
Atala tampak murung dari biasanya, ini cukup membingungkan untuk Linda dan Anisa. Semenjak kedatangan Yanti tempo hari, Atala menjadi lebih murung, ini membuat kedua gadis ini menjadi lebih sedih.
Sudah beberapa hari Atala menjadi sedikit rewel, tak jarang tidak mau memakan obatnya, dengan beralasan bahwa dia tidak gila.
Bahkan saat ini Atala tak ingin keluar dari kamarnya hanya sekedar makan siang, hal ini membuat Anisa khawatir, bahkan Linda saja kesulitan untuk membujuknya.
"Kak ayo keluar," ujar Linda sembari menggedor pintu kamar Atala.
Haning, tak ada jawaban dari dalam kamar. Linda menghela nafas ini mungkin sudah yang ke lima belas kali Linda terus meminta Atala untuk membuka pintu.
"Kak..." Linda tampak hampir putus asa meminta Atala membuka pintu. "Kak, kalau kakak ga mau makan Linda pergi kak."
Linda tampak benar benar putus asa, membuat Anisa menjadi prihatin akan keadaan kakaknya. "Kak buka pintu kak," Anisa akhirnya kembali ikut membuka suara, demi membujuk kakaknya. Setelah pembujukannya yang sempat gagal tadi.
Ceklek.
Pintu terbuka, menampakkan wajah Atala yang tampak kesal. Matanya tajam ke arah Linda yang tengah berdiri memegang sepiring nasi dan lauk pauk.
"Jangan pergi," Atala mengatakan dengan wajah yang sangat emosional. Tampak sangat tidak suka Linda mengatakan akan pergi dari nya. Atala jelas tak ingin kehilangan lagi. "Jangan pergi, jangan pergi, jangan pergi!"
Anisa dan Linda menahan nafasnya ketika melihat Atala kembali tantrum, setelah sekian lama tak melihat Atala tantrum. Atala terus memukul pintu hingga tangannya sedikit memerah.
Linda segera menyerahkan makanan tersebut ke arah Anisa. Gadis itu segera menghentikan pergerakan Atala yang akan melukai dirinya sendiri. "Sudah kak, tidak ada yang akan pergi, yang terpenting kakak sekarang makan dan minum obat," ujar Linda membujuk.
"Aku tidak gila ya, ya tidak," kembali Atala berteriak dan memukuli pintu lebih kencang, membuat Linda segera memegang tangan Atala. Namun sayangnya tenaga Atala yang tengah tantrum lebih besar, sehingga tangan yang kini sudah tak menampakkan ototnya lagi mengenai wajah Linda.
Gadis itu terhuyung ke arah belakang, keseimbangannya hilang, sehingga terjatuh ke lantai. Anisa segera meletakkan piring yang ia pegang dan menolong Linda yang terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Linda kamu tidak apa apa kan?" Anisa segera membantu sahabatnya untuk berdiri, Anisa menuntun sahabatnya ke arah kursi, kemudian segera berlari ke arah kulkas, mengambil es batu untuk mengompres bagian wajahnya.
Li da terus memegangi kepalanya, yang masih terasa pusing. Tenaga Atala sangatlah besar, bahkan hidungnya kini telah menurun cairan kental berwarna merah.
"Astaghfirullah, Linda hidung kamu mimisan," Anisa panik melihat hidung Linda yang telah mengeluarkan darah.
Sementara Atala, sangat terkejut melihat Linda terjatuh tadi, Atala merasa sangat bersalah, namun ia tak tahu apa yang harus ia perbuat. Atala panik segera menutup pintu kamarnya.
Di dalam kamar Atala berlari ke arah sudut ruangan menutup telinganya. "Linda, Linda, Linda, Linda, Linda," bagaikan mengucap mantra, nama Linda terus Atala lantunkan.
Tiba tiba samar samar suara orang tertawa mengejek terdengar di telinga Atala. "Linda, Linda, Linda, Linda, Linda," Atala menggeleng sembari memukul pelan telinganya, namun bertempo cepat. Bertujuan menghilangkan suara samar di telinganya.
"Tidak tidak tidak, Linda Linda Linda," Atala terus bergumam menggelengkan kepalanya terus meringsuk ke pojokan, matanya ia pejamkan, terkadang menganggukkan kepalanya.
Atala melingkarkan tangannya di area lutut yang ia tekuk, sembari menenggelamkan kepalanya di sela lutut. "Linda Linda Linda Linda."
"Linda Linda Linda tidak pergi kan?" Atala terlihat senang bukan main, membuat Linda ikut tersenyum. Anisa mengusap kepala kakaknya.
