I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Istirahat


__ADS_3

Suara tangisan dari bibir Atala nyaris tak terdengar, Atala pastinya sangat terpukul pasca kehilangan anaknya. Satu satunya penyemangat di dalam hidupnya. Di dalam pikiran Atala masih teringat bagaimana mereka menghabiskan waktu berdua, mereka sangat bahagia namun kini takdir memisahkan mereka.


Atala menggigit bibirnya melihat sebuah kain menutupi anaknya. Atala di minta untuk memandikan anaknya, Atala hanya manut, pikirannya seakan melayang kemana mana, namun raganya berada di sini.


Setelah mengantar Putra ke peristirahatan terakhirnya, Atala segera masuk ke dalam kamar, di mana kamar itu biasa di tempati oleh Linda. Atala memandang langit langit kamar tersebut, pikirannya entah kemana tatapannya kosong, air matanya terus menetes. Tak pernah menyangka dan menginginkan hari ini akan terjadi.


Dari luar Anisa dan Linda terus mengetuk pintu, meminta Atala membuka pintunya, namun semua sia sia. Atala seakan tuli tak mendengarkan apa apa, hanya ada berbagai macam suara yang tak ia hiraukan.


"Dasar tidak berguna hanya menjaga satu anak saja tidak bisa," Atala hanya diam, dirinya membenarkan kata kata tersebut.


"Seandainya kau lebih bersabar lagi, dan tak marah marah," kembali tetesan air mata jatuh di pelupuk matanya. Atala kembali teringat bagaimana dirinya membentak Putra hanya karena menanyakan keberadaan mamanya.


"Sudahlah di mana ada kehidupan pasti ada kematian."


"Iya, tapi tetap saja dia itu titipan Tuhan."


"Iya, seandainya dia menjaganya baik baik."


"Itu takdir sudahlah."


"Jangan berisik di sedang sedih."


"Itu karenanya."


"Dengar ada yang mengetuk pintu."


"Buka lah."


"Jangan nanti mereka hanya menyalahkan mu."


"Tidak mereka mengkhawatirkan mu."


"Buka saja pasti mereka ingin bertanya keadaan mu."


"Tidak!"

__ADS_1


"Jangan!"


"Bodoh!"


"Buka!"


"Iya ayo buka pintunya!"


"Di bilang jangan!"


Kepala Atala seakan mau pecah mendengar suara suara yang tak terlihat tersebut, namun tiba tiba Atala memandang ke arah kaca jendela, dan Atala melihat seseorang yang yang tertawa ke arahnya. Atala terkejut bukan main.


"Aaa..."


Suara teriakan Atala membuat Linda dan Anisa panik, mereka semakin menggedor pintu kamar tersebut, Linda mengingat ada kunci cadangan di laci meja tv, Linda segera mencarinya dan menemukannya. Linda segera membuka pintu, dan mendapati Atala tengah berada di bawah selimut. Mereka pikir Atala tengah menangisi anaknya. Kedua wanita itu segera memeluk Atala.


"Kakak masih ada kami di sini, kakak tidak sendirian," ujar Anisa dari arah belakang.


"Iya kakak ayo buka selimutnya," Linda membuka selimut Atala perlahan dan mendapati Atala yang tengah menangis, laki laki itu pasti sangat sakit pikirnya.


Di sisa hari mereka hanya menghabiskan waktu bertiga, saling menguatkan diri. Menjelang magrib ketiganya bersiap siap mempersiapkan pengajian tahlilan untuk Putra, mereka menggunakan jasa catering untuk makanan dan minumannya. "Ayo kak mandi dulu, sebentar lagi orang orang akan berdatangan."


"Kami turut berduka cita, semoga kalian kuat," ujar tetangga yang berdatangan untuk acara tahlilan kepada mereka bertiga. Sungguh tetangga sekitar telah paham dengan bagaimana hubungan mereka.


......................


Satu tahun berlalu, Atala masih bekerja di perusahaan ia tak produktif seperti dulu, namun orang orang mencoba memahaminya. Memang begitu di tinggal oleh orang yang begitu kita sayangi.


