
Linda saat ini tengah duduk bersiap untuk sarapan, terlihat Linda tersenyum melihat keadaan rumah. "Nis kak Atala nanti kasih obat ya," ujar Linda sembari menyuapi dirinya makanan.
"Susah Lin, tau sendiri kan kak Atala cuman mau mendengarkan kamu," ujar Anisa yang tengah meletakkan minuman di badan Linda, dan makanan berada di dalam sampan untuk Atala.
Linda menghela nafasnya, Linda kemudian mengambil nampan tersebut dan berjalan menuju kamar lamanya. Linda mencoba mengetuk pintu, namun tak ada terdengar jawaban dari dalam kamar tersebut.
Lama Linda mengetuk, akhirnya Linda memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar tersebut terlihat sangat gelap, Linda segera menghidupkan saklar lampu yang berada di samping tempat tidur.
Keadaan kamar masih terlihat rapi, Linda segera membuka horden kamar. Atala masih terlihat pula di dalam tidurnya. Linda tersenyum segera ke arah Atala, mengusap kepala Atala dengan lembut. Mencoba untuk membangunkan Atala.
Atala menggeliat, membuka matanya secara perlahan, membuat Linda tersenyum. "Ayo kak bangun, kita sarapan dulu ya," ujar Linda.
Atala tersenyum, iya dapat mengetahui itu adalah Linda. Matanya memang kabur, namun pendengarannya tajam mampu memindai suara Linda.
Atala duduk, sementara Linda meletakkan nampan di samping meja tempat tidur. Linda menuntun Atala menuju kamar mandi terlebih dahulu, Linda kemudian membasuh wajah Atala, menuntun Atala untuk menggosok gigi. Kemudian meminta Atala untuk segera membuang air kecil.
Linda memutar badannya, ketika adalah jongkok di atas kloset jongkok. Setelah selesai Linda segera mengajak Atala keluar dan sarapan.
__ADS_1
Setelah sarapan, Linda segera meminumkan Atala dengan obat. Membersihkan kamarnya, kemudian beranjak dari kamar tersebut. namun baru saja indah hendak keluar, tiba-tiba Atala menghentikan langkahnya.
"Kamu mau ke mana?" Atala memandang Linda dari bibir tempat tidur yang ia duduki.
"Mau kerja kak, kakak nurut sama Nisa ya," ujar lidah menghentikan langkahnya, sembari memutar tubuhnya ke arah Atala. Linda kembali berjalan menuju ke arah laci mejanya, Linda mengeluarkan sebuah buku, kemudian memberikannya ke arah Atala. "Kakak nanti sambil nunggu Linda nulis nulis dulu ya."
Atala hanya mengangguk, kemudian pembalikan tubuhnya memandang ke arah jendela yang telah dibuka oleh Linda. Linda menghela nafasnya, memejamkan matanya kemudian memberanikan diri untuk mengecup puncak kepala Atala, membuat Atala kembali melirik ke arah nya. "Aku pergi dulu ya kak."
Linda segera melangkah meninggalkan Atala sendirian di tempat tidur, kemudian memutar kenop pintu. Saat Linda keluar, ternyata Anisa telah berada di depan pintu.
"Nis ingat pesan dokter, kalau semua benda tajam harus disembunyikan," ujar Linda mengingatkan Anisa tentang peringatan dokter tersebut. Sebenarnya ini hanya sebuah wanti-wanti, karena dikhawatirkan jika Atala kembali kambu, maka setidaknya adalah tidak terlalu membahayakan sekitar ataupun dirinya sendiri.
Bukannya mendoakan, namun ini hanya sebuah persiapan untuk mencoba meminimalisir semua kemungkinan yang terjadi. Pasalnya saat ini pengawasan dokter maupun suster sangatlah minim.
Anisa segera membersihkan seluruh rumah, mencatat apa saja bahan makanan yang habis, dan yang harus dipersiapkan. Mereka harus berhemat, karena pengobatan Atala masih terus berjalan. Setelah mencatatnya, Anisa segera mengirimi pesan kepada Linda, agar sebelum kembali ke rumah Linda telah membeli seluruh bahan makanan yang diminta oleh Anisa.
