I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Kedatangan Yanti


__ADS_3

Sudah beberapa kali Yanti mengamati rumah mendiang orang tua angkat Atala, namun tampaknya hingga dua minggu tak ada tanda tanda akan Atala, hingga mencapai dua minggu. Tampak Linda dan Anisa tengah melakukan membersihkan rumah guna mempersiapkan hari lebaran.


Yanti tampak mengintai, membuat beberapa warga mulai menaruh curiga ke arah mobil Yanti. Pasalnya pemilik mobil itu tak kunjung turun, tampak hanya mengintai seseorang. Namun mereka tak yakin, sehingga mereka memilih untuk diam.


Terkadang ketika lelah menunggu di depan rumah mendiang orang tua mantan suaminya, Yanti juga terkadang pergi ke apartemen yang pernah mereka tempati.


Yanti memandang ke arah perutnya yang semakin hari semakin membesar, meski belum begitu tampak oleh orang orang sekitar. "Cih menyusahkan, kenapa kau harus hadir ha? Aku ingin sekali menyingkirkan mu!"


......................


Hari ini adalah hari lebaran, Anisa dan Linda telah selesai dari mesjid terdekat. Namun Atala masih mereka tinggal di rumah. Setelah mereka kembali Anisa segera mempersiapkan sarapan untuk mereka bertiga serta beberapa kue lebaran mereka.


Kali ini keduanya terbantu dengan penjualan kue yang mereka terima dari beberapa warga. Yang niatnya memang ingin membantu kedua gadis tersebut serta memang kue buatan Anisa memang enak.


Anisa duduk sembari tersenyum melihat Linda dengan cekatan membantu Atala untuk membersihkan dirinya, Linda merasa seandainya mereka yang berjodoh sejak dahulu, mungkin kehidupan kakaknya tidak akan serunyam sekarang.


Namun Anisa juga tak ingin berharap banyak, Linda adalah gadis sempurna, pintar baik dan ramah, belum lagi parasnya yang jujur saja Anisa sedikit iri melihat kesempurnaan wajahnya.


Pasti banyak laki laki yang mencintai Linda, dan itu bukan hanya khayalan Anisa saja. Buktinya bahkan banyak laki laki yang mencoba mendekati Linda, namun Linda saja yang tampaknya tak merespon mereka.


Linda datang menggandeng tangan Atala agar segera duduk di kursi makan, Anisa telah menyiapkan mereka makan khas lebaran, berupa opor ayam dan ketupat, dengan telur rebus yang telah di belah menjadi dua.


*Mon maap ye, othor jadi lapar wkwkwk*


Mereka menghabiskan makanan mereka, dan seperti biasa. Linda segera menyiapkan obat ke dalam mulut Atala.


Sebelum akhirnya sebuah ketukan di pintu membuat kedua gadis itu beranjak ke arah pintu, mereka menggandeng tangan Atala. Ingin kakaknya mulai belajar berinteraksi dengan para tetangga.


Kata dokter itu bisa membantu proses kesembuhan Atala. Jadi keduanya berencana akan memulai dari sekarang, karena di saat lebaran seluruh tetangga yang tinggal di kampung mereka, akan saling mengunjungi satu sama lain.


Saat pintu terbuka alangkah terkejutnya ketika melihat Yanti yang berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


Tamu yang tak di undang!


Ya tentu saja, mereka tak menyukai kedatangan Yanti, terutama Linda yang takut Atala akan kembali kepada wanita yang tergila gila dengan harta dan status sosial tersebut.


"Akhirnya, aku menemukan mu," Yanti tersenyum semanis mungkin ke arah Atala.


Namun respon Atala membuat Yanti tak menyukainya. Atala bahkan tak tersenyum sama sekali, bahkan cenderung bersembunyi di belakang Linda dan Anisa.


Namun bukan itu saja yang membuat Yanti terkejut, badan Atala yang tak seperti dulu, bahkan saat ini bisa di sebut gempal. Dan Yanti yakin itu pasti mendekati obesitas. Meski sebenarnya belum memenuhi. Atala begitu karena efek samping dari obat yang ia konsumsi. "Atala benarkah itu kamu?"


"Mau apa ke sini?"


Bukan Atala yang menjawab, namun Anisa yang membalikkan pertanyaan dari Yanti. Membuat Yanti melirik sinis ke arah Anisa.


"Eh dasar orang aneh, terserah aku lah, lagian ini rumah suami ku," ujar Yanti seolah tak mengingat layangan gugatan dan kelakuannya di masa lalu, yang membuat Atala menjadi depresi karena kehilangan anak mereka.


