I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Berbelanja


__ADS_3

Atala baru saja selesai di periksa, tak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja harus terus mengawasi Atala dan memastikan Atala meminum obatnya.


Mereka kini berkendara menggunakan taksi menuju sebuah pusat perbelanjaan, kedua gadis itu menggandeng Atala. Wajah ketiganya yang memang di atas rata rata menjadi sesuatu daya tarik tersendiri untuk para pengunjung.


Linda segera menarik troli untuk mendorongnya, sementara Atala terus berada di tengah keduanya. Sembari mereka memilah dan memilih bahan yang akan Linda jual di etalase. Meski rasa sakit yang menjalar di kaki bahu maupun punggung masih sangat terasa, namun semangat Linda untuk berjualan mengalahkan rasa sakitnya.


"Eshhh," ringisan terkadang sering terdengar dari bibir Linda.


"Kamu tidak apa apa Lind?" Anisa memandang ke arah Anisa.


"Ah iya, sakit sedikit saja, paling nanti sembuh. Paling cuma kecapean," ujar Linda beralasan.


Sementara Atala yang setelah sekian lama, baru berada di keramaian tentu saja sedikit ketakutan, perasaan gelisah menyerangnya, sehingga terus menggerak gerakkan kepalanya, ketakutan. Anisa yang menyadari hal tersebut segera mendekat ke arah Linda.


"Lin, kak Atala kayaknya udah ga tahan lagi deh," bisik Anisa.


"Ya udah ini sudah selesai, kita tinggal ke kasir aja lagi, kamu pesan taksi gih," ujar Linda segera di angguki oleh Anisa.


Mereka berjalan ke arah kasir, sementara Atala yang terus bergerak gelisah, tanpa sengaja menekan bahu Linda yang tengah mendorong troli, Anisa sendiri tengah memesan taksi dari aplikasi online.


"Kak, kakak tenang ya, kita sebentar lagi pulang kok," ujar Linda berbisik, pasalnya kini ia mulai merasa kesakitan.


"Iya, iya, iya, tenang, tenang, tenang," Atala terus berucap sembari melirik ke segala arah dengan gelisah. Ia takut akan orang orang yang terus memandangi dirinya.


......................


Mereka telah menuruni taksi, mereka boleh merasa lega, karena Atala tak lepas kendali saat berada di keramaian. Mereka menurunkan barang satu persatu, warga yang melihat mereka menurunkan barang menjadi penasaran.


"Lagi apa neng?"


Anisa memandang warga tersebut dengan senyuman. "Besok Linda mau jualan, jadi beli beli bahan Bu," ujar Anisa.

__ADS_1


"Iya Bu, biar kerja di rumah saja, kasian kak Atala kalau di tinggal sendirian," lanjut Linda membuat para warga yang berkumpul mengangguk mengerti.


"Oh, iya lah. Semoga nak Atala cepat sembuh ya," ujar salah satu di antara mereka.


"Aamiin, terimakasih atas doanya Bu," ujar Linda. "Kalau begitu permisi Bu."


Sesampainya di rumah, Linda segera berbaring di atas karpet, Linda menutup matanya. Rasanya tubuhnya masih sangat sakit, pasca terjatuh kemarin.


Namun mau di katakan apa lagi, hidup harus terus berlanjut, meski sulit namun semua harus di jalani. Tuhan tahu kita mampu menjalaninya, karena itu Tuhan memberi kita jalan dan cobaan seperti ini.


"Linda, Linda tidak apa apa?" Atala tampak begitu khawatir melihat keadaan Linda yang tampak dari wajahnya menahan sakit.


"Tidak kak, cuman mau istirahat saja, Linda kecapekan aja," ujar Linda tersenyum.


"Linda ganti celana dulu, pasti ga enak pakai celana panjang, betis sama lutut kamu pasti masih sakit," Anisa datang dengan membawa celana pendek di atas lutut untuk Linda.


"Sip, makasih ya," Linda segera bangkit menahan sakit, di beberapa area.