"Ayo makan dulu kak," Linda mengusap lengan Atala. Atala tampak mengangguk. Anisa segera menyuapi Atala dengan lembut, hingga habis, sementara Atala terus memandang wajah Linda.
Setelah makan usai, Linda menyodorkan beberapa obat ke arah Atala, namun Atala menolaknya dengan gelengan. "Aku tidak gila, aki tidak gila," justru gumaman itu yang keluar dari mulut Atala.
Linda memutar kepalanya dan menghembuskan nafas beratnya. "Kakak tidan gila, namun harus minum obat, ini kayak vitamin untuk menjaga tubuh kakak agar tetap sehat."
Atala tampak berfikir keras ketika mengatakan hal tersebut, kata kata vitamin dan tidak gila memenuhi isi kepalanya, ia bingung dengan kata itu, namun senang juga. "Vitamin?"
"Iya kakak penasaran dengan vitamin itu apa?" Atala mengangguk kan kepalanya mendengar pertanyaan Linda. "Kalau begitu minum vitaminnya dulu," memang terhadang harus begitu ketika membujuk Atala.
__ADS_1
Benar saja Atala segera meminum obatnya, dan segera menelannya. "Vitamin itu semua orang meminumnya, itu untuk menambah daya tahan tubuh, dan menyehatkan badan," ujar Linda membuat Atala mengangguk. "Ya sudah kakak istirahat ya, Linda mau keluar sebentar."
"Jangan, jangan, jangan pergi," Atala masih takut jika Linda pergi darinya.
"Tidak Linda cuman pergi berbelanja sebentar kok, soalnya bahan makanan sudah habis, kita kan harus makan," Linda memberi penjelasan ke arah Atala, membuat laki laki itu mengangguk.
Linda segera menuntun Atala ke tempat tidur, sementara Anisa telah keluar membawa piring kotor tadi. Linda segera menyelimuti Atala sembari membuka gorden kamar, agar cahaya dapat masuk ke dalam.
Saat gorden terbuka, mata Linda tanpa sengaja melihat beberapa butir obat dari Atala, tampak di sana terdapat beberapa butir obat milik Atala, yang artinya sudah beberapa hari Atala tak meminum obatnya. Linda menghela nafas, segera membersihkan beberapa butiran obat tersebut.
Saat Linda memutar knop pintu, suara Atala mengejutkan Linda. "Linda," Atala memandang wajah Linda dengan pandangan memelas. Linda yang paham keinginan Atala segera mendekat dan mengecup kening Atala sebentar. Kemudian meninggalkan Atala di dalam kamar.
Linda tampak tengah bersiap siap untuk segera berangkat ke mini market terdekat. Saat tengah menghidupkan mesin motornya, Atala segera bangkit dari tempat tidurnya, ia melihat Linda tengah menaiki motor dan menarik pedal gas, kemudian meninggalkan halaman.
Jelas itu membuat Atala panik, Atala berlari ke arah pintu dan memanggil manggil nama Linda. "Linda, Linda, Linda," teriakan Atala dari arah pintu luar mengejutkan Anisa yang tengah mencuci piring. Linda tampaknya lupa mengunci tralis, sehingga Atala dapat keluar dari rumah.
Anisa panik bukan main, Anisa segera menghubungi Linda, namun tampaknya Linda tak mengangkat ponselnya. Mungkin masih di jalan. Anisa segera mengirim pesan suara kepada Linda bahwa Atala keluar dengan keadaan panik, karena tak melihat dirinya.
Setelah itu, Anisa segera mengejar Atala, sembari terus memanggil nama Atala yang berlari dengan kencang. "Kak kak, tunggu, Linda Linda di rumah," ujar Anisa sekuat tenaga.
Para pemuda yang melihat hal itu segera menghadang Atala, hingga membuat Atala mengamuk. Rombongan pemuda itu segera mengunci pergerakan Atala. Untung saja para pemuda tersebut jago dalam hal beladiri. Sehingga melawan Atala bukanlah perkara yang sulit untuk merek.
Pemuda tersebut segera membawa Atala kembali ke rumah meskipun Atala terus meronta.
Namun hal yang lebih mengejutkan terjadi, beberapa warga lain datang dan membawa Linda bersama sepeda motornya. Di beberapa kaki Linda dan tangan Linda tampak lecet, bahkan berdarah.
Tadi saat Linda membuka pesan suara dari Anisa, Linda tak berbelanja. Linda memutar haluan nya, segera kembali ke rumah dengan panik, berbagai macam pemikiran timbul di dalam kepalanya. Alhasil membuat Linda kehilangan konsentrasi, dan menyebabkan dirinya mengalami kecelakaan tunggal, sehingga harus pulang dengan beberapa luka lecet di lengan dan kakinya. Bahkan Linda tampak kesulitan untuk berjalan.
__ADS_1