I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Kedatangan Yanti.


__ADS_3

Linda dan Anisa kini tengah berada di apartemen Atala. Linda memilih memesan makanan secara online, di kulkas sudah tidak ada makanan lagi, sementara Atala takut mereka tinggalkan.


Tak lama kemudian makanan pesanan mereka tiba, Linda segera keluar, dan tak sengaja bertemu dengan salah satu penghuni gedung apartemen tersebut.


"Wah kamu orang baru, atau pacar baru pak Atala? Wah cantik, tapi jangan sama seperti mantan istrinya ya," ujar wanita tersebut.


"Lah kenapa bu?" Linda penasaran dengan maksud ibu tersebut.


"Iya tukang selingkuh. Oh ya kamu calon istrinya kah?" Linda tersenyum mendengar pertanyaan tersebut.


"Bukan bu, kak Atala itu kakak sahabat saya. Karena tadi ada kemalangan yang menimpa kak Atala jadi kami berdua memutuskan untuk menjaga kakak," jelas Linda membuat ibu itu mangut mangut.


Linda segera masuk, Anisa menata piring untuk mereka bertiga. Mereka segera makan dengan khusus, membara Atala tampak tak begitu berselera. Setelah makan Atala segera pergi ke kamarnya mematikan seluruh penerangan, dan segera berbaring di sudut tempat tidur.


Anisa dan Linda tidur di kamar yang dulu di tempati oleh Putra. Mereka bercerita tentang apa yang tadi siang menimpa Atala, sungguh hal itu membuat Anisa menjadi sedih. Anisa tak menyangka apa yang menimpa kakaknya kini mulai menggerogoti jiwanya.


"Aku sungguh tak percaya kalau kakak bisa seperti itu, kakak membuat ku benar benar khawatir," ujar Anisa.


"Iya sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit jiwa," Linda memberikan sebuah ide kepada Anisa.


"Biayanya pasti mahal, tapi yang terpenting apa dia mau?" Anisa memandang ke arah Linda.


"Aku rasa dia akan sulit untuk di ajak, terlebih dia merasa tidak sakit. Namun untuk mahal atau tidak nya itu bisa kita cari uangnya. Masalahnya itu dia mau atau tidak," Linda memandang ke arah langit langit memikirkan bagaimana membujuk Atala.


"Hm, takunya kak Atala nolak, soalnya dia merasa baik baik saja," ujar Anisa. "Jadi besok kita gantian jaga kak Atala gitu?"


"Tidak bisa kau bekerja sementara aku kuliah, kecuali salah satu dari kita memindahkan jadwal," ujar Linda memandang ke arah Anisa.


"Kalau begitu besok aku akan bertemu bos ku," ujar Anisa. "Ya sudah aku tidur dulu, besok kita diskusikan lagi."


"Besok tampaknya aku tidak kuliah," Linda tiba tiba bergumam. "Iya besok ada acara wisuda di kampus ku, tentu saja seluruh dosen menghadirinya."


"Oh ya? Kenapa tidak bilang?" Anisa terbangun bersemangat.


"Aku lupa, aku baru ingat setelah ingat pesanan buket teman ku tadi di kampus," ujar Linda.


"Kau masih punya lagi?" Anisa membalikkan badannya.

__ADS_1


"Tidak aku tidak punya, tadi itu yang terakhir," ujar Linda.


"Syukurlah," Anisa bernafas lega.


"Terus sisa buketnya?"


"Rencana mau berjualan besok, tapi ya sudah lah," Linda bernafas berat.


"Maaf ya," Anisa tiba tiba berucap membuat Linda terkejut, namun sesaat kemudian ia bernafas lega.


"Tidak apa apa, kak Atala juga kakak ku sekarang," Linda tersenyum ke arah Anisa.


"Tidak bisa jadi suami gitu?" Anisa mencoba memancing Linda.


Linda hanya mengangkat bahunya. "Kalau jodoh mungkin," ujar Linda memandang ke arah langit langit.


"Cie berarti bisa dong," goda Anisa membuat wajah Linda menjadi memerah.


"Udah lah mau tidur," Linda membalikkan badannya menarik selimut. Anisa terkikik geli dari belakang.


"Bagaimana besok kau bawa mobil dan kak Atala, biar sekalian bisa menjaga kakak Atala," usul Anisa. "Kan kakak sudah di istirahat kan."


Pagi menjelang Anisa dan Linda sudah bersiap siap, mereka masih harus membeli makanan online dikarenakan tidak memiliki bahan masakan di lemari pendingin, bahkan beras pun habis. Atala tampak santai menikmati makanannya di atas meja, jika begini Atala terlihat baik baik saja.


"Lind aku cabut dulu ya, soalnya takut telat," ujar Anisa melirik pergelangan tangannya.