"Cih dasar Lampir, memangnya dia tidak ingat apa? Kelakuannya di masa lalu, sungguh di luar dugaan. Kini kembali dengan seolah olah tidak terjadi apa apa," sinis Linda membuat Yanti naik pitam.


"Eh dasar benalu! Situ tidak sadar ha!? Situ hanya orang asing di sini!" Yanti menaikkan oktaf suaranya.


"Hei Atala, lihat keduanya memperlakukan ku!" Yanti berucap lantang. "Apa kau gila ha? Apa kau tidak waras ha? Hanya diam saja aku di perlakukan begini!"


Atala yang masih takut mendengar suara lantang, dan ucapan gila yang terkadang ia dapatkan ketika tengah duduk di kursi dengan pintu terbuka, dan hanya teralis yang menghalangi orang masuk dan keluar. Di sanalah anak anak selalu mengejeknya gila. Kini Atala mulai histeris.


"Aku tidak gila!" Atala menutup telinganya, mundur ke arah sofa, sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tidak gila, aku tidak gila, aku tidak gila."


Yanti yang melihat gerak gerik Atala menjadi terkejut, ia tak menyangka bahwa Atala kini menjadi sosok yang tidak waras di matanya. Ia menjadi berpikir dua kali untuk menjebak Atala.


Namun anaknya butuh pengakuan, siapa yang akan menjadi ayahnya, sementara dirinya tak tahu siapa ayah dari anak ini. Dia lupa siapa saja yang pernah menjadi pelanggannya. Hanya Billi yang ia ingat, dan beberapa laki laki tua bangka hidung belang yang ia ingat.


Jika Billi jelas mencari mati dengan petinggi di negara ini, ia akan di gerus dan akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Namun jika lelaki tua itu, mungkin ia akan lebih mudah. Setidaknya ia akan aman, dibanding dengan laki laki gila, yang tak waras ini.

__ADS_1


"Cih kau benar benar gila? Dasar gila aku jadi takut dan tak ingin masuk ke tempat mu," Yanti segera mengumpat Atala yang masih bergumam aku tidak gila.


"Eh ini masih suasana lebaran ya, kamu ngapain nyari masalah ha?" Linda jadi naik pitam, sementara Anisa menghampiri Atala dan menenangkannya.


"Lah aku ngomong yang bener kok, dia itu gila. Untung saja aku tinggalkan," ejek Yanti terkekh melihat Linda.


"Hei dia tidak gila, hanya dengan sakit!" Linda menekan kata katanya.


"Sama saja, gila ya tetap gila namanya, mau sakit jiwa kek, tetap aja gila," Yanti justru semakin menjadi, menghina mantan suaminya. Yang ternyata terkena penyakit kejiwaan.


"Iya, sama gilanya dengan wanita yang memilih selingkuhannya, dan meninggalkan suami dan anaknya!" Linda berujar lantang.


"Maksud mu apa?" Yanti kini yang naik pitam merasa tersindir dengan ucapan pedas Linda.


"Heh salahnya di mana?" Linda kini mengembalikan kata kata Yanti.


"Kau berani ya!" Yanti semakin emosi, entah karena hormon ibu hamil sehingga wanita itu tak mampu mengendalikan amarahnya.


"Ya aku berani lah dengan wanita gila dan murahan seperti mu!" Linda semakin meninggikan oktaf suaranya, sudah cukup geram ia menghadapi Yanti.


Ketua RT dan ibu RT yang baru saja datang segera menghentikan perdebatan mereka. "Ada apa ini?"


Keduanya segera memandang ke arah sumber suara. "Ini pak pengacau datang," ujar lidna emosi.


"Iya pak, datang datang langsung teriak teriak," ujar salah satu ibu ibu yang mengetahui kasus perselingkuhan Yanti.


"Eh jangan ikut campur ya!" Yanti semakin kesal saja di buatnya.


"Lah emang benar kan ibu ibu," ibu itu segera meminta persetujuan dari ibu ibu lainnya. Langsung saja mereka segera mengangguk menyetujui hal tersebut.


"Baiklah biar semakin tidak runyam, ibu ibu segera bubar, biar ini menjadi urusan saya sebagai ketua RT di sini," ujar bapak itu segera membubarkan mereka semua. "Sekarang ibu Yanti segera pergi dari sini, karena jika tidak maka saya akan melaporkan kepada polisi tentang penyerangan terhadap warga saya."

__ADS_1


...----------------...


Hai semua maaf othor tak bisa abdet secara rutin, pasalnya kesehatan othor menurun. Kemaren othor saat berkendara tiba tiba pingsan, dan hp othor jatuh dari motor, sehingga othor tak bisa mungkin mengabdet sering, karena othor harus menjaga kesehatan. Sekian dan terimakasih.


__ADS_2