
Kegiatan harian mulai seperti biasanya, Atala sudah semakin membaik, Atala sudah mulai bisa melayani pembelian, meski sedikit lamban. Namun bagi Linda itu adalah kemajuan yang sangat pesat.
Ternyata benar apa yang di katakan dokter yang menangani Atala, bahwa Atala harus lebih banyak berbaur dengan masyarakat sekitar, agar kesembuhannya semakin besar.
Anisa saat ini tengah bersiap siap untuk ke keluar kota bersama Atala. "Aku berangkat dulu ya, ga lama cuman dua hari kok," ujar Anisa berpamitan kepada Linda. "Kalian baik baik ya di sini."
"Iya Nis, kamu hati hati di sana," ujar Linda tersenyum ke arah Anisa.
"Sip," Anisa mengacungkan jempol kepada Linda, kemudian berjalan mendekat ke arah Atala. "Kak Nisa pergi dulu ya, kakak sehat sehat di sini ya."
"Anisa ke mana? Kenapa pergi?" Atala memandang wajah Anisa dengan kekhawatir.
"Nisa kerja kak, cuman dua hari habis itu balik lagi ke sini, Nisa beliin oleh oleh deh nanti," ujar Anisa membujuk Atala.
"Janji tidak lama?" Atala mulai berkaca kaca memandang wajah Anisa.
"Tidak tidak lama kok, kakak nurut ya sama Linda," ujar Anisa.
"Iya Atala menurut kok, Atala sayang sama Linda," ujar Atala membuat Anisa tersenyum.
"Nah begitu, Nisa pergi ya," ujar Anisa menyalami Atala.
"Iya," ujar Atala.
Sore menjelang, Atala tampak gelisa membua Linda mendekati Atala. "Kakak kenapa?"
"Nisa, Nisa kok belum datang ini kan sudah sore, dia janji tidak akan lama," ujar Atala terus memandang ke arah luar.
"Kakak, kakak makan dulu ya," Linda memberikan sepiring nasi untuk Atala. "Anisa kan perginya dua hari, dua kali tidur malam kita."
"Itu lama, Anisa bohong dengan Atala," ujar Atala cemberut.
"Tidak lama kok kak," ujar Linda membujuk.
Tiba tiba telfon Linda berdering membuat Linda segera mengangkatnya. "Nah kak ini Nisa."
......................
Linda baru saja selesai dengan kue kue yang akan di jualnya, barulah ia membangunkan Atala, dan membujuknya untuk segera mandi.
__ADS_1
Sekarang Atala sudah bisa untuk mandi meski di tunggui oleh Linda, Atala juga kerap kali panik jika tak melihat Linda di sekitarnya.
Warung kecil kecilan itu telah terbuka, beberapa warga sudah mulai berdatangan untuk membeli kue sarapan pagi, dan beberapa keperluan dapur.
"Jadi kalian tinggal berdua lah semalam," Linda tersenyum menanggapi ucapan ibu tersebut.
"Ya iyalah, orang Anisa pergi, si Retno ini ada ada saja lah," ujar ibu Ningsih menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kalian menikah saja lah, nanti malam terjadi sesuatu di antara kalian," usul ibu Retno.
"Ih mana mungkin lah, orang Atala masih sakit kok, ada ada sajalah ibu ini. Ngomong kok asal jeplak," ibu Ningsih menggeleng tak percaya.
"Kan antisipasi, nanti kan kita tidak tahu kedepannya bagaimana, nanti si Anisa menikah terus mereka tinggal berdua saja, kan gawat," ujar ibu Retno.
"Iya iya, terserah, ibu pulang dulu ya Linda," ibu Ningsih segera pamit.
"Ibu juga pulang dulu ya, pikirkan kata kata ibu Linda," ibu Retno juga ikut pamit.
"Iya Bu terimakasih banyak," ujar Linda tersenyum.
Tiba tiba seorang laki laki berjas datang ke hadapannya. Linda yang mengira itu adalah pelanggan tersenyum ramah.
"Iya ada apa ya pak?" Linda sedikit terkejut mendengarkan pertanyaan lelaki tersebut.
