
Sesuai rencana awal Linda dan Atala mengantar Anisa. Linda yang membawa mobilnya sementara Atala berada di pengemudi samping. Anisa turun membuat beberapa orang memandang bingung ke arahnya.
"Itu aku di antar tetangga yang kebetulan mau berangkat juga," ujar Anisa saja seketika teman kerjanya mengangguk mengerti.
Linda kemudian melajukan mobilnya menuju rumah yang ia tempati bersama Anisa, Linda mengambil beberapa bahan untuk jualannya nanti. Linda tersenyum kala Atala menolongnya, laki laki itu tampak belum hilang sepenuhnya kewarasannya. Jiwa sosialnya masih tumbuh.
Tapi memang begitu mereka, tidak hilang jiwa sosialnya. Yang berubah itu hanya cara mereka memandang perspektif, dan hayalan yang mereka buat nyata. Mereka tidak hilang rasa kemanusiaannya, mereka adalah manusia yang patut kita hargai sebagai manusia.
Mereka tidak pantas kita kucilkan, percayalah mereka juga tersiksa dengan pikirannya, mereka butuh pertolongan untuk keluar dari dunia gelap mereka. Mereka bahkan lebih baik dari pada manusia normal, yang menormalkan kesalahan. Mewajarkan perbuatan yang tidak baik, sehingga timbullah rasa tidak bersalah.
"Terimakasih kak," ujar Linda, Atala hanya diam dan masuk ke dalam kursi pengemudi. "Kakak nanti mau bantu Linda?"
Atala memandang Linda yang tersenyum ke arahnya. Atala memandang Linda dengan pandangan kosong. "Linda tidak mau berterimakasih dengannya?"
"Hah?" Linda cengong sendiri, ia bingung dengan maksud dari Atala. Mereka hanya berdua dan itulah faktanya.
"Ia anak kecil yang ada di belakang Linda," ujar Atala membuat Linda seketika terdiam. Nalar nya antara menuju film horor yang sering di tontonannya, dan pelajaran tentang kejiwaan manusia yang ia pelajari.
"Anak kecil?" Linda memandang bingung ke arah Atala.
"Iya dia temannya Putra, katanya dikirim untuk menemani ku," ujar Atala semakin membuat Linda terbengong, Linda memandang ke arah penumpang belakang.
"Kak disini cuman ada kita kak," ujar Linda bingung.
"Ga Linda ada dia, Jhon dia dari tempat yang jauh," ujar Atala kekeh dengan pendapatnya.
"Ga ada kak cuman kita berdua," Linda juga kekeh dengan pendapatnya.
"Kamu kok ga percaya sama kakak Linda? Kamu sama kayak Bram," ungkap Atala semakin membuat Linda terkejut.
"Bram siapa lagi kak?" Linda semakin bingung di buat Atala.
"Kok kamu ga tau? Itu yang dari tadi suka ngintipin kakak," kembali lagi ucapan Atala membuat Linda terkejut.
"Ngapain dia ngintip kakak?" Linda menggaruk pelipisnya bingung.
__ADS_1
"Ga tau dia memang suka ngintip kakak, dari mulai Putra masuk rumah sakit," ungkap Atala.
"Kak boleh jujur ga?" Linda bertanya dengan pelan.
"Apa?" Atala memandang ke arah Linda bingung.
"Kakak dari tadi cuman ada kita berdua, ga ada yang namanya Jhon maupun Bram di sini," ujar Linda pelan.
"Ada kakak bilang ada, itu di samping kamu, lagi ngintipin kita!" Atala berteriak tak terima Linda mengatakan bahwa Jhon dan Bram itu tidak ada. "Kamu ngira kakak bohong?!"
"Engga kak, tapi jujur aku pikir memang Jhon dan Bram itu ga ada," ungkap Linda kekeh pada pendapatnya. "Kita ke rumah sakit sekarang."
"Kakak ga sakit Linda!" Atala kembali berteriak di dalam mobil tersebut.
"Kakak, kalau ga sakit apa lagi?" Linda juga ikut meninggikan suaranya.
Atala yang kesal segera memukul kaca jendela mobil tersebut, membuat Linda terkejut bukan main. Atala benar benar kesal di anggap berbohong oleh Linda, belum lagi Linda ingin membawanya ke rumah sakit.
"Tidak akan ada yang percaya dengan mu."
"Kak, kakak kenapa?" Linda mencoba menyentuh lengan Atala.
