
Linda sedang terburu buru hendak kembali ke rumahnya, ia mengkhawatirkan Atala. Takut Atala panik ketika melihat orang baru di rumahnya. Namun Linda lebih panik ketika Atala mengamuk karena tidak menemukan dirinya dan Anisa di rumah.
Namun mau di kata apa, kini Linda bertepatan dengan kepulangan anak sekolah, sehingga jika melewati beberapa sekolah, ia harus lamban karena kendaraan sangat ramai. Untung saja dirinya tidak bertepatan dengan jam pulang kantor. Jika ia maka dipastikan dirinya akan sangat lamban.
Sementara di rumah Atala merasa lapar, segera ke arah dapur. Belum lagi suara berisik dari arah pintu membuatnya sakit kepala. Atala memandang ke arah pintu sebentar dan melihat dua orang tengah melakukan sesuatu.
Atala kemudian menuju dapur mencari Anisa dan Linda. Tadi seingatnya Linda memintanya menunggu, namun perasaannya telah lama dan Linda tak kunjung datang. Sementara Anisa, tadi dia memang lupa untuk pamit terlebih dahulu, sehingga membuat Atala terus mencarinya.
Atala menuju ke pintu depan, masih terdengar ada suara dua orang laki laki yang tengah bercakap cakap. Atala mulai panik, takut orang tersebut yang mengambil Linda dan Anisa. Atala segera kembali ke dapur mencari benda yang dapat menyerang kedua orang tersebut, untuk kembali mengambil Linda dan Anisa, yang menurut Atala di culik oleh mereka berdua.
"Sudah, coba tutup," ujar salah satu di antaranya.
Namun tiba tiba Atala muncul dari arah dalam membuat mereka memandang bingung ke arah Atala. "Kenapa misteri? Mencari mba yang tadi? Pergi kerja dia."
Salah satu di antara mereka melihat gelagat Atala yang aneh, segera menyikut temannya. "Misteri itu aneh, dia bawa garpu gitu, kayak mau nyerang kita."
Benar saja, setelah laki laki itu mengatakan hal tersebut, Atala segera berlari ke arah mereka. Untung saja pintu tralis tertutup. Sehingga Atala tak dapat menjangkau mereka berdua.
"Kembalikan Linda dan Nisa..." teriak Atala membuat keduanya bingung. "Cepat kembalikan Linda...."
Teriakan Atala mengundang perhatian beberapa tetangga, mereka segera berkumpul di depan rumah tersebut, dan melihat wajah tampan yang tertutup rambut gondrong tersebut terus berteriak meminta Linda dan Anisa di kembalikan.
Tepat saat tengah ribut seperti itu, sementara Atala berada di dalam rumah, di kurung di balik tralis. Linda datang bak pahlawan yang siap menumbangkan musuhnya. Linda segera memarkirkan motornya di halaman, memecahkan fokus warga yang berkumpul.
"Ada apa?" Linda tampak panik mendapati kedua orang asing tengah melihat ketakutan ke arah Atala. Laki laki itu bahkan masih memegang kunci tralis.
__ADS_1
"Ini mbak, tiba tiba mister itu mengamuk," ujar salah satunya, membuat Linda segera mendekat.
"Kak ini aku Linda," ujar Linda mendekat ke arah tralis.
Benar saja setelah mendengar suara Linda, Atala segera berhenti dari tantrum nya, membuat Linda bernafas laga. Linda segera membuka pintu dengan pelan membuat Atala senang karena merasa Linda ada di dekatnya.
"Mohon maaf bang saya membawa kakak saya ke kamar dulu, Abang tunggu saja di teras dulu bang," ujar Linda segera membawa Atala ke dalam kamar.
Selama di dalam kamar, Linda segera mendudukkan Atala di bibir tempat tidur, "Linda... Linda... Linda," Atala terus bergumam mengusap wajah Linda.
"Iya kak ini Linda," ujar Linda segera merangkum wajah Atala. "Kakak tenang ok."
"Hm... Linda," Atala hanya mengangguk lagi lagi hanya menyebut nama Linda saja.
