I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Atala sayang Linda


__ADS_3

Susah dua minggu Anisa menjadi pegawai tetap, tak ada yang berbeda. Semua sama seperti biasanya. Berangkat pagi pulang sore hari.


Sama seperti hidup Anisa, kehidupan Linda juga begitu begitu saja, pagi hingga malam hari menjaga warung kecil kecilnya, sembari menjaga Atala dan melatih interaksi sosial Atala.


Namun hari ini ada yang aneh, seorang laki laki berjas datang menghampiri warung kecil Linda, membuat Atala bingung. Pasalnya meskipun jiwa Atala masih sakit, ia sudah bisa mengingat siapa saja orang yang sering berbelanja di warung Anisa.


"Mau beli apa?" Atala menunduk sedikit takut melihat laki laki tersebut.


"Mbak Linda nya ada?"


"Sebentar di dalam, jangan di ambil tapi ya," pinta Atala, membuat laki laki itu tersenyum mengangguk. "Janji dulu ya."


"Iya saya berjanji," ujar laki laki itu mengangkat tangannya sejajar dengan wajahnya.


"Tunggu, ke dalam dulu," ujar Atala bejalan menuju ke arah dapur. "Linda, Linda, ada orang yang nyari Linda."


Linda segera mematikan kompornya, dan berjalan ke arah Atala. "Ya sudah ayo kak," ujar Linda. Namun tangannya dicegat oleh Atala.


"Linda tidak boleh meninggalkan Atala ya, Atala mau Linda di sini, janji tidak ikut dengannya," ujar Atala membuat Linda tersenyum.


"Iya kak, Linda cuman berbicara sebentar saja ya," ujar Linda mengusap lembut lengan Atala.


Linda dan Atala segera keluar dari dalam rumah, dan bertemu dengan orang tersebut. Linda mengerutkan keningnya, pasalnya ia tidak mengenal laki laki itu.


"Selamat sore nona Linda, saya ingin berbicara dengan anda bisa?"


"Iya, di sini saja," ujar Linda mulai curiga.


"Tidak bisa nona, sebaiknya kita sesikit menjauh dari tuan Atala."


Linda semakin bingung, bagaimana laki laki tersebut tahu tentang Atala? Apa laki laki itu dulu teman kerja Atala? Beribu pertanyaan kini memenuhi setiap saraf otak Linda.


"Baiklah, mari berbicara di kursi tersebut," Linda menunjuk sebuah kursi yang bisa ia gunakan kala bersantai di sore hari, namun itu dulu sebelum musibah menimpa mereka, rasanya mereka tak lagi memiliki waktu untuk itu. Jika saja mereka tak akan membuka warung kecil, mungkin kursi itu akan mulau rapuh.

__ADS_1


"Jadi begini nona Linda, jika ada seseorang yang menanyakan tentang tuan Atala, maka jawab saja tidak mengenalnya," ujar laki laki itu semakin membuat Linda bingung.


"Maksudnya?" Linda memandang seksama wajah laki laki itu, mencoba mencari kecurigaan di dalamnya.


"Kami sedang mengkhawatirkan nyawa tuan Atala, sebaiknya anda turuti saja kami, agar tuan Atala selamat," ujar laki laki tersebut.


"Memang ada apa?" Linda semakin penasaran.


"Dengarkan saja, disaat yang tepat maka kamu akan mengerti, saya permisi sebentar," ujar laki laki itu segera berdiri.


Linda ikut berdiri,berjalan hingga ke depan rumah. Melihat hal tersebut, Atala jelas panik. Ia pikir Linda akan meninggalkannya.


"Linda mau kemana kamu?" Atala tiba tiba berteriak membuat beberapa warga memandang bingung.


Linda segera mendekat ke arah Atala. "Engga kak, cuman mau mengantar orang itu," ujar Linda menerangkan.


"Linda sudah janji tidak akan, makan tidak boleh pergi ya," ujar Atala memeluk lengan Linda.


"Iya kak iya kak," ujar Linda kembali menenangkan Atala. "Ya sudah kakak duduk dulu di sini ya, Linda ambil air minum dulu."


"Ada apa ya pak?" Linda segera duduk di kursi yang tadi di duduki oleh laki laki berjas itu.