Meski begitu, Anisa yakin itu bentuk dari kekhawatiran Atala atas keadaan Linda. Namun tetap saja, terkadang cara Atala mengekspresikan perasaan yang ia miliki terkadang terlihat lucu, dan menjadi hiburan tersendiri di kala merawat Atala.


Cklek.


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Linda dengan pakaian santai, sangat cocok di tubuhnya. Atala segera mendekat ke arah Linda.


"Linda kenapa lama?" Atala memandang Linda dengan seksama.


"Tidak kok kak, cuman sebentar. Ayo bantu Linda susun barang di etalase," Linda tersenyum mengalihkan perhatian Atala.


"Ya sudah kalian nyusun barang, kalau aku buat cemilan ya," Anisa segera belakang.


Atala dan Linda segera menyusun barang barang yang akan mereka jual, Atala tampak telaten menyusun setiap barang. Atala menyukai setiap kegiatan tangan, dan mengandalkan ke kreatif serta teliti. Karena itu sifat sebenarnya Atala.

__ADS_1


"Ayo makan," Anisa muncul dari arah belakang, mengejutkan Linda dan Atala yang tengah asyik menyusun.


Seusai mereka makan mereka segera duduk bersama sama menonton televisi, Atala berada di tengah tengah keduanya, sedang tangannya asyik memainkan rambut Linda. Hingga akhirnya ketiganya tertidur.


......................


"Bagiamana? Kamu sudah menemukannya?" Tuan Chris mengejutkan El Barack dari arah belakang.


"Iya pa, tapi masih belum yakin," ujar El Barack.


"Belum yakin bagaimana?" Tuan Chris meremas kursi yang ia duduki.


Kini tidak ada lagi pembacaan doa untuk El Bram, terlebih kesaksian Ellie membuat mereka berhasil menemukan orang tua yang kemungkinan mengangkat El Bram, namun semua masih harus di selidiki, mereka tak mau terbuai dengan suatu hal yang belum tentu kebenarannya.


"Kita akan melakukan tes DNA, terlalu banyak orang yang harus di selidiki. Kita tak boleh gegabah," El Barack menerawang jauh, takut apa yang ditemukan benar adanya. Jika begitu ia takut Daddy-nya akan syok mendengarkan keadaannya.


Belum lagi El Barack takut informasi ini akan tersebar, dan pihak musuh akan memanfaatkan momentum ini, untuk memasukkan penyusup. Bukannya menemukan adiknya, justru membantai perlahan keluarganya.


"Lalu apa lagi, lakukan," ujar tuan Chris tak sabaran.


"Dad, please. Be patient ok? Kita melakukan ini secara diam diam, menggali informasi secara diam diam itu lebih sulit," jelas El Barack.


"Kalau begitu kerahkan yang lain," tuan Chris semakin kesal saja.


"Coba saja,coba saja Daddy lakukan, kalau benar benar Daddy tak ingin bertemu dengan adik ku," ujar El Barack menjelaskan secara gamblang.


Tuan Chris menghela nafas beratnya, ia tersadar dengan apa yang akan ia lakukan. Ia tak ingin kehilangan anaknya untuk kedua kalinya.


"Daddy serahkan semua kepada mu," ujar tuan Chris pasrah.


"Dad, tenang saja. I promise, aku akan melakukan sebisa ku ok, masalahnya saat ini kita selalu di awasi, jika mereka tahu maka aku takut mereka akan memanfaatkan adik ku, atau yang lebih parahnya lagi, mereka akan membunuh El Bram. We not wanna that happen right?" El Barack memandang penuh harap ke arah tuan Chris, dan akhirnya mendapat anggukan. Sepertinya tuan Chris sudah mulai mengerti juga.

__ADS_1


"Kerena itu, please sabar dad, kita pasti akan menemukannya, saat ini satu langkah saja kita sala, maka musuh kit akan mengacungkan senjata ke arah nadi kita."


__ADS_2