Namun banyak hal yang berubah dalam suatu kejadian, Atala bertingkah aneh. Terkadang berbicara sendirian, awalnya mereka pikir Atala memiliki kekasih dan sedang bertukar pesan. Namun setelah di perhatikan Atala tidak melakukan apapun, ia hanya tampak tengah berkomunikasi dengan seseorang. Lalu mereka menyimpulkan bahwa Atala memiliki Indra keenam, seperti para anak indigo lainnya.


Berita ini sampai di telinga tuan Chris yang mengerti keadaan Atala, dirinya juga sempat setres karena menyalahkan diri sendiri ketika anaknya El Bram hilang. Tuan Chris segera memanggil lelaki yang bergelar duren tersebut. Tuan Chris tak akan memecatnya, namun memintanya untuk beristirahat hingga waktu yang di perlukan.


"Ada apa pak?" Atala duduk di hadapan tuan Chris.


"Aku tahu kau pasti sangat terguncang, aku memahami posisi mu. Dan aku meminta maaf, sementara kau ku istirahatkan dulu, hingga waktu yang di tentukan, aku ingin lelaki yang berprestasi seperti mu beristirahat sejenak, dan menata hidup mu," ujar tuan Chris.

__ADS_1


"Saya di pecat?" Atala memandang tak percaya pada tuan Chris, dirinya merasa tak melakukan apa pun.


Tuan Chris menggeleng. "Tidak, kau hanya istirahat. Aku ingin kau memulihkan kondisi mu dulu."


"Aku sehat kok," ujar Atala tak terima.


"Iya tapi bagian lain yang tidak, sudah lah kau pulang lah dan istirahat," ujar tuan Chris mengusir Atala dengan hati hati. "Nanti akan ku hubungi setelah kau sembuh, dan kau siap di tempatkan di posisi ini lagi."


Atala yang telah salah paham keluar dengan kesal segera mengemasi barangnya, ia merasa kini kembali di buang. Semua orang terdiam, Atala keluar dari kantor tersebut dengan mengendarai mobilnya. Hingga di simpang empat, Atala berhenti di trotoar karena melihat seorang anak laki laki tengah duduk sendirian. Atala mengira itu adalah Putra. Atala menghampirinya. Atala akan membawanya pulang.


"Putra, ayo pulang nak. Papa kangen sama kamu," ujar Atala segera menarik lengan anak tersebut.


Anak tersebut tentu saja terkejut, ia mengira akan di culik segera meronta ronta tak ingin ikut dengan Atala. "Om siapa? Om aku ga mau!"


"Putra kamu kok jahat sama papa, papa sayang loh sama kamu. Papa minta maaf kalau pernah bentak Putra kemarin di rumah sakit, papa minta maaf," ujar Atala merasa kesal Putra karena tak di dengarkan.


"Ga mau, om siapa?"


Tiba tiba seorang wanita cukup muda keluar dan mencari anaknya. Melihat laki laki asing memaksa anaknya ikut dengannya membuat ibu muda itu histeris. "Tolong ada ada yang menculik anak saya," ibu itu menunjuk ke arah Atala dan anaknya.


Teriakan itu membuat semua orang memandang ke arah ibu yang tengah berlari menghampiri anaknya dan Atala.


"Enak saja dia anak ku, Putra. Kau jangan mengaku ngaku," putra ngotot kepada ibu itu.


"Tolong penipu," ibu itu panik dan menangis. Anak yang mereka tarik pun menangis mencoba melepaskan diri dari Atala.


Atala dengan sigap menggendong anak itu namun segera di halangi oleh pemuda di sana. Mereka segera merebut anak tersebut dari Atala. Setelah berhasil merebut anak tersebut, pemuda itu ramai ramai mengeroyok Atala yang di saat ini sebagai tersangka dalam penculikan anak. Atala terus melawan, tubuh jangkungnya masih berusaha merebut anak tersebut.


"Lepas jangan mengambil anak ku!" teriak Atala emosi dirinya masih berusaha menjangkau anak kecil yang di anggap Putra.


.


.


.

__ADS_1


.


Like and comment guys, serius buat cerita ini susah minta ampun ampunan, karena jujur saja buat novel ini harus mikir selama lima bulan baru benar benar di bulatkan tekatnya. Belum lagi mencari informasi dan menggali setiap narasumber yang sudah sembuh dengan penyakit ini. Dari pihak keluarga yang menjaganya, dan lain lagi. Jadi tolong berkomentar apa saja, karena sesungguhnya ini berat mikirnya guys.


__ADS_2