
Linda masuk dengan keadaan pucat, orang orang sudah berpamitan, sementara Anisa segera menutup dan mengunci pintu rumah mereka. Beberapa tetangga hanya berani celingak celingukan di depan rumah mereka.
Mereka kasihan melihat keluarga tersebut, pasti ini sangat berat untuk mereka. Menghadapi orang dewasa yang kurang waras, di iringi pula dengan ekonomi yang semakin meninggi.
Anisa segera ke dapur, rasa lelahnya tertutupi dengan kekhawatirannya terhadap sahabatnya. Anisa segera mengambil obat P3K (Pertolongan pertama pada kecelakaan) Atala hanya duduk di samping Linda dengan wajah khawatir.
Tadi saat dirinya tengah di bawa para pemuda kampung tersebut, ada rasa kesal. Namun semua sirna ketika melihat Linda berbaring lemah, Atala tak tahu harus berbuat apa, ia hanya duduk memandang wajah Linda yang terpejam. Kesadaran gadis itu tampak belum pulih.
Anisa segera mengobati beberapa luka dan lecet di kaki dan tangan Linda. Kemudian membaluri tangan Linda dengan minyak kayu putih, kemudian mengoleskan sedikit di hidung Linda.
Anisa yang melihat kekhawatiran dari kakaknya segera mengambil bantal dari dalam kamarnya dan meletakkannya di samping bantal Linda.
"Baring aja kak, tidak apa apa kok," ujar Anisa, di angguki oleh Atala.
Atala segera berbaring menghadap ke arah Linda, memandang wajah Linda yang masih terpejam. Atala meraih tangan Linda dan terus mengusap nya.
"Linda, Linda, Linda, Linda," Atala bergumam hingga samar, karena tertidur di samping Linda.
Anisa tersenyum memandang ke arah Atala ketika selesai mencuci piring. Anisa segera berjalan ke arah kamar Atala, mengambil selimut tebal dan menyelimuti tubuh keduanya yang tengah tertidur di atas karpet.
......................
"Ehh...." Linda perlahan membuka matanya, ia mengingat tadi dirinya dibawa oleh beberapa warga hingga berbaring, matanya sangat berat untuk di buka, kemudian hening dan tenang.
Linda mencoba memandang ke arah samping ia terkejut melihat Atala berbaring di sampingnya, bahkan tangannya di genggam oleh Atala. Linda tersenyum melihat Atala baik baik saja, tak seperti yang di khawatirkan nya, saat tadi pulang dari minimarket.
Linda mencoba meraih wajah Atala, namun tangannya terasa sakit digerakkan. Linda memilih diam, dan hanya memandang Atala dengan lekat, Linda tersenyum ketika merasakan salah satu tangan Atala menyentuh tangannya.
"Seandainya ini bisa jadi nyata," gumam Linda tersenyum ke arah Atala.
Suara bunyi kendaraan dari arah luar membuat Linda kembali menutup matanya, ia malu jika ketahuan memandangi pria yang terbaring di sampingnya.
Linda mengintip sedikit, tampak Anisa kerepotan membawa bahan belanja yang baru saja ia beli. Linda merasa tidak enak, ini adalah tugasnya, belum lagi keadaan motor yang tidak ia ketahui.
"Nis," Linda membuka suaranya, ketika Anisa melewati dirinya.
__ADS_1
"Linda ya Allah, Alhamdulillah sudah sadar kamu," Anisa segera meletakkan beberapa belanjaan yang di bawanya di samping Linda. "Kami khawatir Linda."
"Motor gimana?" Linda tampak penasaran, pasalnya ia tadi terjatuh cukup kencang.
"Cuman mau ganti kaca spion, sama perbaiki lampu. Tadi sudah minta orang bengkel untuk memperbaikinya," ujar Anisa tersenyum bahagia.
"Jadi kamu naik apa?"
"Oh tadi aku minjam motornya pak Bambang, dengan ibu RT," jawab Anisa tersenyum.
"Alhamdulillah, untung ibu RT baik," ujar Linda tersenyum lega
"Iya, ya sudah aku bawa barang belanjaan dulu ya ke dapur sama mau ngeletakin ini," ujar Anisa segera meninggalkan Linda dan Atala di ruang keluarga.
