
"Anak ku masuk ke rumah sakit tadi pagi, dokter memvonisnya kanker otak stadium emoat, Sementara dokter mengatakan bahwa hidupnya kemungkinan hanya bertahan selama beberapa bulan kedepan. Bisa kah saya meminta agar kepergian saya keluar negri di batalkan? Saya sangat mengkhawatirkan putra saya, saya telah kehilangan banyak momen selama ini dengannya," Atala memandang ke arah tuan Chris dengan tatapan memohon.
Tuan Chris menghela nafas, dirinya juga pernah merasakan kehilangan anak, itu pasti sangat menyakitkan. Tuan Chris memandang iba ke arah Atala, terlihat jelas raut wajah khawatir di mata Atala. "Rawatlah anak mu, aku akan memberikan mu cuti, satu bulan. Aku tak bisa terlalu lama, karena kami juga membutuhkan jasa mu di sini," ujar tuan Chris. "Maaf aku hanya mampu memberikan mu satu bulan, aku harap kau mampu mengerti akan hal tersebut."
"Tidak tuan, itu sudah lebih dari cukup. Aku sangat berterimakasih," ujar Atala menghapus air matanya.
"Kau harus kuat di hadapan anak mu. Aku mengerti perasaan mu, aku juga telah kehilangan anak kedua ku. Ini pasti berat untuk mu," ujar tuan Chris mencoba menghibur Atala.
"Terimakasih banyak, saya harus kembali," ujar Atala segera pamit, tuan Chris hanya memandangnya dengan pandangan iba.
......................
Anisa baru saja sampai di rumah sakit dengan membawa ransel di punggungnya. Anisa segera masuk dan ke dalam ruangan memandang wajah Putra yang pucat.
"Putra kenapa?" Anisa segera mendekat ke arah keponakannya, mengecup puncak kepalanya.
"Kata dokter kecapean," ujar Linda mengedipkan matanya, memberi kode kepada Anisa agar tak bertanya lebih lanjut.
"Oalah ponakan tante lagi kecapean? Berarti harus istirahat yang banyak dong," ujar Anisa mengusap lembut kepala Putra.
"Tate bawa apa?" Putra melihat ke arah bawaan Anisa.
"Baju tante Linda sayang," ujar Anisa. "Memang Putra mau apa?"
"Mau mainan, kalau di sini terus Putra bosan," ujar Putra cemberut, ia merasa tubuhnya hanya sakit sedikit, dan mulai merasa bosan berbaring di atas tempat tidur. Padahal biasanya Putra adalah anak yang aktif.
"Nonton aja gimana?" Linda mencoba menawarkan hal lain kepada Putra. "Nanti sambil nonton kita telfon papa supaya beliin Putra mainan, gimana? Mau?"
"Hm iya deh, tapi Upin Ipin ya," ujar Putra.
"Ya sudah, tante cariin dulu ya," ujar Linda segera membuka aplikasi YouTube di tv, yang ada pada smart tv.
__ADS_1
Putra mengangguk dan melihat ke arah tv dengan antusias, Linda memutar video yang di inginkan oleh Putra.
"Linda tolong dong, ini," Anisa memanggil Linda agar mendekat.
"Ya kenapa?" Linda memandang Anisa bingung, pasalnya Anisa saat ini tengah membuka laptopnya.
"Putra kenapa? Sakit apa?" Anisa ternyata hanya ingin menanyakan tentang keadaan Putra.
"Putra sakit kanker otak stadium empat, dokter memvonis bahwa hidup putra hanya bertahan beberapa bulan saja," ujar Linda mencoba menahan air matanya agar tidak keluar. Anisa menutup mulutnya tak percaya, bagaian mungkin anak sekecil Putra diberi ujian seberat itu. Anisa diam tak mampu berbicara, sehingga di antara mereka hanya ada suara televisi yang terdengar.
"Tante mau makan," ujar Putra di sela sela suara televisi yang menggema.
"Makan apa sayang?" Anisa segera mendekat dan mengusap lembut kepala Putra.
"Makan ayam goreng tante, mirip Upin Ipin," ujar Putra tersenyum ke arah Anisa.
