I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Rumah sakit


__ADS_3

Sesampainya mereka di rumah sakit jiwa, Atala terkejut ia merasa di bohongi, belum lagi ia merasa tidak percaya. "Apa apaan ini?! Kenapa saya di bawa ke rumah sakit jiwa?"


Atala terus memberontak hingga akhirnya mereka tidak punya pilihan lain selain memborgol Atala. Atala terus memberontak membuat polisi sedikit kewalahan. Salah satu dari polisi itu geram akhirnya memukul tengkuk Atala hingga tak sadarkan diri.


Mereka segera membawa Atala untuk segera masuk ke dalam salah satu ruang rawat inap di rumah sakit jiwa. Linda mendaftarkan Atala di ruang rawat yang biasa, pasalnya ia tak tahu nomor PIN ATM Atala, belum lagi Linda takut uangnya tak cukup untuk Atala. Sesampainya di kamar rawat, Linda meminta petugas agar mengikat Atala, agar laki laki yang tengah pingsan tersebut tidak memberontak.


"Pak kenapa kakak saya bisa pingsan?" Linda bertanya hati hati kepada polisi, saat mengantar mereka keluar dari ruang rawat inap Atala.


"Oh tadi itu dia saya pukul tengkuknya, agar tidak memberontak, jadilah dia pingsan," ujar polisi tersebut santai. "Tapi kamu tenang saja, sebentar lagi kakak kamu akan sadar.


"Iya pak sekali lagi saya berterima kasih," ujar Linda memaklumi perlakuan polisi tersebut kepada Atala. Linda segera berjalan kembali ke arah mobilnya guna mengambil, sebuah selimut dan bantal yang tadi dibekalkan Anisa kepada dirinya.


Linda meletakkan bantal dan di bangku kosong di depan ruangan Atala, kemudian mengenakan selimut yang lumayan lebar sehingga Anisa melipatnya menjadi dua. Anisa mulai menutup matanya, hingga sebuah teriakan mengejutkan dirinya.


"Aaaaa.... apa apaan ini? Ayo lepaskan aku, Ki tidak gila, aku baik baik saja..." Atala berteriak dari dalam kamar pasca telah sadar dari pingsannya.


Linda yang terkejut segera terbangun, beberapa petugas laki laki yang berjaga malam segera mendekat ke arah kamar Atala, bagi mereka ini sudah biasa terlebih untuk pasien baru, yang belum menyadari bahwa dirinya tengah sakit dan butuh pengobatan. Linda yang ingin masuk segera di tahan oleh beberapa petugas membuat Linda mengurungkan niatnya. Linda terus mengintip di balik pintu yang terdapat kaca bening di sana.


Petugas sedikit kewalahan dengan Atala yang terus memberontak dan ingin dilepaskan. Petugas itu kembali harus menyuntikkan obat penenang kepada Atala.


"Bagaimana keadaan kakak saya?" Linda memandang lekat ke arah petugas.


"Pasien baik baik saja, hanya saja pasien saat ini sudah kami beri obat penenang dosis rendah. Setelah pasien bangun kami akan kembali dan mengecek keadaan pasien, jika pasien terbangun tidak ada petugas, silahkan pergi ke meja resepsionis. Anda tidak di izinkan mendekati pasien, kami khawatir akan terjadi sesuatu kepada anda," ujar petugas tersebut menjelaskan dengan detail.

__ADS_1


"Baik, jadi kapan dokter akan datang?" Linda memandang penasaran ke arah petugas tersebut.


"Mungkin sekitar sembilan pagi, pasalnya dokter biasanya akan berkumpul dahulu sebelum bertugas," ujar petugas tersebut.


"Baiklah terimakasih banyak," ujar Linda memijat pangkal hidungnya. Sebenarnya Linda sudah pusing, kepalanya terasa berdenyut. Bangun tiba tiba membuatnya merasakan sakit kepala.


Tiba tiba ponselnya berbunyi, menampakkan Anisa yang menelfon nya. Pasti sahabatnya itu tengah mengkhawatirkan Atala.


"Halo," sapa Linda setenang mungkin, ia tak ingin sahabatnya khawatir dengan keadaan Atala, yang saat ini tengah tenang. Linda tak ingin Anisa tak bisa tidur. Anisa harus bangun pagi pagi sekali, pasalnya Anisa akan masuk pagi.


"Bagaimana keadaan kakak? Apa dia mengamuk?" Anisa terdengar sangat khawatir di ujung sana, bahkan sapaan dari Linda saja ia abaikan.


