
Beru saja jam makan siang, Linda tengah sibuk menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Atala. Warung kecil kecilan mereka kini telah terbuka. Memang belum ramai, namun beberapa tetangga sudah mulai berdatangan.
Namun tiba tiba sepeda motor milik mereka terparkir di depan rumah, jelas Linda merasa kebingungan. Anisa pulang lebih cepat, bahkan ini baru setengah hari ia bekerja.
"Lah kenapa Nis?" Linda berjalan kembali ke dalam untuk mengambil piring, ia yakin Anisa belum makan siang.
"Anisa kenapa?" Atala tampak khawatir melihat wajah kesal Anisa.
"Engga apa apa kak, aku engga apa apa, kakak mau makan?" Anisa mencoba tersenyum ke arah Atala. Atala hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Anisa. "Ya sudah aku sendokkan ya."
"Iya, terimakasih," Atala mengangguk menerima piring yang telah penuh makanan.
"Jadi kamu kenapa Nis?" Linda tersenyum ke arah Anisa.
"Ini nih Linda, aku di pecat," Anisa terlihat kesal ketika mengatakan hal tersebut.
"Hah? Kok bisa?" Linda sungguh bingung, seingatnya Anisa anak yang cekatan dan disiplin. Bagaimana mungkin ia di pecat begitu saja.
"Itu tuh ada orang jahil nyolek punggung aku dari belakang, terus aku mandang ke belakang hanya ada satu orang. Jadi aku marahi, aku bilang tidak punya sopan santun, eh rupanya dia marah, terus kami adu mulut," Anisa mengerutkan bibirnya kesal. "Ternyata dia itu orang berpengaruh, dan bos tak mau bermasalah, jadinya aku di pecat."
"Ya sudah sabar, pasti ada rezeki yang lebih baik kok di luar sana, Allah sudah punya rezeki untuk kamu," Linda memberi semangat ke arah Anisa. "Ini kamu makan dulu."
Anisa segera mengambil centong nasi dan baru saja centong nya hendak mencapai nasi, ponselnya berbunyi. Tampak mantan bosnya yang menelponnya. Anisa berdiri menjauh.
"Halo pak?" Anisa jelas bingung.
"Halo maaf tadi saya memecat mu, tapi saya punya informasi pekerjaan untuk kamu, besok kamu melamar di tempat tersebut," terdengar seperti sebuah angin segar untuk Anisa.
"Baik pak, terimakasih banyak," ujar Anisa tampak kegirangan.
"Baiklah sampai di sini dulu ya, informanya ku kirim sekarang."
Anisa tersenyum kegirangan, setidaknya mantan bosnya itu masih memiliki hati dengan memberinya informasi lowongan pekerjaan.
__ADS_1
"Lah kenapa Nis? Di minta balik lagi," Linda memandang penasaran ke arah Anisa.
"Ini bosnya minta maaf sudah mecat, terus ngasih informasi lowongan pekerjaan, besok aku di suruh mengantarkannya," Anisa tersenyum cerah ketika mengatakannya.
"Anisa, Anisa hebat," ujar Atala tiba tiba membuat kedua gadis itu tersenyum.
Ternyata melibatkan Atala di dalam kehidupan sehari hari, menambah respon positif untuk Atala. Respon terhadap lingkungannya kini semakin membaik, sehingga mampu berinteraksi dengan baik.
"Iya Anisa memang hebat, adik kakak pasti sama seperti kakak, sama sama hebat," puji Linda membuat Atala mengangguk tersenyum.
"Atala juga hebat," ujar Atala tersenyum senang.
"Iya dong lulusan luar negri, pasti hebat dua jempol untuk kakak," Anisa duduk sembari memberikan jempol kepada Atala. "Ayo makan, lapar sudah."
......................
Keesokan paginya Anisa telah bersiap siap untuk pergi ke tempat kerjanya, namun Anisa memilih memesan taksi, daripada menaiki sepeda motornya. Anisa ingin jika sampai dirinya kantor, ia terlihat masih rapi.
"Assalamualaikum," ujar Anisa sebelum masuk ke dalam mobil.
"Linda nak Atala sudah banyak kemajuan ya," salah seorang warga yang tengah berbelanja di warung milik Linda melirik sebentar ke arah Atala.