"Kenapa sih? Kenapa tidak ada yang percaya dengan ku? Kenapa semua orang meninggalakan ku?" Atala tiba tiba berteriak sembari memukuli kaca pintu mobil.
Linda panik di buat Atala, Linda tak tahu apa yang harus di lakukannya. Jika memasukkan Atala ke dalam rumah maka akan terjadi fitnah, sementara Atala tampaknya tak dapat menemui banyak orang. Linda berfikir akan membawa Atala ke rumah sakit, namun Linda yakin Atala pasti akan memberontak. Satu satu nya jalan yang di pikirkan Linda saat ini adalah apartemen Atala.
Linda melajukan mobilnya, namun laju mobilnya melambat hingga berhenti di depan rumah sakit jiwa. Linda rasanya ingin membawa Atala ke sana, namun bingung cara membujuk Atala.
Atala yang menyadari tempat berhentinya Linda segera memukul lengan Linda. "Kenapa kesini? Aku tidak mau, aku mau ke apartemen sekarang!" Atala berteriak dan memukuli lengan Linda hingga membuat gadis tersebut tak punya pilihan lain selain membawa Atala ke apartemen.
Di sepanjang perjalanan bukan hal yang mudah bagi Linda. Atala yang tiba tiba mengamuk terus memukul mobil bahkan lengan Linda menjadi sasarannya. Linda harus terus bersabar dan menahan sakit di lengannya.
"Kak tolong berhenti," ujar Linda lirih menahan air matanya. Atala mendengus kesal memukul Linda sekali lagi demi menahan rasa kesalnya. "Auh..."
Linda kali ini benar benar menahan air mata yang siap membanjiri matanya. Linda membuka pintu mobil di ikuti Atala. Atala segera menarik tangan Linda masuk ke dalam lift. Linda hanya pasrah ketika tangannya di cubit Atala. "Linda nakal," kesal Atala.
__ADS_1
"Ampun kak," ujar Linda menahan sakit di pergelangan tangannya. Lengannya telah sakit karena di pukuli kini harus kembali menderita karena di cubit dengan sepenuh tenaga oleh Atala.
"Makanya jangan suka ngebantah omongan kakak," ujar Atala kembali memukul dinding lift.
"Kakak jangan udah ah, bentar lagi kita sampai," ujar Linda menarik kembali pergelangan tangan Atala.
"Iya tapi percaya dulu omongan kakak," kesal Atala kembali memukul lengan Linda.
Tring...
Pintu lift terbuka menampakkan seorang laki laki muda masuk ke dalam ruang bergerak tersebut. Linda menunduk tanda hormat kepada seorang, demi menetralisir pandangan aneh orang tersebut.
Atala yang melihat Linda melakukan hal tersebut merasa akan di tinggalkan kembali, segera menarik tangan Linda untuk menjauh. mereka masuk ke dalam apartemen Atala dengan Atala yang semakin kesal. Atala segera menggigit lengan Linda membuat Linda semakin kesakitan.
"Aduh..." Linda berteriak merasakan gigi Atala yang menancap di kulitnya. "Sudah kak, jangan gitu lagi ah, sakit..."
"Kamu jangan ninggalin kakak," teriak Atala membuat Linda mengangguk, Linda segera masuk ke dapur demi mencari es batu. Untuk mengompres lengannya. Linda membuka bekas gigitan dan pukulan Atala ternyata bekas pukulannya kini membekas berwarna biru keungu unguan. Sementara bekas gigitannya sedikit berdarah, berbentuk gigitan di sana. Linda mengasuh perih di tangannya.
Cklek.
Terdengar pintu kamar Atala tertutup rapat membuat Linda menghela nafas kasar, Linda kemudian membilas bekas gigitan Atala dan segera mengompresnya dengan es batu. Linda segera melangkah ke ruang makan, dan memandang pintu kamar Atala yang telah tertutup rapat.
^^^Bagaimana cara membawanya ke rumah sakit ya?^^^
.
.
.
.
Hai teman teman bagi yang ingin bertanya silahkan tanya sebanyak banyaknya di kolom komentar, jika othor mampu menjawabnya othor akan menjawabnya. Terimakasih.
Like and comment guys, serius buat cerita ini susah minta ampun ampunan, karena jujur saja buat novel ini harus mikir selama lima bulan baru benar benar di bulatkan tekatnya. Belum lagi mencari informasi dan menggali setiap narasumber yang sudah sembuh dengan penyakit ini. Dari pihak keluarga yang menjaganya, dan lain lagi. Jadi tolong berkomentar apa saja, karena sesungguhnya ini berat mikirnya guys.
__ADS_1