
Linda saat ini baru saja selesai mengenakan pakaian rapinya, ia akan berangkat kerja. Linda segera keluar dan mengetuk pintu kamar Atala untuk mengatakan akan pergi bekerja. Linda mengetuk pintu secara perlahan.
"Kak Linda pergi dulu ya," Linda menunggu jawaban dari Atala namun tak ada satupun jawaban dari Atala. Linda mencoba menempelkan cuping nya, dan mulai mencoba menguping. "Kak Linda pergi dulu."
Tak ada suara, hening... Linda kembali memasang telinga, hingga Linda mendengar suara seperti sedang bercakap cakap, dan terkadang sedikit kekehan. Linda mencoba membuka pintu kamar Atala yang tak di kunci. Langkah terkejutnya Linda bahwa kamar Atala tak dapat pencahayaan dari mana pun, jendela di tutup gorden, dan lampu di matikan.
"Kak..." Linda mencoba mencari keberadaan Atala. Satu satunya cahaya berasal dari arah pintu yang Linda buka, namun Atala tak tampak di tempat tidur.
"Apa?" Atala mengejutkan Linda, yang ternyata tengah berada di sudut ruangan.
"Kak Linda pergi dulu, Anisa sebentar lagi akan pulang, kalau lapar sudah ada makanan di atas meja," ujar Linda masih bingung dengan tingkah Atala. Linda tahu bahwa Atala butuh seorang psikiater.
Atala tak menjawab hanya mengacuhkan ucapan Linda dan kembali membelakangi Linda menghadap ke arah tembok. Linda menghela nafas segera menutup pintu kamar tersebut. Linda kemudian berangkat kerja dan kembali pada rutinitasnya.
Linda bekerja pada sebuah kafe, sebagai pelayan, namun kali ini Linda sampai jam sebelas malam, pasalnya keadaan cukup ramai, ada yang mengadakan pesta di sana. Untung saja kafenya tak jauh dari gedung apartemen Atala. Dan Jakarta memang kota yang tak pernah tidur, karena itu bahkan hingga jam sebelas saja masih banyak orang yang berada di luar rumah.
Linda saat ini tengah sibuk mengantar makanan, mereka harus menyelesaikannya sebelum pesta di mulai, tampak salah satu teman pemilik pesta telah datang untuk mengawasi.
"Apa semua baik baik saja? Kalian mengerjakan dengan bagus," ujar laki laki yang berhasil membuat Linda dan teman temannya terkejut.
"Eh maaf, anda siapa?" Linda membalikkan tubuhnya segera.
Laki laki itu tampak tersenyum ke arah Linda. "Ah perkenalkan saya Billi," ujar Billi tersenyum ke arah Linda.
"Ah iya tuan, sebentar lagi selesai, ini sudah tahap akhir. Saya rasa ini akan selesai," ujar Linda membalas senyum laki laki itu.
"Ah jangan terburu buru, saya hanya datang untuk memeriksa karena saya yang merekomendasikan tempat ini untuk teman saya," ujar Billi memasukkan tangan ke dalam saku celana. Billi mengepalkan tangannya, tak menyangka bahwa Linda akan secantik ini dari dekat. Terakhir kali ia bertemu Linda di apartemen Atala ketika menemani Yanti untuk menjemput putranya.
Dan sejujurnya Billi bersyukur jadi tidak usah di susahkan oleh Putra, setelah mengetahui anak itu meninggal. Namun Billi lebih tertarik pada Linda yang saat itu menampar wajah Yanti, dan mengancam Yanti, hingga berhasil mempropokasi emosi Yanti.
"Hm baiklah kalau begitu saya permisi," ujar Linda segera beranjak dari tempatnya. Jujur saja Linda tak suka cara laki laki itu memandang dirinya, rasanya laki laki itu tengah me*be*la*njagi nya.
__ADS_1
Sekali lagi Billi tersenyum, tampaknya mendapatkan gadis itu membutuhkan tantangan, dan Billi suka hal tersebut. Billi menjadi lebih tertarik dengan Linda. "Menarik," gumamnya kemudian beranjak.
......................
Di sebuah kamar yang gelap seorang laki laki sibuk memainkan jari jemarinya, memandang ke arah dinding kamar mandinya, tersenyum sembari tertawa. Laki laki itu tampak bercengkrama memainkan kakinya. sesekali memeras selimut.