"Nis aku ganti baju dulu ya," ujar Linda dari arah belakang, Linda hendak berjalan menuju kamar mandi.
"Iya sudah mau berangkat, sebentar lagi jam dua, udah mau masuk," ujar Linda segera menutup pintu kamar mandi.
"Ya sudah aku pergi dulu ya, kamu ga makan dulu?" Anisa menoleh ke arah kamar mandi.
"Ga di sana aja," ujar Linda di balik kamar mandi.
"Ya sudah Putra tante pergi dulu ya, nanti kalau ada apa apa langsung hubungi dokter saja ya," ujar Anisa mengecup puncak kepala putra. Putra hanya mengangguk menikmati tontonannya.
Sekitar lima menit Linda di dalam Linda keluar dari kamar mandi dan telah memakai pakaian kerja, kemudian menyambar jaketnya, dan mengenakannya. Linda tersenyum ke arah Putra kemudian mengecup pipinya.
"Tante pergi dulu ok, ini kalau ada apa apa langsung hubungi papa kamu atau tante Nisa," Linda membuka kontak ponselnya dan mengganti nama Anisa dengan tante Anisa. "Nah kalau ini mau menghubungi tante Nisa," Linda kembali mengganti nama Atala menjadi papa. "Ini kalau mau menghubungi papa."
"Iya tante, terus tante ga punya hp dong," ujar Putra bingung.
__ADS_1
"Tempat kerja tante dekat kok, paling kalau jalan kaki lima menit dari sini," ujar Linda sekali lagi mengecup puncak kepala Putra. "Ya sudah dada."
Linda segera berjalan keluar dari ruangan rawat inap Putra dan menutup kembali pintu kamar tersebut. Linda segera berlari menuju tempat kerjanya yang hanya berjarak beberapa blog dari rumah sakit.
......................
Lama Putra menunggu makan siangnya, pintu terbuka membuat Putra memandang ke arah pintu dengan berbinar. Namun Putra kembali cemberut setelah melihat ternyata papanya lah yang masuk.
"Lah putra kenapa?" Atala bingung melihat anaknya cemberut.
"Kan Putra nunggu tante Nisa bawa makanan," ujar Putra masih mode cemberut. Putra segera membuka ponsel Linda dan menghubungi Anisa.
"Loh Putra itu punya tante Linda kok dengan kamu?" Atala bingung melihat ponsel Linda bersama dengan Putra.
"Iya tante Linda bilang untuk nelfon papa sama tante Anisa," ujar Putra tersenyum karena sambungan telfonnya telah di jawab oleh Anisa.
"Halo Lin, kenapa?"
"Tante ini Putra, tante masih lama ya?" Putra cemberut dari ujung sana.
"Oalah ini sebentar lagi sampai, lah kok hp tante Linda dengan kamu?"
"Katanya untuk nelfon papa sama tante," ujar Putra tersenyum karena tampak pintu terbuka dengan suara Anisa. Putra segera meletakkan ponsel Linda dan bersorak gembira. "Yey Ayam goreng putra."
Atala menggeleng melihat tingkah putranya, setidaknya Atala masih dapat melihat kebahagiaan putranya. Atala segera mencuci tangannya dan mengambil alih belanjaan dari Anisa. Anisa kembali duduk dan mengerjakan tugas akhirnya. Atala segera menyuapi anaknya makanan.
"Pa, mama kemana sih? Ga sayang lagi ya sama Putra, mama semenjak punya teman suka marah marah sama Putra," ujar Putra memandang lekat wajah Atala.
Seketika Atala membeku, karena ini membuktikan bahwa Yanti sering membawa selingkuhannya ke apartemen mereka, dan Putra yang masih kecil tentu saja tidak mengerti arti hubungan mereka.
Sama halnya dengan Atala, Anisa juga seketika diam mendengar penuturan Putra terlebih melihat ekspresi wajah Atala. Anisa semakin yakin bahwa badai sedang menerpa rumah tangga kakaknya. Dan dari cerita Putra ini lah Anisa yakin kakak iparnya sedang bermain api di belakang kakaknya.
__ADS_1