"Kakak lapar? Kakak belum makan kan? Tadi Anisa mengatakannya sebelum berangkat kerja," ujar Linda membuat Atala mengangguk.
"Tidak tidak, Anisa tidak di ambil, Anisa hanya pergi ke tempat kerjanya, nanti malam akan pulang," jelas Anisa tak ingin Atala kembali tantrum. "Ya sudah aku keluar dulu ya kak, mau melihat pekerja tralis itu dulu."
Linda segera menjauh berjalan ke arah pintu. Namun kembali Atala membuatnya menghentikan langkahnya.
"Linda... Linda," Atala memandang ke arah Linda membuat Linda bingung, Linda segera mendekat kembali ke arah Atala.
"Kenapa kak?" Linda mengerutkan keningnya bingung dengan Atala.
Tiba tiba Atala berdiri mengecup puncak kepala Linda. "Lakukan juga," ujar Atala membuat Linda tersenyum.
__ADS_1
Linda segera mengecup puncak kepala Atala. "Jangan minta kepada siapa pun ya, hanya Linda saja," biarlah dikatakan egois dan memanfaatkan situasi. Tapi Linda memang mencintai Atala, bahkan di saat Atala masih memiliki Yanti. Namun Linda harus sadar diri bahwa Atala memiliki pasangan, jadi harus mengubur perasaannya saat itu, karena saat itu perasaan tersebut salah.
Namun saat ini berbeda, Atala sendiri. Jadi dia bisa mengepresikan rasa cintanya, meski terkesan memanfaatkan situasi. Jika memang Atala setelah sembuh tak mencintai nya, maka biarlah ia akan pergi. Karena baginya mencintai bukan untuk memiliki, namun melihatnya bahagia akan membuat mu bahagia. Itulah selama ini yang di rasakan oleh Linda ketika melihat Atala bahagia dengan keluarga kecilnya. Bohong jika ia tak cemburu, namun ia tak memiliki hak untuk cemburu, biarlah perasaannya hilang seiring waktu pikirnya. Tapi semua justru cinta tetap bertahan hingga saat ini.
Linda keluar menemui kedua pekerja tersebut. "Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya, kakak saya sedang sakit saat ini," ujar Linda merasa tidak enak.
"Ya sudah kami pergi dulu mbak, untuk yang tadi tidak apa apa," ujar salah satunya telah menyimpulkan seluruh peralatannya.
"Iya bang terimakasih banyak, berapa ya bang?" Linda segera merogoh kantong di dalam tasnya.
"Tidak tidak usah mbak, tadi sudah di bayar oleh ibu rt. Oh ya kuncinya tergantung di pintu ya mbak, kami permisi."
"Iya bang mohon maaf, terimakasih banyak sekali lagi," ujar Linda segera berjalan ke arah teras. Mengantar kedua pemuda yang tengah menaiki motor dan meninggalkan halaman mereka.
Saat berbalik badan tiba tiba Atala muncul di belakangnya, dan mengejutkan Linda. "Kakak, kenapa di sini?"
"Linda mau kemana?" Atala segera mendekat ke arah Linda.
Warga yang melihat hal tersebut memandang iba ke arah Atala, sungguh kasihan. Kehilangan anak dan di tinggalkan istri yang memilih selingkuhannya, sungguh sangat membuat Atala menderita sakit jiwa seperti ini.
"Ayo ke dalam kak, kita makan dulu bari minum obat," ujar Linda segera menuntun Atala ke arah dapur.
Sesampainya di dapur Linda meminta Atala untuk segera duduk dan Linda mengambil makanan untuk mereka berdua.
"Kak mau di suapi?" Linda berujar sembari membuka bungkusan makanan mereka.
__ADS_1
Atala mengangguk, segera mendekat ke arah Linda. Linda mengusap lengan Atala kemudian mulai menyuapi Atala dengan lembut. Atala membuka mulutnya dan tersenyum ke arah Anisa.
Kini bibir Atala sudah mulai tersenyum hari ini sudah beberapa kali ia tersenyum. membuat Linda senang.