Laki laki itu kemudian berjalan menuju almari, mengambil gunting beberapa album foto. Laki laki itu mulai mengguntingnya.
"Putra ini putra, nanti ku gantung di sini saja fotonya," ya laki laki itu adalah Atala. Ia tengah duduk sembari kembali menggantung foto tersebut dengan sebuah penjepit kertas.
"Bagus, mungkin akan terlihat lebih bagus lagi."
"Iya Jhon, kamu senang ya?" Atala memandang ke arah tempat tidurnya.
Tampak seorang anak kecil duduk dengan mengayun ayun kan kakinya di bibir tempat tidur. Anak itu mengangguk membenarkan kata kata dari Atala.
"Untung saja ada kamu, mereka semua tidak percaya padaku, masa kamu di bilang tidak ada," lanjut Atala telah selesai menggantung foto Putra.
"Sudahlah kalau mereka ngomong tidak usah di hiraukan, mereka sama seperti Bram. Yang terpenting aku percaya pada mu, dan akan selalu begitu."
"Tentu saja Putra mengirim ku untuk menemani mu."
"Iya kau memang anak yang baik, kau akan menjadi anak ku, meski mereka tak mengerti hal tersebut," ujar Atala mengusap kepala anak kecil yang bernama Jhon, anak itu begitu nyata di hadapannya sehingga tak terima ketika Linda mengatakan bahwa Jhon itu tidak ada.
Perut Atala keroncong. "Aku keluar dulu, aku lapar."
"Nanti kesini lagi ya."
"Iya."
Anisa tampak tersenyum kearah Atala, ketika kakaknya itu keluar dari kamarnya, meski Atala memasang wajah datar ke arah Anisa. Anisa tidak sedih apalagi sakit hati, Anisa tahu kakaknya tidak baik baik saja, Anisa hanya merasa kasihan sungguh sangat besar musibah yang mengenai kakaknya.
__ADS_1
"Kakak mau makan?" Anisa berjalan menghampiri Atala. Atala tak merespon hanya mengambil makanan dan segera berjalan menuju kamarnya. Anisa menghela nafas melihatnya. "Nisa kangen kakak yang dulu, tapi tidak apa, nanti Nisa cari duit yang banyak untuk mengobati kakak."
Anisa segera mengambil makanannya dan segera duduk di atas meja makan, menikmati makan malam sendirian lagi. "Linda masih lama ya?" Anisa sedikit tidak berselera untuk makan malam. Selesai makan Anisa segera bersiap untuk tidur.
Linda masuk ke dalam apartemen Atala tepat jam setengah sebelas, Linda masuk dengan mendapati Atala tengah berada di meja makan, Atala tampak makan cemilan yang Linda letakkan di kulkas kemarin. Linda mendekat ke arah Atala.
Atala yang menyadari kehadiran Linda segera memandang ke arah lain. "Dia tidak mempercayai mu, aku yakin dia hanya akan berdebat dengan mu."
"Iya Jhon benar, dia menganggap ku pembohong," desah Atala tak ingin memandang ke arah Linda.
"Kakak kamu masih marah sama aku? Aku minta maaf deh, ini aku bawain makanan untuk kakak deh, sebagai permintaan maaf Linda," ujar Linda meletakkan sisa makanan yang di ambil dari pesta ulangtahun pengunjungnya tadi.
"Kamu percaya sama kakak?"
Linda dengan ragu mengangguk.
"Linda kamu ngapain bawa dia?" Atala memandang ke arah belakang Linda.
"Hah? Siapa kak?" Linda panik sendiri.
"Jangan jangan kamu ngikutin Linda ya?"
.
.
.
.
Hai teman teman bagi yang ingin bertanya silahkan tanya sebanyak banyaknya di kolom komentar, jika othor mampu menjawabnya othor akan menjawabnya. Terimakasih.
__ADS_1
othor rasa othor akan istirahat ya, soalnya othor harus sedikit istirahat dalam beberapa hari kedepannya kerena pisik dan psikisnya harus rest dulu ya.
Like and comment guys, serius buat cerita ini susah minta ampun ampunan, karena jujur saja buat novel ini harus mikir selama lima bulan baru benar benar di bulatkan tekatnya. Belum lagi mencari informasi dan menggali setiap narasumber yang sudah sembuh dengan penyakit ini. Dari pihak keluarga yang menjaganya, dan lain lagi. Jadi tolong berkomentar apa saja, karena sesungguhnya ini berat mikirnya guys.