
"Kak Atala besok ikut puasa?" Anisa tersenyum ketika mereka sama sama duduk di meja makan, siap untuk menyantap makanan yang tersaji.
Atala hanya terdiam menggeleng, tatapannya kosong. "Putra... Putra... Putra," ujar Atala tiba tiba.
Atala teringat akan bagaimana ia mengajarkan Putra untuk berpuasa, beberapa tahun silam. Saat putra masih hidup, dan dirinya lah yang mengajarkan Putra untuk berpuasa.
Anisa mendekat dan mencoba menenangkan Atala, Linda juga ikut berdiri membuat Atala memandang kedua wanita itu bergantian.
"Putra," Atala kembali berucap membuat keduanya memandang sendu ke arah Atala.
"Kak sekarang ada kita, semua akan baik baik saja, dan semua yang bernyawa akan kembali kepada sang Khaliq," ujar Anisa membuat Atala menggeleng tak menerima.
"Kak kak dengarkan Linda kak," ujar Linda mengangkat dagu Atala agar memandang ke arah dirinya. "Kita semua hanya sementara hidup di dunia ini, ingat hanya sementara saja."
Atala mengangguk mendengarkan Linda. Atala kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Anisa. Anisa tersenyum dan mengangguk, tanda menyetujui kata kata dari Linda.
"Papa, mama, bapak, ibu, Putra akan kembali kepada yang maha kuasa. Bahkan kita, Linda, Anisa dan kakak, kita semua akan ada saatnya kembali ke dalam pangkuan yang maha kuasa."
"Tapi yang di tinggalkan harus tetap baik baik saja, kita semua makhluk kuat. Kita semua harus berbuat baik agar bisa hidup dengan orang orang baik."
"Kak ingat kakak masih memiliki kami sebagai keluarga kakak, jangan biarkan kakak bersedih, kami sayang dengan kakak," ujar Linda membuat Atala mengangguk mengerti ucapan gadis tersebut.
"Jadi kakak jangan sedih lagi ya," ujar Anisa memeluk Atala dari samping, lagi lagi hanya di angguki oleh Atala.
Mereka kemudian melanjutkan makan malam, kemudian memberikan Atala obat, agar cepat sembuh. Anisa dan Linda mengantar Atala masuk ke dalam kamar, kedua gadis itu memperbaiki selimut.
__ADS_1
Setelah itu barulah Anisa dan Linda kembali ke membersihkan meja makan dan mencuci piring yang kotor.
Alarm berbunyi menunjukkan pukul tiga, Anisa dan Linda segera bangun mereka menyiapkan sahur untuk mereka. Sementara Atala masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Kak Atala gimana?" Linda tiba tiba bertanya ke arah Anisa.
"Hm... tetap bangun aja, hitung hitung belajar puasa kembali, kalau pagi tetap sarapan, agar bisa minum obat, dia tidak boleh telat minum obat, setelah itu kita jangan kasih makanan atau minuman, habis itu siang baru makan untuk minum obat kembali," ujar Anisa meletakkan minuman di atas meja makan. "Lind kamu terus ya, aku bangunin kak Atala dulu."
Linda menganggukkan kepalanya, kembali menata beberapa lauk pauk, dan nasi di atas meja makan.
Sementara di dalam kamar Anisa berusaha membangun kan Atala, namun laki laki itu tampaknya tak tertarik untuk segera bangun. Atala justru semakin menarik selimutnya.
Anisa menghela nafasnya, kemudian kembali membangunkan Atala, memang biasanya Atala bangun siang hari sekitar jam delapan, langsung makan dan meminum obatnya. Namun kini harus bangun di dini hari membuatnya sulit untuk di bangunkan.
......................
Ini sudah hampir dua minggu Yanti bolak balik di apartemen ini, namun tanda tanda Atala tak juga ada, setiap ada mantan tetangganya yang di tanya, mereka akan selalu menjawab. "Tunggu saja, mungkin dia sedang di luar kota, atau sedang berada di luar."
Hanya itu jawabannya, seakan mempermainkan dirinya, pasalnya Atala tak kunjung datang. Jika hanya di tugaskan di luar negri maka dalam waktu satu minggu Atala sudah dapat di temui, namun saat ini sudah hampir dua minggu Atala tak kunjung bisa di temui.