"Iya kakak baik baik saja, saat ini sedang tertidur, dia tidak mengamuk. Karena tadi sudah diberi obat penenang, besok sekitar jam sembilan dokter akan memeriksa kakak," jelas Linda tak ingin Anisa menjadi khawatir.


"Iya aku sudah tidur tapi terbangun karena ingin pipis," bohong Linda.


"Ya sudah aku tutup dulu ya, kau harus tidur."


"Iya aku tutup dulu, assalamualaikum," ujar Linda menutup telfonnya dan kembali menyelimuti tubuhnya, hendak kembali tidur.


Tepat setelah tiga jam, tepatnya jam lima pagi Atala kembali mengamuk, Linda kembali terbangun. Linda segera mencari perawat untuk menangani Atala. Lida terus memperhatikan Atala dari luar.


Iba?

__ADS_1


Sudah pasti!


Linda tak tega melihat pemilik wajah tampan tersebut terus memberontak, meminta untu di lepaskan, meraung dan berteriak mengatakan bahwa dirinya tidak gila. Tanpa terasa air mata Linda jatuh, ia tak kuasa lagi menahan air matanya. Linda benar benar tak menyangka bahwa masalah hidup Atala akan membawanya dengan keadaan yang sememprihatinkan itu. Linda menutup mulutnya memilih untuk berjongkok di depan pintu kamar Atala. Linda sudah tak kuasa menyaksikannya.


Seorang perawat mendekat dan memberikan sebotol air mineral untuk Linda, perawat tersebut iba melihat Linda berjongkok hampir lima menit di depan pintu membekap mulutnya, dan menangis tersedu sedu.


"Ini adalah jalan Allah, semoga pasien menjadi lebih baik. Banyak banyak berdo'a agar pasien segera diberikan kesembuhan. Meski membutuhkan waktu yang cukup lama," ujar perawat tersebut menepuk pundak Linda, kemudian meninggalakan gadis itu.


Linda masih sesegukan menghapus air matanya, benar yang dikatakan perawat tadi, ini adalah jalan Allah. Yang terpenting dirinya dan anisa selalu ada untuk Atala, mungkin saja semua akan baik baik saja. Atala hanya harus tahu bahwa mereka masih ada, mereka menyayangi Atala. Dan Atala tidak sendirian.


Linda duduk menunggu petugas keluar, benar saja tak butuh waktu lama petugas keluar dari ruangan Atala, tampak salah satu tangan petugas ada yang membiru bekas gigitan. Linda bergidik ngilu, wanita itu tahu rasanya karena ia juga sudah pernah mendapatkan gigitan tersebut. Linda segera mendekati mereka.


"Maafkan kakak saya, bagaimana keadaannya?" Linda memandang iba ke arah salah satu perawatan yang terkena gigitan Atala.


"Tidak apa apa ini sudah biasa, sudah kembali tenang, dan akan kembali bereaksi tiga jam lagi," ujar petugas tersebut.


Linda paham mereka tak mungkin segera memberi obat karena bahkan dokter saja belum memeriksa Atala. Linda hanya berharap yang terbaik untuk Atala.


"Terimakasih kalau begitu," ujar Linda tersenyum. Perawat tersebut mengangguk paham, terlebih melihat mata Linda yang sembab, mereka yakin itu bekas air mata, serta tidur yang tidak cukup. "Boleh saya masuk?"


"Boleh tapi jika dia bangun kamu jangan menanganinya sendiri," ujar petugas tersebut.


Linda mengangguk segera mengambil selimut dan juga bantal untuk segera masuk ke dalam ruangan Atala. Linda mengusap air matanya kala melihat keadaan Atala yang benar benar di ikat dengan kain, serta sebuah pengikat khusu. Linda meletakkan bantal dan juga selimutnya yang sudah di lipat di samping meja yang di sediakan. Linda mengusap lembut wajah tampan Atala yang kini rambut di bagian wajahnya sudah semakin memanjang.

__ADS_1


Linda segera berjalan ke arah kantin hendak membeli sesuatu, Linda sadar betul bahwa mungkin saja di pagi pagi buta begini kantin rumah sakit belum terbuka. Linda tanpa sengaja melewati musholla yang tampaknya telah usai melakukan sholat subuh. Linda segera masuk dan melaksanakan sholat subuh, kemudian mendo'akan kesembuhan Atala.


__ADS_2