Linda kembali mencoba menggerakkan badannya, namun masih terasa sedikit sakit. Linda pun kembali memaksa dan berhasil, meskipun merasakan sakit di bagian pinggangnya, ia ingat pinggangnya tadi terbentur pembatasan jalan.
"Loh Lind, kenapa bangun?" Anisa terkejut melihat Linda duduk sembari menahan sakit.
"Engga apa apa kok Nis, aku bosan baring terus," ujar Linda tersenyum.
"Linda, Linda, tidak apa apa?" Atala memandang khawatir ke arah Linda.
"Tidak kak, ini hanya sakit sedikit," jawab Linda.
"Linda jangan pergi, jangan pergi, jangan pergi," Atala menggelengkan kepalanya berkali kali membuat Linda tersenyum.
"Tidak Linda tidak apa apa," ujar Linda tersenyum.
"Tapi mereka bilang Linda mau pergi, Linda tidak sayang, Linda mau pergi," ujar Atala menggelengkan kepalanya. "Mereka bilang karena aku gila, aku tidak gila, aku tidak gila, aku tidak gila."
"Tidak kakak, siapa bilang kakak gila? Berarti orang itu tengah berbohong dengan kakak ok," ujar Linda mempertahankan senyumnya.
"Iya Linda, Linda..."
"Kakak percaya kan?" Atala mengangguk membenarkan pertanyaan Linda.
__ADS_1
Sore menjelang Linda tengah memainkan ponselnya, ia masih merasa di atas karpet dengan Atala yang masih tertidur di samping.
Anisa mengerutkan keningnya setiap kali Linda menghembus nafas beratnya. "Kenapa Lind?
"Aku rencananya akan mengundurkan diri," ujar Linda tiba tiba. Anisa tentu saja terkejut, bagaimana sahabatnya tiba tiba ingin mengundurkan diri, apa sahabatnya ini ingin pergi meninggalkan mereka berdua? Apa sahabatnya ini merasa terbebani dengan semua ini?
"Kenapa?" Anisa tiba tiba menegang.
"Aku ingin menjaga kak Ata, semenjak kehadiran kak Yanti, kak Ata menjadi semakin aneh, sepertinya halusinasinya kembali, bahkan tadi aku menemukan obat yang kak Ata buang," ujar Linda membuat Anisa sedikit bernafas lega.
"Lalu kamu bagaimana?" Anisa segera beranjak duduk di samping Linda.
"Aku akan berjualan saja, uang tabungan ku masih cukup membeli etalase, dan beberapa bahan berjualan nanti, aku juga bisa menjualkan kue buatan mu, dan buket milik ku," ujar Linda tersenyum.
Tanpa serasa air mata Anisa terjatuh, ia terharu memiliki sahabat sebaik Linda. Jika bukan Linda mungkin ia tak mampu melewati cobaan ini. "Terimakasih, terimakasih banyak," Anisa terisak memeluk Linda.
"Em, ini masih sakit Nis," Linda mendorong sedikit tubuh Anisa.
"Maaf aku terharu," ujar Anisa sedikit malu. "Lalu kapan akan memulainya?"
"Etalase tengah di antar ke sini, sementara bahan toko aku belum tahu isinya," jelas Linda.
"Bagaimana jika sembako, dan jajanan? Kan banyak tu pasti yang akan ke sini," usul Anisa.
"Boleh juga, pagi harinya kita berjualan sarapan pagi, kamu buat kue sementara aku yang buat sarapan," Linda juga memberi usul dengan semangat.
"Sip, tapi uang kita tinggal pengobatan kak Atala, sama token listrik, terus biaya hidup kita ke depan," ujar Anisa menunjukkan dompetnya.
"Tenang saja, kan aku bilang aku punya uang tabungan," ujar Linda tersenyum.
"Sip jadi, kapan mulai?"
"Hm, kalau pengiriman etalase sudah datang, nanti kita tinggal isi aja lagi, lagian besok kak Atala kita bawa ke rumah sakit, buat cek up kan?"
"Iya kalau gitu kita pulang dari cek up langsung berbelanja, tapi kak Atala bagaiman?" Anisa memandang iba ke arah Atala.
__ADS_1
"Kita bawa saja, mungkin butuh udara segera di sana, asalkan kita terus mengawasinya, dan berbelanja dengan cepat, pokoknya malam ini kita buat apa saja yang akan kita beli besok."