Malam ini Yanti berencana menemui Atala ke rumah keluarga mereka, berharap dapat menemui Atala. Yanti mengendarai mobil mewahnya. Lama Yanti mengendarainya, hingga akhirnya sampai di kediaman tersebut. Tampak sepi, pasalnya di rumah hanya ada Anisa dan Atala.
Yanti mulai mengetuk pintu rumah tersebut, namun tak ada jawaban, Anisa sedang melaksanakan sholat tarawih di kamarnya, Atala belum sehat jiwanya untuk peduli bunyi ketukan pintu, dan membukanya.
Jadilah Yanti yang terus menunggu di depan rumah, berharap Anisa atau Linda keluar. meski sebenarnya dirinya tak yakin pasal Atala. Disebabkan mobil yang biasa Atala kendarai tak terlihat terparkir di hadapan rumah tersebut.
__ADS_1
"Aish lama sekali, benar benar membuang waktu ku," gumam Yanti kesal.
Di tengah keheningan nya, Yanti mendengar sayup sayup bunyi sholat tarawih dari masjid, semakin kesal sajalah Yanti. Wanita itu segera berjalan ke arah mobilnya sembari bersungut-sungut. "Ish kenapa harus sholat tarawih sih? Kan aku sedang berusaha menemui Atala."
Anisa yang mendengar ketukan dari pintu segera berjalan ke arah pintu, Anisa segera mengintip dari jendela siapa yang datang. Pasalnya sejak tadi hanya bunyi ketukan, tak ada bunyi salam. Anisa takut itu adalah orang jahat.
Saat mengintip, alangkah terkejutnya ketika melihat Yanti yang sedang berjalan menuju mobil mewahnya. Anisa menepuk keningnya.
"Alamak, cit musang betina datang, untung ga di bukakan pintu dengan kak Atala," gumam Anisa segera menutup kembali gorden rumahnya. Mengusap lembut dadanya bersyukur tidak di pertemukan oleh mantan kakak iparnya.
Anisa segera menelfon Linda, beberapa kali Linda tak mengangkatnya, membuat Anisa tak patah arang, Anisa kembali menelfon Linda hingga di angkat oleh sahabatnya.
"Halo Linda nanti kalau pulang lihat lihat nanti ada mobil si penyihir," ujar Anisa cepat.
"Hah? Siapa? Kamu habis nonton Harry Potter lagi ya?"
"Bukan maksud ku itu si mantan kak Atala kembali, kayaknya dia nyari kak Atala deh," jelas Anisa.
"Yasudah aku mau lanjut kerja kamu jangan bukain pintu kalau gitu."
"Sip, hati hati baliknya," Anisa segera menutup telfonnya.
Sementara di seberang sana, Linda mengepalkan tangannya, jelas rasa cemburunya kembali menghampiri. Wanita itu, wanita yang di maksud oleh Anisa adalah mantan istri dari lelaki yang ia cintai. Memang selama ini ia menahan cemburu, dan memilih untuk mundur alon alon. Namun untuk saat ini Linda siap untuk memperebutkan hati Atala.
Selama bekerja Linda tidak konsentrasi, ia takut Atala bertemu dengan Yanti. Dan Linda yakin bahwa wanita itu memiliki rencana tersendiri, mana mungkin wanita yang telah memilih mantan kekasihnya daripada keluarga itu kembali dengan cuma cuma.
__ADS_1
Pikiran buruk menghampirinya, Linda menerka nerka bahwa kekasih Yanti meninggalkan wanita tersebut, dan mungkin saja saat ini Yanti tengah berbadan dua. Tidak menutup kemungkinan Yanti menjadikan kisah masa lalunya menjadi tameng untuk masa depan, yang seolah akan terukir indah.
"Astaghfirullah, mana bulan puasa lagi. Tapi dasar tu Mak Erot Lampir, mau apa cobak balik lagi. Untung udah selesai buka puasa," gumam Linda ketika menaiki sepeda motor untuk kembali ke rumahnya, pasalnya saat ini susah waktunya untuk kembali.