"Iya Bu, Alhamdulillah harus banyak interaksi dia, biar bisa sembuh perlahan lahan kata dokternya," jelas Anisa sembari memasukkan belanjaan ke dalam plastik.
"Iya, kuenya juga Linda," ujar ibu Ningsih menarik plastik putih, yang terdapat di samping kue kue buatan Linda. "Tapi Linda ya, kami sih tidak apa apa kalau kalian di sini, tapi takutnya warga lain salah paham, kalian kan tidak punya hubungan keluarga, kenapa mau membantu mereka sih?"
Mode ibu ibu rempong dan julit kini mulai berdatangan di warung yabg beberapa hari lalu Linda buka. Linda tersenyum mendengarkannya.
"Saya tidak punya keluarga lagi Bu, ibu kan tahu kalau saya itu di rangkul kedua orang tua kak Atala," jelas Linda sembari tersenyum.
"Iya tapi kami tengok kasian juga lah kau lama lama Linda," salah satu ibu ibu berbaju orange yang bernama Berta menyela sembari membayar belanjaannya. "Aku donat tiga sama risol tiga, tahu empat. Sepuluh ribunya?"
"Iya Bu, terimakasih, kembalian sepuluh ribu ya," Linda memberikan uang kembalian ibu tersebut.
__ADS_1
"Jadi kenapa lah kau bertahan di sini, kalau tidak nikah saja lah kalian berdua, takut ada rumor yang tidak tidak," ibu Berta memasukkan uang kembaliannya ke dalam dompet kecil yang bertuliskan 'sinar mas' tersebut.
"Iya, tapi pasti banyak kan yang mau dengan kamu. Wajah mu itu loh. Beh, kalau anak ibu ada yang cowok, ibu jodohkan dengan kamu," ujar ibu Ningsih dengan nada bercanda.
"Eh, anak mu cewek semua pun, yang bungsu mau menikah pulak," sergah ibu Berta.
"Iya rencana mau buat lagi nanti malam. Kalau sudah jadi, terus laki laki kamu tunggu dia besar ya Linda," ibu Ningsih kembali terkekeh sembari mengatakannya.
"Ye eleh, jadi perawan ketuaan lah Linda, lagian kalaupun anak mu ada, sudah jadi nenek nenek Linda," ujar ibu Berta mencibir ucapan ibu Ningsih.
Linda terkekeh melihat perdebatan tidak berfaedah tersebut, sesekali ia menggeleng melihat perdebatan yang sebenarnya tidak mungkin terjadi.
"Tidak Linda nanti sama Atala saja," ujar Atala menggeleng membuat ibu Berta dan ibu Ningsih tersenyum.
"Nah tu, dengar kau Linda. Tak apa apa lah, Atala sebentar lagi sembuh. Nanti kalau klean menikah, biar aku yang bantu hadau pelakor, ku bejek bejek mukanya sampai jadi bubur," ujar ibu Berta. "Rumahku di samping rumah mu sini nya, tinggal kau treak, aku langsung datang."
Ibu Ningsih dan Linda terkekeh mendengar pernyataan dari ibu Berta yang tampak akan pasang badan.
"Kau sebut saja, pelakor pelakor pelakor. Pokonya tiga kali itu kata pelakor keluar, datang aku," ujar ibu Berta membusungkan dadanya.
"Mau apa kamu?" Ibu Ningsih tampak belum ingin beranjak. "Berapa semua Linda?"
"lima belas Bu," ujar Linda tersenyum.
"Nah."
"Mau ku jadikan oncom mukanya. Kalau teringat aku kata pelakor, mau ku oncom rasanya orang itu. Sakit aku dulu di kampung, laki aku di rebut janda kembang gatal, sampai sampai aku harus cere, untung saja laki ku kali ini baek," ibu Berta tiba tiba memulai sesi curhat dirinya tentang masa lalunya yang tersakiti oleh pelakor.
"Hem, kemarin juga sama, ada perempuan yang mencoba menggoda laki si Menik. Untung laki Menik kuat iman, jadi tidak di hiraukan nya lah," ujar ibu Ningsih.
"Terus?"
"Habis di pecat itu dari kantor laki Menik, masih muda lagi, baru magang, anak kuliah itu aku rasa."
__ADS_1