
"Saya ingin berbicara tentang kalian," pak Bambang tampak sangat serius, membuat Linda mengerutkan keningnya. "Bapak ini siapa?"
"Oh pak Andi dia supir keluarga suami Anisa pak," ujar Linda tersenyum.
"Jadi benar Anisa telah menikah?" Pak Bambang tampak sangat penasaran.
"Iya pak, terjadi kesalah pahaman, jadi mereka terpaksa segera di nikahkan," ujar Linda menjelaskan. "Saya harap bapak tidak salah paham."
"Baiklah, saya paham dan mengerti. Tapi saya harus menyampaikan bahwa beberapa warga khawatir jika kalian tinggal bersama hanya berdua di rumah ini," ujar pak Bambang merasa tidak enak, meskipun pak Bambang yakin jika Linda dan Atala tak mungkin melakukan hal senonoh, namun saran warga juga harus di pertimbangkan.
"Maksudnya pak?" Linda menjadi bingung sendiri dengan maksud dari pak Bambang.
"Jadi begini beberapa warga mengusulkan agar kalian segera menikah, atau kamu dan Atala tinggal di rumah yang berbeda," ujar pak Bambang hati hati.
"Tapi pak kak Atala belum sembuh sepenuhnya," ujar Linda menggaruk kepalanya.
"Iya tapi warga khawatir, tapi kalau kamu belum bersedia menikah dengan Atala, sebaiknya kalian tinggal terpisah saja, bagaimana?"
"Pak kak Atala tak akan mau, yang ada dia akan mengamuk bila tidak bertemu dengan saya," ujar Linda tidak enak. "Sebentar pak saya ambil air minum dulu pak."
"Iya," pak Bambang mengangguk. Pak Bambang mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya, dan memberikan kepada Atala. "Atala coba baca ini."
Atala mengangguk segera membaca isi kertas satu persatu. Pak Bambang tersenyum melihat kearah Atala. "Kamu sayang sama Linda?"
"Iya, Atala sayang sama Linda," ujar Atala mengangguk.
"Lihat bapak," pak Bambang mencoba mengangkat dagu Atala.
"Kalau begitu kamu mau menikah dengan Linda?"
"Seperti Anisa dan Atlas ya, mereka menikah dan tinggal bersama," ujar Atala memandnag ke arah pak Bambang.
"Benar sekali, jadi kamu mau menikah dengan Linda?" Pak Bambang sekali lagi mencoba mau meyakinkan Atala.
"Kalau menikah, tidak ada yang bisa mengambil Linda dari Atala kan?" Atala mengajukan pertanyaan kepada pak Bambang.
__ADS_1
"Iya, Linda untuk Atala," ujar pak Bambang membenarkan pertanyaan dari Atala.
"Atala mau, Atala mau. Biar Linda untuk Atala saja," ujar Atala bersemangat.
"Jadi kalau begitu hapalkan yang di kertas itu ya," ujar pak Bambang.
"Hapalkan, ya nanti Atala hapalkan," ujar Atala tersenyum.
"Pak ini tehnya," ujar Anisa baru saja dari dapur.
"Bapak sudah bertanya kepada nak Atala, dan nak atala bersedia menikah dengan kamu, bapak harap minggu depan kamu sudah melangsungkan akad," ujar pak Bambang.
"Tapi pak, apa tak terlalu cepat?" Linda memandnag Atala yang tampak bersemangat.
"Tidak. Untuk urusan cinta mungkin bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Kamu hanya harus menerima Atala dengan lapang dada, anggap ini sebagai cobaan kamu," ujar pak Bambang meyakinkan.
Linda menghela nafas, kemudian memandnag Atala yang tampak tersenyum sumringah. "Kita akan menikah Linda."
"Iya pak saya bersedia, nanti saya beritahu Anisa dulu," ujar Linda membuat pak Bambang tersenyum.
"Iya pak terimakasih," ujar Linda.
"Ayo kak istirahat dulu," ujar Linda hendak menuntun Atala ke dalam kamar.
"Tidak Atala mau menghafalkan ini dulu, kata pak Bambang, nanti tidak ada yang bisa mengambil Linda dari Atala," ujar Atala bersemangat.
"Kakak senang menikah dengan Linda?" Linda memandang nanar ke arah Atala.
"Iya Atala kan sayang sama Linda," jawab Atala.
"Ya sudah hafalannya di kamar saja ya, hari ini kita istirahat," ujar Linda menuntun Atala.
"Tapi Atala mau tidur dengan Linda," ujar Atala tiba tiba.
"Iya Linda tutup pintunya dulu ya," ujar Linda segera menutup pintu rumah mereka. Linda kemudian menuntun Atala ke kamar, dan ikut berbaring di samping Atala.
__ADS_1
......................
Hari ini adalah hari yang telah di tentukan untuk akad nikah Atala dan Linda, Atala tampak sangat bersemangat, di dampingi oleh pak Bambang. Sementara Anisa dan Atlas, telah datang sejak tadi pagi, untuk membantu persiapan dadakan tersebut.
Linda tampak cantik dengan bantuan makeup artist sewaan Atlas. Kini keduanya tersenyum sembari duduk berdampingan menghadap ke penghulu.
"Sah," ujar mereka serentak, kemudian di susul doa bersama yang di panjatkan oleh penghulu.
Tate tak hadir, karena harus menjaga dini, sementara Ahmed, Bilqis, Juwita, dan Brayen juga datang sebagai keluarga. Wira juga tak ingin ketinggalan acara akad yang dadakan tersebut.
Orang orang yang mengenal mereka jelas heboh, terlebih ternyata mereka adalah besan dari mempelai pria.
Setelah acara selesai, mereka semua kembali. Namun sebelum itu Juwita memeluk Linda, dan membisikkan kata kata bijak untuk gadis tersebut.
"Selamat ya, mami harap kamu bersabar menghadapi Atala, mungkin akan berat untuk kamu, namun percayalah jika cobaan akan berlalu," ujar Juwita membuat Linda menitihkan air matanya. "Kalau ada apa apa jangan segan menghubungi mami."
"Iya mi terimakasih banyak," ujar Linda melepaskan pelukannya dari Juwita.
......................
"Bagaimana Dad?" El Barack memandang tuan Chris yang tengah memperhatikan layar, dengan tayangan acara akad nikah. Tuan Chris tersenyum bahagia.
"Adik kamu akan bahagia, sebentar lagi kita akan menjemputnya, setelah semua selesai. Kita akan membuat adikmu dan istrinya bahagia," ujar tuan Chris membuat El Barack tersenyum. "Asal jangan melirik istri adikmu saja."
"Aku tidak berani daddy, daddy tahu sendiri kan kalau aku sudah miskin, semua atas nama istri ku," ujar El Barack mengelak.
"Ya, ya, kau tak akan berani," tuan Chris tertawa bahagia.
El Barack jelas bahagia, tak pernah ia melihat Daddy nya sebahagia ini. Hal itu jelas membuatnya ikut bahagia.
"Hm, El akan berusaha menyelesaikannya secepatnya," ujar El Barack.
"Setelah itu kita akan mengadakan resepsi untuk mereka, masa anak kedua dari tuan Chris tidak memiliki resepsi," ujar tuan Chris bahagia.
"Iya, iya, resepsi besar besaran nanti."
__ADS_1