Sementara di dalam kamar, Atala terus menatap ke arah luar. Pandangan Atala lurus seperti tak berpenghuni. Selepas kepergian Linda, yang sejak tadi mengurusnya, Atala hanya berdiam. Atala tadi hanya memperhatikan seseorang pergi dengan kendaraan, badannya seperti Linda, yang ia yakini itu adalah Linda.
Atala sejak tadi hanya memegang alat tulis yang di berikan oleh Linda, tanpa ada niat untuk menulis. Namun tak lama kemudian pandangannya ia arahkan ke arah alat tulis tersebut, kemudian mulai menurunkan pantatnya di samping tempat tidur. Dan mulai menulis, mencoret dan menggambar.
Setelah membersihkan seluruh rumah, Anisa kembali memesan makanan untuk mereka berdua, karena saat ini sudah menjelang tengah hari. Besok Anisa akan mulai berjualan kue secara online, mulai membuka pesanan untuk kue.
Sementara Linda masih dengan profesi lamanya, yaitu buket bunga. Yang mulai di bantu oleh Atala. Agar Atala ada pekerjaan, dan tidak hanya diam saja.
__ADS_1
Setelah pesanan datang, Anisa segera mengetuk pintu kamar, Atala terlihat tengah duduk di samping tempat tidur, laki laki yang mulai terlihat gempal tersebut, terlihat membungkuk ya badannya menulis sesuatu. Atala tidak menghiraukan ketukan tersebut, hingga akhirnya Anisa membuka pintu itu sendiri, dan mendekat ke arah Atala.
"Kak ayo makan," ujar Anisa memandang ke arah gambar yang di tulis oleh Atala, wajahnya sedikit tidak jelas, namun dari gambar tersebut Anisa tahu bahwa itu adalah Linda. Terlihat jelas dari tulisan Atala, 'Linda' itu adalah kata yang di tulis Atala di buku tersebut.
Atala tak menghiraukan ucapan Anisa masih terus menulis. Anisa mendudukkan dirinya di samping Atala, memandang ke arah Atala menyenderkan kepalanya di bibir tempat tidur.
Air mata Anisa sedikit turun melihat kondisi sang kakak, untung dirinya di kelilingi oleh orang orang baik, sehingga kehidupannya sedikit lebih baik. "Ya Allah angkat penyakit kakak ku, hambah tak tega melihatnya."
Doa yang terselip untuk Atala di setiap sujudnya, meminta perlindungan dari maha kuasa, untuk cobaannya kali ini.
......................
Saat ini El Barack tengah duduk termenung di samping anaknya, pandangannya terus menatap lurus ke arah anaknya. Bayangan El Bram yang hilang kembali terbayang. Pagi itu ia sempat marah karena merasa bahwa mommy nya tidak menyayangi dirinya lagi, dan membuatnya memarahi adiknya pagi pagi sekali. Namun saat kembali El Barack di buat syok karena ternyata adiknya telah hilang, membuat dirinya terus di hantui dengan rasa bersalah dan rindu di saat yang bersamaan.
Meskipun pencarian El Bram hingga saat ini masih terus di cari, namun setidaknya dirinya seperti punya harapan setelah mendapat beberapa bukti dan pengakuan dari Ellie adiknya, yang mengatakan bahwa tanpa sengaja melihat El Bram bersama anak kecil.
Jika begitu El Barack bisa sedikit lega, karena El Bram mungkin memiliki kehidupan yang cukup baik.
Jessica yang melihat El Barack termenung, segera memeluknya dari belakang. El Barack memejamkan matanya, untung saja istrinya sangat pengertian bahkan menerimanya apa adanya.
El Barack merasa sangat beruntung, meski ia melakukan sebuah kesalahan namun Jessica istrinya masih menerima dirinya apa adanya.
"Terimakasih sayang, i love you," ujar El Barack segera menarik Jessica ke dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Sama sama sayang, aku yakin dia tak lama lagi akan di temukan."