"Tadi ada laki laki berjas yang mendatangi bapak membicarakan tentang Atala, sebenarnya bapak bingung apa yang di maksud laki laki itu," ujar pak Bambang.


"Iya pak barusan juga laki laki itu datang kepada saya, dia juga meminta hal yang sama, saya bingung apa maksudnya," ujar Linda.


"Ya jika memang itu baik untuk keselamatan Atala, sebaiknya kita ikuti saja keinginannya yang terpenting Atala selamat," ujar pak Bambang.


"Iya pak, lalu bagaimana jika warga yang memberitahukan tentang Atala?" Linda memandang ke arah beberapa warga yang tampak memperhatikan mereka.


"Nanti biar saya yabg urus, agar warga diam tentang Atala," ujar pak Bambang. "Ya sudah kalau butuh apa apa, silahkan hubungi saya saja ya, saya harus memberitahukan kepada warga lainnya," Linda mengangguk mengikuti pak Bambang dari arah belakang. "Oh ya tolong masalah kalian yang tinggal satu rumah itu, beberapa warga sudah mulai ada yabg melapor, tolong segera di pikirkan."


Atala yang melihat Linda hendak mengikuti pak menjadi panik sendri, belum lagi sejak tadi Linda tak menghiraukan panggilannya ketika berbincang dengan pak Bambang.

__ADS_1


Atala yang panik bercampur kesal, seketika memiliki dorongan untuk menyerang pak Bambang yang dikira akan membawa Linda pergi darinya.


"Jangan bawa pergi Linda," teriak Atala hendak menyerang pak Bambang. Linda yang menyadari hal tersebut segera memeluk Atala berusaha mendorongnya ke belakang.


Para warga berkerumun menyaksikan kejadian tersebut, mereka terkejut, takut sekaligus penasaran melihat kejadian tersebut.


Anisa yang datang di tengah tengah kerumunan tersebut merasa panik dan shock, Anisa segera mendekat ke arah Linda, Atala dan pak Bambang.


"Pak akan saya pikirkan, setelah itu saya kabari, lebih baik saya masuk dulu," ujar Linda segera membawa Atala masuk ke dalam.


Tinggallah Anisa yang mengusap air matanya. "Saya minta maaf atas keributan tadi, tolong maklumi kakak saya, dia belum sembuh sepenuhnya."


Sementara di dalam rumah Linda menggiring Atala masuk ke dalam kamarnya, namun Atala terus memberontak hingga menjatuhkan sebuah vas bunga. Tak lama kemudian Anisa masuk dengan wajah panik.


"Linda kenapa?" Anisa panik segera mendekati Linda dengan tangan yang terluka, seperti habis di gigit.


"Ga apa apa, aku masuk dulu aku tenangin kak Atala dulu," ujar Linda segera memeluk Atala dan menggiringnya ke kamar, karena nampaknya ada tamu, dan tentunya itu tamu Anisa.


Linda mendorong Atala hingga menutup kamar Atala. "Kak tenang kak, jangan begitu. Semua baik baik saja, jangan marah. Linda tidak kemana mana," Linda terus berusaha menenangkan Atala. Linda terus mencoba memeluk Atala yang tantrum.


"Linda jahat, Linda jahat mau ninggalin Atala," Atala terus bergumam, membuat Linda semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf, Linda tidak bermaksud, namun Linda hanya ingin mengantar pak Bambang," ujar Linda terus memeluk Atala.


"Linda jahat, Linda jahat," Atala masih saja belum tenang.


Linda segera mengecup puncak kepala Atala, berkali kali, hingga Atala tenang, dan memeluk pinggang Linda.


"Jangan takut kak, Linda akan selalu ada untuk kakak," ujar Linda mengusap lembut kepala Atala.


Setelah dirasa cukup, Linda segera melonggarkan pelukannya. Dan memandang wajah Atala dengan seksama. "Kakak mau baring?" Atala mengangguk dan membaringkan tubuhnya.


Linda ikut membaringkan tubuh Linda dan memeluk Linda dengan erat. "Atala sayang Linda, jangan pergi."

__ADS_1


"Iya kak Linda akan selalu ada untuk kakak."


__ADS_2