"Nona Anisa sedang berada dalam perjalanan, di pulangkan ke rumah besar tuan Atlas," jelas laki laki itu.
"Kenapa pak? Terjadi sesuatu?" Linda menjadi panik sendiri di buatnya.
"Ya mereka akan segera di nikahkan," jawabnya singkat.
"Hah kok bisa pak?" Linda semakin bingung dengan keadaan tersebut.
"Ada sesuatu hal yang tak bisa kami jelaskan," ujarnya. "Mari segera ikut dengan kami."
"Sebentar pak saya tutup dulu warungnya," ujar Linda bergegas memasukkan seluruh barang ke dalam rumah mereka.
"Linda, Linda kenapa?" Atala memandang Linda bingung.
"Ayo kak, siap siap," ujar Linda segera menarik tangan Atala.
__ADS_1
Linda segera mencarikan pakaian untuk Atala dan dirinya, setelah menemukan pakaian yang pas, meski sedikit kekecilan. Maklum saja badan Atala semakin tambun, akibat efek dari obat yang ia konsumsi.
"Ayo kak," Linda menggandeng tangan Atala agar segera berjalan sejajar dengan dirinya, laki laki itu membukakan pintu untuk mereka.
Beberapa warga yang tampa sengaja mendengar pembicaraan mereka kini mulai berbisik bisik. Mereka mulai menerka nerka kenapa Anisa tiba tiba di minta untuk menikah, apa Anisa melakukan sesuatu hal yang tak pantas?
"Tak bisa begini, sebaiknya mereka segera di nikahkan, dari pada nanti nama kita tercoreng. Memang Atala belum sembuh sepenuhnya, namun mereka itu laki laki dan perempuan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ujar salah satu di antara mereka.
"Iya benar, kita ajukan saja dengan pak Bambang, biar dia yang berbicara kepada Linda dan Atala," sambung yang lain.
Kembali lagi kepada Linda dan Atala, mereka telah sampai di kediaman Lyansi, mereka di sambut dengan baik, semua ramah terhadap mereka selama berada di rumah tersebut.
Setelah menunggu akhirnya Anisa datang dan langsung memeluk Linda dan Atala. Anisa bercerita tentang kronologi nya, sungguh membuat Linda antara tak percaya, kasih dan juga lucu.
Mereka harus menunggu delapan belas jam untuk menanti kepulangan salah satu anggota keluarga, yang berasal dari Dubai.
"Sah," seru semua orang sembari bertepuk tangan, Linda merasa terharu.
Doa yang terbaik untuk Anisa terus Linda panjatkan, berharap pernikahan sahabatnya akan menjadi pernikahan yang sakinah mawadah warahmah. Linda menggenggam tangan Atala erat ketika Anisa mencium tangan Atlas, dan Atlas kini mengecup puncak kepala Linda.
Linda dapat melihat wajah bahagia Atlas membuat Linda semakin terharu. "Kak Nisa kita akan segera bahagia," bisik Linda.
Tanpa di duga duga Atala menitihkan air matanya, sembari mengangguk. "Berarti Nisa akan meninggalkan kita ya?"
"Tidak kok, hanya saja sekarang dia punya suami," ujar Linda tersenyum ke arah Atala.
Lama mereka berkumpul bersama, akhirnya Linda pamit pulang. Takut Atala akan merasa tidak nyaman berada di sana. "Anisa kami pulang dulu ya, semoga kalian sakinah mawadah warahmah," ujar Linda memeluk Anisa. "Titip Anisa ya, semoga kalian akan bisa saling mencintai," ujar Linda kepada Atlas.
"Kakak dengarkan kata Linda ya, jangan macam macam, nanti Anisa akan datang setiap hari kok ke rumah," ujar Anisa kepada Atala. Hanya di angguki Atala.
"Terimakasih, mulai sekarang akau akan menjaga Anisa, kamu tidak usah khawatir," ujar Atlas kepada Atala.
......................
Mereka kembali ke rumah di antar oleh supir yang kini di titipkan menjadi supir mereka berdua. Namun ternyata pak Bambang telah menunggu mereka berdua.
"Ada apa pak?" Linda segera membuka kunci pintu rumah mereka.
"Saya ingin berbicara tentang kalian."
__ADS_1