"Tidak mau aku antar?" Linda memandang ke arah Anisa yang tampak memakai sepatu.


"Hm..." Anisa memandang ke arah Atala, dengan luka lebam masih terdapat di seluruh wajahnya.


"Kakak, kakak mau ikut Linda tidak?" Linda memandang ke arah Atala.


Atala segera mengalihkan pandangannya ke arah Linda, dan mengangguk setuju. Hanya itu jawaban dari Atala. Linda dengan sigap mempersiapkan sendal untuk Atala dan dirinya.


"Bisa langsung sekalian jualan Lind," bisik Anisa membuat Linda tersenyum.


"Ayo kak," ujar Linda membuat Atala berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Mereka segera membuka pintu, dan terkejut ketika melihat Yanti mantan istri Atala muncul di hadapan mereka, setelah hampir dua tahun tidak bertemu.


"Oh jadi kalian sudah tinggal bertiga di sini? Mana putra?" Yanti menerobos masuk mencari anaknya. "Kemana putra? Putra..."


"Kak apa apaan sih?" Anisa kesal sendiri melihat tingkah mantan kakak iparnya.


"Kalian yang apa apaan? Mana Putra?" Yanti berteriak dengan kesal. Yanti melihat beberapa tetangga yang suka bergosip berkumpul. "Kalian lihat kan kelakuan mereka? Bahkan sekarang mereka tidak mengizinkan Akau bertemu dengan Putra."


Atala yang pusing mendengar Yanti berteriak sangat kesal, belum lagi mendengar nama Putra di ungkit ungkit membuatnya sangat emosi. Suara di kepalanya kini kembali timbul, kembali saling berdebat dan membuat Atala semakin tak mampu mengontrol emosinya. "Diam!"


Yanti seketika terdiam terkejut pertama kalinya melihat Atala begitu marah. Anisa segera mendekati kakaknya dan memeluk nya. "Kak sabar kak," ujar Anisa segera membawa Atala ke kamar melewati Yanti, sebelum kakaknya itu mengamuk.


"Woy, cepat jawab!" Yanti semakin berteriak mengira dirinya berada di atas awan. Melihat kondisi Atala sepertinya tidak baik baik saja.


Linda mendekat, dan hal yang tidak di inginkan terjadi. Linda menampar wajah Yanti, hingga membuatnya tersungkur. Seorang laki laki yang menemani Yanti dengan topi tersenyum melihat tingkah Linda. Dirinya tertarik dengan gadis cantik tersebut, menurutnya Linda sangat menantang.


"Kau!" Yanti tidak terima di tampar begitu saja.


"Apa?! Sekarang kau menanyakan keadaan Putra?" Linda terkekeh miris kepada Yanti. "Kau terlambat, seharusnya satu tahun yang lalu kau datang, dan melihat anak mu di rumah sakit berjuang melawan kanker otak selama hampir sepuluh bulan, bukannya pergi bersama selingkuhan mu dan menggugat cerai suami mu!"


Semua orang menggeleng mendengar ucapan dingin Linda namun cukup besar agar semua orang mendengarkan nya. Mereka bahkan tidak menyangka jika ternyata Yanti kabur saat anaknya butuh dirinya. Meskipun mereka mengetahui kematian Putra beberapa saat setelah mendengar berita kematian Putra.


"Kau berbohong kan?" Yanti merasa tidak percaya.


"Aku berbohong? Kau gila untuk apa aku berbohong pasal nyawa orang lain? Dasar ibu tidak bertanggung jawab, pergilah bersama kekasih mu, tinggalkan kak Atala, biarkan dia bisa hidup tenang tanpa melihat mu," ujar Linda membuat Yanti segera bangkit dan meninggalakan dirinya. "Ingat jika aku melihat mu lagi di sekitar kak Atala dan mencoba mengganggunya, kau tidak akan menduga apa yang akan aku lakukan terhadap mu."


"Kau berani mengancam ku?" Yanti membalikkan badannya.


"Apa yang tidak bisa ku lakukan untuk orang orang di sekitar ku. Satu lagi aku tidak mengancam namun memperingati mu."


.


.


.


.

__ADS_1


Hai teman teman bagi yang ingin bertanya silahkan tanya sebanyak banyaknya di kolom komentar, jika othor mampu menjawabnya othor akan menjawabnya. Terimakasih.


Like and comment guys, serius buat cerita ini susah minta ampun ampunan, karena jujur saja buat novel ini harus mikir selama lima bulan baru benar benar di bulatkan tekatnya. Belum lagi mencari informasi dan menggali setiap narasumber yang sudah sembuh dengan penyakit ini. Dari pihak keluarga yang menjaganya, dan lain lagi. Jadi tolong berkomentar apa saja, karena sesungguhnya ini berat mikirnya guys.


__ADS_2